Pabrik Roti

Karya . Dikliping tanggal 30 Mei 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
IBU pernah bekerja di pabrik roti. Ia mampu membuat roti yang enak sekali. Banyak orang yang sengaja datang dari luar kota untuk membeli roti buatan ibu. Setidaknya begitu cerita yang sampai padaku.
Suatu hari ibu terlalu khawatir meninggalkan aku sendiri di rumah, khawatir jika sesuatu terjadi padaku, jika sesuatu akan menyakitiku, jika sesuatu akan datang padaku, jika sesuatu menggangguku, jika sesuatu membunuhku. Karena ibu terlalu takut, aku harus ikut dengannya ke pabrik roti di mana ia bekerja, menghabiskan paginya membuat roti yang sangat enak untuk orang-orang dari luar kota. Aku tentu sangat senang karena akhirnya aku dibawa serta, mungkin aku bisa membantunya membuat roti atau membantunya menghabiskan sisa roti. Tentu saja tak semua roti akan habis dibeli oleh orang-orang yang datang dari luar kota.
Pabrik roti itu tidak terlalu besar, terlihat seperti rumah biasa saja, yang berbeda hanyalah kegiatan di dalam. Ibu membawaku ke dalam dan menuju sebuah ruangan sempit di sudut rumah. Ia meletakkan bekal makan siang untuk kami berdua. Beberapa orang wanita menyapa ibu dengan ramah, dan tak lupa juga menyapaku. Beberapa yang lainnya dengan senyuman menyentuh kepalaku, bertanya pada ibu apakah aku anaknya. Mereka semua menggunakan celemek dan sudah siap memulai kegiatan membuat roti. Tapi ibu seperti datang dari kelompok lain, ia tak menggunakan celemek dan tak memegang tepung atau bahan pembuat roti lainnya, melainkan memegang sapu dan meletakkan lap kecil di bahunya.
Ibu mulai menyapu sisa-sisa tepung dan roti yang terjatuh dari atas meja. Sungguh itu mengejutkan aku. Bukan karena yang dilakukan ibu, bukan karena pekerjaan yang ibu lakukan saat itu, tapi karena apa yang aku percaya dari cerita yang ia katakan padaku. Semenjak itu aku berjanji akan membuatkan roti yang enak untuk ibu, roti yang sama yang dibeli oleh orang-orang yang datang dari luar kota.
Aku membiarkan ibu menyelesaikan pekerjaannya. Biasanya ibu akan pulang pada sore hari setelah azan Asar dikumandangkan di musala kecil sebelah rumahku. Tak jarang aku dan teman-teman setelah menangkap ikan di sungai akan berhenti untuk beristirahat di sana. Ketika semua orang mulai berwudu dan membersihkan meja dari sisa tepung yang berserakan. Ia terlihat begitu sibuk membersihkan segalanya di dalam ruangan itu dengan sapu dan lap yang sudah sangat kotor oleh debu, tepung, telur dan beberapa noda lainnya. Aku sudah tak ingin makan roti lagi, aku membiarkan ibu menyelesaikan pekerjaannya dan aku pergi bermain di halaman karena aku sudah menyelesaikan urusanku dengan pabrik roti dan pekerjaan ibu.

