Pemanggil Kematian

Karya . Dikliping tanggal 18 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Sejak awal saya sudah tahu, ia bukan manusia biasa. Ia pasti datang dari suatu tempat yang, barangkali, haus akan darah. Dugaan awal saya, ia pasti jelmaan dari seekor gurita. Saya sering mendapati matanya menatap saya, seakan-akan ingin mengatakan, saya pantas mendapat hukuman. Keyakinan saya kian bertambah manakala, suatu hari, ia menatap saya sambil merapalkan sesuatu. Seperti doa, tapi saya tidak terlalu yakin sebab ritmenya lebih cepat dari doa yang sering didaraskan selama ini. Bibirnya terlihat komat-kamit, dan tidak lama setelah itu saya melihat lingkaran matanya berubah memipih, horizontal. Seperti mata seekor gurita. Lagi pula, setiap kegiatan kampung, ia menarik diri dan berusaha menjauh dari keramaian. Sikapnya tidak jauh berbeda dengan sifat soliter seekor gurita, penyendiri. Sebab kelalaian kami atas harapan-harapannya, kini, ia mengikat saya di sini entah sampai kapan.

Suatu hari ia datang ke kampung kami ketika warga dilanda putus asa. Ketika itu, laut masih saja bergelora, ombak tanpa henti mengirimkan amarahnya ke pantai. Tidak seorang warga berani turun ke laut. Nyali kami sebagai pelaut ulung menciut bersama datang dan perginya ombak yang mendebum. Padahal nenek moyang kami adalah pelaut-pelaut yang tidak pernah mengenal musim. Tidak takut pada kematian. Buntung dan puntung itu hal biasa, sebab laut adalah lahan utama, tempat di mana setiap tetes keringat menjadi bulir-bulir padi.

Ia datang dengan semangat membara. Kepada kami, ia memperkenalkan diri sebagai seorang yang peduli pada laut. Katanya lebih lanjut, ia berasal dari kota dan ingin tinggal di kampung kami, mengajarkan kepada kami bagaimana menangkap ikan yang baik dan menjaga laut agar tetap berlimpah. Ia peduli bahkan katanya berulang-ulang bahwa ia sangat mencintai laut. Hidupnya ingin ia abdikan sepenuhnya kepada laut.

Mulanya kami menganggap perkataannya hanya sebagai lelucon sebab ia perempuan. Bagaimana seorang perempuan bisa berhadapan dengan tangguh dan ganasnya laut. Kami para lelaki hanya menggeleng dan para wanita mencibir. Tapi, setelah perkataannya terbukti pada hari ketiga, kami terbungkam dan lebih jauh, kagum. Seperti katanya, begitu pagi merekah, laut begitu tenang, tiada riak sama sekali. Saat matahari mengintip pada tubir bukit di seberang pulau, ikan-ikan naik ke permukaan. Laut membuih bertanda ikan mengambang di permukaan. Pada hari itu, kami semua berlomba-lomba menangkap ikan.

Maka, sebagaimana pintanya, kami mengizinkan ia tinggal bersama kami. Atas persetujuan bersama, warga menyetujui ia tinggal di rumah kami. Ayah yang dituakan di kampung kami akhirnya menerima ia menjadi bagian dari keluarga. Begitulah ia menjadi dekat dengan saya.

Malam pertama kedatangannya di rumah, kami menjamunya dengan makanan yang saya tangkap dari laut. Warga turut membantu. Warga tidak menyadari, malam itu, ia melewatkan begitu saja makanan yang berhubungan dengan laut. Ia tidak mencomot secuil pun ikan panggang, tidak menciduk sama sekali kima lawar, membiarkan daging bulu babi yang ditumis ibu.

Malam itu ia menyadari saya memperhatikannya. Mungkin ia tahu bahwa saya tidak suka jika orang tidak menghargai apa yang telah disiapkan dengan susah payah. Ia hanya menatap saya sekilas lantas bergabung dengan ibu-ibu di dapur.

“Laut membutuhkan seseorang agar tetap memberikan kelimpahan.” Suatu hari ia berujar begitu saja. Nada suaranya terdengar lirih. Saya menyadari ada perubahan terjadi. Laut tiba-tiba bergemuruh. Angin menyisir sepanjang garis pantai, menerpa kami.

