Parasurama – Remuka – Yamadagni – Golekan – Anjani – Supraba – Sumbadra – Alap-alapan Surtikanti

Karya . Dikliping tanggal 20 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Parasurama

apakah kau akan berhenti
jika setiap langkahmu ditumbuhi sepi
atau terus mengayunkan kapakmu
sebab malam tak lagi pernah sama
setelah kematian remuka?
malam telah mengutukmu
menjadi pembunuh ibu
atau batu di dasar kali
dan tak ada janji kembali
sementara kematian menjauh
tak mau menyentuhmu
karena bagiku
kaulah kematian itu
Jogja, 2014

Remuka 

tak ada yang telanjang di bengawan narmada
hanya cinta yang berjatuhan di batu-batu kali
hanya dada yang sejenak terbuka
lalu cepat tertutup kembali
tak ada apa-apa. tak ada yang pernah kutinggalkan
aku di sini dan begini saja, yamadagni
tak ada yang telanjang di bengawan narmada
hanya darahku mengalir di kapakmu, rama
deras seperti cinta yang tak pernah kudaku
maka telanjanglah. menarilah di kaki candiku
sebab cinta tak datang sembarang waktu
sebab ada masanya kau hanya selembar daun
– gemetar ditampar hujan
Jogja, 2014

Yamadagni

apa yang pergi tak bakal kembali
apa yang telah kaubunuh mokal tumbuh
: kepala itu telah jatuh
– menggelinding ke ruang tak tersentuh
katakan padaku,
mantra macam apa yang bisa menguasai malam
menutup seluruh jalan dendam dan kematian
yang kadung tumbuh di ujung wadung
kupinjam seluruh tubuhmu, rama
sebab kau tak akan mati
sebagaimana dendam yang kumiliki
Jogja, 2014

Golekan

wayang di sebelah sudah selesai
kayon dilesakkan di tengah azan
mungkin kau sudah bangun
dan pelan-pelan menyadari 
bayangmu telah lari pergi
tak ada rajah
yang perlu dibaca lagi
sementara dua boneka kayu
– sepasang kekasih yang kaku
menari diburu waktu
Jogja, 2014

Anjani

telaga sumala merendam lukamu
menjatuhkan kama berbau perdu
tepat pukul lima pagi yang beku
buka saja mulutmu
seperti saat kau memanggilku
bukalah dan lahirkan sesuatu
mungkin sebuah puisi
tentang kera betina yang menyendiri
di sebuah telaga hingga ia melahirkan puisi
tentang kera betina yang menyendiri
waktu mesti kaubunuh
hingga bulu-bulu di wajahmu gugur
menjelma kera putih
yang akan membopongmu
ke sebuah tempat
yang pernah kaulihat
di cupu astagina
atau biarkan saja
telaga sumala
menelanmu
dan kau tak pernah ada
Jogja, 2014

Supraba

di mana letak kematianmu
di sanalah aku akan berdiam
menunggu datangnya malam
saat aku mesti kembali
menjadi cahaya
waktumu tak lebih panjang dari rambutku
ruangmu tak lebih luas dari tubuhku
bergegaslah, di luar terlalu gaduh
aku ingin segera menepi ke sana
di dalam kematianmu yang dingin
dan sebutlah kita pengantin
Jogja, 2014

Sumbadra

kularung cintamu!
jadilah perempuan itu berlari menghunjamkan diri
pada sepi yang tegak berdiri
layaknya sebuah belati
lalu sungai menerima tubuh
– tongkang kosong rapuh
membawanya pergi jauh
sejauh-jauhnya darimu
dan kalaupun kini ia hidup lagi
duduk diam di sebuah tempat 
menyaksikanmu yang terus menari 
dengan baju pengantin hingga tamat
: ia bukan siapa-siapa
Jogja, 2014

Alap-alapan Surtikanti

suatu kali aku pernah bersembunyi di gelung rambutmu
berdiamlah di sana, katamu. rumahkan kesepianmu
dan bau lehermu menidurkanku. menjaga kesedihan
yang berkeliaran sepanjang tembok tamansari
tinggallah di sana, katamu. selesaikan pelarianmu
tapi tubuhmu bukan makamku. tak ada namaku di sana
aku hanya pencuri yang mesti terus berlari
Jogja, 2014

Gojali Suta

di batas yang tak lagi jelas
siapakah kamu
yang menyeru namaku
siapakah aku
yang menyusun ranjang besi
dari puisi-puisi tak jadi
maka kupecahkan wajahmu
dan tidurkanlah aku
di ranjang yang sepi
agar selesai seluruh cinta
agar selesai perseteruan
yang panjang ini
Jogja, 2014

Samba Juwing

ceritakan padaku malam ini
cinta yang tak pernah mati
dan kau pun berhenti
menulis ulam derma – ulang dermi
di sebidang tanah yang sepi
di mana seorang kekasih
baru saja mati siang tadi
koyak-moyak di tanganmu
yang kehilangan rindu
mereka tak ada katamu 
mereka tak tinggal di sini
hanya ada aku dan kamu
dan sebidang tanah sepi 
dan aku pun memelukmu
tubuh yang tak bisa kukenal
sebab malam begitu rapuh
dan bisa jatuh kapan saja
Jogja, 2014

Windradi

sebut aku batu
sebab kau tahu
tak ada lagi suaraku
tak kubagi cintaku
bahkan kepadamu
dalam diam kuhayati 
apa yang tak pernah mati
berdiri di antara luar-dalam
siang dan malam
akan kusaksikan 
semua menua dan sia-sia
dan kau yang berendam
di telaga sumala
selembar daun akan jatuh
tepat di mulutmu
sesuatu akan tumbuh 
menjadi setapak jalanku
mencair. Membasahimu
Jogja, 2014
Gunawan Maryanto aktif di Teater Garasi, Yogyakarta. Buku puisinya antara lain The Queen of Pantura (2013).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gunawan maryanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 18 Januari 2015