Paket Terakhir

Karya . Dikliping tanggal 12 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Dengan penuh rasa penasaran kutunggui lingkaran kecil bertuliskan loading yang terus berputar di layar komputer. Aku sudah tidak sabar hendak membaca email yang dimaksud Taro San. Tadi pagi ia berkata ada sebuah e-mail yang memintaku menjemput sebuah paket spesial di sebuah alamat. Hatiku berdegup senang, walau di sisi lain aku merasa bingung siapa orang yang mengirim pesan itu.

Saat e-mail terbuka, aku langsung membacanya dengan saksama, “Kami berharap paket ini diambil secara langsung oleh pegawai Anda bernama Joko, orang Indonesia, di alamat yang kami cantumkan. Ongkos tambahan atas pelayanan ini akan kami bayarkan pada saat pengambilan barang, arigatou gozaimas.”

“Mungkin kau pernah mengantar sebuah kiriman ke seorang gadis, kemudian dia jatuh hati padamu Joko San,” goda Taro San sambil tertawa.

Kuabaikan candaannya dan kembali fokus membaca alamat si pengirim. Sejenak kemudian senyumku mengembang. Aku tahu alamat ini. Tentu saja. Ini adalah alamat nenek yang pernah kutemui bulan lalu.

Aku masih ingat, pada hari itu matahari musim panas bersinar lebih terik dari biasanya. Ditambah lagi, mood-ku sedang tidak baik, setelah permohonanku untuk pindah kewarganegaraan kembali ditolak pihak Imigrasi Tokyo. Semua hal tersebut cukup membuat aku ingin segera menyelesaikan tugas hari itu dan kembali ke ruang kantor yang sejuk. Namun, sayang, sebuah paket masih teronggok di dalam mobil menunggu untuk diantarkan.

Alamat di paket itu menuju ke sebuah apartemen kecil di pinggir Kota Tokyo. Beberapa lansia terlihat sedang menjemur pakaian di luar jendela apartemen. Dengan cepat, aku berkesimpulan bahwa ini adalah apartemen bersubsidi yang disediakan pemerintah untuk para pensiunan.

“Ting tong! Sumimashen (permisi),” kupencet bel di sebelah pintu. Tidak ada jawaban atau tanda keberadaan pemilik rumah. Aku sudah bersiap untuk menaruh paket tersebut di kotak pos, sebelum kemudian sebuah suara langkah diseret dan gagang diputar terdengar dari balik pintu.

“Gomenashai (maaf), tadi saya di kamar mandi,” seorang wanita berusia 70-an muncul dari balik pintu sambil merunduk meminta maaf. “Daijobu (tidak apa-apa), ini ada paket untuk Anda,” aku berusaha tetap tersenyum.

“Arigatou! Eh tunggu dulu, apakah Anda orang Indonesia?” sambil memperbaiki posisi ka camatanya, nenek tersebut memandangi wajahku dari dekat.

Dilihat dan ditanya seperti itu tentu saja membuatku terkejut dan jengah. “Haik, saya orang Indonesia,” aku mengangguk.

Sugoi nee (luar biasa)! Saya juga orang Indonesia, nama saya Sumini,” nenek itu berteriak girang sambil menyalami tanganku dan mulai berbicara dengan bahasa Indonesia. Pantas saja aku merasa wajah nenek tersebut berbeda dengan orang Jepang pada umumnya.

“Nama saya Joko!” Aku tersenyum canggung, bingung harus bereaksi seperti apa dalam situasi seperti ini.

“Ah, wakata! (Ah saya paham) Joko, kamu adarah orang Indonesia pertama yang mengunjungi apartemen ini dalam waktu dua puruh tahun terakhir.” Aku berusaha menahan senyum, sedikit lucu mendengar Nek Sumini berbicara bahasa Indonesia dengan aksen Jepang. Sepertinya ia sudah terlalu lama tidak menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa huruf ‘L’ bahkan tertukar dengan huruf ‘R’, sesuatu yang menjadi ciri khas aksen Jepang. “Kamu mau minum teh duru? Apa itu bahasa Indonesianya? Ah, siratu rahim! Kamu mau siraturahim di daram terlebih dahuru?”