“Apa maksud kamu?”

“Ikan-ikan menyusut jauh. Terumbu karang rusak. Bagaimana ikan bisa hidup jika tiap hari laut dicemari dengan sampah-sampah? Bagaimana ikan bisa jinak jika bom-bom terus diledakkan?” Suaranya lirih dan getir.

Saya menangkap kehampaan dalam matanya. Seembus angin kembali berdesir, terdengar getir sepanjang pesisir. Percakapan pagi itu berakhir begitu saja manakala bibir pantai mulai ramai.

Saban malam, ia berkisah pada saya sebuah cerita. Kisahnya, nenek moyang kami sangat pandai membaca gelagat laut. Mereka tidak takut pada kematian karena laut adalah sahabat yang bisa diajak kompromi. Nenek moyang tahu bagaimana menyenangkan laut, yaitu, setiap beberapa purnama mereka melakukan ritual-ritual. Dulu, kisahnya lanjut, mereka menutup laut-tidak menangkap ikan selama beberapa bulan. Biasanya mulai dari November hingga Maret. Bagi warga yang kedapatan akan dikenakan sanksi berupa memberi makan warga sekampung. Yang melanggar akan menyiapkan seekor babi, beberapa karung beras dan arak. Masih dengan nada semangat ia melanjutkan: Mereka tahu apa yang pantas diambil dan mana bagian yang bukan untuk mereka.

Pada hari yang lain, ia menuturkan kepada saya perihal kerinduan dan harapan-harapannya. Ia ingin melihat laut yang berkelimpahan ikan. Ingin menyaksikan sekeriap ikan leluasa berselusup di antara terumbu karang. Tidak ingin mendengar ledakan bom. Tidak ingin melihat warga menangkap ikan dengan jaring harimau. Tentang keinginannya melihat laut bersih dari sampah-sampah.

Begitulah, harapan-harapan yang ia tuturkan itu membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang. Malam-malam yang larut, ketika semua warga terlelap, saya sering mendengar lengking samudra seperti merepihkan tangis yang paling nelangsa. Dari dalam laut, telinga saya kerap menangkap suara yang memanggil nama saya dengan nada dan irama yang ritmis, menggetarkan. Suara itu terdengar begitu halus dan lembut, bagai berasal dari bibir seorang wanita yang kehilangan anak semata wayang. Suara itu timbul-tenggelam di antara ombak kecil yang mengempas pantai.

Ada seorang wanita yang selalu menunggu kita lelaki pesisir untuk bercinta dengannya di dalam laut, saya terkenang dengan kisah Koli tujuh tahun lalu. Lanjutnya, saya pernah bercinta dengan wanita itu. Beberapa bulan kemudian, Koli, si penyelam itu, mati tenggelam dalam laut. Setelah dilakukan ritual, tiga hari kemudian tubuhnya mengambang. Tubuhnya melebam dan pada lehernya tampak seperti bekas tali yang diikat paksa. Lidahnya yang menjulur semakin menguatkan kesimpulan kami bahwa lehernya memang diikat. Ayah kemudian mengatakan kepada saya bahwa Ibu Laut murka.

Saya membayangkan wanita yang menangis itu. Apa tubuhnya koyak karena kena ledakan bom? Bayangan saya kemudian jatuh pada pukat harimau milik saya. Apa ia pernah tersangkut di sana dan, barangkali, salah satu jarinya putus? Apa tujuannya malam-malam begini ia menangis? Saya sangat terganggu. Saya mengambil bantal dan menutup telinga. Malam itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk membutakan mata dan menulikan telinga.

***

Beberapa bulan bersama kami, setelah beradaptasi, ia mulai memberi petuah. Katanya, kami salah dalam menangkap ikan.

“Menangkap ikan yang baik itu mestinya tetap menjaga apa yang diajarkan nenek moyang,” ujarnya. Tentu, perkataannya membuat sejumlah kami tersenyum. Beberapa di antara yang sedang memperbaiki pukat mengangguk-angguk. Kami yang tersenyum tentu sekali tidak menyetujui perkataannya. Kami tahu bagaimana kerasnya mengarungi laut. Kami menangkap banyak karena banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi.

