Obrolan tanpa Pangkal

Karya . Dikliping tanggal 26 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
SEPASANG suami-istri bercakap-cakap sambil menggelosor di ranjangnya. Si suami yang membuka perbincangan. “Karet kolorku kendor. Besok benerin ya.”
“Enggak perlu. Kamu pakainya kan cuma pas mau tidur. Itu juga sebentar lagi kamu lepas. Setelah itu kan aku pakai lagi.” 
“Beli baru saja.”
“Ini masih bagus. Karetnya saja yang longgar.”
“Ya, tapi itu kan barang lama. Enggak bosan pakainya?”
“Kamu juga jadi punyaku sudah lama. Tapi aku enggak bosan.”
“Kamu bandingkan aku sama celana kolor?”
“Siapa yang bilang begitu?”
“Kamu!”
“Kapan?”
“Tadi. Kamu menyamakan umur kebersamaan kita dengan usia celana kolor.”
“Oh, tadi itu.”
“Nah, kan. Jangan-jangan kamu juga mau bilang kalau aku sudah sekendor celana kolor itu?”
“Lho, kok jadi begini?”
“Kau mau kawin lagi, ya?”
“Jangan-jangan kamu yang sudah enggak betah lagi sama aku! Celana kolor aja jadi perkara.”
“Besok antarkan aku pulang!”
“Pulang sendiri kalau mau! Aku repot!”
“Repot apaan?”
“Benerin celana kolor.”
Ilustrasi oleh Munzir Fadly
Demikianlah, percakapan itu diakhiri dengan posisi tidur mereka yang saling memunggungi. Namun, kombinasi adegan-adegan yang terputar dalam kepala mereka saat bermimpi dengan dinginnya udara malam, membuat mereka tanpa sadar saling berpelukan. Itulah yang besok pagi, boleh jadi akan digunakan sebagai pemicu pertikaian susulan di lokasi lain. Kemungkinan besar di sekitar dapur atau meja makan.
Agar tidak terjadi peristiwa aneh esok pagi, maka saat ini hendaknya kita bersepakat untuk menyingkirkan dulu benda tajam di dapur atau meja makan yang berpotensi menimbulkan luka. Dan kita bis amengutus tikus-tikus yang kadang berkeliaran di dapur untuk menyingkirkan benda tajam tersebut.
Benda tajam itu jelas berupa sebilah pisau kecil, satu-satunya yang dipunyai pasangan suami-istri tersebut. Biasanya pisau itu dipergunakan untuk memecahkan cangkang telur yang hendak diceplok untuk sarapan pagi. Tadi malam pisau itu dipakai untuk melakukan pekerjaan lain.
Pekerjaan itu adalah mengiris daging ikan gurami asam manis yang dibeli si suami dari rumah makan untuk lauk makan malam. Dan sekarang, pisau kecil itu teronggok di samping piring yang tadi malam dipergunakan untuk menyajikan gurami asam manis. Piring maupun pisau itu belum dicuci dan belepotan saus bumbu dan dibiarkan begitu saja di meja dapur. Dari plafon dapur yang koyak dan belum sempat diperbaiki, utusan kita, yaitu seekor tikus, mengendus aroma amis yang masih tersisa di piring itu.
Dengan gerak pelan, ia turun melalui lemari dapur yang tingginya hampir sama dengan tinggi plafon dan terletak persis di bawah plafon yang terkuak. Secara mengendap-endap, utusan kita mendekati piring. Beberapa lama, kini sampailah agen kita pada tujuannya.
Sembari mengembangkempiskan hidungnya, agen kita memonyong-monyongkan mulutnya. Barangkali menyesap genangan saus bumbu yang tersisa. Di tengah kenikmatannya menyesap saus bumbu, terdengarlah suara mengeong. Sumber suara itu sebenar ya jauh dari tempat kegiatan si tikus, agen kita. tepatnya di atas atap rumah. tapi suara yang menelusup melalui celah genteng yang renggang membuatnya seolah-olah begitu dekat. Saat itulah agen kita, si tikus terkesiap. Segera ia melarikan diri. Akibat ketergesaannya meninggalkan piring kotor itu, tanpa sengaja kakinya menenndang gagang pisau yang diam di samping piring.
Pisau itu terjatuh tepat masuk ke dalam mulut tempat sampah yang menganga, di bawah meja dapur. Terbenam di antara kotoran-kotoran cangkang telur dan tulang-tulang ikan gurami semalam. Maka tersembunyilah pisau kecil itu dengan aman.
Kerja utusan kita rapi dan saat ini kita bis atenang. Semisal memang ada perceksokan yang dilakukan suami-istri tersebut, mereka akan bertempur dengan tangan kosong. Senjata mereka akan berupa kalimat-kalimat saja. Yang begitu akan lebih enak kita simak.
