Patroli Malam

Karya , . Dikliping tanggal 3 Juni 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Cerpen Terjemahan, Majalah, Majalah Matra

Obsesi Seksual di Balik Lencana

Mundy mematikan lampu dan mobil patroli itu meluncur perlahan melewati pepohonan menuju pantai. Bulan penuh yang bertengger di atas sana memancarkan sinarnya. Mereka menyaksikan mobil itu diparkir di bawah pepohonan. Pada waktu itu pula kedua orang yang berada dalam mobil melihat mereka. Mundy melompat keluar dan mengeluarkan senternya. Pada waktu yang sama Redmond keluar dari pintu yang lain. 
Mundy berlari tergesa melalui pasir tebal menghampiri sebuah mobil yang diparkir di kegelapan dan menyorotkan cahaya senternya melalui jendela mobil yang diparkir itu. Kedua remaja yang berada di mobil terperanjat dan mengedipkan mata mereka menghadapi cahaya senter yang ditujukan kepada mereka. Yang lelaki segera melepaskan pelukannya, tetapi yang perempuan justru memperketat rangkulannya karena merasa takut. 
“Ayo, nak,” Mundy bersuara. “Kalian harus meninggalkan tempat ini.” Redmond dapat merasakan kedongkolan Mundy dan ia tersenyum. 
“Ini bukan pantai umum,” ujar Mundy lagi. “Kalau kalian mau berbuat begitu pergilah ke tempat lain. Di tempat ini segalanya bisa terjadi.”
“Baik, Pak,” sahut anak lelaki yang ditegur. Usianya kira-kira delapan belas tahun.
“Di tempat ini banyak orang-orang yang tidak beres. Kalau tiba-tiba ada di antara mereka yang memergoki kalian, risikonya terlalu besar.”
“Ya, Pak,” sahut anak lelaki itu. Ia menghidupkan mesin mobilnya.
“Pulanglah.”
Anak laki-laki itu mengangguk dan segera meninggalkan tempat itu dengan pacarnya. Mundy mengamati mereka pergi dan menyepak pasir dengan marah. Mundy adalah senior Redmond di kepolisian. Dialah yang mengambil keputusan. Redmond hanya mengikut perintah. 
Setelah kembali ke mobil patroli Mundy bersuara lagi.
“Saya mengetahui beberapa tempat lain. Kita akan ke sana.”
Ia mengemudikan mobil menyusur pantai, kemudian lewat di sebuah jalan kotor di antara kayu-kayu berserakan. Ia menyusuri jalan itu untuk beberapa lama, sesekali memperlambat jalan mobil dan mematikan lampu. Ternyata mereka tidak menemukan apa-apa. Di tengah keheningan itu terdengar suara Redmond. 
“Apa tidak lebih baik kita kembali saja ke tempat kota. Siapa tahu kalau-kalau kita diperlukan.”
Mundy mengangkat bahu.
“Jangan khawatir. Ini hari Rabu. Biasanya hari Rabu tidak terjadi apa-apa. Kalau ada panggilan radio dan kita terlalu jauh, mereka akan memanggil mobil patroli yang lain.”
Setelah itu Mundy mengarahkan mobil ke sebuah jalan pendek yang menuju ke laut. Mereka melihat sebuah pasangan lagi tetapi mereka tidak menganggu kedua makhluk yang sedang asyik itu. Ketika mereka meluncur lagi menuju sebuah tempat yang dikenal Mundy, Redmond mulai merasa terganggu.
“Kita akan beroperasi seperti ini sepanjang malam?” tanyanya.
“Sebaiknya bagaimana?” sahut Mundy sambil tertawa kecil.
“Tapi, yang kita lakukan ini untuk apa …?”
“Tenang.”
“Ini ‘kan bukan urusan kita. Mereka ‘kan tidak menganggu orang lain?”
Mundy mengarahkan mobil menuju sebuah jalan sunyi lagi.
