Pada Sebuah Pilihan – Semua Telah Menjadi – Dalam Perjalanan Pulang – Jakarta – Menangkap Suara – Setelah Pagi – Aku Datang Lagi, Jakarta!

Karya . Dikliping tanggal 14 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Pada Sebuah Pilihan

Siapa lagi yang bisa memilih
salah satu pintu, kembali dibuka
ke segala penjuru mata angin yang bergerak
untuk segera ditangkap. Dalam tangan
Masih kekinian menanti jarak-jarak
dengan segala bentuk tak terbaca
meraba kegelapan terpampang
Hanya kabar memberi janji
merangkai jaman
: dikeluasaan jagat yang harus ditata

Semua Telah Menjadi

Begitu sombongnya, aku
Menaiki awan yang terus bergerak
sambil melihat tetanahan yang telah berubah
sesawahan menjaid gedung, jalna-jalan dan perumahan ewah
jejak-jejak dewi sri begitu ngungun di tepian cakrawala
Masih terus bergerak meraih bumi
untuk segera kembali. Berkemas-kemas
sambil memandang matahari. Segera tenggelam
membawa rombongan panasnya. Dalam ketinggian
turun, dan turun hingga hilang ditelan perjanjian.
Keabadian
Magelang-Blitar, 2015

Dalam Perjalanan Pulang

Suara azan maghrib tak terdengar di telinga
hanya sebatas memandang. Warna kegelapan
menikam udara berkabut nasib. Ujung bumi tercari
pada gerak, pada pilihan panggilan
harus dikerjakan. Titik bentang tetap terjaga

Jakarta

Anakku, inilah Jakarta!
Sepasang mata yang terbawa
hanya akan menjadi saksi
sebatas garis tergores mati
Jakarta!
Tempat kita berdiri
sekarang ini, bagian prasasti sunyi
kenangan menjemput hari-hari
memilih di mana harus kembali, anakku

Menangkap Suara

Bentuk yang pernah terdapati
diantara keluasan cahaya
masih terus berjalan. Di jelajah masa
untuk kembali terjaga di dalamnya
mencari kerumunan suara-suara
memanggil-manggil terus
:Hayyalal falagh

Setelah Pagi

Wajah-wajah tengadah telah mengeja syair-syair tuhan
pada ahdapan kaca ceermin, untuk ditatap
dalam sinarnya matahari yang baru saja sepenggal
galah
perjalanan menuju siang. Akan menikam
tidak ada kesia-siaan dengan perjalanan
meski telah lelah menjaga jarak. Wajah itu tetap sama
tengadah menatap segala gerak-gerik perilaku
kian tinggi, ditiup langkah kaki. Mentertawakan waktu
Jakarta, 2015

Aku Datang Lagi, Jakarta!

Meratakan jalan-jalan terpampang
terus berjalan tanpa jengkal
Untuk apa bertarung dengan permainan
yang sementara terus menganga, siap memangsa
di antara hewan-hewan liar, terus meraung
menancapkan kuku-kuku kemenangan
Sudut-sudut jalanan
Masih menyimpan kefanaan
dalam mengejar mimpi

Sebelum Terjaga

Kumpulan tangan yang tengadah
dengan wajah terpaku di dasar bumi
bicara lewat hati yang gemuruh
menjaring garis-garis di seluruh semesta
tetap sama. Aku, sendirian di antara ribuan nafsu
Adalah doa yang berdiri
dengan kemasan ikatan bibir-bibir terjaga
untuk menjadi apa, dan ke mana
mata ini, untuk aku pejamkan
Jarum Jam
Bentangan itu. Menghanyutkan kerataan bumi
yang mampu memutarkan segala peredarannya
hingga menghilangkan jasad. Di kedalaman
Berbunnyilah lonceng. Irama siang dan malam
menjaga jarak yang terkait di sleuruh penjuru mata
angin
bercabang-cabang. Membentuk lingkaran cakrawala
Mulut ini. Mengakar dalam-dalam
Menghalangi keluasan yang ada di hadapan
menjadi tali temali. Meramu di tepian

Pada Sebuah Kemenangan

Semua masih terasa
begitu tajam tanda tanya
milik siapa kehadiran itu
tanpa harus bersiap dengan janji
Di sini!
seluruh perhitungan menjadi
dalam genggaman tangan. Ke tujuh kali sudah
Triman Laksana: tinggal di Jalan raya  Borobudur KM 1 Citran Paremono Mungkid Magelang 56551
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triman Laksana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 14 Juni 2015
Beri Nilai-Bintang!