PAGI tiba. Agen kita, si tikus sudah lenyap entah ke mana. Kucing di atap meneruskan perjalanannya mencari jejak tikus lain. Dan pisau kecil masih lelap di tempat sampah. Saat itulah pasangan suami-istri itu menggeliat dengan posisi yang sama sekali beda dibandingkan dengan tatkala mereka memulai tidurnya. Si suami miring ke kiri dengan tangan mendekap badan istrinya dan si istri telentang dengan etlapak kanan menutupi daerah pusar.
Si istri yang mula-mula menggeliat. Ia  menggerakkan kedua lengannya ke samping dengan posisi tertekuk. Belum sampai sembilan puluh derajat ritasi sendi-sendi di bahunya, di mana sudut enol derajatdiukur dari garis yang sejajar dengan hidung peseknya yang tampak malu-malu di bawah langit-langit kamar, siku kanannya menghantam pelipis si suami. Serentak si suami terperanjat. Kepalanya terangkat dari bantal. Bersamaan dengan itu si suami sadar bahwa telapak kanannya memegang sebongkah gunung di dada kiri istrinya.
Menyadari ada gerak-gerik yang kurang pantas dilakukan bila mengingat adegan malam sebelumnya, keduanya segera kembali ke posisi awal: saling memunggungi. Barulah sebentar berikutnya pelan-pelan si suami turun dari ranjang dan beranjak mandi. Si istri kemudian menyusul turun dari peraduan. Ia melangkah ke dapur. Hendak emmbuat telor ceplok untuk sarapan.
“Pisaunya di mana?” teriak si istri kepada suaminya yang sedang bersiul-siul di kamar mandi.
“Enggak tahu,” itulah jawaban si suami pada pertanyaan yang sama setelah diulang tujuh kali. Suaar siulan yang menggema ditambah gerojokan bunyi air menyumbat telinganya.
“Kamu sembunyikan di mana?” cegat si istri ketika si suami baru keluar dari kamar mandi.
“Untuk apa kusembunyikan?”
“Barangkali kamu berencana menyakitiku saat aku tertidur malam tadi.”
“Jangan mulai lagi.”
“Kamu yang jadi biang kerok.”
“Kusembunyikan dibalik kolorku!” jawab si suami sekenanya.
“Nah, kan. Sini, berikan padaku.”
“Aku hanya menjawab sesuai keinginanmu. Maka kubilang begitu. Tapi aku sungguh-sungguh tidak tahu.”
“Pagi ini tidak ada sarapan telor ceplok!”
“Kamu mengancam?”
“Akibat ulahmu!”
“Besok aku gajian. Tidak ada uang belanja kalau begitu!”
“Kamu mengancam balik? Aku tidak tahan!”
“Tidak tahan apa? Tadi pas bangun posisimu memelukku?”
“Kamu yang menggerakkan tanganku untuk memelukmu. Ngaku!”
“Kamu yang ngaku! Katanya aku sudah kendor, kok kamu peluk-peluk?”
“Katanya enggak tahan, tapi dipeluk diam saja.”
“Aku benar-benar enggak tahan sama kamu! Aku mau pulang!”
“Pulanglah sendiri kalau mau. Aku repot!”
“Repot apaan?”
“Mencari pisau dibalik kolorku untuk kupeluk nanti malam!”
Begitulah, bahkan sebelum ada secuil pun sarapan yang masuk ke tubuh keduanya, mereka sudah punyaamunisi untuk slaing serang. Namun, bila kau tahu, sesungguhnya pertengkaran dan ancaman-ancaman itu kosong belaka. Suara mereka saat beradu mulut tidak sampai membangunkan bayi tentangga. Bahkan, andai mereka punya, bayi di rumah itupun tak akan terusik. Ya, andai mereka punya bayi sendiri.
“NANTI jadi?” tulisan itu tertera di layar ponsel si suami menjelang wkatu kerjaan usia.
“Jadi. Kamu naik taksi saja. Tunggu di tempat, Aku menyusul,” begitu balasan yang dikirimkan si suami kepada istrinya. Dan bertemulah mereka di tempat yang disepakati. tapi waktunya molor dari seharusnya.
“Kamu dari mana saja, sih?” tanya si istri dengan berbisik.
“Macet,” jawab si suami tak kalah pelan.
“Enggak mampir-mampir dulu, kan?”
“Mampir ke mana?”
“Enggak tahu. NGantar teman perempuanmu kali.”
“Ya, aku ngantar teman perempuan. Terus kenapa”
“Nah, kan. Katamu tadi macet!”
“Ya ampun. Aku enggak tahan lagi sama kamu!”
