Pelangi

Karya . Dikliping tanggal 25 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kliping Sastra
CAHAYA terang sang rembulang, serta gemerlap hamparan sang bintang menemani malam seorang remaja lugu yang sedang tersenyum tersipu – sipu sambil menatap telphone genggamnya. Gembira, bahagia, dan ceria adalah gambaran perasaan hatinya setiap kali  berdering telphone genggamnya. Telephone genggam kini adalh sebuah alat yang dapat memberikannya kebahagiaan dapat memberikan senyuman dan kegembiraan di wajah dan hatinya. Membuatnya melupakan beban hariannya, masalah kehidupannya, bahkan tatkala tanggung jawab sekolahnya. Senyum di wajahnya menandakan kebahagiaan di hatinya, serta kegembiraan di jiwanya. Segembira senyum sang rembulang di kala malam tiba, serta sebahagia kilauan sang bintang diangkasa yang siap menemani jalannya waktu malam.
Riki begitulah remaja tersebut akrab di panggil oleh teman – temannya seorang remaja yang sederhana namun memiliki banyak makna terutama bagi teman – temannya, serta keluarganya. Berprestasi adalah tujuannya, yang terbaik adalah impiannya, dan dibanggakan adalah cita – citanya, begitu banyak harapan di benaknya, keinginan dijiwanya, serta impian di hasratnya, yang membuat begitu banyak berat di bebannya. Namun mengingat tujuannya yang mulia serta dampak yang dihasilkannya maka semangatlah dirinya dalam mewujudkan harapannya serta menggapai impiannya. Tekun,semangat, rajin, dan bergairah dalam belajarnya adalah watak sehari – harinya, berusaha untuk selalu menjadi sempurna dan berwibawa adalah gaya hidupnya. Teman adalah motivator baginya, keluarga adalah penasihatnya, dan Tuhan adalah sang penuntunnya. 
Masa lalu kelam kisah percintaannya mulai terlupakan perlahan namun pasti Riki yakin dapat segera mengubur segalanya, segala kenangan pahitnya, segala kenangan memilukan dirinya dengan sang pujaan hati nya sang pohon asmaranya yaitu Ilmi. Waktu berlalu setiap saat bergantilah siang dan malam hingga akhirnya Riki benar –  benar dapat melupakan semuanya kini tak adalagi sang pohon asmara belajar dan belajar adalah satu – satunya fokus dalam kehidupannnya. Senyum mulai tergambar diwajahnya, kecerian perlahan muncul dihatinya, bahagia kembali tiba dijiwanya. Bercanda,tertawa, dan bergembira kembali dilakukannya menghabiskan seharian waktu bersama teman – temannya kini telah menjadi rutinitasnya.
Hingga tiba suatu masa dimana seorang teman dari riki meminta bantuan kepada riki untuk menyatakan perasaan kepada seorang wanita yang tak lain merupakan sahabat dari seorang Riki. Fudji adalah nama teman laki-laki Riki tersebut yang ternyata selama ini menyimpan rasa terhadap Nizar seorang wanita  yang cukup akrab dengan Riki yang sudah ibaratkan sahabat dengan Riki. Melihat hal tersebut Riki pun menyetujui untuk membantu Fudji untuk menyatakan perasaan dengan Nizar. Waktupun berlalu dan berlalu mentari dan sang rembulan silih berganti menghias dan menerangi keseharian setiap insan. Rikipun secara perlahan mencoba untuk mellaksanakan tugasnya kini hari-harinya lebih banyak dengan Nizar untuk mengetahui karakter dan pribadi seorang Nizar, hingga suatu masa akhirnya Riki menyatakan hal yang disampaikan Fudji padanya namun diluar dugaan serta sangkaan Nizar menolak hal tersebut namun anehnya dalam hati Riki tersirat perasaan gembira mendengar hal tersebut. Namun karena tak ingin membuat Fudji kecewa Riki pun menyampaikan hal sebalikanya kepada Fudji, dia menyampaikan bahwa “sesungguhnya Nizar juga memiliki perasaan yang sama hanya saja dia tidak percaya padamu jika tidak mendengar langsung dari mulutmu” ujar Riki kepada Fudji pada hari itu. Fudji pun merasa gembira, hatinya berbunga – bunga. Ia pun bertanya mengenai jadwal dan hari yang baik untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nizar, hal tersebut ia tanyakan kepada Riki, Rikipun dengan tenang menjawab “ Tunggu akan ada waktu yang lebih pas nantinya karena saat – saat ini nampaknya hatinya sedang kacau  “ Fudji pun mengangguk dan menyetujui saran dari Riki.