Meski aku sudah sangat penat, demi melihat wajah girang Nek Sumini aku sungkan untuk menolak. Lagi pula tidak ada salahnya minum teh sebentar. Aku mengangguk setuju. Nenek Sumini girang bukan kepalang. Dengan langkah tertatih-tatih ia langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam.

Apartemen itu berukuran tidak terlalu besar, cocok untuk lansia. Di bagian ruang tengah yang menyatu dengan dapur, aku melihat berbagai dekorasi khas Indonesia. Di dinding aku melihat sebuah kalender lawas bergambar Tugu Yogya dan bertuliskan 1987. Di atas televisi aku melihat foto mantan presiden kedua Indonesia yang bersisian dengan gambar burung garuda. Sementara di atas meja, sebuah tape lawas dengan merdu mengalunkan suara indah Kang Ebiet. Aku merasa seperti di kampung.

Dimulai dengan secangkir teh melati, obrolan kemudian mulai mengalir dengan ringan. Tentu saja Nenek Sumini yang lebih banyak bercerita dan aku memilih menjadi pendengar yang baik. Tiga puluh tahun lebih meninggalkan tanah air membuat Nenek Sumini kenyang dengan pengalaman yang menarik. Walau baru saja bertemu, aku senang mendengar ceritaceritanya.

“Apakah nenek tidak rindu dengan Indonesia?” tanyaku.

“Tentu aku rindu. Kalau boleh jujur, aku sangat ingin kembari ke tanah air.” Jawabnya sambil menyeruput teh dari gelasnya.

“Bukankah di sini lebih enak Nek? Segalanya berjalan dengan disiplin dan nyaman.”

“Kau tahu apa yang aneh, Ko. Terkadang ketidakteraturan masyarakat Indonesialah yang membuat aku rindu. Di tengah kesemrawutan kita tersisip basa-basi dan candaan. Di tengah kemiskinan dan kesusahan, ada rasa tolong-menolong dan bekerja sama,” ucapnya sambil menuangkan kembali teh ke dalam cangkirku yang sudah kosong.

“Dan kau tahu apa lagi, Ko, aku sedikit bosan dengan suasana teratur di sini,” Nenek Sumini mengecilkan suaranya seolah takut ucapannya didengar oleh orang lain. “Terkadang aku rindu detail kecil Indonesia kita. Sederhana saja, seperti tetangga yang kerap mengunjungi, bercengkerama di warung dekat rumah, atau rutinitas menggosip para ibu di sore hari,” ucapnya yang membuat kami tertawa bersama. Sebelum kemudian ia batuk sambil memegang dada. Spontan aku mengambilkan minum untuknya.

Setelah batuknya mereda, aku menanyakan hal yang sedari tadi menggelitik pikiranku. “Kalau begitu, mengapa nenek tidak pulang saja ke tanah air?”

Air muka Nenek Sumini langsung berubah. Suasana menjadi hening. Ia diam, tidak segera melanjutkan jawabannya. Aku merutuk dalam hati karena telah melontarkan pertanyaan sensitif seperti itu.

“Aku tidak punya uang untuk pulang, Ko. Sejak kematian suamiku empat tahun yang raru, aku hidup sendiri dari menjadi pengasuh anak. Tabungan? Semuanya sudah habis untuk biaya rumah sakit suamiku,” mata Nenek Sumini mulai berkaca-kaca. “Ragi pura, untuk apa purang? Semua orang yang kukenar mungkin kini sudah tiada,” ia mencoba untuk tersenyum, meski terlihat sedikit dipaksakan.

Paket TerakhirRasa simpati muncul dalam hatiku. Nenek Sumini bagai orang tua di persimpangan jalan. Ia terjebak di antara masa lalu yang indah di kampung halaman, masa sekarang yang sulit di kampung orang, dan masa depan yang pasti dengan menunggu kematian.

