“Nyctophilia”

Karya . Dikliping tanggal 4 November 2013 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
AKU kira Levin Limark tak akan lagi bertemu dengan Josephine, perempuan bermata kucing itu, ketika pada suatu malam beberapa bulan yang lalu aku melihat mata malaikatnya menembus mataku di kedalaman dan menyentuh kalbuku. Sudah begitu lama aku tak lagi merasakan cinta, dan lelaki itu mengembalikan perasaan beruntung saat ia memelukku dan menciumiku dan kami bercampur dalam kegelapan seperti malam-malam sebelumnya.
Levin Limark meyakinkanku bahwa aku adalah satu-satunya kekasihnya. Aku tak mudah percaya. Kau tahu, setelah disisihkan dari orang-orang terkasihmu dan kau dibuang dari kehidupan, kau tak akan mudah percaya kepada siapa pun. Mungkin ketika kau sampai pada sebuah keberhasilan, orang-orang yang melecehkanmu akan datang kembali dan bermanis-manis padamu, tapi kau hanya mendengar kata-kata kosong mereka dan kau lalu meninggalkan mereka tanpa minat.
Semula itulah yang kulakukan pada Levin Limark. Aku menolak cinta lelaki itu sebab kukira ia sedang mabuk dan kami bertemu pertama kali di sebuah bar. Dan memang ia sedang mabuk. Aku hanya minum sedikit sebab malam itu aku sedang berminat pada hal lain. Seorang teman membuka toko lingerie yang amat mewah dan koleksinya teramat bagus. Aku sudah menaksir beberapa, tetapi mungkin nanti aku baru membelinya jika ada lukisanku terjual.
“Nyctophilia”

“Selamat malam, Cantik. Siapa gerangan yang berani meninggalkan bidadari sendirian di tempat seperti ini?” Levin Limark duduk di sebelahku dan bicara dengan nada seorang lelaki murah. Aku belum mengenalnya saat itu.

Kukatakan kepadanya dengan nada datar. “Aku tak berminat.”
“Ayolah, Cantik. Malam ini terlalu indah untuk dilewati tanpa siraman cinta!”
Aku menoleh, dan saat itulah kulihat mata Levin Limark yang layaknya malaikat. Namun ketika itu ia sedang mabuk dan sinarnya tak begitu cemerlang. Setengah kepalaku masih memikirkan lukisan dan seperempatnya lagi membayangkan lingerie baru merah marun. Aku menatap minumanku dan dentuman musik masih mengisi udara penuh asap rokok dan bau keringat manusia.
“Pergilah,” kataku.
“Aku hanya ingin mengajakmu makan malam, dan melihat bintang-bintang. Langit Prancis tak mengizinkanmu untuk menghabiskan waktu dalam kemurungan, Nona.”
“Dengar, orang asing. Aku tak berminat denganmu.” Aku meneguk minumanku hingga tandas lalu bangkit dari tempatku duduk. “Lagipula ini Jakarta. Bukan Prancis.”
Kutinggalkan Levin Limark yang tampak kebingungan. Kurasa dia mabuk cukup berat hingga mengira ia sedang berada di Prancis. Tapi aku merasa sedikit bersalah telah menyadarkannya bahwa ini masih Jakarta. Masih kota penuh debu dan kecurangan, tipu muslihat, dan tentu saja orang-orang bertopeng yang merasa dirinya lebih suci dari Tuhan.
“OH, Jamelia. Aku mencintaimu.”
Levin Limark tergeletak di atas kasur dengan napas terengah, memanggil namaku dengan bahasa Indonesia dan aksen Spanyol yang agak samar. Oleh lidahnya, aku adalah Hamelia, bukan Jamelia. Setelah percintaan kami yang pertama, barulah ia bercerita tentang asalnya. Lelaki itu peranakan Korea-Amerika. Namun separuh umurnya hingga sebelum ia bertemu denganku telah dihabiskannya di Prancis. Dan ketika itulah aku mengenal nama Josephine dari cerita-ceritanya.