Hari – haripun berlalu, Riki dan Nizar semakin sering melalui waktu bersama, namun tak sedikitpun terbesit kecemburuan dalam hati Fudji. Hingga pada suatu masa dimana semua nya berubah, Riki merasa ada sesuatu yang beda setiap kali bersama Nizar, ia merasakan kebahagiaan dan keceriaan, setiap malam sebelum tidurnya wajah Nizar selalu ada diingatannya, dalam hatinya terbesit sebuah kalimat “ Dia lah sang pelangimu. Yang muncul setelah berlalunya sang hujan” bisikan itu selalu menghantuinya dan menenmani hari – harinya hingga akhirnya ia tahu makna dari semuanya. 
Dan pada suatu malam sepulang dari perjalanan sekolah dimana Riki dan Nizar duduk di kursi yang sama, Rikipun menyatakan perasaanya kepada Nizar, Nizar agak terkejut dan hanya terdiam sambil tersenyum tersipu, yang akhirnya menimbulkan rasa ragu. Dan tiba pada sebuah malam yang hening dan sunyi dimana Riki duduk sendiri hanya ditemani oleh telephone genggamnya yang sedang bernyanyi untuknya, dan…. tiba – tiba nyanyian tersebut berhenti yang terdengar hanyalah dering dari telephone genggam tersebut, terkejut dan terpana melihat sebuah tulisan dalam layar telephone genggam tersebut “Pesan diterima dari Nizar” dengan perlahan dan penuh kehati – hatian menghirup nafas dan menghembuskannya secara pelan dan Rikipun menekan tombol buka pesan, dan pesan tersebut ternyata berisikan “ Jawaban ku malam itu adalah iyya aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu “ tersenyum gembira , bahagia, ceria , dan berairah adalah situasi hati dan jiwa dari seorang Riki,namun disisi lain kini Riki mengalami dilema terpikir dalam benaknya mengenai nasib sang temannya Fudji yang juga memiliki perasaan suka pada wanita pujaannya dan meminta bantuannya, tapi ini adalah perjuangan cintaku untuk sang pujaanku.  
Sisa – sisa haripun terus berlalu dan hubungan Riki dan Nizarpun masih menyatu hingga pada suatu ketika dimana hal  yang tak dinginnkan mereka pun terlaksana, yah persembunyian kisah cinta mereka selama ini akhirnya terbuka dan diketahui yang lainnya termasuk Fudji. Kecewa, dan tak percaya adalah perasaan yang menghinggapi hati Fudji ketika mendengarnya. Amarah dan terluka kini yang ia rasa teman yang ia anggap pemersatunya ternyata mengkhinatinya. Hari – hari fudji pun diisi dengan benci dan anarki, interaksi sosialpun kini tak di peduli, perseteruanlah yang terus terjadi, namun demikian mereka  tak pernah berkelahi, meskipun terkadang berselisih.
Dan kini hari – hari pun terus berlalu jarum dari setiap jam terus berlalu, tanggal di kalendarpun terus menjauh, meninggalkan liku – liku yang pilu. Kini keindahan dan kebahagiaanlah yang terus menghiasi hari – hari kehidupan Riki dan Nizar. Senyum, tawa, kemesraan, keromantisan, dan berbagai kebahagiaan menjadi pengisi harian asmara mereka. Bagi Riki kini akhirnya Sang Pelangi yang menjadi impiannya kini telah muncul menandakan Hujan kesedihannya telah berlalu dan menjauh. Kini kisah cinta mereka terus berlalu, kini Riki akhirnya telah menemukan sosok penyemangat baru. Sosok yang nantinya akan berperan dalam setiap langkahnya dan akan menjadi extra motivatornya, sang bunga penyemangat akhirnya ditemukannya. Dialah Nizar wanita yang murah senyum dan penyabar.
Kebahagiaan riki pun terus terjadi dalam melalui  hari – hari. Namun dari kisah ini Riki kembali mendapat banyak hal yang berarti banginya “Cinta sejati mungkin dapat mebutakan hati, tapi ingat teman sejati pasti akan bisa mengerti“. Dan bagi seorang riki “ perasaan antara sahabat dan cinta tidak jauh berbeda semuanya hampir setara,  inilah yang kurasa karena sahabatku cintaku”.  Satu hal pula yang mengakibatkan Riki mengambil keputusan yang berat untuk mengkhianati temannya “ kita tahu teman mana yang harus di perjuangkan dan teman mana yang tak perlu di perjuangkan, serta wanita mana yang perlu di penrjuangkan, dan wanita mana yang harus kita relakan”
Namun semuanya telah berlalu satu harapan riki saat ini semoga dengan kehadiran sang pelanginya dapat memberika dampak positif bagi prestasi nya serta dalam langkah mewujudkan impiannya. 
Mentari terbenam pertanda akan datangnya sang malam, rembulan tersenyum ceria melihat hamparan sang bintang yang mulai bertaburan.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya I Gusti Ngurah Rama Iswara
[2] Dikirim langsung oleh penulis melalui eMail klipingsastra (Terimakasih dan penghargaan kami haturkan)