Odang

Karya . Dikliping tanggal 12 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

SETELAH adanya kabar kemalingan di salah satu rumah warga—uang dan perhiasan raib seketika malam itu, kedatangan Odang di perumahan Indo Permai mulai dicurigai warga.
ODANG adalah seorang pendatang yang bekerja sebagai cleaning service di tempat karaoke yang berjarak tak jauh dari perumahan Indo Permai. Ia selalu pulang kerja lewat tengah malam. Berjalan kaki melewati gang yang sama setiap hari. Sudah tak ada warung yang buka, tak ada suara celoteh orang-orang bermain kartu domino, atau gurauan pemuda menonton televisi seperti di kampungnya. Di pos ronda hanya terlihat kentungan yang menggantung, tidak ada hansip atau pemuda yang berjaga malam.
Pagi ini, Odang pergi bekerja. Berjalan seperti biasa melewati gang.ia seorang lelaki yang ramah dan tidak segan untuk menyapa warga di perumahan. Sebagian sudah ada yang mengenal Odang, terutama Wati. Gadis lesung pipit, berambut panjang pemilik minimarket tempat ia sering membeli roti dan minuman untuk sarapan.
Sampai di minimarket Wati, Odang berdiri seperti bisa di pintu masuk minimarket, membuka pintu dan melihat sekeliling. Tapi, kali ini Wati tidak berada di meja kasirnya. Odang memanggil tetapi tidak ada jawaban yang terdengar dari Wati. Ia terus memanggil berulang kali. Hening, Odang berpikir barangkali Wati sedang mencuci di rumahnya yang berada tepat di belakang minimarket. Tanpa sarapan dan minum, ia segera pergi.
Dalam perjalanan, Odang berpapasan dengan perempuan kakak-beradik yang berangkat ke sekolah. Biasanya mereka selalu membalas sapaan Odang dengan senyuman, tetapi ketika Odang menyapa, alangkah terkejutnya ia, perempuan kakak-beradik itu membuang muka dan memperbesar langkah menjauhi Odang. 
Ilustrasi “BLACK Lup” karya Asep Wahyu
Odang terdiam, langkahnya terhenti sejenak. Raut wajahnya berubah heran. Apa yang terjadi? Bisiknya dalam hati. Odang kembali melanjutkan perjalanannya. Ia berkali-kali menoleh ke kiri dan ke kanan, biasanya di beberapa rumah selalu ada ibu-ibu yang menyiram bunga, menjemur pakaian, dan menyapu halaman. Namun, pagi ini tidak satu pun yang terlihat oleh Odang. Keadaan terasa lengang di tiap sudut rumah warga. 
Dari kejauhan Odang mendengar suara bel sepeda, ia tahu yang mengendarai sepeda itu adalah Bang Jalo. Lelaki berbadan gempal yang ia kenal di minimarket Wati saat mengantar koran. Odang melambaikan tangan ke arah Bang Jalo. Semakin dekat, Bang Jalo memperlambat laju sepedanya. 
“Selamat pagi, Bang Jalo,” sapa Odang sumringah.
Bang Jalo tidak berhenti, sepedanya hanya melambat sesaat. Tanpa senyum, Bang Jalo menatap tajam, mukanya gusar. Tanpa sepatah kata pun ia semakin menjauh. Odang lagi-lagi terdiam, tak pernah ia mendapatkan tatapan tajam seperti itu. 
Perlakuan dari orang-orang yang ia dapatkan selama di perjalanan menuju tempat kerjanya membuat Odang mulai cemas, keinginannya untuk masuk kerja hari ini mulai urung. Tanpa pikir panjang Odang bergegas menuju rumah ketua RT. Ia ingin mengetahui perihal apa yang terjadi di antara ia dan warga perumahan. Odang berpikir barangkali ketua RT tahu masalah ini.
Sesampainya di rumah ketua RT, Odang terperanjat mengamati orang-orang berkerumun. Warga perumahan Indo Permai berkumpul di depan rumah ketua RT, dari belakang keramaian Odang melihat ketua RT tengah berbicara dengan warga. Odang ingin mendengar lebih jelas, pelan-pelan ia mencoba masuk dalam kerumunan. Selangkah maju tak sengaja Odang menyenggol salah seorang warga dan tiba-tiba terdengar suara teriakan.
“Malingnya ada di sini!”
Warga perumahan sontak melotot dan lekas memberi jarak antara mereka dan Odang. Odang berkeringat, tubuhnya gemetar melihat pandangan dan raut wajah warga yang merah padam. 
“Kebetulan sekali kau sendiri yang datang kemari. Maling sialan!” Teriak salah seorang warga kepada warga lainnya. “Dialah pelakunya,” sembari menunjuk ke arah Odang. Dengan cepat warga memegang erat kedua lengan Odang. Ia tidak memberontak, ia masih terpaku dengan pernyataan warga.
“Tunggu sebentar!” kata ketua RT mendekati warga perumahan Indo Permai. “Saya hendak bertanya, kenapa saudara Odang yang dianggap sebagai pelakunya?” tanya ketua RT kepada warga yang mengelilinginya.