“Kamu mau kuantar pulang ke rumah orangtuamu?”
“Enggak sudi1”
“Katamu enggak tahan?”
“Antarkan aku beli kolor saja!”
Jawaban terakhir yang sebenarnya bisa berlanjut menjadi percakapan yang berlarut-larut, mesti terpenggal kehadiran seseorang. Seseorang itu menghampiri ruang tamu tempat si istri tadi menunggu sendirian sebelum suaminya tiba. Ia adalah pemilik panti asuhan ini.
“Syarat-syaratnya sudah lengkap. Tinggal menunggu prosesnya.”
“Berapa lama kira-kira?” tanya si istri pada seseorang itu sembari menggenggam jemari suaminay.
“Ditunggu saja. Yang sabar, kata seseorang itu menenangkan.”
Si suami sebetulnya juga ingin bertanya sesuatu. Tapi kata-katanya terjebak di tenggorokan. Seolah ada yang mencekik lehernya hingga ada genangan di pelupuk demi menahan cekikian itu. Dan yang mencekiknya adalah peristiwa yang lamat-lamat terkenang.
“Bagaimana, Dok?”
“Mohon maaf, tidak bisa diselamatkan. Tapi, yang patutu disyukuri, istri Anda tertolong.”
“Oh, Tuhan”
Itu adalah peristiwas saat suami-istri itu kehilangan buah cinta mereka. Si istri, sebagai pengantin baru, yang ingin menjadi perempuan terbaik di mata suaminya, barangkali terlalu lelah menakhlukkan pekerjaan rumah tangga.
“Pekerjaan rumahmu terlalu berat,” kata si suami setelah lewat masa berkabung. Dan kejenakaan mulai timbul di antara mereka.
“Itu kewajibanku.”
“Sekarang tidak wajib lagi.”
Hah, kamu ingin berpisah dariku?”
“Aduh, siapa yang ngomongh begitu?”
“Itu tadi.”
“Kapan?”
“Katamu aku tidak wajib beres-beres rumah ini. Padahal itu kan kewajiban istri. Kamu mau punya istri baru?”
“Enggak begitu juga. Pokoknya, kamu enggak boleh capek. Itu saja.”
“Kamu enggak jujur padaku.”
“Aku harus bilang apa?”
“Kamu kecewa padaku, kan?”
“Ya, aku kecewa!”
“Nah, kan. Aku enggak tahan lagi!”
“Ya, ampun. Aku cuma menjawab sesuai maumu. Maka kubilang saja begitu!”
“Pulangkan aku!”
“Kalau mau pulanglah sendiir. Aku repot!”
“Repot apaan?”
“Mau beli celana kolor!”
Itulah percakapan menjelang tidur yang mula-mula mereka lakukan. Esoknya, si suami benar-benar membeli celana kolor. Sebab, sesaat menjelang memberi jawaban itu, ia kebelet buang air kecil dan turun dari ranjang.  Gerakan yang tiba-tiba dengan tenaga tak terkendali merobekkan celana kolor lamanya. Maka, sampai hari ini, dengan celana kolor barunya, yang sekarang karetnya kendor itulah ia tidur.
AGAR istrinya tidak bandel untuk memasak aneka makanan, si suami emmbuang berbagai peralatan dapur  termasuk bermacam pisau. Satu pisau kecil yang tersisa itu sebenarnya semata-mata tumpul. Cuma mampu memecah cangkang telur dan mengiris daging lunak. Atau mengiris daun bawang untuk taburan telur ceplok. Untuk makan siang dan malam, mereka bisa membeli. Sedangkan untuk memberesi rumah, pekerja lepas dipanggil.  Itulah sebabnya, saat mereka makan malam dengan lauk gurami, piringnya tidak dibereskan. Sebab, ada seseorang yang nantinya akan membereskan.
Si istri menuruti kata suaminya. Namun kejadian yang sama terulang juga. Saat mengandung untuk kali kedua, si janin juga harus gugur lagi. Saat itulah diketahui bahwa rahim si istri memang lemah dan akan berisiko bila hamil sekali lagi. Alasan itulah yang harus mengarahkan keduanya mengunjungi panti asuhan untuk mendapatkan sesuatu yang sudah lama mereka  idamkan.
Sepulang dari panti asuhan, nyaris tidak ada percakapan di antara suami-istri itu. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Barulah menjelang tidur, kata-kata mulai mengalir di antara mereka. Si suami yang memulai.
“Karet kolorku kendor. Besok benerin, ya.”
Dan seterusnya, dan seterusnya.
Roby Prasetyo lahir di Kediri, 5 Februari 1986. Lulus dari Teknik Kelautan di Institut Teknologi Surabaya.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Roby Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 24 Mei 2015