Pagi yang Mikro pada Fotografi – Memahami Peribahasa – Jam Malam

Karya . Dikliping tanggal 5 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Pagi yang Mikro pada Fotografi 

Semester segera berlalu 
hiruk-pikuk dikejar jam-jam mengajar 
tak akan lagi mengetuk-ngetukkan palu.
aku mulai rindu kecantikanmu 
kecantikan yang bagai candu yang selalu 
membunuh waktu 
kecantikan yang selalu menghunus nafsu.
Mendekatimu 
sedekat mungkin tanpa mengganggu tidurmu 
tak ingin aku menghentikan dengkurmu yang 
bagai nafas bayi 
berbaring di tanah pagi yang basah 
memandangimu melalui mata lensaku.
Menatap mata kupu-kupu yang tua 
sayapnya yang dulu indah mulai pudar dan usang 
kepak yang mulai tertatih perlahan 
jika tak temukan bunga 
sebentar lagi angin menghempaskannya entah ke mana 
mungkin ke dinding bata buatan manusia.
Lalu, 
mendung pagi bulan dua belas bergelantung rendah b
ayi belalang buru-buru mengganti bajunya 
bergantung pada bunga ungu 
jika tak terburu hujan akan menghujamnya 
dan mungkin banjir akan mengapungkannya.
Lalu, 
seekor capung jarum yang bagai alismu 
berekor oranye dan bergaris badan biru.
Dan 
aku semakin rebah dalam pelukan tanah pagi yang 
masih basah 
dalam rebahku aku mencumbu keindahanmu 
sayap kupu-kupu tua yang mulai usang 
bayi belalang yang sedang mengganti kulitnya 
capung jarum yang berbadan oranye biru.

Memahami Peribahasa 

Kata ibu guru peribahasa yang mengungkap rindu 
adalah: `
bagai pungguk merindukan bulan’.
Aku tak pernah tahu arti `pungguk’ d
an aku belum pernah menyentuh rembulan.
Bagaimana bisa aku merindumu?
aku terlalu sering sok tahu.
Jujur aku tak mengenalmu.
Jujur aku hanya sok tahu.
Aku kira tak ada orang yang mengenal orang lainnya.
Bahkan sering, 
aku menjadi asing pada diriku. 

Jam Malam 

pada dentangnya yang kesepuluh, 
aku hanya bisa rubuh 
diam terpekur dan harus membisu 
seperti jam malam pada jaman perang di cerita ibuku 
semua diam karena suara bisa mengundang bencana 
pelita tak boleh menyala 
karena terang bisa mengundang serdadu yang 
haus nyawa.
diam 
gelap 
namun tak bisa terlelap.
nafas tersengal 
jantung hati berdetak tergagap 
kadang meratap 
gemerutuk gigi terantuk gigi 
meruntuk mengutuk diri 
mengapa harus ada malam yang memisahkan hari.
pada malam aku pinjamkan tanganku 
untuk kau genggam 
lalu pada pagi aku menanti 
tapi aku sendiri tak pasti 
jika kau masih punya cinta esok hari. 
Ouda Teda Ena, lahir di Sleman, 17 Oktober 1970.Alumnus S-3 Loyola University Chicago. Dua buku puisinya, Perempuan dalam Almari (2013) dan Reticent: Reminiscent of Macapat Poems (2011) diterbitkan di Charleston, Amerika Serikat.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ouda Teda Ena,
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 5 Juli 2015