Padamu Kuberjarak – Pada Sebuah Malam – Not Januari – Jarak – BelumTuntas

Karya . Dikliping tanggal 24 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Padamu Kuberjarak

Karenamu abadi, tunduk segala yang ada
Padamu hanya secuil cinta yang akan sirna
Karenamu waktu bisa saja tuntas di kepala
Atau di mana saja. Aku tinggalkan segala yang ada
Semua mahluk bernapas padamu
Lalu mengapa aku selalu rindu pada selainMu
Padamu aku berjarak, kekasih
Sebab tak ada nikmat. Semua itu hanya tipu muslihat
Aku mempunyai kekasih dalam ruhku
Yang selalu kau sebut sebut dalam sekaratmu.
2016

Pada Sebuah Malam

Telingaku serasa berdarah
Ketika ribuan anak kecil meminta disusui
Haus dahaga, sehabis bermain dengan igaunya
Aku berjalan di sepanjang trotoar
Orang orang terbahak memecah langit semesta
Seperti tak akan ada lagi
;pagi dengan embunnya di kelopak bunga
Di sebuah tempat yang suram
Aku melihat, betapa lemahnya mereka
Badan kusam, rambut tak lagi terawat
Ataukah ia memang kekasihmu, entah
Pada sebuah malam
Bulan murung menatapku
Dunia yang fana akan segera tiada
Pada sebuah malam
Semesta mengepalku erat erat
Alihkan haluan perahumu anak kecil
Masuklah pada kedalaman atau dasar hatimu
2016

Not Januari

Aku adalah dahan
Tercipta dari not yang menyayat hati
Melantunkan sebuah tangis
Mencipta duka
Irama tak lagi berkuasa
Waktu-waktunya telah mencapai senja
Kian landai
Aku adalah reranting
Tercipta dari ritme yang terpelanting
Berbunyi sebuah riak subuh
Mencipta kegaduhan di jalanan yang macet
Lantunan tak lagi permai
Mengawali bulan baru. Kita selalu bergegas
Menuju masa yang katanya cerah
Namun kalutnan curam.
Jogja, 2016

Jarak

Aku hadapkan mukaku pada matahari
Memandangnya dalam dalam
Siapa tahu ada wajahmu. Tapi tak bisa.
Mungkin kita terlalu dekat
Sampai aku tak bisa pula menatap wajahmu
Tentang bentangan jarak yang tak pasti
Seperti napas dan jiwa yang menyatu
Aku tak kuasa
Tentang bentangan jarak yang tak pasti
Seperti bayang bayangku sendiri. Tak bisaku peluk.
Aku tak kuasa.
Jogja, 2016

BelumTuntas

Tak ada malam yang selesai
Sebagaimana dalam mengingatmu
Selalu ada sesuatu untuk mengajakku berjalan
Menyusuri alam dengan senyummu
Jam dinding hanyalah penanda saja
Sebagaimana mengingatmu, aku harus bagaimana
Sebagaimana puisi puisi yang belum tuntas adanya
Merangkulmu entah darimana
Maka aku selalu diajakmu berjalan jalan
Sampai pada masa lalu yang cekam merindukan
Kadangkala aku masih menjadi kanak kanak
Yang bermain kelereng di halaman
Tak salah jika para leluhur berkata
Perjalanan masih panjang
Hiasilah selagi kau masih ada
Yang sirna hanyalah halaman
2016
Ach. Faridatul Akbar Kelahiran Sumenep Madura. Pengelola TBM Hasyim Asy’ari Jogja. Ia juga aktif dalam lingkaran Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mahasiswa Universitas Janabadra Yogyakarta, ini menulis puisi, esai, dan Cerpen. (92)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Farid Akbar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 24 Januari 2016 
Beri Nilai-Bintang!