Papi

Karya . Dikliping tanggal 25 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
SIANG ini aku sampai Solo, kota yang selalu membuat hatiku bergetar. Banyak kenanganku yang tertinggal di sini, baik kenangan buruk maupun baik. Sekilas kulihat kota ini sudah kembali benar-benar berseri. Maksudku tidak seperti pada saat aku tinggalkan 17 tahun yang lalu. Kini, jalan Slamet Riyadi sudah kembali asri.
Sampai perempatan Gendengan, papa membelokkan mobil ke kiri, sejurus ke arah  lapangan Kota Barat. Setelah itu sebentar saja kami telah melewati daerah Pasar Nongko. Haiku semkin bergetar, terlebih saat mobil kami berhenti di depan rumah yang kami tempati dulu. Seorang ibu telah menyambut kami di teras rumah. Sebelum turun aku sempat bertanya pada mama.
“Apa itu Ibu Ani, Ma?”
“Ya, kamu pangling, ya?”
“Wajahnya tidak berubah, masih cantik seperti dulu.”
“Selamat datang, Bu, pak,” kata Bu Ani sambil menyalami mama dan papa.
“Siang, Bu Ani,” salamku
“Apakah ini, Meme?” tanya Bu Ani sembari menyalamiku. “Kamu cantik sekali, Sudah berapa tahun kita tidak bertemu, ya?”
“Tujuh belas tahun, Bu.”
“Ya. Waktu itu kamu masih SMP.”
Lalu kami masuk rumah. Memasuki rumah itu, jantungku serasa berdetak lebih cepat, secepat pikiranku yang kini telah tertuju pada masa silam. Hal itu pula yang jadi alasanku untuk menolak ajakan papa dan mama setiap kali mereka pergi ke Solo. Seingatku, setelah tragedi duluitu, papa dan maam sudah lima kali ke sini, untuk sekadar menyambangi rumah dan tilik Bu Ani. Barulah yang keenam ini, aku bersedia ikut. Karena aku merasa sudah siap menghadapinya.
Tidak terasa, senja telah melingkupi kota Solo. Aku baru saja selesai mandi dan kini sudah duduk santai di depan TV untuk melihat film drama serial kesukaanku. Benar kata orang, kalau sudah terlanjur mengikutinya, setiap hari akan terus dibuat penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Sehingga setiap sore mau tidak mau harus memaku diri di depan TV untuk menyaksikan. Aku bisa menangis, hanya karena mengikuti jalan ceritanya., padahal kebanyakan peristiwanya seringkali tidak masuk akal. Sembari menunggu filmnya mulai, kembali pikiranku mengenang kisahku tujuh belas tahun lalu.
***
TIDAK kusadari sebelumnya, Pak Damar tetangga baruku, yang belum ada satu tahun tinggal persis di samping rumahku, ternyata seorang guru di SMP di mana akhirnya aku sekolah. Sebelumnya aku sudah sering bertemu dengannya, bahkan bisa dibilang hampir setiap sore kami bertemu. Pertemuan-pertemuan kami itu tidak sengaja terjadi di belakang rumah. Aku memelihara beberapa anggrek di belakang rumah, dan setiap sore aku menyiraminya. Sedangkan Pak Damar biasanya sedang menulisa di belakang rumahnya. Mata kami kadang beradu pandnag lalu melempar senyum. Meskipun kami belum pernah bicara tetapi jujur, aku menyukai sinar matanya yang teduh dan senyumnya yang menawan. Begitulah penilaianku, seorang gadis yang baru masuk SMP.
Samping belakang rumah kami dibatasi sebuah pagar pembatas setinggi orang, dan di pagar itu ada sebuah pintu tembus. Papa sering melewati pintu itu jika ada keperluan bertemu dengan Pak Damar. Tapi aku sendiri belum pernah membukanya apalagi melewatinya. Namun begitu, aku dan Pak Damar masih bisa bertemu meski hanya dari balikpagar. Dari perjumpaan-perjumpaan itulah akhirnya aku jadi terbiasa dengan tatap mata dan senyumnya.
Pada saat aku tahu ternyata dia jadi guruku di SMP, aku merasa senang. Sejak saat itu aku tidak lagi hanya bisa memandang mata dan senyumnya saja, tapi kami juga sering berbincang. Dari situlah aku mulai mengenal sosok Pak Damar lebih dekat. Kurasakan, semakin hari kami semakin akrab. Perasaanku selalu nyaman jika bersamanya.
