Pai Apel Musim Panas (1)

Karya . Dikliping tanggal 17 Maret 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah, Majalah Femina
TAHUN INI SEPERTINYA MUSIM PANAS berlangsung dengan tidak menyenangkan. Kondisi rumah tangga yang payah, teh tawar yang biasanya segar kini terasa bagai kobokan, dan tak ada pai apel kesukaan Abigail.
Sepertinya kami harus berpisah, kalimat pertama yang terlontar dalam hati saat Abigail menerima telepon pukul tiga dini hari. Tapi hubungan ini masih bisa dipertahankan, lanjutnya saat mencuci muka. Thomas hanya sedang terpuruk, perempuan itu masih terus menggumam tanpa suara, dan kami tak memiliki alasan kuat untuk tak melanjutkan apa yang telah kami mulai.  
Kami harus saling mendukung—aku harus mendukung Thomas. Sepeda motor Abigail melaju di jalan sepi dan sebulir air mata bening mengalir di pipi. Abigail sangat sayang dan mencintai suaminya. Namun akhir-akhir ini dadanya sering sesak menahan diri terhadap semua yang sedang terjadi. 
Sabar adalah satu-satunya tindakan yang bisa ia lakukan sekarang karena tak kelihatan pilihan lain. berpisah? Abigail tak mampu membayangan bagaimana jadinya bila mereka kemudian benar-benar tak lagi bersama. Barangkali hari-harinya akan terasa bagai kiamat meski ia tak bagaimana kiamat nanti akan terjadi. 
 “Ma chéri,” sambut Thomas ketika Abigail menghentikan kendaraan. Kondisi laki-laki itu payah, berdiri dengan posisi tubuh semacam sempoyongan di pagar pembatas sungai.
“Kau bau got.” Abigail urung melepas helm dan tiba-tiba saja malas turun motor.

Ma chéri, bicaramu seolah-olah kau ini pernah minum atau nyemplung selokan saja.” Thomas cekikikan sambil berjalan terhuyung dan hampir jatuh karena terserimpet kakinya sendiri.

Abigail memutuskan untuk tidak turun motor. Thomas mendarat di boncengan dengan memeluk pinggang istrinya. 