“Tidak ada yang bisa menduga,” ujarnya dengan tenang. “Beberapa kali saya menemukan orang bunuh diri di dalam mobil yang diparkir. Pernah ada yang sudah mati seminggu baru ditemukan. Orang yang menemukannya kebetulan bukan polisi. Akibatnya polisi yang disalahkan. Kita harus melakukan penyelidikan. Kita ‘kan tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam mobil itu. Orang bisa saja saling berbunuhan.”
“Betul,” jawab Redmond. 
Mundy bersiul kecil. Setelah beberapa saat, ia bertanya kepada Redmond.
“Setelah tugas begini, kau akan belajar. Sudah berapa lama menjadi polisi?”
“Tiga bulan.”
“Tugas di bagian mana?”
“Patroli Lalu Lintas Utara. Mobil yang mengalami kecelakaan. Bulan lalu mereka memindahkan saya ke Wilayah Sembilan dan Pusat.”
Mundy tertawa kecil. “Wah, Wilayah Pusat dan Sembilan. Daerah tempat gudang wanita itu ‘kan? Untuk seratus tahun saja wanita di sana tidak akan habis. Kau sengaja meminta tugas di sana ‘kan?”
Mundy ingin mendengar jawaban Redmond, namun Redmond tidak menjawab kata-kata itu.
“Wilayah terbaik di kota ini,” ujar Mundy dengan senang sambil mengenang masa lampaunya. “Di sanalah gudang dan banknya wanita. Kalau saya berjalan di wilayah itu saya senantiasa sibuk sepanjang hari. Saya sudah pernah minum kopi dengan 500 wanita. Dan pada waktu luang saya ….” Mundy tertawa bangga dan menceritakan kisahnya dengan wanita-wanita itu.
Bosan mendengarkan cerita Mundy, Redmond membiarkan pikirannya mengembara. Wilayah itu memang penuh wanita seperti kata Mundy. Sebagian besar enak diajak mengobrol. Ia juga heran mengapa begitu. Mungkin karena pakaian seragam, tetapi mungkin pula lebih dari itu. Senjata. Wewenang. Redmond menengadah menatap bulan. Ia mengingat kembali cerita beberapa orang tentang caranya wanita bereaksi kalau melihat senjata. Bahkan ada yang meminta senjata itu dibawa ketika mereka bercinta di ranjang. Ya, senjata itu. Dan semua kekuasaan yang diwakilinya. Otoritas. Undang-undang.
Undang-undang, pikir Redmond. Inilah undang-undang. Mundy menarik napas. “Wilayah itu memang bagus. Betul. Tapi, berbulan-bulan di sana bisa membuat orang mati.” Mundy tertawa terkekeh. Setelah itu ia meminta Redmond untuk terus bertugas bersamanya. Ia akan bisa belajar sesuatu. 
“Sayangnya, kau bertugas dengan saya hanya satu malam dalam seminggu,” katanya. “Kau akan belajar dengan cepat. Selain dengan saya dengan siapa lagi kau bertugas?”
“Tugas dengan mobil patroli hanya dua kali seminggu. Tugas selebihnya berjalan kaki, dari pukul empat hingga tengah malam.”
“Berjalan kaki? Wilayah Sembilan dan Pusat?”
“Ya. Besok saya akan bertugas di sana lagi.”
“Oh,” Mundy menarik napas dengan berat dan menggelengkan kepalanya. “Kau mestinya kenal pada seseorang.”
Untuk beberapa lama, mereka berdiam diri. Sementara Mundy memikirkan ketidakadilan dalam pembagian tugas, Redmond berharap agar tidak banyak polisi seperti Mundy.
Tiba-tiba mereka menemukan sebuah pasangan lagi. Wanita yang dipergoki itu kelihatan bingung sekali. Sebelum Mundy dan Redmond tiba di tempat itu, yang wanita telah mengancing blusnya dengan tergesa-gesa, dan dua kancing blus itu terbuka kembali ketika Mundy menyorotkan cahaya senternya. Mundy memperingatkan mereka dengan kasar. Redmond berpaling dan kembali ke mobil patroli. 