Pabrik roti ibu tak jauh dari rumahku sehingga aku masih dapat mengenali wajah-wajah yang lewat di hadapanku, beberapa dari mereka menyapaku. Salah seorang berhenti untuk berusaha mengetahui apa yang aku lakukan, lalu dari kejauhan aku melihat Linda berjalan bersama ayahnya. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna ungu dan sepatu hitam mengilat, juga pita kupu-kupu berwarna merah hinggap di rambutnya yang bergelombang dan coklat seperti terbakar matahari. Tapi percayalah, rambut Linda sangat indah dan halus, setidaknya itu yang ada di pikiranku.
Linda sangat pintar berhitung, namun ia lebih menyukai mata pelajaran bahasa. Aku pernah bertanya padanya kenapa ia ingin menjadi guru dan Linda tertawa. Ia berkata bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan selain pekerjaan menjadi guru, karena setiap hari –kecuali hari libur—akan lebih sering bertemu dengan guru di pagi hari, saat orangtua sibuk bekerja. Juga karena kita akan memiliki banyak teman yang menyenangkan yang akan bersedia melakukan apa pun untuk kita, karena murid-murid akan lebih mematuhi apa yang guru-guru katakan. Aku ingin menjadi guru. Tapi aku tak pandai berhitung, tak tahu kapan harus membagi dan kapan saatnya untuk mengurangi.
Linda melambaikan tangannya. Pita kupu-kupu merahnya terlihat hampir terbang lepas dari rambutnya. Aku ingat Linda bilang padaku jika hari itu ia akan menemui kakeknya di luar kota. Aku melambaikan tangan padanya, kemudian ia menghampiriku, senyum Linda terlihat sangat ceria.
”Apa yang kau lakukan di sini?“
”Ikut Ibuku bekerja.“
”Terus kamu tidak membantu Ibumu?“
”Sudah, tapi dia terlalu sibuk.“
Lalu kami berbincang sedikit, Linda sangat bersemangat menceritakan tentanga cara yang akan diadakan di rumah kakeknya. Linda bilang bahwa akan ada banyak buah-buahan dan orang-orang akan berkumpul, karena salah satu bibinya akan menikah dan tentu akan sangat ramai di sana. Lalu aku menyarankan Linda untuk membeli roti buatan ibuku, dan menceritakan tentan roti buatannya yang sangat enak dan disukai oleh orang luar kota. Mungkin kakeknya akan menyukainya. Lalu Linda berlari ke arah ayahnya dan seperti memaksa ayahnya melakukan sesuatu.
***
LANGIT sudah mulai gelap. Aku menyelesaikan pekerjaanku agak terlambat hari ini. Terlalu banyak kertas yang harus dibaca, terlalu banyak kata yang harus ditulis, terlalu banyak gambar yang harus dihapus, terlalu banyak imajinasi yang harus digambar kembali. Harga roi dan ayam kampung semakin mahal, membuat aku harus membuat dan menghilangkan banyak hal dan terlalu banyak hal membuat tak dapat melakukan apa pun.
Hari ini aku pulang masih dengan perasaan yang sama, dari arah barat, utara, selatan dan timur, industri-industri pengolahan masih meniupkan asap-asap hitamnya ke udara, aku menghirup asap itu dan memakan hasil olahan industri itu setiap hari, menggunakan barang hasil olahannya dan membenci limbah sisa pengolahannya, kota ini kotor sejak awal.
Aku merasa sangat lelah, aku menghirup udara kotor serta merasakan perasaan putus asa yang diwariskan oleh generasi ibu, ibu sebelum ibu, ibu sebelum nenek, ibu sebelum buyut, dan sebelum sebelumnya untuk melanjutkan bisnis yang disebut kehidupan yang juga diwariskan oleh ayah dan ibu sebelum ayah dan ibuku, ayah dan ibu sebelum kakek dan nenekku, ayah dan ibu sebelum sebelumnya.
Aku ingat di hari yang sama, aku mendengar kabar bahwa Linda tak dapat diselamatkan karena kecelakaan yang terjadi pada bus yang ditumpanginya, menuju rumah kakeknya di luar kota. Tapi acara pernikahan bibi Linda tetap terselenggara dengan hikmat dan roti-roti hangat tetap disuguhkan.

*Maywin Dwi-Asmara: lahir di Mataram, 3 Mei 1992. Pernah mendapat research fellow dari Almamater Studioum Universitas di Bologna Italia. 





Rujukan:
[1] Disalin dari karya Maywin Dwi-Asmara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi Minggu 29 Mei 2016