“Aku tidak mabuk, Ma chéri. Sungguh. Hanya terlalu banyak menenggak sari buah. Kau tahu, segala yang berlebihan memang tidak baik. Tidak mengandung alkohol, tapi bila sari buah yang terlalu banyak juga akan membikin modar, eh, teler. Kayak kamu yang terlalu banyak minum air putih kan juga bakal keliyengan?”
Abigail segera melajukan kendaraan tanpa menjawab celotehan. Thomas kini bernyanyi Kodok Ngorek—sebenarnya Abigail tak tahu apa judul lagunya hanya Thomas terlalu sering mengulang kata-kata “Kungkong, kungkong, kungkong, gitu deh bunyinya bangkong.”
Tiba di rumah, Abigail masih harus repot-repot memapah Thomas turun motor dan masuk. Di dalam kamar, laki-laki itu segera terlentang tidur dengan begitu pulas. Abigail tak sudi lagi melepas sepatu Thomas. Bukan karena kaos kakinya bau bacin seperti bangkai tikus atau apalah, tapi ya ogah saja. Ini sudah kali ke sekian ia direpotkan oleh tingkah laku suaminya. 
Abigail kembali meneteskan air mata. Ia benci sekaligus sayang pada Thomas. Ia perhatikan raut mukanya; terdapat banyak tipis gurat letih. Abigail tahu laki-laki itu sedang memendam kecewa karena tak juga mendapat pekerjaan layak. Jadi untuk sementara waktu, biaya hidup yang sebelumnya mereka tanggung berdua, kali ini Abigail yang mengambil alih semuanya. 
Tapi, aku sayang padanya. Abigail telah beberapa kali berusaha mendiamkan Thomas, supaya laki-laki itu merasa kehilangan lalu sadar atau setidaknya memberi seikit perhatian, tapi ia selalu gagal. Paling lama bertahan hanya setengah hari ia berhasil tidak memikirkan Thomas, selebihnya selalu cemas mencari kabar. 
Abigail menuju dapur untuk membikin teh. Sudah hampir pukul lima pagi. Apakah sebaiknya ia kembali berbaring untuk sementara waktu dan bangun kembali saat pukul enam? Tidak. Hari ini ia mendapat jatah piket jadi harus berangkat lebih awal. Selama menunggu waktu, Abigail menyeruput teh panas tawarnya perlahan sembari merenung-renung. Beberapa jam kemudian sebelum berangkat bekerja, Abigail menyiapkan dua roti bakar yang telah dioles mentega dan secangkir kopi pahit. Sudah akan dingin saat Thomas terbangun nanti, tapi laki-laki itu tidak keberatan.
“KAU SUDAH MEMUTUSKAN untuk berpisah saja dengan suamimu?” sapa Morris.
Abigail menggeleng seraya menyimpan tas di loker. “Pagi, Morris. Terima kasih untuk sapaannya yang begitu penuh perhatian.”
“Kau menguap dan menggunakan metro. Tak usah berbohong, Abigail, pasti ia baru saja membikin masalah yang menyita jatah tidurmu.”
“Aku tidak bisa berbincang sekarang. Harus menyapu dan mengepel dan menata meja kafe.” Abigail berhenti dan berbalik sembari tersenyum. “Kau juga harus segera menyiapkan adonan kue. Jangan buang waktu; kerja, kerja, kerja.” 
Morris, tukang bikin kue di kedai kopi dan bakeri La Cappucino, memperhatikan Abigail yang buru-buru berlalu. Morris pernah menyatakan perasaan bahwa ia menyukai Abigail dan perempuan itu terang-terangan menolak. Begitu Morris tahu bahwa kondisi Thomas sedang tidak baik, ia semakin mengejar. Salah satu tindakan yang sering dilakukannya adalah meminta dan menyarankan supaya Abigail meninggalkan suaminya. Laki-laki itu hanyalah seorang pecundang yang tak patut dipertahankan. 
“Pai apel bikinannya enak.” Pernah Abigail berkata demikian. “Sebelum menikah, ia rajin membuatkanku penganan tersebut setiap kali bertemu.”
“Aku bisa membuatkanmu pai apel sebanyak yang kau mau. Kau habiskan sendiri, dan aku akan membuatkanmu lagi.”
Abigail tidak menanggapi apa-apa. Selain menahan diri tidak menunjukkan kekesalan yang akan membikin suasana menjadi tidak enak, Morris bila terus diladeni tak akan segera berhenti mengganggu.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (7)
