Obituari Si Jaga

Karya . Dikliping tanggal 8 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
BAHKAN setelah kematiannya, suaranya masih sering kudengar. Malam ini lebih keras dari biasanya, ia melolong minta didengar, memaksa tanganku menulis semacam kata-kata perpisahan dengan harapan suaranya memadat di kertas dan aku pun terbebas.

Malam jumat waktu itu, dan ia akan mati (orang-orang suka menghubungkan malam jumat dengan cerita menakutkan, tapi sebenarnya tiada yang menghubungkan malam itu dan kematiannya selain takdir semata), kudengar ia seolah berteriak-teriak: “Dengarlah dengar!” Berulang-ulang.

Suara itu berasal dari sosok tubuh yang terapung di sungai. Pada malam terakhirnya itu, ia mungkin ingin sekali percaya, air di sekitarnya telah memerah darah, yang tentu jauh lebih sedikit dibanding darah yang mengucur membasahi rerumputan taman itu. Taman kecil dekat tangga sebuah rumah panggung. Di situ tumbuh sepasang kembang sepatu. Di antara dua kembang itulah, beberapa saat sebelumnya ia terbaring dengan kaki depan menggapai-gapai. Sedangkan kaki belakangnya kaku, seolah terpacak dalam tanah. Sekuat tenaga ia menariknya hanya berakhir sia-sia, kedua kaki itu seakan telah menjadi milik tanah. Dan tak ubahnya dalam tanah, taman itu terlabur kegelapan. Tak seperti biasa, tanpa cahaya dari teras di atasnya. Tapi itu taklah penting, apa bedanya gelap-terang bila kau akan mati?

Namun sekonyong-konyong segiempat cahaya terbuka di atas rumah. Seorang bocah keluar, turun tangga bagai bayangan, tanpa wajah, tanpa suara. Setengah langkah terakhir menuju anak tangga terbawah, ia terlonjak dan melompat naik kembali. Dia telah melihat sesuatu!—lampu kendaraan yang melintasi jalan depan rumah telah menolong matanya. Suaranya nyaring memanggil seseorang.

“Ada anjing di bawah sini, Bu!” lapor bocah itu.

Anjing itu menduga ibu bocah itu ketakutan. Terdengar hentakan di papan lantai, perempuan itu berlari ke dalam rumah dan secepat kilat keluar lagi. Kemudian, sebuah benda padat melesat menghantam kaki depan si anjing. Terkaing-kaing ia dibuatnya.

“Jangan lempar, Bu! Dia luka!” cegah si bocah.

“Jangan mendekat! Bisa jadi itu Si Jaga,” kata ibunya.

Di tangga, kedua orang itu menengok ke bawah seperti melihat air dari dermaga. Bocah itu membandel, dia turun mendekati si anjing. Itu bukan alamat bahaya, toh dengan kaki belakang tertanam di tanah, anjing itu tak bisa melompatinya seperti tadi siang.

Ya, ia-lah penyebab bocah itu terpincang-pincang. Siang tadi dilihatnya beberapa orang bocah mengendap-endap mendekati rumah tuannya, komplotan itu mengincar buah mangga ranum yang tumbuh di depan rumah itu. Nalurinya melompat melecut tubuhnya, beserta kaki-kakinya yang segera berlari, juga gigi taringnya, yang tanpa ia sadari tiba-tiba telah menancap di betis kecil seorang bocah. Satu kali, hanya satu gigitan, satu gigitan yang telah mengubah sikap tuannya—seseorang pasti telah mengadukan kejadian itu.

Baca juga:  Saudara-Saudara Sejalan Poros

Mata merah tuannya menatapnya dari teras rumah. Wajahnya keras diperam marah.

“Si Jaga tak bisa dibiarkan, Kak,” kata istri tuannya. “Kita jadi buah bibir orang-orang, mereka jadi tak berani kemari.”

“Iya, Dik. Tak sekali ini. Sebenarnya sudah lama saya ingin membuangnya, tapi pasti ia kembali lagi. Saya ingin membunuhnya, tak sampai hati. Ia sudah seperti keluarga kita.”

