Pardi Jepang

Karya , . Dikliping tanggal 3 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Jawa Pos
PARDI mogok makan. Ini sudah menginjak hari yang ketiga. Bagi kebanyakan yang mengenal siapa Pardi, itu adalah hal yang menggelikan. Karena Pardi bukanlah siapa-siapa. Dia bukanlah tokoh politik, bukan pula budayawan atau seniman, apalagi negarawan. Dia dikenal dengan sebutan Pardi Jepang. Itu semata karena postur tubuhnya yang mirip orang Jepang. Tapi dia tidak lebih dari seorang laki-laki kampung. Bagian dari berjuta penghuni kampung kumuh di setiap pojok dan lipatan kota besar.
Kalaupun sekarang tiba-tiba menjadi tokoh, artinya dia menjadi perhatian orang kampung di sekelilingnya. Hanya karena dia telah merepotkan orang-orang di situ. Sejak dia menyatakan mogok makan, tidak kurang dari Pak RW dan warga kampung ikut turun tangan. Mereka berusaha membujuk Pardi Jepang segera menghentikan keinginannya. Percuma saja menyiksa diri dengan tidak makan. Membiarkan dirinya lapar sudah tiga hari, apa enaknya. Padahal, banyak yang tahu kalau Pardi Jepang paling doyan makan. Mereka tahu itu semua kalau ada yang punya hajat. Apa saja yang dihidangkan habis disantap. Dengan begitu, mengherankan juga kalau sudah sampai tiga hari perut Pardi tidak diisi apa-apa.
Orang-orang berdatangan. Dengan bermacam alasan mereka datang. Ada yang sekedar ingin tahu, ada yang measa iba, dan ada pula yang ingin mencari hiburan. Tidak bisa dipungkiri, dalam sebuah kelompok manusia dengan kondisi sosial yang beragam, melihat salah seorang dari warganya yang mengalami suatu kejadian, apakah musibah atau anugrah, itu akan menjadi sebuah pelepasan. Tanpa disadari dan seolah apa namanya yang jelas ada sebagian beban yang meloncat dari kepalanya. Maka orang-orang bertambah banyak yang menonton Pardi. 
Bujukan berdatangan dari mana-mana. Mulai yang mencoba dengan memberi pengertian-pengertian bahwa tindakan Pardi itu konyol. Sampai yang membawa oleh-oleh makanan. 
“Kau ini siapa. Sadari itu, kau telah melakukan hal yang sia-sia. Percayalah mereka tidak akan melihat sebutir debu yang terselip di ujung …. Tidak akan mendengar desah rintihanmu. Bahan gelegar meriam pun meeka tepiskan,” kata seorang laki-laki tetangganya yang sok filosofis. Seakan tahu kepada siapa protes itu ditujukan.
“Benar, biar sampai mampus pun orang seperti kita tidak akan pernah dipedulikan.” Yang disampingnya membenarkan.
“Makan aja deh. Tuh lihat ayam gorengnya masih hangat. Waduh, nasinya lemes lagi,” timpal si gigi tongos sambil menelan ludah.
“Ini lho, Di, saya bawakan apel. Ada semangkanya ini, segar,” teman emaknya menyorongkan tas plastik isi buah-buahan segar.
“Mending kentut aja ngurangi angin di perutmu!” timpal yang lain disusul tawa riuh rendah.
“Hus! Apa-apaan ini ada orang susah kok malah bercanda,” potong laki-laki berkopiah. 
“Ya intermezzo Pak, biar nggak kenceng!”
Sebenarnya yang dikhawatirkan Pak RW dan aparatnya, termasuk para tetangganya, justru Rebinah, emaknya Pardi. Sejak Pardi memutuskan untuk mogok makan, emaknya sudah bekali-kali jatuh bangun sadar dan pingsan. Dia merasa sangat terpukul dengan ulah anaknya. Dia sendiri sudah tidak mampu menghentikan kemauan Pardi untuk protes, meskipun sudah berusaha keras agar anaknya menerima keadaan dirinya sebagai garis yang sudah ditentukan dari Yang Kuasa. Dan dirinyalah yang salah, dia merasa telah gagal sebagai wanita, sebagai emak. Tapi, dia tidak mengelak bahwa dirinya hanya menerima segala sesuatunya sebagai apa adanya. Sebenarnya dia tidak ingin mencelakakan anaknya. 