“Sesungguhnya Prancis lebih indah dari Jakarta, Jamelia.” Ia membelai rambutku dalam kegelapan. Lampu kamar masih belum kunyalakan.
“Lalu mengapa kau ke Jakarta?”
“Aku mencari Josephine.”
“Siapa Josephine?”
“Ah, dia perempuan yang membuatku rela menyerahkan seluruh harta benda milikku kepadanya. Bahkan jiwa dan ragaku, Jamelia! Tapi hubungan kami tak berjalan baik. Ia meninggalkan Prancis dan kabar terakhir yang kudengar ia berada di Jakarta. Eh, tak apa-apa aku cerita soal ini? Maaf jika aku membuatmu tak nyaman.”
Aku menggeleng. Aku tahu ia bukan milikku. Tanpa kata-kata atau perjanjian, kami sepakat untuk berhubungan demi kesenangan belaka. Memang aku menghindari hubungan yang merepotkan, seperti yang berkomitmen misalnya. Bukan berarti aku tak ingin, hanya saja dengan kondisi diriku seperti ini aku tak yakin bisa menemui seseorang yang mampu mencintaiku dengan tulus tanpa prasangka.
Setelah memiringkan tubuhnya, Levin Limark meraih sebungkus rokok di atas meja di dekat kasur. Aku memperhatikan garis lekuk otot dan tulang belakangnya. Kulit lelaki itu seperti hangus. Aku lebih suka lelaki berkulit putih, tapi Levin Limark menyihirku dengan pesona mata malaikatnya yang kecil dan berkilau. Maka aku mulai menyukai bagian dirinya yang lain.
“Aku belum pernah ke Prancis,” kataku seraya menarik selimut hingga leher.
“Oh, Jamelia. Kau harus ke sana. Lebih banyak lagi romantika yang membahagiakanmu dan kau tak perlu berseteru dengan asap dan tipu muslihat Jakarta.”
Aku menyukai Levin Limark karena ia juga membenci Jakarta.
“Jamelia?”
“Ya?”
Lelaki itu sekarang memiringkan tubuhnya ke arahku. Aku tak bisa menghindar dari tatapan matanya yang seperti tak berkelopak itu.
“Apa kau selalu bercampur dalam gelap, seperti ini?”
“Hmm.”
“Aku ingin melihat wajahmu, Jamelia. Maksudku, saat kita bercinta.”
“Apa pentingnya wajahku, Sayang? Bukankah kau sudah menguasai tubuhku sepenuhnya?”
“Ya. Tapi aku ingin menikmati wajahmu juga. Dan tak bisakah aku melakukannya dari depan? Ini sudah percintaan kita yang kelimabelas dan kau selalu memintaku untuk melakukannya dari belakang.” Levin Limark mengembuskan asap rokoknya, membentuk bulatan-bulatan. “Mungkin… Aku bosan. Aku ingin yang berbeda.”
“Besok kita pakai gaya kuda.”
“Bukan begitu, Jamelia.” Levin Limark mengernyitkan dahinya dan memandangku dengan kekhawatiran seorang ayah. “Aku merasa ada yang kau sembunyikan dariku.”
“Tidak ada, Sayang. Aku hanya tak bisa kalau melakukannya di bawah cahaya benderang. Aku malu.” Aku mengusap lembut rahangnya yang kasar dan tegas.
“Kenapa malu, Jamelia? Kau teramat cantik dan tubuhmu, aduh, bahkan Josephine pun akan memujamu.”
Aku tersipu juga saat ia berkata seperti itu. Kurasa dia banyak belajar menggombal di Prancis sana. Tapi malam itu kutinggalkan dia tanpa jawaban. Dia tak melanjutkan pertanyaannya sebab kurasa dia lelah.