“Kalau anda terus-menerus tugas seperti ini,” katanya ketika Mundy selesai mengusir kedua remaja itu, “suatu ketika nanti Anda akan bertemu dengan seseorang yang Anda kenal.”
“Tidak,” sahut Mundy sambil meringis. “Hanya bocah ingusan yang datang ke sini. Hanya orang-orang amatir. Orang yang punya uang akan pergi ke motel atau melakukannya di rumah. Orang-orang profesional punya tempatnya sendiri. Orang yang kau temukan di sini hanyalah orang-orang yang tidak tahu di mana harus melakukan itu. Kadang-kadang pasangan itu bukan orang muda lagi. Bahkan, saya pernah bertemu dengan seorang dokter yang saya kenal. Ia main cinta dengan perawatnya. Dokter itu sudah berkeluarga dan punya empat anak. Mestinya kau dengar bagaimana saya memperingatkannya.”
Mundy merasa puas memberikan keterangan itu. Redmond memalingkan wajahnya. 
“Di bagian sana masih ada satu tempat lagi yang baik,” ujar Mundy. “Saya sengaja pergi ke sana pada malam yang larut. Kita periksa dulu tempat itu dan setelah itu kita pulang. Biasanya ada saja yang saya pergoki di sana.”
Ia lalu mengarahkan mobil menuju sebuah jalan lagi yang kotor. Ia memadamkan lampu dan ketika ia mulai menyaksikan air laut berkilauan di balik pepohonan, ia menghentikan mobil. 
“Dari sini kita berjalan kaki saja. Berjalanlah dengan tenang.”
“Saya menunggu di sini saja,” ujar Redmond.
“Masakan kau tinggal di sini.” Suara Mundy terdengar aneh. “Kalau anak brengsek itu bertindak keras, bagaimana? Kau ‘kan pasanganku. Ke mana saya pergi, kau harus ikut.”
“Baiklah,” sahut Redmond. Ia keluar dari mobil.
“Berjalanlah dengan tenang,” bisik Mundy.
Mereka berjalan dengan tenang di jalan sepi itu. Redmond menarik napas panjang di malam dingin itu. “Perhatikan atasanmu,” pikirnya. Ia ingat kembali kata-kata kapten, atasannya: “perhatikan atasan kalian, belajarlah dari atasan itu! Perhatikan ia bertindak.”
Ia menatap ke depan dan memperhatikan Mundy beraksi. Laki-laki yang lebih tua itu melangkah ringan di jalan dengan hati-hati sekali. Redmond tidak dapat berbuat seperti itu. Selain itu ia juga tidak tahan. Ia merasa, di tempat itu Mundylah yang menjadi undang-undang. Sepotong ranting berderak. Ia melihat Mundy marah. Redmond meringis karena ia sadar wajahnya tidak akan terlihat oleh Mundy. Kemudian ia melihat mobil itu.
Mobil itu diparkir di tempat terbuka di pantai. Betul-betul amatir, pikir Redmond. Mobil itu menghadap ke laut dan Mundy menghampiri mobil itu dari belakang. Sinar bulan demikian terangnya sehingga Redmond dapat menyaksikan laut dari kaca mobil. Tetapi ia tidak melihat seorang pun dalam mobil itu. Mundy menghampiri mobil itu dengan membungkukkan badan. Redmond juga melangkah dengan lebih perlahan. Ia melihat Mundy tiba di samping mobil itu. Ia tahu kali ini Mundy pasti akan menangkap basah orang yang disergapnya. Tubuh Redmond gemetar. Ia ingin berteriak. Tetapi ia tidak mampu melakukanya. Ia datang menghampiri dan menunggu.
Ia melihat Mundy melambaikan tangan memintanya membungkuk. Dengan patuh perintah itu diturutinya. Ia menunggu Mundy menyorotkan senternya, tetapi lelaki itu tidak melakukan apa yang diharapkannya. Mundy berdiri perlahan dan mengintip dari jendela belakang. Redmond tidak dapat menyaksikan wajahnya. Tetapi, kini ia sangat dekat dan ia dapat mendengar mobil itu bergerak, mendengar orang bergerak di dalam mobil itu. Ya, Tuhan, pikirnya. Ia tidak berupaya berdiri untuk melihat. Ia hanya menunggu di belakang mobil yang bergerak-gerak itu. 
