Pelahap Kenangan

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Kau bisa dengan mudah mengenali orang-orang yang hidup dalam kenangan. Mereka selalu terlihat murung. Tahukah kau, karena dalam kepala mereka ada belatung yang perlahan-lahan menggerogoti kenangan mereka. Tapi mereka tak pernah menyadarinya.

Kenangan memang seperti peta buta, yang bisa membuat kita tersesat di dalamnya. Aku pernah melihat orang yang terperosok dalam kenangannya yang mengerikan. Orang-orang bahkan selalu merasa bergidik setiap ada yang menceritakan kembali apa yang terjadi padanya. Ia dianggap menghasut buruh untuk melakukan pemogokan, lalu terjadi kerusuhan di pabrik garmen tempatnya bekerja. Sebuah gudang terbakar. Aparat menciduknya.

Sebulan setelahnya ia dipulangkan dengan ambulan. Tubuhnya nyaris lumpuh, dan ingatannya kosong. Ia tak bisa mengingat apa yang terjadi, atau memang tak ingin mengingatnya. Orang-orang hanya menduga-duga berdasarkan desas-desus: selama diinterogasi kepalanya dibenamkan dalam karung berisi pasir, dan kemudian dihajar dengan pentungan. Itu cara efektif membuat gegar otak tanpa perlu membuat batok kepala retak. Disetrum berulang-kali dan disundut pelupuk matanya dengan rokok. Dan bokongnya disembelit dengan gombal hingga ia tak bisa berak.

Kenangan buruk membuatnya seperti pohon keropos yang digerogoti dari dalam. Sepanjang hari ia tergeletak di ranjang dengan pandangan kosong.

Sampai akhirnya ia bunuh diri, menghantam kepalanya pakai kapak. Seperti semangka busuk, kepalanya terbelah remuk, dengan ribuan belatung melahap sisa otak yang berceceran.

Belatung-belatung itu…

***

Ren menceritakan padanya perihal orang-orang yang bisa memalsu kenangan. Mereka adalah Sindikat Pemalsu Kenangan. Ren yakin, mereka sudah ada sejak dulu kala, jauh sebelum manusia. Mereka terlahir dari kenangan. Sebab Tuhan lebih dulu punya kenangan, sebelum menciptakan manusia.

Mereka seperti persaudaraan rahasia. Mereka makhluk-makhluk abadi pelintas ruang dan waktu. Sesekali mereka menampakkan diri, berjubah kelabu, dengan wajah tersamarkan topi yang juga berwama kelabu, seperti bayangan terselimuti kabut, tetapi kau menyangka hanya hantu, yang segera menghilang dari hidupmu, ujar Ren meyakinkan. Mereka muncul untuk menemui orang-orang yang membutuhkan kenangan.

Di dunia ini, jumlah orang yang memiliki kenangan buruk jauh lebih banyak dibanding mereka yang punya kenangan menyenangkan. Dan mereka yang hidupnya dipenuhi kenangan buruk pastilah ingin menggantinya dengan kenangan menyenangkan. Begitulah, ujar Ren, para pemalsu kenangan itu sering muncul tak diduga, sering kali dengan cara menyaru dan merayu, memberi kenangan palsu, dan menanamkannya ke dalam ingatan. Seperti ketika kau meng-copy-paste sebuah tulisan.

Ren bersumpah bila dirinya pernah bertemu seorang ibu, yang menyaksikan anaknya diperkosa di depan matanya ketika terjadi kerusuhan. Ketika tak lagi mampu menanggung kenangan menyedihkan itu, pemalsu kenangan muncul dan memberinya kenangan indah: anaknya yang telah mati itu masih hidup tenteram di sebuah tempat yang membahagiakan. Punya kenangan palsu yang menyenangkan pastilah jauh lebih baik ketimbang terus-menerus hidup dengan kenangan buruk. Aku yakin, kata Ren, di semesta ini ada mesin raksasa yang diam-diam merekam semua kenangan manusia. Dan dengan mesin itu mereka menyalin dan memalsukan kenangan.

Niar menatap sahabatnya yang terus bercerita tentang pemalsu kenangan itu. Sebenarnya ingin sekali mengatakan pada Ren, ia telah didatangi orang-orang berjubah kelabu itu.