Rona wajah sang tuan berganti. Kekerasan tadi pergi, seolah tersapu angin dari jauh. Matanya menatap anjingnya, tapi seperti tak di sana. Beberapa tahun silam, dia memungut seekor anak anjing di kolong jembatan. Induk anjing itu tewas karena luka panah pemburu di perutnya, meninggalkan anaknya telantar. Lelaki itu kemudian menggendong tubuh si anak anjing ke rumah kecilnya.

“Kenapa kita mesti merawatnya, Kak?” istrinya sempat bertanya. “Tak ada lagi yang memelihara anjing di kampung ini.”

Lelaki itu menjawab dengan berkisah, sebuah kisah lama tentang pelacur yang masuk surga. “Dik, bahkan pelacur pun masuk surga karena memberi minum seekor anjing,” katanya kemudian. “Kamu tak ingin masuk surga?”

Barangkali pada saat itulah Si Jaga mulai menyadari, tiada kata-kata bisa berkutik di hadapan yang mereka sebut surga. Ia lalu dirawat dengan baik, sampai ia besar, sampai bisa berlari. Untuk membalas kebaikan suami-istri itu ia berjanji akan membaktikan diri kepada mereka, akan ia jaga kolong rumahnya selama ia bernyawa. Karena itulah ia kemudian diberi nama Si Jaga—barangkali anjing itu tak pernah tahu namanya berasal dari kata ‘sijaga’ dalam bahasa kami, yang artinya ‘saling menjaga’. Pagi-pagi ia biasa menemani tuannya ke sawah, kadang pula menemaninya di atas perahu mencari ikan di sungai. Dan malam hari, setelah puas berjalan-jalan di kegelapan kampung—membongkar kuburan ayam dan menjilati sisa-sisa makanan warga—ia pulang, tidur meringkuk di kolong rumah bersama ayam-ayam dan sapi-sapi.

“Percayalah, Tuan, selama aku dewasa, tak pernah sekali pun harta-benda ataupun ternakmu kubiarkan diganggu orang….


“Bila seseorang datang, masih jauh telah kuberi tanda dengan menggonggong keras-keras.


“Sampai ciut nyalinya dan surut melangkah mundur.


“Tapi jika ada yang berani, dan keberaniannya berasal dari hati yang bersih, kubiarkan dia tetap maju meski terus kugonggongi.


“Tak akan kusentuh!


“Memang, ada beberapa kali kusentuh kulit mereka, orang-orang yang datang itu, dengan gigiku.


“Tapi percayalah, itu karena aku mengendus bau menyengat yang terpancar keluar dari balik kulit mereka.


“Hati mereka busuk….


“Sampai suatu hari, seseorang dari mereka balik menyerangku dengan batu.


“Lemparannya telak mengenai dahiku, tepat di bagian antara dua mata.


“Suatu bagian dalam kepalaku rasanya telah bergeser.


“Setelah itu, harus kuakui penilaianku kerap tak bijak.


“Kusamaratakan perbuatan mereka, tanpa bisa memilah, antara sesuatu yang keliru tapi sepele—sehingga tak pantas diganjar gigitan—dengan sesuatu yang memang jelas-jelas salah.


“Bocah itu telah menjadi misal.”

Baca juga:  Ulang Tahun Pensiun

Si Jaga hendak mengatakan itu, tapi yang sampai ke telinga tuannya tentu hanya suara serak dan nyaring gonggongan.

Ia bisa mengerti bila tuannya kemudian turun dari rumah membawa bungkusan hitam yang menguarkan bau jahat. Serbuk-serbuk halus dikeluarkan dari bungkusan itu lalu ditaburkan ke sebuah piring besi berisi tulang-tulang ikan kesukaan Si Jaga. Anjing itu dikurung dalam kandang, agar tak berbagi makanan dengan ayam-ayam.

Bila pada akhirnya Si Jaga memakannya, itu bukan karena pengaruh rasa laparnya, melainkan karena ia tahu diri.

Setelah makanan itu masuk perutnya, seketika lambungnya panas. Dan pada puncak hawa panas itu lambung seakan meledak, menghamburkan kantong-kantong darah dalam perutnya. Ia menggelinjang. Terteleng-teleng kepalanya, pandangannya bergoyang.

