Pedang Hijau dari Laut

Karya . Dikliping tanggal 7 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Tubuhku bergoyang ketika membuka mata. Sesaat, suatu kekosongan memenuhi diriku. Sesaat yang tidak bisa kuhitung karena demikian singkat, sekaligus demikian lama. Lalu aku sadar, yang sedang tertangkap mataku adalah langit biru, seperti lempengan yang meluncur cepat. Pendengaranku bekerja; suara derak roda, suara telapak kaki kuda, lalu, “Hiyaaa, hiyaaa, hiyaaa!” Suara yang serak dan seperti dipaksa sehingga nyaris pecah. Aku dalam keadaan terbaring, segera bangkit, hampir berdiri, tetapi guncangan kereta membuat tubuhku tertahan dalam posisi duduk. Kupegang pinggiran kereta dan segera tahu, aku tidak sendirian.

Dalam kereta kuda itu ada lima laki-laki lain. Setiap orang memegang tombak tegak lurus. Ujung tombak berbentuk nyala api, berwarna emas. Mereka diam, bergeming menatapku dengan dingin. Tak jauh di belakang kereta, ada kereta lain, bergerak dengan kecepatan sama. Di belakangnya ada kereta lain, begitu seterusnya, sampai aku tak bisa menghitung berapa banyak kereta yang sama-sama melaju ke satu arah itu. Aku ingin bertanya pada salah seorang lelaki, tapi urung.

“Sampai! Sedikit lagi sampai!” seru kusir kereta sambil mengangkat tangan kiri tinggi-tinggi. Kereta memasuki jalan berpasir yang menurun, diapit pohon-pohon kelapa. Debu berkepulan.

Kereta terguncang-guncang lebih keras.

Lima laki-laki dalam kereta berdiri serentak. Mereka seperti tidak memedulikan aku yang masih duduk terguncang-guncang. Meskipun kereta melaju, lima laki-laki itu berdiri kukuh, tidak tergoyahkan. Kuperhatikan pakaian semua laki-laki itu hampir serupa; rompi warna hijau dengan tepi-tepi keemasan, celana panjang hijau dengan lingkaran emas di mata kaki. Di lengan masing-masing ada gelang berukiran naga, dan di setiap kepala ada semacam ikat kepala dari kain lurik. Semua hampir sama, kecuali seorang lelaki yang tak mengenakan ikat kepala tetapi logam emas serupa mahkota.

Kereta masih bergerak ketika lelaki bermahkota emas menyambar lenganku dan terjun dari kereta. Aku nyaris terguling, tetapi lelaki bermahkota emas dengan suatu cara telah menahan tubuhku. Semua lelaki dalam kereta serentak melompat turun, menghambur ke satu arah. Teriakan mereka membuat unggas-unggas ketakutan; ayam-ayam berpetok riuh, burung-burung terbang serampangan. Lelaki bermahkota emas menarikku untuk berlari ke arah yang sama dengan laki-laki lain. Aku merasakan angin kasar menerpa kulit wajah. Bau garam demikian dekat dan beberapa saat setelah berlari kudengar suara ombak mengempas, lalu terbentanglah laut biru terang.

Semua laki-laki bergerak menuju sebuah rumah. Di antara rumah-rumah lain, rumah itu paling besar dengan arsitektur berbeda. Atapnya lancip dan tinggi, seperti lebih tinggi dari bangunan rumah itu. Demi melihat para lelaki dan kereta kudanya, warga permukiman tepi laut itu sontak menjerit-jerit, berlarian ke sana-kemari. Perempuan-perempuan menggendong anak dan para lelaki berusaha melindungi mereka dengan membawa ke kebun kelapa. Di sana warga itu berkumpul, seperti pengungsi, melihat apa yang akan terjadi.

Di halaman rumah besar itu, para lelaki, dengan tombak tegak lurus, membentuk satu barisan siap tempur. Dari dalam rumah seorang perempuan muncul, masih muda dan cantik. Di belakangnya beberapa pemuda menampakkan wajah tegang. Aku merasakan tubuhku didorong ke depan; lelaki bermahkota emas telah melepaskan pegangan di lenganku dengan cara mengayunkan sehingga aku nyaris tersungkur.

“Berikan pedang itu pada pemuda ini,” kata lelaki bermahkota emas kepada perempuan itu.

Tak ada jawaban. Aku sekarang berada di tengah-tengah dua kelompok. Saat itu aku baru menyadari apa yang kukenakan; kaus oblong ungu polos, celana jins tergulung di bagian bawah, ikat pinggang kulit, dan sepatu olahraga model lama yang basah. Itu semua pakaian keseharianku. Namun aku tidak berada di tempat yang tak kukenal sehari-hari. Entah di mana.

“Tidak ada pedang,” kata perempuan itu, “Siapa pun yang memberi….”

Belum selesai ucapannya para lelaki bertombak sudah menyerbu. Para pemuda kocarkacir, sebagian melawan tetapi langsung tumpas oleh satu-dua gerakan. Perempuan itu terjengkang ke belakang, tubuhnya menghantam pintu rumah yang langsung terbuka. Para lelaki bertombak, sambil berteriak-teriak, masuk ke dalam rumah.