Sebanrnya dia bisa memahami apa yang dirasakan anaknya. Ketidakpuasan, kejengekelan, dan kemarahan terhadap dirinya. Tetapi, semua tidak akan mampu membalikkan sebuah kodrat yang sudah tersurat. Dia menyadari keadaan dirinya sebagai bagian dari alam semesta ini memang dirinya hanyalah sebagai air yang hanya mampu mengalir, menggenang, dan bersenyawa.
Sebagai anak zaman, dia pun mengalami dan larut bersama arus zaman sejarah masa lalunya diwarnai dengan persenyawaan dengan zaman. Catatan itu berawal dari peran dirinya sebagai seorang nyai. Seorang gundik, perempuan piaraan tuan Belanda. Dia menjadi salah piaraan seorang tuan Belanda yang berpangkat rendah. Itu semata karena dia hanyalah memang perempuan desa yang bodoh.
Baginya, menjadi gundik adalah keputusan yang terbaik, bahkan mulia. Karena dengan demikian akan selamatlah hidup keluarganya. Artinya, dengan peran dirinya sebagai gundik, dia bisa memenuhi semua kebutuhan hidup orang tua dan saudara-saudaranya. Dia bisa berbuat banyak untuk tidak hanya sekedar mendapatkan makan segala faslitas dan jaminan keamanan yang mustahil diperoleh orang-orang pribumi dapat dia nikmati sepuas-puasnya.
Siapa yang mampu minum susu, sarapan roti berbau keju? Siapa yang mampu makan nasi empuk dengan lauk daging terbaik? Siapa yang bisa berpakaian bagus dan tidur di kasur empuk? Siapa, siapa…? Kalau bukan Rebinah yang dikeloni Londo. Apa susahnya mau dikeloni Belanda, semua keinginannya terpenuhi. Tidak perlu memeras keringat, apalagi memeras otak. Mengapa perempuan-perempuan itu tidak menjadi nyai saja? Apa susahnya, tinggal melayani kemauan tuan saja. Bukankah hidup ini hanya untuk melayani? Begitu yang terlintas di kepala Rebinah.
Waktu itu hanya tuan tanah dan kaum priyayi yang bisa hidup berkecukupan. Bisa makan enak, berpakaian bagus. Seperti ndoro tuan Belanda, saat itu Rebinah pun sudah merasa menjadi seorang ndoro. Ndoro nyai adalah sebutan mulia bagi seorang perempuan desa. Dia merasa strata sosialnya setingkat di atas orang-orang pribumi. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa yang dilakukan adalah sebuah pengkhianatan. Pengkhianatan pada bangsanya. Selain apa yang dirasakan adalah kenikmatan hidup yang serba tercukupi,  Rebinah telah bersenyawa dengan kehidupan ndoro tuan yang mengangkangi tanah airnya, tanah lahirnya. Menginjak-injak sejarah dan mengharap marabat bangsa Rebinah.
Sampai berbilang waktu. Sampai kekacauan lain menggeser. Sampai Jepang datang mendepak tuan-tuan Belanda dan berganti mengangkangi negeri ini. Kiblat pun berakhir, pandangan pun bergeser. Rebinah adalah air. Mengalir, menggenang, dan bersenyawa. Dengan suka rela dirinya dijamah, dihisap dan dipelihara sang penguasa baru. Rebinah menjadi gundik piaraan seorang tentara Jepang.dengan suka rela. Karena hidup baginya adalah melayani. Bagaikan sebuah dadu. Dia dilemparkan ke atas, jatuh, dan ditebak oleh zaman.
Selanjutnya Rebinah larut dan menikmati persenyawaannya. Ia menikmati fasiltias-failitas dan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya. Segala yang diinginkan, semua yang diimpikan, mengalir dengan sendirinya. Sementara yang terjadi pada bangsanya adalah penggencetan dan penghisapan habis-habisan. Zaman itu adalah zaman yang tersulit di negeri ini. Jepang semakin mencengkeram, mengangkangi, dan menginjak-injak apa saja. Inilah zaman yang paling edan di negeri ini.
Tetapi, Rebinah tetaplah seorang wanita. Wanita dengan segenap sifat manusiawinya. Betapun dia tidak bisa menjabarkan apa yang terjadi pada dirinya. Tidak terlepas dari ruang dan waktu. Dalam perjalanannya kemudian, terbesit di benaknya bahwa harus ada yang meneruskan kehidupannya di kemudian hari. Paling tidak, garis kehidupannya tidak terputus. Dia mesti punya keturunan, tempat bersandar di kemudian hari. Karena dia telah bergumbul dan bersenyawa dengan tentara Jepang, dia pun melahirkan anak dari Jepang itu. Anak itu adalah Pardi Jepang. 
