Pagi Seorang Penyair – Sakit Gigi – Bunga Perjalanan – Kenangan – Puisi – Solitude – Semadi Ramadewa – Etnografi Perempuan Patah Hati – Seperti Hujan

Karya . Dikliping tanggal 18 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Pagi Seorang Penyair

Aku ingin menikmati
pagi
Menyerap sinar
matahari
Menjadikan tubuhku
berisi
(2014)

Sakit Gigi

Sakit gigi adalah
cara
Tuhan menguji juga
membuktikan
Bahwa ini lebih
menderita
Ketimbang hati yang
terpatahkan
Sakit
gigi kurasa telah
Menguras
seluruh tabah
Tidak
ada lagi selain lelah
Lekas
lenyaplah ini musibah
(2016)

Bunga
Perjalanan

Akan
engkau temukan di dalam jantung
Batu
yang senantiasa membicarakan rindu
Pada
bunga dan perjalanan nan lampau
Di
sana puisi pucat pasi bertapa sendiri
Ingin
dan betapa berharap engkau genapi
(2015)

Kenangan

Baik-baiklah
di jalan
pulang
menuju ingatan.
(2013/2016)

Puisi

Nyeri
bukan sebab luka sayat pisau di jari
saat
aku sendiri tanpa ibu menjalani hari.
Nyeri
yang lebih dulu ada sebagai bekal
kelahiranku ke bumi.
Nyeri purba yang tak
seorang
pun memahami. Lebih asing dari
Tuhan
itu sendiri. Ini nyeri kunamai puisi.
(2016)

Solitude

Tanganku
lebih dulu runtuh
sebelum
mulai merengkuh.
Kakiku
sudah terlanjur patah
tidak
lagi bisa aku melangkah.
Mataku pun mendadak
pecah
tidak ada celah buat
memilah.
Hanya pada bibir
yang rapuh
di mana ada cinta
terjaga utuh.
(2016)

Semadi Ramadewa

Ia telah memasuki
api. Tidak
dijumpainya Sita.
Tidak pula
dewa.
Ia sendiri diliputi sepi
terlingkup
udara berjelaga.
Ia telah memasuki
api. Bukan
untuk menemukan yang
dicari.
Ia memasuki api
sebab ia lelaki.
Bentuk semadi
sejati. Inti puisi.
(2016)

Etnografi Perempuan
Patah Hati

Sebab
lelaki adalah kutukan
datang
dan pergi
sekehendaknya
singgah
untuk bersetubuh
sebab
tubuh ia pun menjauh
sekehendaknya.
Kurelakan
sepi ini menjelma
api
agar
hangus binatang
paling
kubenci
bernama
lelaki.
Kurelakan
sepi ini menjelma
api
berharap
suci kembali diri
usai
dinodai lelaki
binatang
paling kubenci.
Sebab
lelaki adalah kutukan
datang
dan pergi
sekehendaknya.
Maka kurelakan
ini
sepi
menjelma
api
menjelma
api.
Dengan
begitu, keliru
juga
keji
yang
lelaki timpakan padaku
lerai.
Lalu
lelaki
tinggal
sekelebat kenang
si
binatang yang jauh terbuang
sekejap
terhapuskan
terhapuskan.
(2015)

Seperti
Hujan

Seperti
hujan aku pun jatuh
berhamburan
ke seluruh arah
memasuki
setiap celah.
Dari
langit aku tercurah
dari
muasal sepi dan petuah
kini
kulai di ribaan tanah.
Seperti
hujan aku pun jatuh
berhamburan
ke seluruh arah
memasuki
setiap celah.
Saksikanlah
aku memecah belah
diriku
yang betapa tabah
berulang
kali sudah.
(2016)


Putu Gede Pradipta, lahir dan tinggal di Denpasar, Bali. Baru saja menamatkan kuliah di Universitas Dwijendra Denpasar. Buku duet puisinya dengan Muhammad Asqalani eNeSTe bertajuk Yang Terbakar Yang Tercinta (Garudhawaca, 2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Gede Pradipta

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 18 September 2016