Pemilihan Takmir Masjid

Karya . Dikliping tanggal 22 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Desa Nangka terpecah menjadi dua. Masyarakat membagi diri berdasarkan kubu-kubu yang sejalan dengan pilihan masing-masing. Padahal sebelumnya hal semacam itu tidak pernah terjadi di Desa Nangka. Warga desa hidup rukun. Namun ketika terjadi pemilihan ketua takmir masjid baru, konflik antar warga meluas. Lebih parah lagi, perpecahan karena pemilihan takmir membuat salah satu masjid di sana menjadi sepi. Warga desa yang militan dengan pilihan mereka memilih menghindar dari tatap muka langsung dengan kubu lain. Sebagai solusi, mereka memilih salat di rumah.

Konflik bermula enam bulan lalu, ketika Pak Darsam dan Pak Yuono dicalonkan sebagai ketua takmir baru, menggantikan Pak Tarno, takmir lama. Awalnya ketika mereka dijagokan, desa baik-baik saja. Pak Yuono dan Pak Darsam tetap bertetangga layaknya warga lain. Mereka tidak mengambil pusing penjagoan itu. Mereka sudah berteman sejak kecil. Mereka memiliki hubungan kekeluargaan kuat. Bahkan anak-anak mereka, Yanti dan Sahrul, akan menikah setahun lagi. Namun perpecahan terjadi ketika salah seorang di antara mereka tak sejalan mengenai renovasi masjid.

Rapat mengenai renovasi masjid terjadi dengan alot. Pak Yuono dan Pak Darsamber diskusi sengit untuk menentukan keputusan.Warga lain tidak bisa melerai.

“Lo, untuk apa direnovasi? Bukankah tempat wudu masih baik-baik saja?” tanggap Pak Darsam. “Lebih baik uangnya untuk memperluas masjid agar bisa menampung makmum lebih banyak.”

“Pak Darsama apa tidak melihat kondisi tempat wudu?” sahut Pak Yuono. “Hampir setengah keran air rusak. Keran-keran itu terus membuang-buang air secara berlebihan. Mubazir bukan? Lalu tempat menampungan air mudah dikotori lumut dan debu karena tak berpenutup. Lebih baik bak penampungan air diganti dengan model yang bagus. Paling tidak kotoran dari luar tidak membuat salat kita tak sah.”

“Soal sah atau tidak salat hanya Allah yang tahu, Pak!”

“Memang, Pak,” timpal Pak Yuono. “Tapi  sebaiknya kita mengusahakan yang terbaik.”

Perdebatan dua orang itu tak selesai. Rapat malam itu tidak menghasilkan keputusan apapun, selain kejengkelan. Pak Yuono dan Pak Darsam pulang masih dengan obsesi masing-masing. Begitulah. Konflik antara Pak Darsam dan Pak Yuono berlanjut keesokan hari, ketika memasuki waktu salat magrib. Waktu itu usai kumandang azan magrib, Pak Darsam dan Pak Yuono kembali bersitegang perihal siapa lebih layak menjadi imam salat.

Mereka secara berkala oleh warga desa dijadikan imam masjid, khususnya saat masuk salat magrib dan isya. Pak Darsam selalu menjadi imam salat magrib, Pak Yuono didapuk memimpin salat isya. Namun karena Pak Darsam malam itu tidak lekas muncul hingga kumandang azan kedua dilantunkan, Pak Yuono pun menggantikan. Pak Darsam terlambat karena harus menjemput sang istri yang bekerja. Istrinya hari itu tidak memabawa kendaraan seperti biasa.Waktu tahu posisinya sebagai imam diambil Pak Yuono, ditambah dengan kejengkelan kemarin mengenai musyawarah renovasi masjid, ia merasa haknya diambil kawannya. Ia memilih tidak salat berjamaah dan pulang.

Sesampai di rumah, Pak Darsam mengumpat dan mengutuk kawannya. Istrinya yang melihat gelagat aneh cepat mendekat.

“Ada apa ta, Pak? Kok sudah pulang? Marah-marah lagi? Apa Bapak tidak jadi salat di masjid?” sapa istrinya.

Jih, orang itu memang tidak tahu diri!”

“Siapa, Pak?”

“Siapa lagi kalau bukan Pak Yuono!”

Pak Darsam pun menceritakan apa yang terjadi di masjid. Pak Darsam juga menceritakan perbedaan pendapat dengan Pak Yuono kemarin. Istrinya yang lembut menenangkan. Namun karena isi kepala Pak Darsam sudah dipenuhi kemarahan, dia tak menggubris semua pernyataan istrinya. Pak Darsam tetap pada pendirian, mengutuk perbuatan temannya. Dua kejadian itu akhirnya membuat jurang antara Pak Yuono dan Pak Darsam.

Perang dingin pun dimulai oleh Pak Darsam yang sering menghindar bila bertemu Pak Yuono. Pak Darsam pun acap membicarakan keburukan-keburukan Pak Yuono kepada warga.

“Pak Yuono tidak sepantasnya kita jadikan imam! Bahkan ketua takmir!” kata Pak Darsam menceritakan hal-hal yang belum diketahui kebenarannya.

“Kenapa, Pak?”

“Apa kalian tidak tahu mengapa rambut Pak Yuono tak lekas hitam? Ia menyemirnya. Seorang imam atau pemimpin tidak boleh menyemir rambut. Bukankah dengan menyemir rambut pertanda kita tak bersyukur dengan kodrat. ”Warga yang mendengar cerita Pak Darsam membetulkan.