Terbayang belatung-belatung itu…

***

Pertama kali ia melihat sosok berjubah kelabu di pemakaman Yosi. Ia mendengar kasak-kusuk tentang belatung-belatung yang keluar dari telinga mayat rekan sekantornya. Sosok berjubah kelabu itu berdiri di kejauhan, di bawah bayangan pohon, dan seakan tak seorang pelayat pun melihat kecuali dirinya.

Ia tak punya kenangan buruk. Memang ia sering merasa sedih bila teringat cintanya pada beberapa lelaki yang selalu berakhir menyakitkan. Kenangan patah hati bukanlah kenangan yang perlu diratapi. Ia masih berumur 26 tahun, cantik dan sebagai akuntan kariernya lebih dari lumayan, maka persoalan cinta bukanlah persoalan yang perlu dikhawatirkan. Ia juga punya kenangan buruk saat kanak-kanak, ketika ayahnya kerap memukulinya, tapi ia sudah tak terlalu membenci ayahnya. Ia tak membutuhkan pemalsu kenangan untuk menyelamatkan hidupnya.

Tetapi bagaimana pun ia merasa cemas ketika sering melihat sosok berjubah kelabu itu, seakan terus mengawasi dan mengintainya. Seperti malaikat maut yang sabar menunggunya lena. Ketika hendak tidur, ia merasa seperti ada mata kelabu mengintai dari balik jendela. Saat ia menyibakkan korden, ia melihat bayangan kelabu berdiri di bawah pohon seberang jalan, terus mengawasinya. Ketika bangun pagi hari, sosok berjubah kelabu itu masih berdiri di sana. Bahkan ketika hujan turun begitu deras, sosok berjubah kelabu itu terus bergeming. Ketika ia menyetir, ia sering melihat bayangan sosok berjubah kelabu itu berkelebat, terlihat bergegas mengikuti mobilnya di tengah kemacetan jalan. Bahkan ketika ia tertidur, ia merasa sosok berjubah kelabu itu berdiri mengawasinya seolah muncul dari balik dinding.

Itu membuatnya gelisah. Ia jadi sering bermimpi melihat mayat Yosi, tergeletak dengan mata terbelalak tapi tampak kosong, seakan seluruh ingatan dan kenangannya telah dihapuskan. Dan belatung-belatung merayap keluar dari lubang telinganya. Belatung-belatung putih, gemuk dan lembek seperti gajih.

Sepertinya ia harus mengatakan pada Ren.

***

“Jadi, menurutmu, mereka memasukkan belatung ke dalam otak untuk melahap kenangan?” tanya Ren. Niar mengangguk, meski tak terlalu yakin.

“Ya. Menurutku, mereka tak hanya menyalin dan memalsukan, tapi sesungguhnya ingin menghapus kenangan.”

Sore itu mereka bertemu di kedai kopi. Niar menyukai kedai ini. Perabotnya yang sederhana seakan tak ingin menyamarkan rasa kopinya. Mata Niar berkali-kali melirik, memastikan tak ada sosok berjubah kelabu tengah mengawasinya. Ren bisa merasakan kecemasan Niar. Wajahnya yang tirus menjadi semakin terlihat lelah. Bibirnya bekali-kali menyentuh cangkir tanpa mencecap kopi.

“Memangnya apa yang harus dihapus dari dalam otakmu?”

Niar terdiam memejam. Membayangkan segerombolan orang berjubah kelabu menyekapnya dalam gudang gelap, lalu menyuntik kepalanya. Ingatan seperti air yang disiram di papan tulis. Tumpahkan air ke papas tulis, dan air itu akan menguap hilang. Yang tetap membekas adalah debu kapur tulis yang ditorehkan di papan. Itulah kenangan yang tetap melekat di otak. “Aku pernah membaca, ada tujuh miliar magnetite mikroskopik dalam otak, seperti kristal mineral, di mana kenangan disimpan. Mungkin belatung-belatung itu perlahan-lahan berbiak dalam otak, seperti cahaya yang pecah dan menyebar, melahap kristal magnetite itu, melahap ingatan dan kenangan, seperti rayap melahap kayu. Itulah yang membuat orang-orang yang kehilangan kenangan menjadi terlihat murung.”

“Bagaimana belatung-belatung masuk dalam otak?”

“Yang jelas tidak terlebih dulu mengucapkan spada atau assalamualaikum.”

Ren tergelak. Niar selalu bisa berkelakar ketika sedang serius.

