Paket

Karya . Dikliping tanggal 5 Desember 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
SEMINGGU sesudah putus hubungan,
Abiyasa mengirim paket
untuk Metayani Kunthi Taliasih,
mantan pacarnya. Paket itu dibungkus
rapi, dengan kertas berwarna coklat tebal,
tak mudah robek dan terkesan mewah. 
Pagi-pagi, kantor pos belum buka.
Namun, Abiyasa sudah datang. Duduk di
depan pintu, sambil mendekap bungkusan
paket, dia menghisap rokok berulangulang
sampai enam batang. 
Seorang tukang sapu mendekatinya.
”Kantor pos buka pada pukul 08.00. Ini
baru pukul 06. 00. Apa Anda mau menunggu?”
ujarnya. 
Tukang sapu itu membersihkan halaman
yang dipenuhi bunga kamboja
berguguran. Abiyasa memandang bungabunga
itu. 
”Mau diapakan bunga-bunga itu?”
Abiyasa beranjak dan mendekati tukang
sapu. 
”Ya, dibuang.” Tukang sapu itu
mengumpulkan bunga-bunga kamboja
yang sudah layu. Abiayasa melihat serpihan-serpihan
hatinya ada di situ. Ketika
tukang sapu itu mau memasukkan bungabunga
ke keranjang sampah, Abiyasa
memekik, ”Jangan!” 
Tukang sapu menoleh. Heran. Abiyasa
membuka tasnya. Menyuruh tukang sapu
itu memasukkan bunga-bunga kamboja. 
”Apa bunga kamboja laku dijual?” 
”Ini soal perasaan…” 
”Apa bunga kamboja bisa jadi pengharum
pakaian?” 
”Ini soal kenangan.” 
”Datanglah ke kuburan dekat rumahku.
Di sana banyak bunga kamboja berguguran…” 
”Aku hanya mencari bunga kamboja
yang gugur pagi ini. Di sini.” 
”Oooo, maaf. Saya kira Anda ini pemulung
bunga kamboja…” Tukang sapu
tersenyum. 
Abiayasa pun tesenyum. Tak baik pagipagi
harus tersinggung atau marah,
pikirnya. 
”Ada apa sih dengan bunga kamboja?
Kok sampai disimpan segala?” 
”Aku suka saja.” 
”Tadi Anda bilang, soal kenangan?” 
Abiyasa malas menjawab, ”Pacar saya
sangat suka bunga kamboja.” 
Tukang sapu itu tersipu. ”Sebentar saya
ke dalam. Mau ngopi dulu. Mau?” 
”Apa kopi bisa menyembuhkan luka
hati?” 
”Setahu saya kopi hanya bisa menyembuhkan
haus.” 
Abiyasa tertawa. Percakapan itu patah
karena kedatangan seorang perempuan
yang tampak cemas. Diantar mobil box,
perempuan itu akan mengirim paket.
Bungkusannya sebesar kulkas satu pintu. 
”Ini kulkas ya mbak?” Abiyasa iseng
melihat paket besar. 
”Bukan. Ini hati saya…” Perempuan itu
bicara ringan, sambil menyulut rokoknya. 
Abiyasa terperanjat, ”Mana mungkin
hati manusia sebesar kulkas?”. 
”Ini hati saya yang sedang sakit. Ada luka
di dalamnya. Makanya, bengkak. Setiap
terluka, hati saya selalu bengkak.
Biasanya bengkaknya jauh lebih gede dari
kulkas. Pernah kok saking sakitnya,
bengkak hati saya sampai sebesar lemari
pakaian,” Perempuan itu tersenyum. 
”Omong-omong paket ini mau dikirim ke
mana?” 
”Ke pacar saya. Biar dia tahu kalau hati
perempuan itu sangat rawan dan mudah
tersakiti.” 
Abiyasa kaget. ”Emangnya pacar mbak
sering menyakiti?” 
Perempuan itu terdiam. Hanya menatap
Abiyasa. ”Lha bungkusan ini apa?” 
”Sama. Ini juga hati saya. Hati saya juga
tersakiti, tapi bengkaknya baru sebesar bola
voli…” Abiayasa tersenyum. Menahan
sesak di dada. 
”Ternyata laki-laki jauh lebih tangguh
dari perempuan ya?” 
”Enggak juga. Saya sering menangis kok
kalau pacar saya keterlaluan melukai hati
saya.” 
”Kenapa harus menangis untuk orang
yang selalu menyakiti?” 
