Pelajaran Minum Kopi

Karya . Dikliping tanggal 19 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
AKU kira secangkir kopi akan menjadi hal yang baik untuk sekarang ini. Sebuah ruangan yang ramai. Orang-orang sedang sibuk dengan dirinya sendiri, termasuk aku yang berharap mendapatkan secangkir kopi. 
Sudah satu jam aku menunggu. Aku kira itu membuatku tidak sabaran, gelisah dan bosan. Kebosanan adalah alat yang ampuh menurutku. Dia membunuhmu dari dalam, perlahan dan pasti. Bagian menyebalkannya, kau tidak akan mati.
Di belakangku orang-orang duduk dengan rapi. Tapi mereka sangat berisik menuruku. Aku berpikir, kenapa mereka tidak memesan sesuatu? Kopi misalnya.
Di sebelah kiri, dekat meja pelayan, seorang pria duduk dengan rapi di depan mesin ketiknya. Tapi dia belum mengetik apa pun. Mungkin kepalanya sedang kosong. Atau karena sesuatu yang ingin ditulisnya sebenarnya belum terjadi? Atau mungkin karena alasan yang lain.

Aku semakin gelisah. Beberapa kali aku mengubah cara duduk. Aku kira aku juga berkeringat. Ada sapu tangan di kantung celanaku. Tatapan pelayan yang ada di depanku membuatku merasa semakin gugup. “Pelayan sialan,” kataku dalam hati. Aku bersandar dengan pasti. Walaupun aku tidak menyukai tatapannya, aku biarkan tatapannya itu memasuki mataku. Mungkin setelah dia menemukan ketidakpedulian di sana, dia akan berhenti.