“Kau pernah dengar berita susu dan makanan kaleng yang ditemukan ada cacingnya? Mungkin juga belatung-belatung itu masuk lewat makanan. Sindikat Pemalsu Kenangan itu tak hanya membuat kenangan palsu, tapi juga memproduksi belatung-belatung organik untuk dimasukkan dalam makanan atau minuman.”

“Belatung-belatung organik? Lo kira beras, organik!” Ren tersenyum.

“Kamu sendiri pernah bilang, di dunia ini ada mesin raksasa yang merekam semua kenangan manusia, boleh jadi mereka juga punya pabrik raksasa untuk memproduksi belatung-belatung itu.” Niar lalu memandang bayangan langit di luar jendela. Mungkin di balik langit itulah mesin itu tersembunyi. Ada hal-hal yang dianggap berbahaya dan tak boleh diingat atau dikenang lagi. Untuk itulah belatung-belatung itu dibuat. Cara terbaik menghapus sejarah ialah dengan menghapusnya dari ingatan. Dengan memasukkan belatung dalam otak itulah mereka menghapus ingatan. “Karena memberi arsenik atau sianida terlalu gampang terlacak. Itu yang mencemaskanku.”

“Aku tak tahu, kenapa mereka ingin menghapus ingatan atau kenanganmu, yang membuatmu cemas seperti ini.” Ren menggenggam tangan Niar. “Cobalah permen ini. Aku selalu makan perman ini bila sedang gelisah.”

Niar tersenyum. Di saat-saat seperti ini, alangkah membahagiakan punya kawan penuh perhatian seperti Ren.

***

Sampai di rumah Niar langsung menghempaskan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Kecemasan kian membuatnya mual. Orang-orang berjubah kelabu itu pastilah terkait dengan kematian Yosi. Tiga hari setelah kematian Yosi, ia diminta menghadap direksi. Ia dan Yosi sama-sama di bagian finansial. Memang ada yang tak beres di kantornya, dan itu menyangkut kasus korupsi. Beberapa media sesekali menyebut nama perusahaan, tapi kemudian berita itu langsung senyap. Sebenarnya ia ingin menceritakan pada Ren, bahwa itulah yang membuatnya cemas. Ia ingat apa yang dikatakan para direksi, agar ia tak menceritakan pada siapa pun, karena kasus itu tak hanya menyangkut perusahaan, tapi juga nama-nama orang penting di lingkaran istana.

Sementara Ren, di ruang tengah rumahnya, duduk tercenung mengingat pertemuannya dengan Niar di sebuah pesta. Pada saat itulah ia pertama kali menceritakan perihal Sindikat Pemalsu Kenangan pada Niar, karena perempuan itu terlihat selalu murung di pesta. Niar pasti menyangka pertemuan mereka di pesta itu kebetulan. Tapi tidak. Satu hal yang tak diceritakan pada Niar, bahwa para pemalsu kenangan itu sering kali juga membujuk orang untuk menjadi kaki tangan mereka.

Ren tak terkejut ketika sosok berjubah kelabu muncul dan duduk di depannya. “Kau sudah memberi permen itu padanya?” Suaranya terdengar dingin. Ren mengangguk.

Malam itu, di kamarnya, Niar tidur meringkuk, begitu lelap. Ada belatung merayap keluar dari lubang telinganya.

Agus Noor, cerpenis ini menetap di Yogyakarta, tetapi lebih banyak bekerja di Jakarta. Tahun 1987 cerpennya “Kecoa” dimuat Kompas pertama kali dan sejak itu cerpen-cerpennya mengalir di Kompas Minggu. Kemudian, cerpennya “Peang” masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas yang ketiga. Puncaknya, cerpen Agus “Kunang-kunang di Langit Jakarta” bersanding dengan “Salawat Dedaunan” (Yanusa Nugroho) menjadi Cerpen Terbaik Kompas 2012.

I Wayan Wirawan, lahir di Sukawati, Gianyar, 27 November 1975. Belajar seni lukis tradisi gaya Batuan tahun 1987-1992. Tahun 1991 diundang The International Society for Educational Information, Jepang, untuk studi banding seni tingkat pelajar. Studi SMSR Denpasar selesai 1995 kemudian melanjutkan ke ISI Yogyakarta. Finalis Mandiri Art Award 2015.

 

[1] Disalin dari karya Agus Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Kompas” Minggu 29 Juli 2018