Kupandangi Levin Limark ketika ia sudah tertidur pulas. Sejak mengenalnya, keberuntungan seolah selalu berada di pihakku. Lukisanku semakin banyak terjual. Levin Limark membawa teman-temannya para pengusaha dan kolektor lukisan ke setiap pameranku. Aku bisa mengirim uang lebih ke rumah, ke kampung.
Ke Ibu.
SAAT pertama kali aku bertemu Levin Limark yang mabuk dan kutinggalkan ia pergi, ternyata lelaki itu menyusulku dan tak membiarkan aku lepas dari pantauannya. Tiba-tiba saja aku jadi ngeri, sekaligus tersanjung. Ia mengikutiku hingga ke apartemen namun aku tak berteriak panik seperti seorang perempuan sedang dikuntit oleh perampok atau pemerkosa. Kubiarkan ia berada dalam keinginannya mengenalku dan ketika aku sampai di depan apartemen, ia berdiri tiga meter di belakangku.
“Langit Jakarta di malam hari juga baik. Maukah kau makan malam denganku?”
Kurasa pengaruh alkohol masih belum hilang dari kepalanya. Aku membalikkan badan dan berjalan mendekatinya. Sepatu hak tinggiku meninggalkan bunyi tuk-tuk-tuk yang anggun.
“Dengar ya, Tuan…”
“Limark. Levin Limark. Terima kasih mau bicara denganku, Nona…”
“Tuan Levin. Aku tak tahu apa maumu tapi ini sudah larut dan aku lelah dan tak ingin makan. Carilah teman lain.”
Untuk kedua kalinya, aku meninggalkan lelaki itu dan berjalan hendak masuk ke dalam apartemen. Saat berdiri di depan pintu masuk, aku menoleh lagi dan hanya ingin memastikan bahwa lelaki itu telah pergi. Namun ia masih berdiri di sana dengan keteguhan seorang pejuang dan ia tak melepaskan tatapannya dariku. Pada saat itu aku tahu ia tak akan pergi sebelum keinginannya terpenuhi. Maka aku berjalan kembali mendekatinya dan suara sepatuku meninggalkan bunyi tuk-tuk-tuk.
“Baik, Tuan Levin. Di dekat sini ada market 24 jam. Aku tidak makan tapi aku akan menemanimu. Setelah itu, kau harus pergi.”
Levin Limark tersenyum lebar dan matanya yang bagai malaikat berubah menjadi garis.
Malam itu Levin Limark menghabiskan tiga potong croissant daging dan sebungkus roti coklat. Aku hanya minum susu kotak dan melihatnya dengan biasa. Kemudian ia meneguk kopinya hingga habis dan mulai bercerita lagi. Aku hanya ingin cepat-cepat pulang ke apartemen dan menghempaskan tubuhku ke kasur.
“Dunia ini penuh orang-orang aneh, Jamelia.”
Saat itu aku terpaksa menyebut namaku sebab tak ingin ia memanggilku dengan ‘Nona’ atau ‘Cantik’ lagi. Itu terdengar panggilan yang gombal dari lelaki murah pemabuk.
“Katakan kepadaku.”
“Aku bercerita kepada teman-temanku di sini bahwa aku meninggalkan Prancis menuju Jakarta untuk mencari dan menemui perempuan yang kucinta, dan mereka semua tertawa seolah aku gila.”
“Kau memang gila.”
“Kapankah cinta tidak membuatmu gila, Jamelia?”
Aku tak menjawab itu dan hanya menanggapi dengan bibir yang terangkat sebelah.
“Ibuku bilang, jika kau belum gila karena cinta, maka kau masih memberi hatimu setengah-setengah. Dan kau tak hanya akan gagal mendapatkan cinta, tapi hal-hal yang lain juga dalam hidupmu jika kau memberi hati setengah-setengah.”
