Orang Mati – Dalam Sajak – Lukisan Abstrak

Karya . Dikliping tanggal 25 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Orang Mati

Aku dibunuh setelah mengatakan “tidak”
Orang sekaumku percaya
kata itu diciptakan iblis di depan lelaki
pesolek kesayangan Bapak. Di tengah
sidang suci lancang ia mengucapkannya
Sejak itu, tuan, kata “tidak” adalah tulah
pengusiran, kematian, dan darah
Sejak hari pertama aku mengucapkannya
langit bergetar, pepohonan mati, udara basi
dan bau kuburan, ular-ular tanah menyelinapkan
bisa ke dalam umbian
Seperti saat pengusiran iblis;
pada hari kematianku, air, tanah, dan langit
begitu lengang. Tuan menyelinap ke dalam
rumahku, ke dalam tubuhku; tuan mencari-cari
kata “tidak”
Tuan mengerat lidahku
kata itu kuteriakkan di sorot mata
tuan mencukil mataku
kata itu kujerang dalam darah
tuan menumpahkan darahku
kata itu kusembunyikan dalam ruh
ketika tuan mengeluarkan ruhku
kata itu telah kutuliskan di seluruh tembok kota
2015

Dalam Sajak

Kusimpan diriku dalam sajak
kata-kata mengelak, mengusir
ke jantung debu
Aku bukan pesuruh
Kucari remah diriku dalam sajak
kata-kata tegak membuka pintu
mematikan lampu
Aku pengicuh
Kulupakan diriku dalam sajak
kata-kata memanggul tubuhku
sepanjang jalan memanggilmu
Lamma sabakhtani….
2015

Lukisan Abstrak

Lebih dari utusan seorang penyalin
vas bunga di atas meja. Lebih dari kamera
seorang pengicuh bayang berulang. Lebih
dari tawanan ingatanmu – selekas
kerling mata seorang penari
Aku, tuan, tubuh tak berkarena
Masuki tubuhku, tuan
tak ada siapa dan hikayat apapun
yang kautemukan. Bahkan tak kukenali
dari mana muasalku
Meski kerap tuan menyebut
sebuah negeri ketika bayang
wujud meloloskan diri dari
ingatan cahaya dan warna
Masuki tubuhku, tuan
Lebih dari patung-patung orang suci
lebih dari lemas lidah seorang penafsir
lebih dari pembawa warta yang berlari
ke puncak bukit
Tuan, aku tubuh tak berkisah
2015
Ahda Imran lahir di Kanagarian Baruhgunung, Payakumbuh, Sumatera Barat, 10 Agustus. Buku kumpulan puisinya Penunggang Kuda Negeri Malam (2008) dan Rusa Berbulu Merah (2014). Ia tinggal di Bandung, mengelola Komunitas Buku SelasarBahasa, KebunSeni.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahda Imran
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 25 Oktober 2015