Setelah beberapa lama, Mundy menyorotkan cahaya senternya, menembus kaca mobil. Kedua pasangan di dalam mobil terperanjat dan bingung. Redmond merasakan kehangatan aliran darah di wajahnya dan ia menunduk menekan rasa malu. Ia mendengar Mundy melontarkan kata-kata.
“Ayo,” ujar Mundy dengan gembira, “keluarlah. Sekarang.” Ia membuka pintu. “Sekarang,” kata saya. “Atau kalian ingin saya menarik kalian ke luar?” Yang laki-laki keluar dari pintu depan. Ia hanya mengenakan celana panjang. Redmond terpanggil untuk melihat ke sisi lain mobil itu.
Ia memperhatikan seorang wanita keluar dari mobil di bawah sorotan senter Mundy. Ia memegang pakaiannya sambil menutupi bagian depan tubuhnya dengan wajah sangat takut. Ia benar-benar tanpa busana.
“Ayo, Dik,” kata Mundy, “kenakanlah pakaianmu.”
Wanita itu berpaling menghadap ke mobil. Pasangan wanita itu, Mundy, dan Redmond terus menatapnya. Ia menjatuhkan pakaiannya, ia kelihatan gugup sekali dan kemudian memilih mana yang harus lebih dulu dikenakannya. Ia mengangkat kedua lengannya untuk memasukkan roknya melalui kepala. Untuk beberapa saat seluruh tubuhnya berkilau karena sorotan cahaya senter Mundy. Tidak seorang pun berkata-kata ketika ia mengenakan pakaian itu. Ketika ia selesai berpakaian, ia berpaling. Redmond merasa ia mengenal wajah itu.
Mundy kemudian mengizinkan yang lelaki mengenakan pakaiannya pula. Setelah itu ia mengajukan beberapa pertanyaan. Lelaki itu menjelaskan siapa dirinya dan siapa gadis pasangannya sambil menunjukkan SIM-nya.
Redmond memperhatikan gadis itu. Ia bekerja di sebuah perusahaan asuransi di sudut Wilayah Sembilan dan Pusat. Usianya kira-kira 20 tahun dan wajahnya yang cantik membuat Redmond malu. Ia melihat gadis itu setiap hari ketika ia berjalan di pusat kota, menyaksikannya ketika ia pergi kerja dan ketika pulang, ketika ia keluar masuk restoran untuk minum kopi. Namun, ia tidak pernah berbicara dengan gadis itu. Redmond mengenal semua wanita di kantor gadis itu, ia pernah minum kopi bersama sebagian besar wanita itu, tetapi tidak dengan gadis ini. Ia terlalu cantik.
Ia ingat betul betapa gadis-gadis yang lain itu tidak senang pada gadis ini karena kecantikannya itu, tetapi mereka tidak pernah mengatakan sesuatu yang menjelek-jelekkan gadis ini. Ia begitu penyendiri. Dingin dan penyendiri serta cantik. Redmond terus menatap gadis itu tanpa mampu bergerak. 
Setelah gadis itu selesai berpakaian, Mundy mengalihkan sorotan cahaya senternya. Gadis itu menundukkan kepala dan tidak melihat Redmond. Di bagian leher pakaian gadis itu masih terbuka dan ia mulai mengancingkannya pelan-pelan. Rambutnya kelihatan acak-acakan dan sebagian menutup wajahnya. Tanpa mengenakan sepatu gadis itu kelihatan lebih pendek dari biasa. Ia ingin sekali membantu gadis itu, tetapi ia tidak juga mampu bergerak.
