Orang-Orang Serigala

Karya . Dikliping tanggal 8 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
DIKATAKAN mimpi, namun di alam nyata. Dikatakan nyata, namun serasa di dunia mimpi. Bagaimana tidak? Sewaktu tersesat di suatu perkampungan di wilayah Kelurahan Nguditentrem, aku menyaksikan seluruh orang yang merangkak seperti serigala. Kedua mata mereka menyala bara serupa mata iblis. Lidah mereka menjulur-julur berliur menjijikkan. Bila marah, mereka meraung-raung. Mencakar-cakar tubuhnya sendiri hingga berdarah.
Semakin dibuat aku terheran-heran. Saat mengetahui, kalau orang-orang serigala itu tidak memakan nasi, sayur, dan buah. Mereka memakan besi, kaca, dan plastik. Terkadang mereka memakan sampah dan kotoran yang keluar dari duburnya sendiri. Lebih menyeramkan, mereka memakan bayi yang baru dilahirkan istrinya. Sungguh! Ini perkampungan iblis yang belum pernah diberitakan televisi dan koran. Diunggah pengguna Twitter atau Facebook.
Sejak menyerupai sarang iblis, kampung yang kemudian dikenal dengan Kampung Serigala itu terisolir dari kampung-kampung lainnya. Hanya orang-orang bernyali besar yang nekat datang ke kampung itu. Bukan sekadar melihat ketandusan sawah dan ladangnya hingga tidak dapat ditanami padi, ketela, jagung, sayuran, dan buah-buahan; namun seluruh penghuninya.
Lambat laun, persediaan makanan di Kampung Serigala ludes tidak tersisa. Karenanya, orang-orang serigala mulai nekat mengadu nasib di kampung-kampung sekitarnya. Mengais-ngais gunungan sampah untuk mencari besi, kaca, dan plastik. Dengan  membabibuta, mereka mencuri bayi-bayi yang baru dilahirkan ibunya untuk digladag sendiri.
Menanggapi laporanku tentang petaka yang melanda kampung-kampung lain di Nguditentrem, lurah Dulkemit bergegas bertindak. Mengerahkan seluruh anggota Hanra dan Hansip untuk menghabisi orang-orang serigala yang berkeliaran di wilayah kelurahan itu. Sebagai warga yang terbilang baru, aku turut membantu mensukseskan misi itu. Meskipun harus bertaruh nyawa. mengingat mereka lebih berbahaya dari harimau, singa, atau buaya liar.
***

SIANG malam, orang-orang Kalurahan Nguditentrem selalu berjaga-jaga di setiap tepian kampung mereka masing-masing. Tidak hanya kampung-kampungn lainnya, seluruh warga Kampung Pasiraman dimana aku tinggal selalu bergiliran untuk menjaga keamanan dari ancaman orang-orang serigala.