Aku tak tahu apakah Levin Limark masih mabuk saat ia mencerocos tentang hal-hal tersebut. Tetapi ketika aku kembali ke apartemen bayangan Ibu melayang-layang di depan wajahku. Tiba-tiba aku ingin menangis karena merasa aku telah melakukan kesalahan yang sangat banyak. Dan mungkin sudah tak ada waktu lagi bagiku untuk memperbaiki semuanya. Namun aku tahu hanya Ibu yang masih menerimaku. Aku ingin suatu saat menemuinya, dan ketika tiba saat itu kurasa aku telah berani untuk pulang dan menceritakan hal-hal yang terjadi padaku.
Tetapi tidak untuk saat ini.
PADA percintaan kami yang keduapuluh, Levin Limark bertemu dengan Josephine. Aku sedikit cemburu, tapi aku tak menunjukkannya. Kubiarkan ia berkisah dengan semangat seorang bocah lelaki dan kuusap rambutnya yang berwarna burgundy. Darinya aku tahu bahwa Josephine adalah seorang psikolog dan Levin Limark jatuh cinta kepada perempuan itu setelah menyadari bahwa hanya Josephine yang sanggup bertahan dengan kegilaannya.
“Jamelia, aku bercerita banyak kepada Josephine tentangmu.”
“Oh, ya?” Aku tersipu.
“Ya. Kata Josephine, mungkin kau mengidap nyctophilia.”
“Nycto… apa?”
“Nyctophilia. Katanya, kau menemukan rasa nyaman dalam kegelapan. Bahkan, kau mencintai kegelapan.”
“Aku tak tahu ada istilah untuk itu. Aku memang lebih menyukai malam hari daripada siang atau pagi karena pada waktu-waktu itu aku masih mengantuk dan tak ingin melakukan apa-apa. Tapi nyctophilia, hmm, itu terdengar seperti sebuah kelainan.”
“Kalaupun itu kelainan, tak akan itu mengubah apa pun cintaku padamu, Jamelia.”
“Benarkah?” Aku tersipu lagi.
Levin Limark meredam cemburuku yang tak ia ketahui dengan percintaan tambahan. Ia membalikkan tubuhku dan dengan segera memasukiku dari belakang, seperti biasa. Aku sedang lelah tetapi ia tampak bersemangat. Maka kubiarkan kegelapan menyelimutiku agar tetap nyaman dan menerima serangan-serangan lelaki terkasihku itu.
Setelah selesai, ia tergeletak di sebelahku. Aku menarik selimut hingga leher dan Levin Limark menyalakan rokoknya. Terdiam beberapa saat, aku keluar dari selimut dan berjalan ke kamar mandi. Kurasa sebelum pulang tadi aku terlalu banyak minum.
Lalu tiba-tiba saja Levin Limark berdiri di pintu kamar mandi yang lupa kukunci. Ia terkejut melihatku seperti aku yang terkejut melihatnya. Aku tak sempat mengambil apa-apa untuk menutupi bagian tubuhku ketika Levin Limark dengan terbata-bata dan tatapan amat jijik berkata:
“Kau, Jamelia, kau…”
Kemudian yang terjadi adalah sesuatu yang tak bisa kukendalikan. Aku terkejut, takut, dan panik. Segera kuraih kepala Levin Limark dengan kedua tangan dan kuhantamkan ke pinggiran wastafel berkali-kali hingga ia pingsan dan terjatuh di lantai kamar mandi.
Di bawah cahaya lampu, sebuah rahasia telah terkuak bagi Levin Limark. Namun ia tak perlu mengingat rahasia itu. Aku tak ingin ia melihat dan mengingatku sebagai sesuatu yang sama dengannya, seorang laki-laki. Aku ingin ia mengingatku sebagai Jamelia, Nona Cantik yang ia kagumi di antara tipu muslihat cahaya kota dan orang-orang suci Jakarta. Bukan sebagai Jamil, seorang laki-laki yang sedang rindu kembali pada kegelapan di kedalaman rahim Ibu.(*)
  
Bernard Batubara lahir di Pontianak, 9 Juli 1989. Sekarang tinggal di Yogyakarta. Kumpulan cerita pendeknya adalah Milana (2013).
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Bernard Batubara
[2] Pernah dimuat di “Koran Tempo”