Warga membuat rumor-rumor negatif mengenai Pak Yuono. Sementara itu Pak Yuono belum tahu hal-hal buruk yang disebarkan kawannya. Pak Yuono hanya curiga atas gelagat aneh kawannya yang sering menghindar, dan tak pernah datang ketika dia menjadi imam di masjid. Merasa aneh, Pak Yuono ke rumahnya. Namun Pak Darsam saat itu beralasan tidak enak badan dan ingin istirahat.

Demikianlah perang dingin yang ditebar Pak Darsam belum lekas diketahui Pak Yuono. Akhirnya waktu ia menjadi imam salat isya, Pak Yuono sadar sebagian dari makmum tak ada di masjid. Pak Yuono curiga. Ia pun menanyakan hal itu pada seorang tetangga.

“Warga yang lain ke mana, Pak?” tanya Pak Yuono. “Sekarang kok makin sedikit makmum di masjid?”

“Tidak tahu, Pak,” jawab tetangganya.“Rasanya ada yang aneh ya, Pak?”

“Aneh gimana, Pak?”

“Apa Bapak tidak lihat? Para makmum yang salat magrib tidak tampak saat salat isya. Mereka orang-orang yang sama. Mereka para tetangga dekat Pak Darsam.”

Pak Yuono membenarkan kata tetangganya. Kebanyakan makmum yang salat dengannya para tetangga dekat rumahnya. Sementara para tetangga dekat Pak Darsam tidak tampak saat ia menjadi imam. Pak Yuono menaruh curiga atas semua peristiwa aneh itu. Akhirnya, dua hari kemudian, melalui salah satu tetangga, ia mendapatkan semua jawaban. Hilangnya makmum masjid terjadi karena pengaruh buruk Pak Darsam. Begitu sadar selama ini kawannya itu acap menjelek-jelekkannya di belakang, dia kesal. Pak Yuono pun melakukan hal yang sama. Ia membicarakan hal buruk mengenai kawannya itu. Ia juga menghindari kawannya itu. Lebih buruk lagi, Pak Yuono membatalkan rencana pernikahan anaknya dengan anak Pak Darsam. Konflik meluas.

Masjid kini sangat sepi. Setiap kali azan berkumandang, baik ketika salat subuh, zuhur,asar, magrib, maupun isya, tidak ada warga datang selain dua orang lanjut usia. Warga yang sudah terpecah memilih salat di rumah. Mereka enggan bertemu karena saling membenci, curiga, dan menaruh dendam. Mereka, karena ego masing-masing, lupa kewajiban untuk memakmurkan rumah Tuhan. Perpecahan pun membuat pemilihan takmir masjid tidak menemukan hasil. Jelas, warga yang terpecah memilih mengangkat jagoan masing-masing untuk menjadi imam ibadah di kubu mereka. Lebih ekstrem lagi, kedua kubu memutuskan membangun masjid di wilayah masing-masing.

Kubu Darsam berdalih bila salat dengan kubu Yuono hanya akan membuat salat tidak sah dan tidak diterima Allah.

“Lebih baik kita memiliki tempat ibadah sendiri daripada ibadah kita tak diterima Allah!”

“Betul. Salat dengan mereka sama saja beribadah dengan tubuh penuh najis.”

Kubu Yuono memiliki alasan lain. Mereka enggan berjamaah dengan kubu Darsam karena menganggap mereka sekelompok kafir.

“Buat apa salat di masjid lama kalau kita hanya melihat orang-orang kafir,” kata warga kubu Yuono. “Lebih baik kita membangun masjid sendiri yang lebih suci.”

“Benar! Mereka para kafir yang kelak masuk neraka.”

Pembangunan masjid akhirnya membuat masjid lama mereka tinggalkan. Mereka bertahun-tahun tidak pernah lagi menggunakan masjid lama untuk salat. Mereka membiarkan masjid itu tak terawat dan menjadi kotor.

Setelah bertahun-tahun meninggalkan masjid lama, hal aneh terjadi di masjid baru mereka. Di setiap masjid mereka acap menemui ular dan serangga beracun. Hewan itu beranak-pinak dan menyebar cepat di masjid baru mereka. Bahkan saat Pak Yuono dan Pak Darsama bersamaan memimpin salat tersengat hewan-hewan itu.

“Ini pasti ulah mereka!” Tuduh setiap kubu.“Mereka tidak terima dengan masjid kita yang bagus! Mereka pasti menggunakan sihir!

”Warga tak lekas memahami peristiwa aneh itusebagai teguran dari Tuhan. Akhirnya, pada suatu tengah malam, terjadi peristiwa aneh di masjid lama. Terdengar azan berkumandang ketika masuk waktu subuh. Kedua kubu warga yang mendengar mengira azan itu dari kubu sebelah. Namun waktu zuhur, azan kembali terdengar. Demikian pula saat ssar, magrib, dan isya.

“Siapa orang gila yang nekat mengumandang azan di masjid lama! Pasti para kafir itu,” pekik mereka, masih saling menuduh.

Warga yang penasaran akhirnya mendatangi bersama-sama masjid lama. Terlihat pemandangan ajaib. Masjid itu bercahaya begitu terang, lalu perlahan-lahan terbang menuju ke langit. Masjid itu seolah diambil oleh Allah karena tak dijaga oleh umat. Setelah kejadian itu, hujan serangga dan ular menimpa desa mereka. (28)

Risda Nur Widia, menulis cerpen. Kumpulan cerpennyaBunga-Bunga Kesunyian(2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016)


[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 21 April 2019.