Pablo Aimar

Karya . Dikliping tanggal 5 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Gadis

Jam di tangan Re menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Hmm, masih ada banyak waktu nih sebelum bel masuk sekolah dibunyikan. Kayaknya masih sempat buat ngobrol sama Sigi, sahabat Re yang ada di kelas berbeda. Setelah menaruh tasnya di bangku, Re pun berjalan santai menuju kelas Sigi yang letaknya hanya beberapa ruangan dari kelasnya.

Sesampainya di sana, Re melihat Sigi lagi asyik membaca koran bagian olahraga. Hmm, pasti deh soal Piala Dunia. Re langsung menghampiri sahabatnya itu, duduk di sebelahnya, dan bertanya, “Jadi, tim mana yang bakal tanding hari ini?”

“Eh, elo, Re,” Sigi menengok sekilas, lalu kembali menekuni korannya.”Ada big match nih, Argentina lawan Inggris. Dua-duanya sama-sama tim yang diunggulkan buat jadi juara Piala Dunia sekarang. Dan yang bikin seru, mereka itu musuh bebuyutan dari jaman dulu.”

“Oooh ….”

Terus terang saja, Re nggak gitu peduli kesebelasan mana yang bertanding di Piala Dunia hari ini. Soalnya, dia memang nggak hobi nonton sepak bola. Re nggak habis pikir, apa sih serunya nontonin 22 orang asyik ngejar-ngejar satu bola sampai ngabisin waktu 1,5 jam! Daripada nonton olah raga ‘kurang kerjaan’ itu, mendingan dipakai jalan-jalan ke mal, deh. Tapi berhubung sahabatnya termasuk cewek gila bola, maka Re nggak mau ngasih komentar jelek soal sepak bola.

Sigi masih saja asyik membaca analisa seorang mantan pelatih kesebelasan nasional Indonesia tentang pertandingan malam nanti. Ngerasa agak dicuekin, Re pun mencoba menarik perhatiannya.

“Kalau menurut gue, Inggris pasti menang,” kata Re dengan tampang yakin. Strateginya berhasil. Perhatian Sigi langsung teralih padanya.

Baca juga:  Dua Pria Muda yang Membicarakan Kematian

“Oh, ya?”

“Iya, dong. Soalnya kan Inggris punya David Beckham sama Michael Owen. Dijamin deh Inggris nggak bakal kalah!”

“Wuih, tumben amat lo mau diajak ngomongin bola! Biasanya langsung melipir pergi. Dapat dari mana infornya?” tanya Sigi dengan tatapan heran.

“Ada, deh,” Re sok berahasia. He he, padahal sih, ia cuma mengutip omongan penyiar radio yang didengarnya tadi pagi.
“Kalau menurut gue sih, yang bakal menang itu tim Argentina. Soalnya tim mereka banyak banget bintang topnya. Ada Batistuta, Veron, Ortega, Simeone, dan yang paling oke sih Pablo Aimar! Gilaa, dia cakep banget, lho,” jelas Sigi seru.
Mendengar kata-kata cowok cakep, alarm cute guys alert di kepala Re langsung menyala. “Hah, Pablo siapa?”

“Pablo Aimar! Wah, lo harus lihat orangnya. Udah cakep, bodinya oke, tinggi, mainnya bagus pula. Pas banget kayak tipe cowok idaman lo. Tapi, wait a minute, lo kan nggak pernah nonton bola. Jadi kayaknya nggak mungkin deh bisa ngelihat kayak apa si Pablito ini. Apa lo mau nemenin gue nonton bola nanti malem?”

“Ngngng …, boleh, boleh,” jawab Re agak tergagap.

“Beneran? Asyiiik. Tapi awas ya kalau ketiduran lagi kayak waktu itu.”

“Iya, janji deh nggak tidur. Tapi, si Pablo itu pasti main kan?”

“Pasti dong! Ya udah, nanti pulang bimbel kita langsung ke rumah gue aja, ya. Besok kan kita nggak sekolah, jadi pasti lo dibolehin deh sama ortu lo. Biar nanti pulangnya abang gue yang antar.”