Pak Damar sudah berkeluarga. Istrinya sangat baik, namanya Bu Ani. Suatu kjali aku pernah diajak papa berkunjung ke rumahnya dan berkenalan dengan istrinya. Katanya mereka juga sudah punya anak seumuranku, laki-laki dan tinggal bersama simbahnya di desa. Pak Damar orangnya pendiam. Sebenarnya cara mengajar Pak Damar biasa saja, tapi entah mengapa aku tidak merasakan bosan jika Pak Damar mengajar, mungkin karena ia selingi dengan cerita, maklumlah karena dia seorang penulis puisi dan cerita, dan kabarnya dia juga pandai melukis.
Kedekatanku dengan Pak Damar kian hari kian erat. Sejujurnya aku sendiri memang merasa senang dengan kedekatan itu, hingga suatu hari aku punya permintaan padanya.
“Aku boleh memanggil Pak Damar, papi?”
“Mengapa? Bukankah kamu sudah punya Papa?”
“Tidak bolehkah, aku punya Papa sekaligus Papi?”
“Boleh saja. Tapi bukan karena kamu membenci Papamu, kan?”
“Bukan. Aku kagum Pak Damar. Aku sayang Pak Damar.”
Sejak aku menganggapnya papi, setiap hari aku ingin bersama dia.
Ada kerinduan yang sangat jika sehari saja tidak bertemu dan berbincang dengannya. Akhirnya aku sangat suka bersekolah, dan aku benci jika sekolah libur. Papa dan mama sempat heran karena hal ini.
Satu lagi kejadian yang aku sukai, jika papa dan mama berhalangan mengantarku ke sekolah atau menjemputku pulang sekolah, dengan begitu aku bisa membonceng Pak Damar. Sama halnya yang terjadi di bulan Mei. pagi itu pihak sekolah mengumumkan semua siswa dipulangkan pagi. Menurut keterangan, hari itu akan ada demonstrasi serempak. Akhirnya aku benar-benar pulang bersama Pak Damar.
“Meme, pegangan ya,” kata Pak Damar tiba-tiba.
“Ya, pi,” kataku singkat.
Aku memegang pinggang Pak Damar. Hatiku merasakan ada perasaan yang aneh. Aku belum paham benar apa itu. Tidak seperti perasaan antara anak dan papinya. Aku merasakan hatiku tidak menentu, bahkan Pak Damar yang berbicara terus mengenai keadaan yang sedang terjadi, tidak begitu aku dengarkan. Tapi ketika sekilas aku perhatikan kata-katanya, aku jadi merasa ngeri.
Katanya, akan ada gerakan demonstrasi mahasiswa besar-besaran masalah ekonomi negara. Hal itu dipicu dengan kenaikan harga minyak, akhirnya semua harga barang naik. Tanpa sadar rasa takut tiba-tiba menjalar ke diriku hingga tak sengaja aku melingkarkan tanganku di pinggang Pak Damar dan emerbahkan kepalaku ke punggungnya.
“Meme, ngantuk?” tanya Pak Damar.
Aku tidak menjawabnya. Aku terdiam seribu bahasa. Hanya hangat tubuh PakDamarlah yang membuatku nyaman. Dan setelah itu rasanya cepat sekali kami sampai di depan rumah.
Menjelang sore hari, Pak Damar  menemui kami lewat pintu tembus itu. Pak damar menganjurkan kami pindah ke rumahnya. Menurut informasi, aksi para demonstran tiba-tiba berganti jadi aksi para perusuh dan sudah tidak terkendali. Dari mereka telah ada yang mendekati daerah Pasar Nongko. Mereka membakar dan menjarah sebagian toko-toko milik keturunan Tionghoa.
Belum selesai Pak Damar bicara, rumah kami sudah dibuka paksa segerombolan orang yang sangat beringas. Sedetik kemudian rumah kami telah terbakar. Kami seperti mematung menyaksikan kebrutalan itu. Tubuhku menggigil. Papa dan mama histeris dan aku ditinggal sendirian. Secepat kilat Pak Damar menyambar tubuhku. Aku dipeluknya erat sekali. Lagi-lagi pelukan itu membuatku nyaman. Tapi bersamaan dengan itu sebuah kayu yang cukup besar jatuh persis pada posisi kami berdua. Kayu itu mengenai kepala Pak Damar. Kepala Pak Damar mandi darah, dan akhirnya jatuh tersungkur menimpa tubuhku. Aku menangis sekeras-kerasnya. “Papiiiii!”