“Suatu saat, ikan akan habis karena rumah-rumah mereka rusak. Desing mesin ketinting dan bom yang mendebum di dasar laut menciptakan teror. Ikan-ikan menjadi takut ke pesisir,” katanya.

Kami kembali tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Dalam hati saya mengakui kebenaran kata-katanya. Ikan-ikan berkurang jauh. Bahkan kadang kala kami harus menerima kekecewaan karena pulang dengan tangan hampa.

“Saya tahu, kalian tidak percaya pada perkataan saya,” ujarnya kecewa. Ia meninggalkan kami begitu saja. Begitu ia pergi, saya dapat merasa ada sesuatu yang asing terjadi. Angin kembali mendesir, padahal sebelumnya angin bagai mati. Laut tiba-tiba bergelora. Beberapa perahu merapat, dan kata orang yang baru pulang itu, mereka mendengar desau yang tidak biasa.

Kecurigaan saya kian bertambah. Diam-diam saya menyusun siasat untuk menjebaknya. Saya akan menggiringnya ke tengah warga dan menyebarkan kebusukannya. Saya yakin ia sering merapalkan mantra-mantra untuk membuat laut mengamuk.

***

Malam itu menjadi awal mula saya berada di sini. Ayah dan ibu tidak paham pada apa pun yang ia katakan.

Katanya, ia amat mencintai kampung kami. Ingin rasanya ia memelihara ikan untuk keberlangsungan kami. Lebih lanjut, dengan segala usahanya, ia berjanji pada ayah dan ibu untuk membuat mereka senang kembali. Akan banyak ikan yang mengisi pesisir. Beberapa hari lagi, ia akan ke kota karena ia dibutuhkan di sana.

“Saya merindukan nyanyian-nyanyian yang sering dirapalkan nenek moyang kalian,” katanya menatap lekat mata saya. Kemudian ia membuang pandangan ke arah ayah. Lelaki ringkih itu bergeming seperti menyadari kelalaiannya selama ini. Tapi, tidak lama setelah itu, ia mengatakan bahwa malam itu ia ingin turun bersama saya ke laut karena menurut firasatnya akan banyak ikan.

***

Itu sebabnya, ia membawa saya kemari, lalu dibunuhnya saya dengan menggulungkan ombak ke arah saya. Saya tidak bisa melepaskan diri-berenang ke arah yang lebih kering-sebab kaki saya dililitnya dengan jari jemarinya yang penuh dengan tentakel itu. Saya tidak tahu kapan ia akan melepaskan saya. Atau, barangkali, ia membiarkan saya tetap di sini supaya tubuh saya hancur dan menjadi makanan ikan-ikan. Atau ia menunggu hingga ayah melakukan ritual? Tapi, saya tidak terlalu yakin sebab ayah sudah lama sekali tidak melakukan seremonial, meminta berkah dari laut. Mungkin bibirnya sudah tidak fasih lagi mendaraskan mantra-mantra.

Bagi warga, ia adalah berkah. Tapi, bagi saya, ia adalah petaka. Saya hanya bisa menunggu sampai kapan warga mengangkat saya dari tempat ini atau mereka akan diam-diam saja, menganggap kematian ini sebagai persembahan kepada laut atas kelalaian kami selama ini. Dugaan saya tentang dirinya ternyata tidak salah. Ia telah menjelma ke wujud asalnya, menjadi seekor gurita-Harin Botan, si penjaga sekeriap kehidupan dalam laut, ibu dari semua yang hidup dalam laut.

Pada hari kelima, perut saya meledak. Tidak ada ikan-ikan yang mendekat. Tubuh saya yang berkeping-keping itu, satu per satu berubah menjadi sewujud ikan yang berenang dengan gesit ke arah pesisir.

Waimana, 1 Agustus 2018.
________________________________________
Jemmy Piran, lahir di Sabah-Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI di Universitas Nusa Cendana, Kupang. Cerpen-cerpennya tersiar di beberapa media. Buku kumpulan cerpen eksperimental yang sudah terbit berjudul Obituari Sebutir Telur, Seekor Ayam, dan Babi (Basabasi, 2018) dan sebuah novelnya akan terbit berjudul Dalam Pelukan Rahim Tanah. Kini, ia menetap di Waimana 1, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.


[1] Disalin dari karya Jemmy Piran
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 16-17 Februari 2019.