Pembunuhan Karakter

Karya . Dikliping tanggal 14 Juli 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
DIA mulai membaca novel itu beberapa hari sebelumnya. Dia meninggalkan novel itu sejenak karena ada beberapa rapat bisnis penting, lalu membukanya lagi saat naik kereta api di jalan pulang menuju tanah kediamannya.

Dia biarkan daya tarik alur cerita dan pembentukan karakter dalam novel itu tumbuh dalam dirinya. Sore itu, setelah menulis sepucuk surat yang memberikan kuasa kepada pengacaranya dan mendiskusikan kepemilikan bersama dengan pengelola tanahnya, dia kembali membaca buku itu dalam ketenangan ruang kerjanya yang berpemandangan taman dengan pohon-pohon ek.

Pembunuhan Karakter

Duduk berselonjor di kursi bersandaran tangan kesukaannya, dengan punggung menghadap pintu—bahkan sekadar kemungkinan adanya gangguan akan membuatnya kesal—dibiarkannya tangan kirinya mengelus berulang-ulang kain beludru hijau pembalut kursi dan bersiap membaca bab-bab terakhir. Tanpa susah-payah dia mengingat nama-nama karakter cerita dan gambaran dalam benaknya tentang mereka. Novel itu bisa dibilang langsung memukaunya sejak mula.

Dia merasakan kesenangan yang nyaris keji seiring terpisahnya dia dengan benda-benda di sekitarnya sebaris demi sebaris, dan pada saat bersamaan merasakan kepalanya bersandar nyaman pada kursi beludru hijau bersandaran tinggi, juga menyadari bahwa batang-batang rokok terletak dalam jangkauan tangannya dan bahwa di luar jendela besar udara senja menari-nari di bawah pohon-pohon ek di taman. Kata demi kata menggambarkan dilema cabul tokoh lelaki dan perempuan, membawanya terserap ke titik di mana imaji-imaji terbentuk dan berwujud dengan segenap warna dan gerak. Dia menjadi saksi pertemuan terakhir di sebuah pondok di pegunungan. Si perempuan tiba lebih dulu, gelisah. Kini si lelaki masuk, wajahnya terluka oleh sabetan dahan pohon. Dengan penuh nafsu, si perempuan menyeka darah di pipi si lelaki dengan ciuman. Namun, si lelaki menampik sentuhannya.

Dia tidak datang ke situ untuk melakukan lagi upacara penuh gairah raksasa yang terlindungi oleh sebuah dunia penuh daun-daun kering dan jalan setapak tersembunyi di tengah hutan. Sebilah belati tersimpan di dada si lelaki, tersembunyi rapat-rapat. Percakapan penuh engah dan gairah berpacu halaman demi halaman seperti liukan ular, dan seseorang merasa itu telah diputuskan dalam keabadian. Sentuhan demi sentuhan menggelinjangkan tubuh si lelaki, seolah-olah menjaga agar dia tetap berada di sana, mencegahnya melakukan niat semula. Mereka memutuskan orang ketiga harus dihancurkan. Tiada yang dilupakan: alibi, bahaya tak terduga, kesalahan yang mungkin terjadi. Sejak saat ini, masing-masing memiliki tugas yang harus dilaksanakan secara saksama. Pengecekan hal-hal kecil yang dilakukan dua kali dan dengan dingin nyaris berakhir sehingga tangan si perempuan bisa mengelus lagi pipi si lelaki. Hari mulai gelap.

Tanpa saling menatap, terpusat pada tugas masing-masing yang telah menanti, mereka berpisah di pintu pondok. Si perempuan mengambil jalan menuju utara. Di jalan setapak yang menuju arah berlawanan, si lelaki menoleh sejenak untuk melihat si perempuan berlari, rambutnya tergerai dan melayang.
Si lelaki lalu berlari, merunduk di antara pepohonan dan pagar tanaman sampai dia bisa mengenali jalanan berpagar pohon-pohon ek yang mengarah ke sebuah rumah di sela kabut senja kekuningan. Anjing-anjing semestinya tidak menyalak, dan memang mereka tidak menyalak. Si pengelola tanah biasanya tak berada di sana pada jam seperti ini, dan memang tak ada. Si lelaki menapaki beranda berjarak tiga langkah dan masuk ke dalam rumah. Kata-kata si perempuan terngiang di telinganya: pertama ada ruangan bercat biru, lalu aula, kemudian tangga berlapis karpet. Di lantai atas ada dua pintu.

Di ruangan pertama tak ada orang, ruang kedua juga kosong. Pintu ruang minum. Lalu—dengan belati terhunus di tangan, cahaya menyeruak dari jendela besar—tampak punggung kursi tinggi bersandaran lengan berlapis beludru hijau dan kepala seorang lelaki yang sedang duduk di kursi membaca sebuah novel.(*)

Julio Cortazar (1914-1984) adalah pengarang Argentina. Cerita di atas diterjemahkan oleh Anton Kurnia dari “Continuity of Parks”, terjemahan Paul Blackburn dari bahasa Spanyol.
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Julio Cortazar
[2] Pernah dimuat di “Koran Tempo” pada 13 Juli 2014