Menginjak malam, ia belum mati. Tuannya menggendongnya ke suatu tempat yang mulanya tak diketahui jelas. Dalam rengkuhan lengan-lengan si penggendong, Si Jaga bisa mencium hangat air mata di dada tuannya. Ia diturunkan di sepetak taman, di antara dua kembang sepatu, dekat tangga sebuah rumah panggung. “Baringlah di sini, biar mereka lihat tanggung jawabku,” gumam tuannya lirih sebelum berjalan diam-diam menembus selubung gelap ke rumahnya yang kembali, mulai saat itu, tanpa anjing.

***

“Itu memang Si Jaga!” bocah itu seperti kegirangan. Tangannya kini memegang senter, cahayanya menerangi mata si anjing yang kontan berubah ungu.

“Biarkan saja di situ,” kata ibunya cepat. “Mungkin ia habis tertabrak mobil, sudah biasa ada binatang luka setelah tertabrak dan lari ke sini.”

“Saya harus panggil Om Sahad!”

“Tidak usah! Itu hanya anjing. Kalau kambing atau sapi, perlulah kita panggil pemiliknya, siapa tahu masih sempat disembelih dan dimakan dagingnya. Tapi anjing? Tak ada yang makan anjing di kampung ini.”

Si Jaga memang hanya seekor anjing, bukan sapi, kambing, atau hewan piaraan lain yang bisa dijual dan dimakan. Tapi ia juga berharap bocah itu tak memanggil tuannya, ia berharap mati di situ tanpa tuannya melihat. Untuk menyatakannya ia menggonggong, tapi apa lacur, kedua makhluk di hadapannya tak memahami bahasanya. Si bocah terkejut, terlonjak mundur, sementara ibunya kembali melempar, kali ini dengan botol kosong. Kena kepala anjing itu, pandangannya berkunang-kunang. Tetap mengherankan baginya, dan mungkin sampai mati tak juga bisa memahami: bahasanya yang halus selalu dihubungkan dengan kekerasan, kemarahan.

Baca juga:  Cerita dari Negeri Siput

“Bahaya bila anjing itu terus di sini,” kata ibu si bocah berubah pikiran. “Mari sama-sama ke sana, kita kasih tahu Om Sahad.”

Orang yang disebut terakhir ini datang dengan membawa sebalok kayu. Si Jaga pasrah ketika orang itu memukul kepalanya berkali-kali. Cahaya memburam, tapi dari balik lesatan balok ia dapat melihat tuannya berurai air mata. Betapa perih hati anjing itu.

Sampai di sungai, Si Jaga belum mati. Tali yang mengikat kakinya dan telah membawanya diseret dari taman, telah dilepas. Ia menahan rasa sakit, berusaha tak bergerak agar tuannya mengira ia telah mati. Dengan begitu, akan lebih ringan beban tuannya itu ketika menghanyutkannya di air sungai. Arus air kemudian membawanya terapung-apung menuju muara. Rasa sakit tak lagi terasa. Baik kaki depan maupun kaki belakangnya telah sama-sama kebas. Tapi ia bahagia sebentar lagi ia bebas. Ia tak berharap bisa tetap hidup dengan luka-lukanya. Di atas semua itu, Si Jaga tak ingin bertuan lain selain tuan yang telah melepasnya.

Tak seperti anjing dalam kisah pelacur yang masuk surga, saat itu ia tak butuh air. Air telah memilikinya, dan sebentar lagi ia menjadi bagian dari air. Ia hanya berharap, dengan keyakinan yang menyerupai perjudian, seseorang bisa mendengarnya dari jauh dan bisa memahami pengorbanannya demi tuannya, dan pengorbanan tuannya demi sesama.

Karena itulah, sebelum sungai menyerahkan bangkainya ke lautan, Si Jaga menghabiskan sisa daya hidupnya untuk menggonggong kuat-kuat, “Dengarlah dengarrr! Dengarrrr!” Berulang-ulang. “Dengarlah dengarrr! Dengarrrr!”

Setelah kalimat terakhir ini, aku sangat berharap tak mendengar lagi ia menggonggong seperti itu.

Bojo, April 2015
Muliadi Gf, lahir di Bojo 29 Mei 1986, suka membaca dan menulis cerpen, kini bermukim di Barru, Sulawesi Selatan.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muliadi GF
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 6 September 2015