Redmond terus memperhatikan gadis itu yang sekali menatap ke bawah ke tumpukan pakaian dalamnya yang putih di sekitar kakinya yang telanjang. Redmond merasakan pukulan jantungnya yang keras. Gadis itu berlutut di pasir dan mengumpulkan pakaian dalamnya, menghapus rambutnya yang jatuh ke depan matanya dan kemudian menatap ke atas. Gadis itu mengenal Redmond. 
Ia mengenal Redmond. Ia terpaku menatap Redmond. Itulah untuk pertama kalinya dalam hidupnya Redmond melihat seseorang memandangnya dengan perasaan diteror.
Redmond mengalihkan pandangannya. Ia mendengar suara lelaki pasangan gadis itu yang mencoba berdamai dengan Mundy. Saat itu, Redmond benar-benar ingin membunuh Mundy. Setelah beberapa saat Mundy berpaling kepada Redmond.
“Bagaimana,” ujarnya tenang mengulur waktu, “bagaimana, Red, bagaimana pikiranmu. Bisa kita bebaskan mereka, hah?”
Bajingan, pikir Redmond, kau benar-benar bajingan tengik. Karena Mundy sadar, Redmond pasti akan mengatakan ya, ia pun membebaskan pasangan itu. Ia mendengar ketika Mundy mengatakan kepada lelaki itu betapa buruk nasibnya kalau soal itu dibawa ke pengadilan. Ia mungkin akan kehilangan kerjanya. Bagaimana pula nama baik gadis itu? Ia harus berpikir matang-matang dulu sebelum melakukan hal seperti ini lagi.
Lelaki itu mendengarkan dengan sabar, tersenyum pahit dan berpeluh. Redmond sekali lagi menatap wajah gadis itu. Sambil berdiri ia memegang pakaian dalamnya dan mendekapkannya di dada. Ia tidak dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas, namun ia masih dapat memperhatikan mata gadis itu yang terbuka lebar di bawah sinar bulan. Ia mengerti mengapa kedua mata itu seperti itu.
Pastilah Redmond akan menceritakan kejadian ini. Gadis itu merasa, cerita ini akan beredar di Wilayah Sembilan dan Pusat. Ia menunggu di depan Redmond, dengan perasaan tegang. Sutra putih yang tergenggam di tangannya berkilauan, kelihatan seperti sebuah persembahan. Redmond berpaling kepada Mundy. 
“Baiklah,” ujarnya. “Tidak ada persoalan lagi.” Setelah itu ia melangkah dengan berat di pasir. 
Mundy tertinggal seorang diri. Ia juga harus meninggalkan tempat itu. Kepada pasangan itu, Mundy meminta agar segera pergi. Mundy menyusul Redmond.
“Sekarang, apa yang ….”
“Kau,” kata Redmond. “Kau. Dengarkan. Jangan katakan apa-apa. Sekali ini saya minta, jangan katakan apa-apa. Tidak satu kata pun.” Mundy seorang polisi yang telah berusia lanjut, penyabar dan bukan seorang bodoh. Ia mengerti mengapa Redmond berkata begitu. Karena itu ia berdiam diri. Mereka kembali ke pos dan setelah itu Redmond pulang. Yang terus-menerus mengganggu pikirannya adalah tatapan gadis yang memegang pakaian dalamnya itu.
HARI BERIKUTNYA REDMOND bertugas di Wilayah Sembilan dan Pusat. Ia mulai bertugas pukul empat. Ia sengaja pergi ke sudut jalan di dekat sebuah bank dan menunggu. Satu hari ia memikirkan hal itu. Semakin ia memikirkanya, semakin berat beban yang dipikulnya. Ia harus berbicara dengan gadis itu, meminta maaf dan meyakinkannya bahwa ia tidak akan menceritakan kejadian itu kepada siapa pun.
Gadis itu keluar dari bank. Ia melihat ke sudut jalan, menatap Redmond dan memperhatikan lelaki itu.
Gadis itu kelihatan cantik sekali. Ia memakai rok warna merah muda. Ia menatap lama pada Redmond dengan tatapan kosong. Kemudian ia melangkah menghampiri Redmond.