Baca juga:  Ketika Wuru
Pada malam bulan penuh, aku mendapatkan giliran jaga di poskamling. Ditemani Kiai Miswan, Kontet, Panjul, dan Gondes; aku menjadi tidak gentar menghadapi bahaya yang kemungkinan muncul malam itu. Terlebih kampak, linggis dan pedang tidak jauh dari jangkauan.
“Sesungguhnya aku tidak tega membunuh orang-orang serigala itu! Kiai Miswan memecah suasana senyap. “Seharusnya kita mendoakan, agar mereka dapat terbebas dari kutukan. Kampung Seringala kembali menjadi sejahtera. Sawah dan ladang mereka dapat kembali ditanam padi, jagung, ketela, sayuran, dan buah-buahan. Hingga mereka tidak lagi memakan bayi.”
“Kenapa mereka kena kutukan, Kiai?” Aku semakin penasaran. “Kenapa kampung mereka bertanah tandus?”
“Semula Kampung Serigala dikenal dengan nama kampung Ngudimakmur. Karena kemakmurannya, orang-orang di sana terninabobokkan. Mereka tidak menjaga sawah dan ladang mereka yang subur. Sebaliknjya, mereka memanfaatkan hasil bumi yang berlimpah untuk ditukar dengan uang. Uang itu, mereka tukar dengan kenikmatan dunia. Bermain perempuan hingga banyak anak haram dilahirkan. Mabuk tuak. Ngibing dengan sinden tayub. bersabung jago. Berjudi kartu, dadu, dan rolet.”
“Sungguh sangat kasihan orang-orang itu.”
“Karenanya aku tidak setuju dengan kebijakan Dulkemit yang ingin membunuh mereka. Kejahatan jangan dilawan dengan kejahatan. Kejahatan harus dilawan dengan kebajikan. Bukankah api selalu padam oleh air?”
“Aku juga tidak setuju dengan pendapat Kiai.” Gondes yang masih suntuk bermain remi dengan Kontet dan Panjul itu menyela pembicaraan. “Orang-orang serigala harus dibunuh. Mereka telah membunuh  bayi-bayi kami. Utang nyawa dibalas dengan nyawa.”
“Sabar! Sabar!”
“Kia Miswan bisa sabar, tapi aku tidak.” Gondes membanting kartu king di ujung deretan kartu yang mengular di atas tikar. “Sebagai Ayah yang bayinya dimangsa orang serigala, aku tidak bisa bersabar. Aku tidak bisa tidur nyenyak, sebelum mencabik-cabik tubuh orang serigala yang memangsa bayiku.”
Suasana mendadak senyap. Di tengah kesenyapan itu terdengar raungan orang serigala di kejauhan. Tanpa berpikir panjang Gondes, Kontet, dan Panjul yang menghentikan permainan reminya itu meninggalkan poskamling. Demikian pula aku. Kami yang membawa senjata berjalan cepat ke arah sumber raungan. Sementara, Kiai Miswan hanya tinggal di Poskamling.
Menapaki jalan berumput yang mulai basah embun, kami serasa pahlawan yang akan membasmi kejahatan. Saat mendekati sumber suara raungan, kami melihat orang-orang berseragam hansip dan hanra yang berlarian tunggang langgang memasuki Kampung Pasiraman. Salah seorang bilang, “Jangan hadapi mereka! Bahaya! Ratusan orang serigala menculik Lurah Dulkemit. Mereka mencabik-cabik tubuhnya, sebelum beramai-ramai memangsanya.”
Mendengar kabar dari orang itu, nyali kami sontak melempem seperti kerupuk di kubangan kuah. Bersama orang itu, kami bergegas mengambil langkah seribu. Gondes, Kontet dan Panjul pulang ke rumah masing-masing. Aku yang masih punya nyali kembali ke poskamling untuk menemui Kiai Miswan. Namun, ia sudah tidak ada di sana.
***
PAGI hari, kelurahan Nguditentrem geger. Seluruh warga membicarakan tentang peristiwa tewasnya lurah Dulkemit yang diculik, dicabik-cabik, dan dimangsa orang-orang serigala. Sebagaimana mereka, akupun membincangkan peristiwa itu di rumah Kiai Miswan. Namun, orang yang dituakan di Kampung Pasiraman itu tampak tenang. Seolah ia menganggap bahwa kematian Lurah Dulkemit itu adalah wajar.
“Tampaknya Kiai tidak merasa berduka atas meninggalnya lurah kita?”
“Dulkemit telah memetik buah dosa yang dilakukannya.” Kiai Miswan sejenak mengisap rokok dan menghembuskan asapnya lewat lubang hidung dan mulutnya. “Manakala Kampung Serigala dalam kesejahteraan, Dulkemit yang telah menjadi lurah selama dua periode itu selalu mengambil kesempatan untuk membeli hasil buminya dengan harga murah. Mengizinkan orang-orang di sana untuk pesta tuak dengan nanggap tayub, main perempuan, sabung jago, dan berjudi. Sesudah kampung itu terkena kutukan hingga warganya berubah menjadi orang-orang serigala, ia tidak berusaha membebaskannya. Sebaliknya, ia memiliki rencana besar yang  tidak diketahui semua warga Nguditentrem.”
“Rencana apa itu?”
“Membinasakan orang-orang serigala. Bila mereka telah binasa, Dulkemit akan menjual wilayah Kampung Serigala kepada mantan penguasa terkaya yang memiliki hubungan erat dengan pejabat tinggi negara.”
Aku terperangah seusai mendengar jawaban Kiai Miswan. Karenanya, aku tidak menyertai beberapa warga untuk melaporkan kasus tewasnya Dulkemit ke kantor polisi. Aku pun tidak membantu, manakala ribuan orang berseragam dan bersenapan membinasakan orang-orang serigala. Aku hanya bisa mendoakan agar mereka dapat tinggal di negeri arwah paling damai.
***
SETAHUN kemudian. Aku lebih dibuat terperangah, saat menyaksikan Kampung Serigala menjadi kawasan pabrik. Konon pabrik-pabrik yang dibangun di atas genangan darah orang-orang serigala itu milik pengusaha terkaya. Orang-orang yang memiliki relasi dekat dengan pejabat tinggi negara.
Sejak pabrik-pabrik itu beroperasi, orang-orang Nguditentrem mulai suka minum air limbah. Memakan plastik, semen, deterjen, dan pengawet mayat. Hingga kelak, mereka akan serupa mayat-mayat yang berkeliaran  sebagai vampire atau drakula. Kebiadaban mereka akan melampaui orang-orang kanibal yang tega memangsa saudara, istri, dan anak-anak mereka sendiri. (k)

[] Cilacap, 25 Mei 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari Sri Wintala Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 7 Juni 2015