Teriakan mereka tiba-tiba terhenti. Kaki mereka terpaku ketika melihat di atas tugu kecil pemujaan, di tengah-tengah ruangan, sebuah pedang tegak berdiri. Mata pedang itu bersinar, hijau terang, berpendar ke sekitar dan membuat pedang itu tampak seperti berada dalam lingkaran kabut cahaya.

Para prajurit itu segera surut, tertunduk dan nyaris berlutut. Hanya lelaki bermahkota emas yang masih tegak. “Ambil!” kata lelaki bermahkota emas sambil kembali mendorong tubuhku.

Aku ragu-ragu, melihat para prajurit itu gentar. Kembali aku ada di tengah-tengah, antara pedang hijau dan para prajurit. Dari luar rumah terus terdengar suara ombak, dan kali ini ditingkahi suara tangis dan teriakan.

“Cepat, tidak banyak waktu. Ambil pedang itu. Cuma kau yang bisa mengambil,” seru lelaki bermahkota emas. Dengan bimbang, aku mendekat.

***

Pedang Hijau dari LautPandanganku berputar. Terlalu banyak minuman. Pesta sudah demikian kacau. Di sekelilingku orang-orang menari, melonjak-lonjak seperti lupa diri. Ini memang pesta besar, dan aku terlampau mabuk untuk mengenali mereka satu per satu. Udara ditabrak dentuman musik. DJ di panggung melompat-lompat sembari mengangkat tangan. Gerak cahaya lampu seperti hantu yang berkelebat.

Dengan sempoyongan aku berjalan menjauhi kerumunan. Lambungku penuh cairan dan serasa bergolak hendak naik ke kerongkongan. Orangorang yang bergoyang sekali-kali menabrak tubuhku, atau sebenarnya aku yang menabrak mereka, aku tak tahu persis. Aku hanya ingin menjauh, mendekati laut dan muntah di sana.

Agak jauh dari kerumunan, aku lihat dua lelaki berkelahi, dan seorang perempuan muda melerai mereka. Ada teriakan yang samar, tenggelam oleh riuh musik dan suara pesta. Samar aku lihat seorang di antara dua lelaki itu rubuh ke pasir sembari memegang perut. Darah terlihat ketika cahaya lampu lewat. Perempuan muda berteriak histeris. Aku ingin mendekat, tetapi desakan isi perutku tak bisa lagi kutahan. Aku berlari menuju laut. Entah kenapa masih sempat kugulung bagian bawah celanaku, seperti takut basah. Terpikir juga untuk melepas sepatu, tetapi itu butuh waktu. Kuurungkan niat itu ketika air laut sampai kepadaku. Sepatuku basah, tertanam di pasir ketika air bergerak balik.

Aku muntah sepuas hati. Suara yang keluar dari tenggorokanku terdengar mengerikan. Seperti suara ternak dijagal. Setelah puas, aku diam sesaat memandang keluasan laut, bulan bulat besar menempel di langit, memancarkan cahaya kebiru-biruan.

Di kejauhan, aku lihat sebuah benda bergerak mendekat. Benda itu jelas muncul dari dalam air. Sebuah kereta. Kereta yang diseret seekor kuda. Aku pikir, alkohol telah membuat mataku jadi tolol. Namun ketika kereta itu berhenti di hadapanku dan kuda mengangkat kedua kaki, aku tak bisa lagi mengabaikan: semua ini kenyataan.

Seorang lelaki tegap turun dari kereta, menjejak air dan pasir. Ia mengenakan rompi warna hijau dengan tepi-tepi keemasan, celana panjang hijau dengan lingkaran emas di mata kaki. Tanpa berkata apa-apa ia segera menyambar tanganku, lalu sekali sentak menaikkan tubuhku ke pundaknya. Aku berusaha berontak, tetapi tenaganya luar biasa kuat. Ia naik ke atas kereta dan menjatuhkan tubuhku. Dapat kulihat, ketika kereta berbalik ke arah laut, sebagian orang yang berpesta berhamburan merubung lelaki yang rubuh tadi. Aku berteriak memanggil-manggil mereka. Tak ada seorang pun melihatku, atau melihat ke arah laut; sebuah kereta kuda hendak membawaku.

Aku ingat pesta itu diadakan untuk merayakan kemenangan perusahaan kami atas sengketa tanah tempat kami akan membangun pabrik dan perkantoran. Aku menjadi bagian dari kemenangan itu, karena akulah yang ditugaskan menyusup ke masyarakat untuk menggali informasi. Masa depanku cerah; aku sudah dijanjikan promosi jabatan. Membayangkan itu dan menemukan kenyataan kereta kuda ini akan membawaku ke laut, aku berpikir untuk melompat saja. Namun baru saja hendak melompat, aku seperti tersengat listrik. Lelaki tegap dalam kereta menyentuhkan ujung tombak ke pundakku. Seluruh pemandangan jadi hijau, mengisap tubuhku, hingga kurasakan diriku tenggelam dan tak ingat apa-apa lagi. (28)

Kekalik, 2019

Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari?dan tokoh seni Tempo2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti. Kumpulan cerpennya Belfegor dan Para Penambang(2017).


[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 5 Mei 2019