***
“ME, ini diminum dulu, kata Bu Ani membuyarkan lamunanku.
“Oalah, Bu Ani, tidak usah repot-repot, nanti aku ambil sendiri.”
“Tidak apa-apa, kan tidak tiap hari Ibu bisa melayani Meme.”
“Bu Ani, sebentar. Jangan pergi dulu, duduk di sini dulu,” kataku pada Bu Ani.
“Ada apa, Me?”
“Bapak dimakamkan di mana, Bu?”
Kulihat wajah Bu Ani yang semula kelihatan bersemangat mendadak jadi meredup.
“Maaf ya Bu, bukan maksud Meme membuat Bu Ani sedih,” kataku kemudian.
“Tidak apa-apa kok, Me.”
“Aku ingin ke makam Bapak, Bu.”
“Kok kamu ya masih ingat Bapak to, Me?”
“Bu Ani gimana, masak ya aku lupa.”
“Besok, Ibu antar ke sana.”
“Makasih ya, Bu.”
“Oya, ibu mau mengenalkan seseorang padamu. Nias, ke sinilah.”
Aku terkejut, melihat orang yang dipanggil Bu Ani itu, rasanya seperti sudah kukenal dengan baik, terutama saat aku melihat tatap mata dan senyumnya. Mata dan senyum itu persis dengan mata dan senyum Pak Damar.
“Namanya Nias. Anak ibu yang dulu tinggal bersama simbahnya di desa.”
Tidak lama kemudian ibu Ani permisi ke dapur hendak melanjutkan memasak, meninggalkan kami berdua. Perbincanganku bersama Nias semakin  membuat perasaanku kalang kabut. Peristiwa dmei peristiwaku bersama Pak Damar seperti kembali terurai satu persatu dalam lamunanku. Bagaimana aku bisa melupakannya? Banyak kenangan indahku bersamanya. Paling tidak, begitulah yang kurasakan.
Pagi berikutnya aku diantar Bu Ani ke makam Pak Damar. Setelah membersihkan di sekitar makam, kami berdoa. Selesai berdoa aku belum mau beranjak dari pusaranya.
“Bu Ani, aku ingin sendiri di sini sebentar.”
“Baik, Me. Aku tunggu di mobil saja, ya?”
“Baik, Bu. Makasih.”
Lama aku terdiam sendiri di makam itu. Tidak kuasa kutahan, air mataku jatuh juga.
“Papi, aku ayang Papi. Pelukan yang selalu emmbuatku nyaman. Tapi aku tidak ingin pelukan yang terakhir itu, karena pelukan itulah yang membuat Papi pergi selamanya. Aku berkenan dekat dengan Papi karena hati. Papi tentu tahu, hati tidak bisa berbohong jika hati sudah berkehendak. Aku tidak pernah menanyakan sesuatu karena aku tidak ingin bertanya. Yang penting aku sayang papi. Akutidak menuntut karena aku tidak berhak menuntut. Dana ku menyadari semua perbedaan itu.”
***
SAMPAI juga waktunya kami harus kembali keJakarta, kata papa dan mama biarlah toko dan rumah itu terus diurus Bu Ani dan Nias. Sebelum kami meninggalkan rumah itu, tiba-tiba Bu Ani memintaku menunggu sebentar. Setelah masuk rumah, Bu Ani mendekatiku dan menyerahkan sesuatu padaku, ada dua barang, yang satu kecil dan lainnya besar. Kata Bu Ani, barang itu kepunyaan Pak Damar yang mungkin dimaksudkan untukku.
Penasaran dengan kedua barang itu, dalam perjalanan aku membukanya. Yang besar ternyata sebuah lukisan wajahku semasa SMP karya Pak Damar, dan yang kedua sebuah buku kumpulan puisi karya Pak Damar, berjudul Sajak Buat Meme. Tak bisa aku tahan lagi, air mataku jatuh untuk yang ke sekian kali, dan bersamaan itu, lagu lama dari Kerispatih yang berjudul Mengenangmu mengalun pelan di radio mobil papa. (k) []

Yuditeha (Yudi Setiawan): aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta, tinggal di jaten Karanganyar Surakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 23 Mei 2015