“Oke!” Re mantap menjawab. Ia nggak mau menyesali keputusan yang diambilnya tadi. Lagi pula, Re mau ngebalas jasa sahabatnya itu yang selalu rela menemaninya browsing barang-barang baru di Melawai. Tapi awas saja kalau si Pablo ini nggak cakep, kata Re dalam hati.

Baca juga:  Lolong Kematian

Sebelas jam kemudian, Re dan Sigi sudah duduk manis di depan teve berbentuk bola yang khusus dibelikan papanya Sigi untuk ditaruh di kamarnya. “Biar suasana Piala Dunianya lebih berasa,” jelas Sigi saat ngelihat tampang heran Re.

Beberapa menit kemudian, peluit tanda pertandingan pun dimulai. Pandangan mata mereka pusat terpusat ke layar televisi. Tiba-tiba, Re ngelihat sesosok cowok cakep. “Eh, itu bukan yang namanya Pablo?”

“Bukan! Itu namanya David Beckham. Kalau yang ini namanya Michael Owen. Gimana sih, tadi lancar banget ngomongin Beckham dan Owen, tapi kok nggak tahu orangnya yang mana!” gerutu Sigi.

“Hi hi, maaf, deh! Terus mana Pablonya?”

“Belum diturunin. Sabar aja.” Re langsung melirik sahabatnya itu dengan mata sebal. Jadi ada kemungkinan Pablo nggak main di pertandingan ini?

Pablo AimarPertandingan sudah berjalan setengah jam, dan Re mulai dilanda rasa bosan dan ngantuk. Tendangan pinalti Beckham yang akhirnya membuat Inggris unggul 1-0 dari Argentina pun nggak bisa membangkitkan semangatnya. Dan saat babak kedua dimulai, mata Re sudah terasa berat dan ia pun mulai setengah tertidur.

Tiba-tiba …. “Asyik! Tuh, Pablo Aimar turun,” kata Sigi sambil mencolek. Mata Re langsung terbuka lebar.

“Mana, mana?” Re mencondongkan badannya ke depan teve. Dan begitu melihat tampang cowok yang berlari masuk ke tengah lapangan, Re langsung terkesiap. “Waaah, gila ya! Keren banget ya si Pablo, cakepnya pol!”

“Tuh kan, gua bilang juga apa. Pasti deh lo langsung naksir berat sama dia,” Sigi senyam-senyum ngeliatin reaksinya Re.

Baca juga:  Ditolak Bumi

“Bener banget, ‘gi! Liat deh, gayanya keren abis. Sepatunya aja beda sendiri, ada warna merahnya. Waaah, meleleh nih gue …!” kata Re setengah histeris. Kali ini Sigi sampai ketawa keras banget mendengar komentar Re.

Setelah beberapa menit, Re masih aja nggak berhenti mengagumi sosok Pablo. “Lihat deh, rambut keritingnya lucu banget,” katanya dengan pandangan memuja.

“He eh. Tau nggak, dia kan sengaja manjangin rambutnya sampai megar kayak gitu. Biar mirip sama Maradonna, pemain bola idolanya.”

“Wah, berarti dia nggak bakalan mau dong kita ajak ke salon buat rebonding!” kedua cewek ini pun cekikikan. Dan nggak berasa, pertandingan pun akhirnya selesai dengan kedudukan 1-0 buat kemenangan Inggris.

Baru kali itu Re merasa nonton pertandingan bola adalah kegiatan yang menarik. Dan rasanya dia betul-betul nggak sabar untuk lihat final Piala Dunia akhir bulan ini.

Argentina emang keok, dan si Pablo yang cakep itu harus pulang ke negaranya,tapi besok malamnya, sebuah poster segede pintu bergambar Pablo Aimar sudah tertempel manis di dinding kamar Re. Jelas aja itu bikin orang-orang di rumahnya bertanya-tanya. Tapi Re cuma berkomentar pendek. “Yah, cowok cakep emang selalu bisa bikin perubahan dalam diri kita.”

Orang-orang di rumahnya langsung menyoraki. Tapi Re nggak peduli, dia sibuk bernyanyi dalam hati. ***


Kenny | Majalah Gadis

Keterangan

[1] "Pablo Aimar" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Gadis ini pernah tersiar pada edisi 5 - 15 Juli 2002