Sekarang Pardi Jepang sudah tiga hari mendekam di kamarnya. Protes, mogok makan. Selama itu tidak pernah keluar kamar. Hanya sesekali melongokkan kepalanya dari jendela. Memandangi orang-orang yang bergerombol d rumahnya. Ditatapnya satu per satu sambil melotot-lototkan matanya. Kadang memonyongkan mulutnya. Setelah itu, cepat-cepat menarik kepalanya. dan mendekam lagi di kamarnya. Semetara semua orang mencemaskan dirinya, mencemaskan keadaannya. Pada kemunculannya yang terakhir, tampak matanya cekung dan bibirnya gemetaran. Wajahnya bertambah pucat. Tetapi, sorot matanya masih tampak tegar. Seperti berteriak keras mengembus gendang telinga semua orang, meskipun pada saat itu mereka menjadi tuli secara tiba-tiba. Karena yang tampak di mata mereka hanyalah kekonyolan Pardi Jepang.
“Kalau tidak mau dianggap aneh, ya suruh operasi plastik saja. Lebarkan matanya dan jemur kulitnya biar hitam.”
“Ya, itu risikonya blasteran. Kalau dia ganteng ya jadi bintang film. Dan, akan lupa kampungnya.
“Lha iya, emaknya dulu kok nggak minta anak sama Londo saja. Kan ganteng turunannya.”
“Bapaknya Jepang jadinya ya kayak gitu itu.”
“Eh, maunya apa sih? Dari dulu kan sudah seperti itu. Kok baru ekarang anek-aneh, mogok makan segala. Mampus baru tahu rasa.”
“Ya jangan gitu to!
“Kamu kan nggak tahu pikirannya. Mungkin dia selama ini hanya memendam perasaannya.
“Lho, kan kita sebenarnya biasa-biasa saja menerima dia sebagai kawan, tetangga, dan warga kampung.”
“Tapi, siapa tahu pikiran orang. Pikiran kita sendiri saja kadang tidak jelas kemauannya kok.”
“Wah, kalau sampai dia mati, siapa yang mengganti peran tentara Jepang kalau Agustusan nanti?”
“Pardi memang yang paling cocok dijadikan model tentara Jepang untuk pawai.”
“Dan kita rame-rame menggebuki dia, ha… ha… ha…!”
“Mungkin di antaranya itu yang tidak dia sukai.”
“Walah, nyatanya tiap Agustusan dia seneng juga gitu kok!
Sebenarnya dia protes kepada siapa sih? Emaknya, Bapaknya, presiden, kaisar, Pak RT, Pak RW atau….”
“Lha kalau protes pada emaknya bisa dapat apa dari orang peyot gitu.”
“Ah, kasihan emaknya ya.”
“Suruh protes kepada kaisar Jepang sana saja. Minta duit yang banyak!”
“Siapa tahu…”
Tiba-tiba tedengar teriakan dari dalam kamar Pardi suaranya parah dan lemah. Setelah itu, terdengar gumaman yang tidak jelas. Orang-orang yang berada di situ segera didera rasa ingin tahu apa yang terjaid pada diri Pardi. Semua berkerumun di depan pintu kamar. Mereka saling pandang bertanya-tanya. Sementara itu, emaknya menjadi tegang. Dia berlari menyibak kerumunan orang, menuju depan pintu kamar. Wajahnya tegang. Tangannya menggenggam keras, napasnya tersengal-sengal. Dia memukul-mukul daun pintu yang terkunci dari dalam.
“Pardi! Aku emakmu, dengarlah aku emakmu! Sudah! Sudahlah akhiri semua ini. jangan konyol, kalau kau harus menyalahkan jangan kepada siapa-siapa. Aku emakmu, aku yang salah! Kau anakku, Di. Pardi anakku. Dengarkan ini!” napas emaknya makin tersengal-sengal.
“Sudahlah, Bu, tenang dulu. Kita coba membujuknya lagi, jangan dikerasi.” Seorang laki-laki mencoba menenangkan Rebinah yang mulai histeris.
“Tidak, aku sudah tak sabar. Aku malu. Aku maluuuu…!”
“Ya, ya, saya tahu itu. Tapi, kita coba sabar dulu Bu.”