“Punya waktu untuk minum kopi?” tanya Redmond.
Ia menatap kosong pada Redmond. Matanya dingin. Setelah berdiam diri sesaat ia mengangguk. Mereka melangkah tanpa mengucapkan sepatah kata pun menyeberangi jalan menuju restoran Sam dan memilih tempat tersendiri. Redmond sukar untuk mulai berkata-kata. Ternyata gadis itu lebih tua dari yang diduganya. Ia bukan remaja lagi. Redmond heran. Gadis itu kelihatannya lebih bisa menguasai diri. 
“Saya cuma ingin mengatakan kepada Anda,” ujar Redmond, “tentang kejadian tadi malam ….”
Gadis itu menatapnya dengan tenang dengan pandangan kosong dan kemudian menyulut rokok. Seorang gadis yang dingin, pikir Redmond, seorang gadis yang benar-benar dingin. Ia melihat bagaimana mata gadis itu memperhatikan lencana di dadanya kemudian beralih melihat wajahnya. Sebuah pandangan yang penuh pertimbangan.
Setelah kopi dihidangkan, obrolan ternyata lebih menyenangkan. Gadis itu berbicara dengan suara rendah tetapi hangat ditambah dengan senyum yang menyenangkan. Namun, pikiran dalam kepala Redmond tidak juga dapat dilenyapkan. Tadi malam sebenarnya ia ingin menyentuh tubuh gadis itu, tetapi ia tidak dapat bergerak. Lalu bagaimana harus mengajak gadis ini berkencan. Pastilah ia akan merasa, ajakan itu merupakan pemerasan. 
“Menjadi polisi tentunya menyenangkan sekali,” ujar gadis itu.
“Betul,” sahut Redmond. Setelah itu ia berdiri. “Sekarang saya harus kembali bertugas.”
Tetapi gadis itu tidak beranjak dari tempatnya. Ia hanya menatap Redmond sambil tersenyum.
“Di mata saya Anda itu istimewa,” kata gadis itu. “Semua tentang saya Anda ketahui.”
“Tidak semua,” jawab Redmond.
“Tentunya Anda tahu apa yang saya maksudkan. Saya … tidak perlu menyembunyikan sesuatu dari Anda. Kita ‘kan tidak mencoba untuk … ya, saling membohongi. Anda tahu ‘kan. Ini aneh.”
Redmond tidak memahami maksud gadis itu. Matanya secara otomatis menyapu bagian depan rok wanita itu dan gadis itu tiba-tiba menyandar serta melepaskan tangan dari bagian dadanya, sambil tersenyum lembut.
“Saya tahu apa yang ada dalam kepala Anda,” ujarnya. 
“Saya kira juga begitu.”
“Mengapa tidak Anda minta?”
“Kau tentu tahu mengapa saya tidak berani memintanya.”
“Mengapa?”
“Kau tentu akan merasa ajakan itu hanyalah ….”
“Apa memang bukan begitu?”
Redmond menarik napas panjang.
“Kalau begitu, mengajak pun Anda tidak?” kata gadis itu. Ia masih tetap tersenyum, namun matanya berangsur-angsur tertutup. Ketika itulah Redmond menyadari betapa sedikit pengetahuannya tentang wanita.
“Baiklah,” kata gadis itu dengan tenang, “kalau Anda tidak meminta. Begitu Anda selesai tugas malam ini, Pak Polisi, mengapa tidak datang ke rumah saya dan membawa saya keluar?”
Tugas MICHAEL SHAARA sebagai polisi di St. Petersburg, Florida, membekalinya dengan pengalaman unik tentang apa yang disebut “mentalitas polisi”. Dalam kisah berikut ini, ia melukiskan seorang anggota polisi patroli yang berpikiran kotor tetapi merasa dirinya berbudi yang menyembunyikan obsesi seksualnya yang sakit di balik lencana tugas. (Matra, Februari 1989)
***

Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Michael Shaara yang diterjemahkan oleh Sori Siregar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Matra” edisi Februari 1989