Brak! Suara pintu ruangan terbuka. Seorang pria dengan tampilan serba putih — kecuali rambut dan sepatunya yang berwarna hitam mengkilat- masuk ke dalam ruangan. Rambutnya klimis, sedikit terlalu mengilap menurutku. Di tangan kanannya dia menenteng sebuah koper yang warnanya sama seperti rambut dan sepatu yang dipakainya. Sedikit tergesa-gesa, dia duduk di sebelahku.
“Aku hampir mati bosan menunggumu.”
“Ada yang hilang. Aku harus mencarinya dulu agar semuanya siap.”
“Sebenarnya aku ingin marah. Untung saja kau berdandan seperti kopi yang kebanyakan krim.”
“Kopi?” Dia bertanya padaku. Aku kira dia kebingungan. Seperti, kenapa kopi?/kau minum kopi?/ dari sekian banyak minuman yang bisa kau pesan, kopi?
Dia membuka koper yang dibawanya. Mengeluarkan beberapa lembar kertas, dan menaruhnya di depanku. Aku kiraitu adalah tanda dia ingin agar aku membaca tulisan yang ada di kertas-kertas itu. Menurutku ini akan menjadi hal yang penting. Tapi aku sedang tidak berselera. Dengan gerakan malas aku menggeser kembali kertas-kertas itu. Sebagai tanda agar dia saja yang membacanya. Dia hanya diam, melihatku lurus.
Brak! Suara pintu ruangan terbuka lagi. Aku tidak pernah menyangka siapa yang datang. Dari sekian banyak kemungkinan yang ada di dunia ini, seorang pria dengan jas berwarna coklat masuk ke dalam ruangan. Dari raut wajah dan warna rambutnya yang hampir semuanya putih kau akan menduga berapa usianya. Pria yang masuk itu adalah musuhku.
Dia duduk di meja sebelah. Di sebelahnya duduk seorang yang memaki pakaian serba hitam, jas, kemeja, celana, dan sepatu. Aku kira dia sempat melirik ke arahku. Dan itu membuatku merasa agak kesal.
Berkacamata dan dengan wajah yang tidak ramah sama sekali, seorang pelayan –sepertinya yang paling senior– mulai berbicara dengan pelayan yang lain. Sesaat dia mengumumkan sesuatu. Suaranya mengisi seluruh ruangan. Membuat semua orang yang ada di ruangan ini diam.Kecuali aku, pria di sebelahku, musuhku, dan pria di sebelahnya.
Aku melirik ke meja sebelah, tempat musuhku itu duduk. Dia dan orang di sebelahnya terlihat tenang. Aku tahu, diam-diam musuhku itu juga tahu aku ada di ruangan yang sama dengannya, saat ini. Aku tahu, diam-diam dia juga melirikku. Dia tertawa terkekeh. Aku tahu itu, walaupun aku tidak mendengar suara tertawanya. Dan aku membenci itu.
“Lihat ke meja sebelah.Tapi jangan langsung, perlahan saja. Dia datang juga,” kataku pada pria di sampingku, sedikit berbisik.
“Aku tahu. Dia pasti akan kalah kali ini.” 
Sebenarnya aku tidak peduli. Tentang kalah dan menang. Perselisihan kami sudah terlalu lama untuk dapat aku ingat kembali asal-mulanya. Seingatku semua masalah di dunia ini berasal dari satu hal: persetujuan. Apakah kami pernah setuju?
“Aku merasa semakin muak. Kenapa dia juga datang? Aku benar-benar butuh secangkir kopi rasanya.”
“Jangan mengeluh. Setelah semua ini beres, kau dan aku akan minum kopi. Sebelumnya, baca dan plajari dulu berkas-berkas ini.”
Pria di sebelahku perlahan menggeser lagi kertas-kertas yang ditaruhnya di depanku. Aku agak sedikit malas. Maka kertas itu aku geser lagi ke arahnya. Kemudian dengan sedikit mengerang –atau apa pun bunyi yang dia keluarkan dari mulutnya– dia menggeser lagi kertas-kertas itu ke arahku. Aku melihatnya dengan malas.
Dreet! Suara kursi bergeser di lantai. Tiba-tiba pria di sebelah musuhku terjaga dari duduknya. Dia melangkah ke tengah ruangan, tepat ke depan meja pelayan, dan mulai berbicara di sana. Dia berhasil mendapat perhatian dari semua orang, kecuali dariku, dan dari pria di sebelahku tentunya.
“Lihat apa yang dia lakukan,” kataku pada pria di sebelahku.
“Kenapa kau selalu mengeluh. Dia hanya sedang berdiri di tengah ruangan dan menyampaikan sesuatu. Apa masalahnya?”
“Aku kira karena tidak ada kopi di sini.”
“Kopi?” Dia bertanya padaku. Nadanya sama persis dengan pertanyaan pertamanya ketika pertama kali aku menyinggung masalah kopi.
“Kenapa? Apa ada masalah dengan kopi?”
Dia hanya diam. Pertanyaanku malas untuk ditanggapinya, mungkin seperti itu. Dia menghela napasnya sejenak. Kemudian kembali sibuk merapikan benda apa pun yang ada di dalam kopernya.
Aku rasa aku penasaran. Kenapa tidak ada yang memesan secangkir kopi, dan meminumnya.
“Kau, tak bisa minum kopi?”
“Bukannya tidak bisa. Hanya saja aku tidak suka, karena rasa pahitnya itu.”
“Kau akan terbiasa,” timpalku sekadarnya. Aku merasa ada yang menggangguku. Dan aku malas memikirkan hal apa itu.
“Pelajari saja berkas yang aku berikan itu, sebentar lagi waktunya mulai. Lagi pula, kenapa aku harus terbiasa dengan sesuatu yang tidak aku sukai? Aku kira kopi bukan hal yang perlu kita bicarakan saat ini.”
“Kopi sama seperti hidup. Sudah pahit sejak awal dia diciptakan. Hanya saja kau bisa menambahkan banyak krim atau gula jika kau mau. Tapi rasanya tidak akan seenak kopi sederhana dengan sedikit gula, tanpa krim tentu saja. Aku hanya sedang merasa tidak tenang, dan aku merasa aku butuh kopi.”
“Aku di sini untuk membantumu. Apa kau bisa berhenti membahas kopi? Baca saja berkas-berkas ini.”
Tangannya menggeser sedikit kertas-kertas yang ada di depanku, lebih dekat denganku lagi. Aku tahu ini penting. Tapi rasanya-rasanya aku tidak peduli.
“Kau butuh mengerti situasi ini lebih rumit dari yang kau pikirkan,” sambungnya kemudian.
“Aku kira kau dan dua orang di meja sebelah butuh pelajaran minum kopi,” timpalku dengan malas lagi. Dengan sedikit gerakan aku menggeser lagi kertas-kertas yang ada di depanku ke arahnya.
Dia hanya diam. Aku kira dia menatapku dengan pasrah. Orang-orang masih sibuk dengan dirinya masing-masing. Pria dengan mesin ketik yang duduk di dekat meja pelayan belum juga menulis sesuatu. Aku kira dia belum menemukan apa yang akan ditulisnya. Atau mungkin yang ingin ditulisnya belum terjadi? Atau mungkin karena hal lain.
Aku mengangkat tangan. Sebagai tanda ingin memesan. Pelayan yang sebelumnya membuatku kesal dengan tatapannya melihat ke arahku lagi.
“Pesan kopi satu. Tolong gulanya dipisah,” kataku sambil sedikit berteriak.
Beberapa wartawan tiba-tiba datang. Blitz kamera membuatku silau. Aku mengira-ngira apa aku tiba-tiba terkenal karena memesan secangkir kopi? Orang-orang menjadi ribut. Pelayan tidak bergerak sedikit pun dari tempat duduknya. Bukannya membuat pesananku, pelayan itu malah memukul-mukulkan palu yang ada di dekatnya, meminta semua orang yang ada di ruangan ini untuk tenang.Musuhku yang duduk di meja sebelah tertawa terbahak-bahak. Aku tidak peduli. Pria dengan mesin ketik yang duduk di sebelah kiri ulai menulis sesuatu. (k)

[] Mataram, 23 Maret 2015

*) Bayu Pratama: lahir di Aiq Dewa Lombok Timur, 2 Mei 1994.Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Mataram.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bayu Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 17 Mei 2015