Waktu terus berjalan. Pardi masih bertahan di kamarnya. Selama itu sebenarnya dia tidak menutup diri. Artinya, dia masih berkomunikasi dengan orang-orang di luar, meskipun hanya sekedar melongokkan kepalanya sebentar. Membuka pintu sebentar, mengawasi orang-orang dan memelototi lantas bergumam tidak jelas. Kadang-kadang bertingkah ganjil, seperti menuding-nuding, mengepalkan tangan sambil memonyongkan mulutnya. Atau, tiba-tiba berteriak sekaligus membanting pintu. Mereka yang menyaksikan kadang geli. Tetapi yang jelas, merasa terhibur melihat keadaan Pardi masih sehat.
Menginjak hari yang ketujuh, keadaan masih belum menentu. Dan, masih seperti tidak berkesudahan. Para tetangga dan aparat kampung berunding. Keadaan ini harus segera diakhiri. Rasa kemanusiaan mereka menuntut segera mengakhiri lah Pardi. Bagaimanapun Pardi harus diselamatkan. Mereka sepakat pintu harus didobrak dan Pardi harus segera diberi pertolongan. Mereka segera bersiap. 
“Satu, dua, tiga!” Brak !! Pintu pun terkuak oleh tenaga sekian orang yang paling perkasa di kampung itu. Tampak Pardi ndlower di pojok ruang kamarnya. Di sekelingnya berserakan kertas-kertas. Rupanya selama beada di situ Pardi banyak menulis sesuatu. Keadaan Pardi sendiri mengenaskan.wajahnya pucat, matanya suwung. 
Mulutnya terbuka dan bibirnya bergetas. Tubuhnya menyusut banyak. Tampak kurus dan dingin. Tangannya mengepit pulpen dan gemetar.
“Cepat bertindak bawa sekarang juga.” Pak RW yang memimpin operasi itu mengomando. 
“Dibawa ke mana, Pak?” tanya seseorang. 
“Angkut sgera ke rumah sakit, ke UGD!”
“Ya, ya tolong bantu saya. Angkat kakinya. Kamu sangga kepalanya,” pinta sesorang tadi kepada temannya.
“Yang lain urusi emaknya dan jaga rumah ini!” kata Pak RW sambil meneliti sisi kamar yang acak-acakan bercampur bau pesing dan pengab.
Pak RW tertarik pada kertas yang berserakan dan segera memungutinya. Setelah menyusunnya dan mengira-ngira urutan tulisan-tulisan itu, lalu dibaca dengan teliti.
“Aku tahu masa lalu tidak bisa dihapus. Tapi, dilupakan juga sulit. Kalian telah menginjak-injak martabat negeri ini. Kalian telah menghisap darah daging tanah ini. Kalian serakah! Bedebah semua! Semua kau jarah untuk kebesaran dan kemakmuranmu. Kau angkut ke negerimu apa saja yang terkandung di bumiku. Tak terhitung, tak terukur. Seperti ketamakanmu. Kalian orang-orang gila dan serakah. Akulah saksi zaman. Kalian membodohi orang-orang bodoh. Tapi, kau tetap harus bertanggung jawab. Bertanggung jawab kepada kebobrokkan moralnya. Karena, kau tidak hanya menjarah isi bumiku, tapi juga menjarah martabat dari mereka. Kau hinakan emakku, bangsa emakku. Akulah hasil semua itu.
Aku tidak terima, aku menuntut tanggung jawab moral. Aku minta ganti rugi. Pada setiap peringatan kemerdekaan, aku dijadikan model tentaramu. Aku digebuki, aku dikeroyok, dan dicemoohkan. Mereka tidak bahwa sebenarnya aku menderita. Benar-benar tersiksa karena di dalam tubuhku mengalir darah bangsamu. Tapi, aku dijadikan bahan tertawaan, ditimpuk kanan kiri. Aku tidak terima. Aku menuntut ganti rugi. Aku menuntut tanggung jawabmu. Kau harus minta maaf dan berlutut di kaki emakku!” Begitu di antara yang ditulis Pardi Jepang di kertas-kertas yang berserakan di kamarnya. Sebenarnya tulisan itu masih panjang, tapi Pak RW tak hendak meneruskannya. Dia manggut-manggut memahami apa yang dirasakan dan diinginkan Pardi Jepang.
Sementara itu, televisi tetangga menyiarkan berita tentang upacara perpisahan kaisar Jepang yang mengakhiri acara kunjungannya di negeri ini selama beberapa hari. 
Tampak di layar televisi sang kaisar beserta permaisurinya menaiki tangga pesawat dan melambaikan tangan. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Soeparto Tegal – Bambang Tri E.S.
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 17 November 1991
Beri Nilai-Bintang!