Ode Kota – Ode Rumah Sakit Jiwa – Ode Sebuah Teratai

Karya . Dikliping tanggal 4 Desember 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Ode Kota 

Cemburu pada pohon-pohon
Ia bangun replika baja dan beton
Tempat bersarang para kembara
Dalam garba luka
mendekap senja

Di jendela tanpa kaca
Mata dunia
Melahirkan rezim perburuan makna
Kata-kata
Air tanah
Tanah air
Mata

Memandang Code dan Opak
Dari ketinggian
Segala rupa tak lagi bersahaja
Kecuali Tugu yang terus bersolek
Menambah gegar para pencari pecinta

Betapa sudah purba
Kisah legenda Merapi
Yang sebentar lagi mengajakmu pergi
Menyiram diri
Bersama peri-peri
Di selatan perigi

Yogyakarta, 2016 

Ode Rumah Sakit Jiwa 

Setelah bertahun-tahun menyerah pada cinta
Yang membabi buta di dunia maya
membuatnya sakit jiwa
Kemarin, pikirannya dioperasi sebelah
Satu untuk kegalauan yang membeku
Satu lagi untuk kerinduan yang mencair dalam ke
lambu

Syahwat kuasa membuatnya terbelenggu
Dalam kotak-kotak suara
Ini kota penaklukkan dari rampasan masa silam
Tak ada yang tersisa kecuali tinja
Gagasan-gagasan yang mem-frozen dalam benak
tua muda
: ia membeli semua wacana dan gaya
Pada selembar kartu sehat
Dan sejumput obat anti sekarat

Di sinilah kesenangan untuk melupakananji
Dari pelarian sampai ke lubuk sunyi
Hanya dinding tanpa warna
Kaku dan membisu
Segalanya hanya fatamorgana di sini
Kecuali jiwa-jiwa yang beterbangan merebut kuasa
: kehendak sang Dewa-dewa!

Yogyakarta, Maret 2016 

Ode Sebuah Kursi

Ialah singgasana
Perhiasan dunia
Saban lelaki tergoda
Saban perempuan terpana
Ingin lenggah di sana

”ia adalah mimpi
Yang mengejar bayang-bayang
Dalam keriuhan gelap
Bersama angin dan pisau
Menghunjam jantung
Kata-kata muslihat”

Ialah singgasana
Tempat merebahkan lelah
Bagi lelaki penggoda
Bagi perempuan persona
Yang ingin merengkuh dunia

Suatu ketika
Zaman berbalik arah
Tak ada singgasana
Yang mampu menahan amarah
Angin yang tiba-tiba membuncah
Melumat catatan sejarah

Yogyakarta, 2015 

Ode Sebuah Teratai

mengapung di atas kolam
mencucup sari dari dasar jiwa
ialah sesembah
meluruhkan daki-daki
pada akar-akar kehidupan

mengambang di atas kolam
udara mendedah hasrat
centang perenang
menyusuri masa silam

angin membuncah di atas kolam
daun-daun teratai mengepak bagai sayap
mencoba bertahan
dari kegusaran para perindu

Yogyakarta, 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hazwan Iskandar Jaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 4 Desember 2016
Beri Nilai-Bintang!