Seharian penuh Abigail melakukan pekerjaannya sebagai pelayan kedai kopi dan bakeri La Cappucino. Ia menolak sarapan yang khusus dibuatkan Morris untuknya. Roti daging dengan aroma menggoda, hangat, dan segelas kopi susu pasti sangatlah lezat. 
“Kau semakin kurus,” kata Morris.
“Tidak,” kata Abigail. Padahal baru saja perutnya berkeruyuk lapar. Ia menenangkan diri dan perut yang keroncongan dengan mengingat-ingat bahwa Thomas di rumah sarapan (atau makan siang) hanya dengan roti bakar dan secangkir kopi yang telah dingin. 
Pelanggan berdatangan seperti air bah. Seandainya Abigail berambut Medusa, ia akan memperkerjakan satu per satu ular di kepalanya untuk membantu membawakan baki-baki berisi kopi dan kue. Dulu sekali kedai kopi ini memberlakukan sistem swalayan; pelanggan memilih roti dan menunggu kopi dibikin dan membawa baki makanan ke meja mereka sendiri. Tapi kemudian orang-orang datang terlalu ramai sampai antrian menyemut dan berjubel—kedai ini memang terkenal memiliki banyak pelanggan. Akhirnya pada waktu yang tepat kedai diperluas dan roti dan kopi diantar pelayan.
“Kau tahu mengapa kedai ini bisa terkenal dan memiliki banyak pengunjung? Karena roti olahanku yang enak bukan main.”
 Abigail menerima kebenaran cerita itu hanya separuh saja. Jangan pernah percaya penuh bila pencerita dan subyek yang diceritakan sama. 
Saat sore Abigail menghabiskan satu kue jahe dan segelas air putih. Ia sempat menumpukan tangan di meja untuk mengurangi pusing di kepala dan rasa kantuk yang menggayut. Seorang kawan menepuk menyarankan supaya ia mengambil sepuluh menit istirahat sebelum kembali melayani. Abigail mendongak tersenyum dan mengucapkan terima kasih. 
Abigail membereskan meja yang baru ditinggalkan pelanggan. Pukul tujuh malam dan ia sudah mengantuk bukan main. Ia juga masih harus menempuh perjalanan menggunakan metro dan berjalan kaki sebelum benar-benar tiba di rumah. Aduh, aduh, aduh. 
“Thomas tak menjemputmu? Bukankah kau naik metro supaya bisa ia pergunakan—tak bisakah dengan motormu ia menjemputmu?”
“Yaah, kau tahu, Thomas terlalu sibuk bekerja.” Abigail memasang senyum manis. Sibuk mengorok di kasur dengan bau keringat seperti gembel tidak pernah mandi. 
“Akan aku antar kau!” Sigap Morris melepas celemek dan segera menyahut kunci motor. Tapi si bos pemilik kedai tiba-tiba melongok dapur dan meminta Morris datang ke ruangannya. Ada yang perlu mereka bicarakan. Morris memasang tampang menyesal dan berkata ia ingin sekali mengantarkan Abigail tapi apa daya—lain waktu. 
“Tidak masalah.” Abigail mencampakkan celemek kerja dengan lega; bisa terlepas dari paksaan Morris yang ingin mengantar pulang. Namun, perkataan Morris sedikit mengusik; bagaimana jika Abigail menurutinya untuk kali ini?
Nada telepon berdenyut tiga kali sebelum diangkat Thomas dengan panik dan terengah. 
“Ada apa?” tanya Abigail mulai merasa cemas.
“Motormu.” Thomas terdengar sedang berusaha menelan ludah dengan susah payah, suaranya seperti tikus kejepit saluran sempit got (kalau Thomas mendengar perkataan ini langsung dari mulut Abigail pasti akan segera menyahut; kayak kamu pernah melihat saluran got dengan tikus yang terjepit di dalamnya saja). “Motormu… aku terpeleset saat menghindari kendaraan besar—mobil di perempatan jalan. Aku melamun—ya. Bagian depannya ringsek karena menumbuk pagar depan rumah. Kau tahu, bannya naik ke trotoar, aku tak bisa mengendalikan diri—motormu susah betul untuk dikendalikan dan—yah. Sisa uangku habis untuk mengganti perbaikan pagar rumah. Sementara itu motormu—“
Morris yang baru saja kembali demi melihat air muka Abigail malah tersenyum kesenangan. “Tawaranku masih berlaku.”
“Keputusanku masih sama.”