Saat itu waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa kusadari, jarum pendek telah menuju angka dua. Aku harus kembali ke kantor, sebelum Taro San marah dan memotong gajiku. Walau sebenarnya aku masih ingin berada di sini.

“Terima kasih Joko, sering-seringlah datang ke sini. Lain kali aku akan memasak sayur rodeh,” ujar Nenek Sumini sembari melambaikan tangan. Mendengar itu aku tertawa, pasti yang dimaksud nenek adalah sayur lodeh. Aku balas melambaikan tangan sambil mengangguk.

Satu bulan berlalu, kesibukan kerja belum memberikan aku waktu untuk kembali mengunjungi Nenek Sumini. Meskipun begitu, sebenarnya aku sudah mempersiapkan sebuah hadiah spesial untuknya.

Siang ini, sebelum mengambil paket spesial di rumah nenek, aku pulang terlebih dahulu untuk mengambil hadiah yang telah aku siapkan. Hadiah itu adalah sebuah tiket pesawat pulang pergi ke Indonesia. Sementara untuk akomodasi, aku telah meminta adikku untuk mengurus keperluan nenek selama di tanah air.

Demi membeli tiket ini aku harus mengikhlaskan satu bulan gajiku. Sedikit berat memang, tapi entah mengapa hati kecilku berbisik bahwa aku harus melakukannya. Aku senang bila bisa membantu mengobati kerinduan Nenek Sumini kepada negerinya.

Sesampainya di apartemen itu, aku langsung menekan bel. Terdengar suara langkah kaki mendekat dari balik pintu. Gagang pintu terputar dan mulai terbuka. “Kejutan!” teriakku sambil menunjukkan selembar tiket di tanganku.

“Hee, nani?” seorang lansia bermata sipit yang muncul dari balik pintu terlihat kebingungan. Aku heran, mengapa yang membuka pintu bukan Nenek Sumini. Kucocokkan kembali nomor rumah dengan alamat yang ada dalam catatanku. Persis, tidak ada yang berbeda.

“Gomenashai! Maaf mengejutkan anda. Apakah Nyonya Sumini ada di rumah? Saya ingin menjemput paket,” sambil menunduk, aku meminta maaf dalam bahasa Jepang.

“Ah, wakata! Kamu Joko kan, tunggu sebentar!” Perempuan bermata sipit itu masuk ke dalam dan kemudian kembali sambil membawa sebuah kotak kayu berukir bunga sakura.

“Sumini sudah meninggal minggu lalu karena sakit paru-parunya. Ini adalah abu jasadnya dan selembar surat untukmu. Kami minta maaf tidak bisa menguburkannya sesuai agamanya karena itu sangat sulit dilakukan di sini,” sambil menitikkan air mata dia menyerahkan kotak tersebut beserta selembar surat.

Aku terkejut. Dalam kondisi masih tidak percaya, aku mulai membaca lembar surat itu. “Nak Joko, maaf merepotkanmu, tapi aku tidak punya siapa pun untuk kumintai tolong. Jika aku mati, aku ingin abu jasadku kau simpan dan bawalah ke tanah air saat kau pulang suatu saat nanti. Meski aku sudah menghabiskan hampir separuh hidupku di tanah orang, aku ingin abuku dikubur di tanah kelahiranku. Tanah yang selalu kurindukan sepanjang perantauanku, Indonesia. Aku mohon dengan sangat kepadamu. Wassalam”

Tiket yang telah kugenggam di tangan kembali kumasukkan ke dalam saku. Seketika, bayangan wajah Nenek Sumini muncul dalam benakku. Wajahnya tersenyum sendu menunjuk kan ekspresi merindu. Dengan punggung tangan aku usap mataku yang sudah basah. Tenang saja, Nek! Paket terakhir darimu akan kuantarkan dengan tanganku sendiri. Kita berdua akan kembali ke Indonesia, bersama-sama.■

Syahirul Alim Ritonga. Penulis merupakan anggota FLP Yogyakarta dan merangkap menjadi mahasiswa Teknik Mesin UGM


[1] Disalin dari karya Syahirul Alim Ritonga
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” Minggu 11 November 2018