“Salah seorang dari kami melihatnya lewat gang itu tadi malam,”sahut seorang warga.
“Iya betul, saya juga mendengar dari warga lain kalau semalam hanya dia yang melewati gang itu. Jadi, siapa lagi kalau bukan dia pelakunya,” ujar warga lain.
“Betul!” sorak semua warga.
“Sebentar, harap tenang semuanya,” seru ketua RT sembari mendekat Odang. “Benar kalau semalam saudara melewati gang itu?”
Pertanyaan ketua RT memecah diam Odang. Odang ketakutan, jantungnya berdetak kencang, sebab di kampungnya ia tak pernah mengalami hal seperti ini. Apalagi mendapat tuduhan yang dilontarkan warga kepadanya. Ia hanya ingin mencari peruntungan di kota ini, bekerja dan mendapatkan uang untuk membantu keluarganya di kampung. Odang hanya ingin mencari kehidupan yang lebih layak.
“Saya memang pulang lewat gang itu dan saya tidak tahu apa-apa kejadian semalam,” jawab Odang meyakinkan ketua RT dan warga.
“Benarkah?”
“Percayalah, saya sungguh tidak tahu kejadian semalam.”
“Eh, ketua RT. Mana ada sejarahnya maling mau mengaku,” teriak seorang warga.
“Betul, betul!” Sorak warga perumahan Indo Permai.
Ketua RT menghela napas panjang, kekecewaan terhadap Odang tampak di wajahnya. Ia tak bertanya lagi. Warga bersikeras Odang segera dibawa ke kantor polisi. Sebab dua tahun belakangan tak pernah terjadi kemalingan di perumahan Indo Permai. 
Warga segera membawa Odang keluar dari perumahan Indo Permai. Odang diarak melewati gang perumahan. Warga yang berpapasan, memandang dengan cibiran dan ocehan kasar yang membenamkan percaya diri Odang sebagai pendatang. 
Saat dinaikkan ke mobil, Odang tidak menyadari Wati berdiri di sudut kerumunan warga dengan membawa roti sarapan dan minuman di tangannya. Mobil pun berangkat menjauhi kerumunan yang mulai sepi. Hanya Wati yang masih berdiri memandangi mobil yang membawa Odang ke kantor polisi. 
***
TIGA hari berlalu, sidang belum juga dilaksanakan, sebab bukti seperti barang curian masih belum ditemukan polisi sampai saat ini. Di dalam sel Odang hanya termenung, tak sedikit pun suara keluar dari mulutnya. Odang masih tak menyangka kedatangannya ke kota ini akan berakhir di dalam sel. Odang tidak ingin mengabarkan ini pada keluarganya, tak ingin kejadian ini berbuah malu di kampungnya. 
“Hei, kau. Ada yang ingin bertemu, bergegaslah,” kata polisi itu tegas.
Odang segera keluar, menuju ruang tunggu. Odang sontak tercengang.
“Kamu mencari saya?” kata Odang dengan suara pelan.
Wati mengangguk. Odang tak mengira Wati akan mengunjunginya. Wati datang sendirian serta membawa bekal roti sarapan dan minuman.
“Bagaimana keadaanmu? Ini, kubawakan sarapan untukmu,” sapa Wati membuka bungkus roti.
Odang menunduk malu. Air matanya jatuh membasahi pipi. Wati segera mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengusap lembut air mata Odang.
“Maafkan aku yang saat itu tidak menjawab panggilanmu sewaktu di minimarket. Aku berdiam diri di dalam rumah, lantaran tak sanggup melihatmu. Aku sudah tahu kejadian itu sebelumnya, dari tetangga sebelah yang menceritakan kepadaku. Aku percaya bahwa kau bukanlah pelakunya. Mau kau memaafkanku, Odang?” ucap Wati menatap Odang penuh kasih.
Odang tersenyum, ia tahu Wati satu-satunya orang yang peduli kepadanya. Ia memaafkan dan menikmati roti sarapan pemberian Wati. 
“Aku ingin bertanya kepadamu,” kata Wati sembari mengeser (terketik sesuai yang tercetak di koran, admin) helai rambut panjangnya ke belakang telinga. “Apa kau memberitahu keluargamu masalah ini?”
“Tidak. Saya tidak ingin mereka tahu. Cukuplah masalah ini saya sendiri yang hadapi.”
Odang kembali menggunyah (terketik typo sesuai yang tercetak di koran, admin) roti sarapannya yang tinggal setengah potong. Wati lalu melanjutkan kabar lain yang akan disampaikannya, tapi sesegera mungkin mengatakannya.
“Odang, warga perumahan Indo Permai kembali geger,” Wati memulai ceritanya. Odang menyimak dan menghentikan sarapannya. “Tadi malam rumah seorang warga kemalingan dan sejumlah uang tunai beserta sepeda motor raib seketika. Yang lebih menghebohkan, di tempat kejadian tepatnya di samping rumah yang kemalingan itu, ditemukan sebuah sepeda. ***
Padang, 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ismail Idola 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 11 Januari 2015