”Saya menangis bukan untuk pacarku,
tapi untuk diri sendiri. Tangisan egois…” 
”Paket ini mau dikirim ke pacar situ?” 
Abiyasa mengangguk. 
Beberapa saat kemudian, datang sekitar
sepuluh orang. Masing-masing juga membawa
bungkusan paket besar. Abiyasa dan
si Perempuan kulkas mencoba bertanya
tentang isi paket orang-orang itu. Jawabnya
sama: hati mereka yang bengkak karena
tersakiti pacar mereka. Abiyasa dan si
Perempuan kulkas tersenyum. Mereka tak
merasa sendirian menjadi makhluk yang
terlukai. 
Tepat jam 08.00, kantor pos dibuka. Dua
belas orang yang hatinya tersakiti langsung
antre di depan loket pengiriman
barang. Tukang pos melayani satu persatu.
Sampai giliran Abiyasa. 
”Kok ke sini lagi?” Tukang pos tersenyum,
”Mau kirim paket ke pacar lagi ya?
Masih barang yang sama?” 
Abiyasa tersipu. Lalu mengangguk. 
Setelah mencatat paket Abiyasa, tukang
pos menulis pada secarik kertas kecil. Lalu
diberikan pada Abiyasa yang langsung
membacanya: Gimana sih caranya mencopot
hati dengan baik dan benar? Soalnya,
hati saya juga disakiti pacar saya dan mau
saya kirim ke dia. SMS ke saya ya,
08111356488822. 
Abiyasa tersenyum dan meninggalkan
antrean. Susah payah dia keluar dari kerumunan
orang-orang yang semuanya membawa
bungkusan paket besar. Di semua
bungkusan paket tertera tulisan HATIHATI.
BARANG MUDAH RUSAK. Dan
dilengkapi gambar jantung hati yang robek
dan berdarah. 
*** 
Dua hari kemudian, kiriman paket
Abiyasa diterima pacarnya, Metayani
Kunthi Taliasih. Kunthi heran, kenapa
mantan kekasihnya itu masih menjalin
komunikasi dengan dirinya. Padahal, sebelum
hubungan mereka putus Abiyasa bilang
tidak akan mau mengenal Kunthi
lagi. ”Sakit yang kurasakan teramat dalam.
Beracun,” begitu kata Abiyasa yang
kini masih terngiang di telinga Kunthi.
Kunthi pun merasa menyesal pernah mengenal
lak-laki bernama Abiyasa dalam
hidupnya. Laki-laki yang sama sekali tidak
memberikan kebahagiaan dan harapan! 
”Untuk apa cinta itu dipertahankan jika
tidak bikin bahagia?” Kunthi meradang. 
”Untuk apa membahagiakan orang yang
selalu bikin sakit hati? Berapa kali kamu
kencan dengan laki-laki, teman facebookmu?” 
”Bolehkah aku bilang bahwa mereka
jauh lebih menarik daripada dirimu?”
Kunthi mengunci percakapan. Dan,
esoknya, mereka menyatakan putus hubungan. 
Kunthi mengamati paket yang dibungkus
dengan kertas tebal dan mewah.
Kunthi pun curiga. 
”Romlah!!!” teriak Kunthi memanggil
pembantunya. ”Buka bungkusan ini!” 
Romlah dengan gugup membuka bungkusan
itu. Di dalamnya tampak bungkusan
plastik berisi irisan-irisan daging dengan
kuah santan kental yang warnanya
sudah mulai menghitam. Plastik itu jatuh
dan pecah. Isinya tumpah. Belatung-belatung
berserakan. Bau busuk langsung
menyengat. 
Dengan perasaan mau muntah, Kunthi
mengambil surat kecil ada dalam paket itu.
”Kukirim opor hatiku berbumbu rempah-rempah
rindu, Kumasak di atas kompor
cintaku. Enak untuk makan malam.
Salam, Abiyasa.” 
*** 
Di rumah, Abiyasa lebih banyak tidur.
Sudah seminggu ini dia tak masuk kerja.
Waktunya habis untuk menunggu pertumbuhan
hatinya, setelah minggu lalu dia
copot. Ia yakin, hatinya akan tetap terus
tumbuh, meskipun berulangkali dia
potong. ❑ – g 
*)Indra Tranggono, cerpenis dan esais,
tinggal di Yogyakarta.
Dua buku cerpennya yang sudah terbit:
Iblis Ngabek dan Sang Terdakwa serta
disusul Menebang Pohon Silsilah .



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indra Tranggono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 4 Desember 2016
Beri Nilai-Bintang!