Palung Rindu – Kubutambahan – Celukan Bawang – Pangkil – Jawan – Dari Ujung Telepon

Karya . Dikliping tanggal 28 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Palung Rindu 

Telaga yang lengang
Memendam rindu
Hamparan sunyi
Ruang tanpa batas

Keluasan yang biru
Menyerap waktu
Semilir angin menari
Dalam hening semadi

Kubutambahan 

Di sebongkah karang hitam
Kutemukan guguran kembang
Seperti detik-detik yang menjadi silam
Pada sebuah petang. Di segunduk pasir putih
Masih kudengar langkah waktu yang letih

Seperti menit-menit yang bertumpuk
Pada senja yang sibuk, seperti debur ombak
Yang begitu khusyuk. Seperti gadis-gadis berkebaya
Kulihat rombongan mega berarak dari langit utara
Seperti sesuatu yang pada akhirnya akan luput

Celukanbawang 

Pada karat yang cokelat kehitaman di kapal itu
Namamu terpahat indah, seperti kaligrafi
Di nisan tua. Kau sudah lama pergi
Meninggalkan hari
Kau sudah lama menjauh
Dari keluh dan aduh. Kau sudah lama mati
Terkubur bersama puisi

Pada karat yang cokelat kehitaman
Seperti kutemukan kembali dirimu, hidup
Dan utuh. Seperti kutemukan kembali cinta itu
Tapi kau tak pernah mengenaliku
Kau tak akan menemukanku
Yang berabad menunggu
Di dermaga waktu

Tak Ada lagi Senja yang Bicara Padaku

Tak ada lagi senja yang bicara padaku
Dengan warna pastel. Udara masih diselimuti kabut
Sedang gumpalan awan seperti kapal selam
Bergerak lamban mengitari setiap sudut kota
Yang berduka. Kulihat tembok-tembok
sepanjang kanal
Jembatan-jembatan marmar serta tiang-tiang baja
Semuanya hitam. Hitam juga batang-batang
linden tua
Di tengah bangkai-bangkai daunnya
yang belum disapu
Wanita-wanita melenggang dengan kerudung hitam
Dan trotoar seperti dipenuhi ratusan kelelawar
Di balik etalase berserakan mantel-mantel hitam
Gaun-gaun hitam. Tapi aku tak menjumpai nisanmu
Hanya kafe dan restoran yang mulai menyalakan
Lampu-lampunya yang temaram.
Kupesan segelas kopi
Sebab aku ingin mereguk hangatnya penantian

Tak ada lagi senja yang bicara padaku

Dengan warna pastel. Halte-halte diguyur hujan
Stasiun-stasiun menjadi monumen
bagi kesementaraan
Ketika kereta-kereta datang dan pergi,
ketika orang-orang
Sibuk memeluk dirinya sendiri karena dingin
dan tak peduli
Ada yang ingin kutuliskan pada lembar-lembar usang
diarimu
Juga pada tahun-tahun pelarianmu yang berat
dan panjang
Tentang detik-detik sepi yang kemudian
menjadi beku
Serta menit-menit sunyi yang mendadak berhenti
Di ujung nadimu. Aku telah berjalan menyusuri
banyak gang
Berlari dari lorong ke lorong, berenang dari kanal
ke kanal
Memasuki museum-museum lukisan,
menonton film-film porno
Lalu tertawa sambil mengutuki usiaku
yang merangkak
Di tangga-tangga waktu. Kupesan sebotol bir
Sebab aku ingin menghirup kerasnya aroma rindu

Tak ada lagi senja yang bicara padaku

Dengan warna pastel. Salju yang kutunggu-tunggu
Hanya mengirimkan perangainya
lewat hembusan angin
Sebuah perangai yang kaku, dingin dan mengancam
Taman-taman masih hitam, tanah-tanah masih basah
dan hitam
Di sepanjang jalan kulihat ranting-ranting linden
yang runcing
Seperti jari-jari mungilmu yang khusyuk berdoa
di tengah badai
Atau kalimat-kalimat pendekmu yang tersekat
di tenggorokan
Langit nampak semakin rendah ketika
menara-menara katedral
Menerobos gumpalan awan. Di kejauhan
lampu-lampu padam
Dan hurup-hurup berloncatan
meninggalkan sarangnya
Seperti kelelawar. Tapi belum kutemukan
di mana nisanmu
Hanya kubayangkan bagaimana kapas-kapas salju
berjatuhan
Di atas kuburan. Kumasuki hotel
dan kuisap mariyuana
Sebab aku masih ingin mengembara
di belantara kata-kata

Pangkil

Kaki langit nampak semakin renta di ujung
penantianku ini
Tak kucatat senja yang turun sejak lama.
Sebuah perahu
Bertolak dan ombak pasang menyambut
sebagai pengasuhnya
Kulihat samudera telah menghamparkan
keluasannya yang utuh
Dan aku harus kehilangan semua jejakmu yang
terlindas sunyi
Pertemuan kita tergantung pada angin sakal
dan kabut pagi

Jawaban

Kenapa cinta harus dipanggil cinta
Dan rindu kenapa mesti disebut
Rindu? Pada lengkung alis matamu
Aku seperti menemukan jawaban:
Cinta dan rindu adalah pelangi senja
Yang jatuh di antara alis dan bulu mata

Dari Ujung Telepon

Dari ujung telepon
Kau memintaku datang
Dengan rambut panjang, baju hitam
Ransel kusam serta sebotol minuman
Seperti biasa kau setia menungguku
Di taman pahlawan. Dari ujung telepon
Aku berjanji akan segera datang
Menemuimu yang kedinginan
Berselimut selembar kafan
Ilustrasi Oleh Pata Areadi

Acep Zamzam Noor, penyair kelahiran Tasikmalaya.Sehari-harinya bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) sambil sesekali melakukan perjalanan ke berbagai tempat. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Acep Zamzam Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 28 Desember 2014
Beri Nilai-Bintang!