Baca juga:  Semak Belukar

Abigail menutup telepon dan segera menyambar jaket dan tasnya pulang. Pikirannya rusuh, hampir saja salah mengambil jurusan metro. Sepanjang perjalanan yang dilakukannya hanyalah termenung-menung. Sepertinya ia harus mencari pekerjaan tambahan untuk membetulkan motor yang rusak. Dan… apa tadi Thomas bilang uangnya untuk mengganti pagar kurang atau bagaimana? Perempuan itu mengeluh panjang; semoga tidak.

Abigail keluar tangga stasiun. Berjalan lesu tanpa semangat menuju rumah. 
ABIGAIL KELUAR DARI STASIUN metro dengan tergesa. Sore ini ia minta izin pulang cepat. Sebagai gantinya hari Minggu yang seharusnya ia mendapat jatah libur, ia terpaksa tetap masuk untuk mengganti jam pulang lebih awal.
Abigail memperhatikan sekali lagi halaman koran yang berisi lowongan pekerjaan. Rumah yang ia tuju tak jauh lagi hanya perlu sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Ia terpaksa mencari pekerjaan tambahan karena bila tidak uangnya akan habis sama sekali. Thomas tak bisa diharapkan. 
Abigail memencet bel. Seorang perempuan tua dalam seragam warna putih krem seperti perawat di rumah sakit membukakan pintu dan meminta menunggu sebentar sebelum Monsieur Phillipe datang menemui. 
Pemasang lowongan pekerjaan ternyata seorang laki-laki paro-baya berparas simpatik. Senyumnya hangat dengan kerut di ujung mata yang selalu ikut tertarik. Ia menyalami Abigail dan memulai wawancara. 
“Tidak usah tegang. Aku tidak mengajukan pertanyaan formal, hanya beberapa untuk kita menyesuaikan waktu,” katanya lembut.
Abigail menjelaskan bahwa ia hanya memiliki waktu lowong saat akhir pekan. Di hari biasa ia harus bekerja di tempat lain. Apakah monsieur keberatan dengan itu?
Oui,” sambut Phillipe sembari tersenyum. “Tidak ada masalah. Aku tetap beruntung kau datang. Sudah dua minggu aku pasang pengumuan, tak seorang pelamar pun menghubungi.” Phillipe merendahkan suara, “Perawat tua yang mempersilakan kau masuk minggu depan sudah harus berhenti. Encoknya kambuh atau cucunya sudah sangat merindukannya atau entahlah.”
Abigail tertawa sopan saat Phillipe berusaha memberi tahu informasi barusan dengan cara melucu.
Yang perlu Abigail lakukan selama bekerja adalah membantu merawat ibu Phillipe yang sudah sedemikian tua dan tak bisa apa-apa. Phillipe si anak bungsu yang berhati welas asih, tak memiliki kekasih, dan ibunya sendiri yang meminta, tanpa pikir panjang segera menyanggupi. 
“Sakit apakah ibu Monsieur?” tanya Abigail.
“Lupakan panggilan monsieur, Ma petite Abigail. Panggil aku Phillipe saja.” Phillipe yang beranjak hendak membikinkan jus jeruk urung karena Abigail tak akan tinggal lama. Ia harus segera pulang setelah ini. “Maman, ibuku hanya menderita ketuaan. Sedikit rewel. Selebihnya ia tak memiliki penyakit berat lain—kecuali, oui, sudah tua dan rewel. Jadi, kau bisa bekerja mulai dua minggu lagi?”
Abigail masih harus mengganti jam kerja karena pulang lebih awal hari ini. Ia meminta izin apakah bisa memulai dua minggu lagi—ia memang pelamar kurang ajar. Membutuhkan pekerjaan namun masih menawar kapan mulai bisa bekerja. Untungnya Phillipe tak keberatan.
“Aku tak memiliki pekerjaan yang mengharuskan pergi ke kantor. Jadi, aku kira mengurus ibuku selama kau belum ke sini bukan masalah besar. Yang penting aku sudah mendapatkan perawat pengganti—hal tersebut sudah sangat melegakan.” 
Abigail mengucapkan terima kasih dan berpamitan.

Di rumah ia mendapati suaminya terkapar tidur dengan mulut terbuka. Laki-laki tak bisa diharapkan—sedang tak bisa diharapkan.

Tidak bisa dicegah, terlintas di ingatan Abigail mengenai karisma dan pesona ketampanan Phillipe. Laki-laki itu tidak menikah, memiliki perusahaan besar yang tak perlu ia datang memeriksa setiap hari karana semua laporan dikirim asistennya melalui surel. Sembari merawat ibunya ia masih bisa memeriksa dan mengendalikan seluruh perusahaan dari jarak jauh. 

Baca juga:  Istri Sang Ilmuwan
“Sebenarnya aku ingin juga memiliki kekasih. Sebelum ibuku jatuh sakit, aku telalu sibuk mengurus pekerjaan. Saat pekerjaanku sudah bisa ditinggal dan aku siap untuk percintaan, ibuku membutuhkan perhatianku.” Phillipe menangkat bahu. “Aku bisa apa.”
Abigail menggeleng. Tak tahu bagaimana harus menanggapi kecuali tersenyum. Seandainya saja Thomas memiliki pekerjaan dan pendapatan dan keasadaran menyayangi istri seperti kekayaan dan pengertian yang dimiliki Phillipe—sedikit saja, tak perlu banyak-banyak….

Abigail menghela napas berat. Ia tidak biasa minum teh manis, hanya teh tawar. Hanya saja kali ini tehnya terasa pahit. 
Abigail tak harus mengganti jam kerja di hari Minggu. Morris yang memberitahu. Pelanggan tidak bertambah banyak sepeninggal Abigail. Sehingga menurut bos ketidakhadirannya tak perlu diganti pada hari lain. 
Abigail mengucapkan terima kasih. Morris kemudian melanjutkan dengan ajakan bepergian. “Ketimbang kau muring-muring saja di rumah karena suamimu.”
Abigail tak tahan lagi namun masih berusaha menahan diri. “Berhentilah menggangguku. Aku masih berstatus istri Thomas oleh ikatan pernikahan, Morris.” Kemudian lanjutnya dalam hati, yang sedang bicara kali ini adalah hati nurani, lalu, bagaimana dengan monsieur Phillipe yang semalam hadir di pikiran dan mimpimu, Ma petite Abigail, hm? 
Abigail berlalu. Maksud hati ingin menenangkan hati nurani tapi yang terjadi ia malah menghubung Phillipe. Memberi tahu bahwa ia bisa datang bekerja mulai Sabtu minggu depan. Laki-laki itu menyambut gembira. Tak bisa dipungkiri sesat setelah menutup telepon, Abigail tiba-tiba merasa ingin berangkat ke rumah Phillipe sekarang juga. 

ABIGAIL TAK PERLU MEMANDIKAN IBU Monsieur Phillipe, atau menggendong, atau menenangkan saat rewel (rewel itu ternyata hanya karangan Phillipe—perempuan tua tua itu tindak tanduknya setenang pertapa) hanya menyuapi saat jam makan dan mendorong kursi rodanya keluar halaman rumah untuk berjemur. Hari Sabtu Abigail telah datang pagi sekali. Biasanya ia akan mengeluh mengantuk dan perutnya perih karena sarapan teh atau kopinya tak cukup untuk beraktifitas seharian penuh. Tapi, berbeda kali ini. Bahkan bisa dibilang, selama dua minggu (yang berarti telah empat pertemuan) meski tak sarapan, Abigail merasakan energi dan semangatnya berlimpah ruah.
Barangkali ini karena teh susu buatan Phillipe, batin Abigail. Tambahan susunya memberi energi lebih karena biasanya aku hanya minum teh tawar. 
Abigail sedang berdiri menunggu di belakang kursi roda Maman ketika Phillipe menyusul dengan membawa sepiring kecil roti puding. 
“Untukmu,” kata Phillipe. Ia berusia sekitar 50 menjelang 60 tahun dengan aura kebapakan menyodorkan sepiring roti puding yang tak dapat ditolak pesona… kudapan roti pudingnya. 
Saat menyuap sendok kecil pertama, tiba-tiba Abigail merasa rindu luar biasa pada Thomas. Ia ingin pai apel. Tak bisa dibohongi. Abigail masih menyayangi dan mengharapkan keadaan Thomas menjadi baik. 
“Kau sedang memikirkan sesuatu kurang menyenangkan, Ma petite? Pekerjaanmu di kafe barangkali?”
Abigail menggeleng. Tidak, katanya, tidak ada apa-apa.
“Susah pikiran bisa membikin badan menjadi sakit. Hati yang senang akan membuatmu terlihat jauh lebih cantik.”
Maman menggumam seraya mengangguk-angguk. 
“Kau setuju, Ma?” tanya Phillipe hanya untuk memastikan. Begitu ibunya mengangguk kembali, laki-laki itu menunduk mengecup kening.
Morris seringkali melakukan perbuatan untuk menarik perhatikan, Abigail mengerti betul itu. Sementara apa yang baru saja dilakukan Phillipe benar-benar terkesan tulus dari hati. 
Bila terus terkagum-kagum pada pesona Phillipe, bagaimana caraku menjaga diri – tidak, bagaimana caraku menjaga perasaan supaya tak berkembang ke arah yang seharusnya tak dituju? 
(Bersambung)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dayita Manah Hapsari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Femina” edisi 21 – 27 Februari 2015