Pemutar Aroma

Karya . Dikliping tanggal 9 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina

SUDAH sepuluh tahun aku tidak pernah bersepakat dengan musim dingin. Suhu yang anjlok di bulan Februari justru melonjakkan suhu tubuhku. Memerangkapku dalam flu berat. Tak ada yang kulakukan selain memandang Museum Guggenheim dengan mata berkaca-kaca dan hidung meler dari jendela apartemen. 
    “Kamu yakin tidak ke dokter, Amor?” Juan menyentuh dahiku dengan tangan kiri sementara tangan kanannya sibuk membetulkan dasi. 
    “Ah, ini hanya flu. Aku sudah minum obat. Setelah meringkuk seharian di dalam selimut aku akan baik-baik saja.”
    “Aku lembur. Seminggu lagi pameran akan digelar.”
    “George Braque,” gumamku.
    Juan mengangguk. Museum akan mengangkat karya George Braque, pelukis kubisme asal Prancis dalam pameran temporal tahun ini. Sudah 7 tahun Juan bekerja di Museum Guggenheim di Bilbao sebagai senior staf divisi kuratorial dan penelitian. 
    “Bagaimana kalau kupanggil Nyonya Munos untuk menemanimu?”
    Aku hampir tersedak ludahku sendiri. 
    “Kamu mau membunuhku?” seruku. Juan tertawa.
    “Dia menyukaimu. Setiap aku bertemu dengannya dia selalu menanyakanmu dengan mata berbinar-binar.”
Nyonya Munos adalah tetangga kami. Aroma tubuhnya seperti keju dan aku tidak pernah bisa makan keju. Mencium aromanya saja aku tak suka. Dia tinggal sendirian. Suaminya mewariskan banyak uang dan sekarang dia tinggal berleha-leha di masa tua. Dia sebenarnya perempuan baik. Malah terlalu baik. Dia janda tanpa anak. Aku enggan berdekatan dengannya. Bukan karena benci padanya namun aku takut akan menjadi sepertinya. Sepi dan sendiri. 
     “Saat aku terserang flu ada yang aneh dengan penciumanku. Malah justru lebih peka. Dan menghirup bau keju bukan ide bagus hari ini.”
    “Bagaimana kamu bisa mencium baunya jika hidungmu mampet. Flu membuat kepalamu tidak beres,” sanggah Juan.
    “Cat kering. Baumu seperti lukisan.”
    Juan tertawa terbahak-bahak. 
    “Aku bekerja di museum. Masa kamu tidak ingat?”
   

“Nah, itulah yang ingin kukatakan. Apa yang kamu lakukan merasuk dalam tubuhmu. Tanpa kamu sadar tubuhmu merekam semuanya. Salah satunya lewat bau. Dan seperti itulah baumu. Kontemporer.”

    Juan tergelak kembali sambil mencubit hidungku yang memerah. 
    “Saat flu aku tidak bisa menerima aroma lewat hidungku yang mampet, namun otakku berubah menjadi pemutar aroma yang memutar berulang-ulang aroma kenangan,” lanjutku. Juan tersenyum.
    “Kamu tetap luar biasa, meski wajahmu pucat pasi,” katanya, sambil menatapku dengan mata hijaunya. “Kamu yakin hari ini bisa kutinggal?”
    “Pergilah. Jika terjadi apa-apa denganku aku akan memasang saputangan merah di jendela apartemen.”
Juan mencium keningku dan berlalu. Sepuluh menit setelah kepergiannya aku belum beringsut dari jendela. Museum Guggenheim terlihat seperti ombak titanium yang berkilau di hari yang pucat. Bangunan kontemporer itu berdenyar di kota Bilbao, meniti modernitas yang bertengger di tepi sungai Nevron. Aku suka berlama-lama melihat Puppy dari sini saat sepi melandaku. Sebenarnya dia terlalu megah untuk ukuran seekor puppy. Patung stainless steel anak anjing raksasa setinggi lebih dari 8 meter yang diselimuti tanah serta ditanami bunga beraneka warna itu duduk tegak di pintu masuk museum. Puppy adalah salah satu karya permanen Jeff Koons yang menjadi ikon Guggenheim. 
    
Terkadang aku merasa Juan juga melihatku dari kantornya dan kami saling menatap dari kejauhan. Aku tahu dia memiliki teropong di meja kantornya. Aku sering memasang saputangan merah jambu di jendela selama beberapa jam untuk menggodanya. Saat pulang dia pasti berkata, ”Amor, hari ini kamu mencintaiku selama tiga jam.” 
Sepuluh tahun kami menikah tak kulihat surutnya kehangatan dirinya. Seharusnya aku bahagia. Namun jujur kuakui, aku merasa ada yang kurang. Kami belum diberi momongan. Juan sangat menyukai anak-anak tapi dia tidak pernah menyalahkanku karena tak kunjung hamil. Jika aku sedang sakit seperti ini kata-kata terakhir ibuku sebelum aku pergi semakin mengiris-iris hati. Ketakutan menyeruap seketika, menggetarkan tubuhku. Aku seharusnya memberitahu Juan soal email yang kuterima kemarin. Mataku semakin panas.
    
Cepat-cepat aku melemparkan pandangan ke arah Puppy. Aku heran dia terlihat meliuk-liuk seperti gedung museum. Kukerjapkan mataku, namun kepalaku justru semakin berat. Aku terhuyung ke ranjang dan menyelusup ke dalam selimut. Mataku segera terpejam dan mulutku terbuka untuk mengambil napas. Flu kali ini lebih parah dari yang kuduga.
    Sekitar dua jam kemudian ada yang mengetuk pintu. Kepalaku masih terasa berat. Suara ketukan itu masih awet. Dengan enggan kuseret tubuhku dan kubuka pintu. 
    “Ya ampun, Rasmi. Wajahmu pucat sekali. Tadi pagi aku berpapasan dengan Juan dan dia bilang kamu flu.”  Tanpa basa-basi dia nyelonong masuk. Aroma keju menghantam penciumanku. Awas kamu Juan, batinku.
    Nyonya Munos menempelkan tangannya ke dahiku.
    “Badanmu panas sekali. Duduklah, aku membawakan kamu sup hangat. Makanlah sementara aku membuatkan teh mint untukmu.”
    “Tidak usah repot-repot.”
    Nyonya Munos mengibaskan tangannya tanda dia tak keberatan. Aku ingin mencegahnya namun kepalaku terlalu pusing sehingga aku akhirnya menyerah dan menghempaskan tubuhku di sofa. Sepuluh menit kemudian dia sudah memaksaku menghabiskan sup yang terasa pahit di lidah dan menghidangkan teh mint hangat. 
    “Bolehkah aku bertanya Nyonya Munos?” kataku hati-hati. Nyonya Munos mengangguk dengan senyum lebar.
    “Kenapa Anda berbau keju?”
    Dia mengangkat alisnya. Mungkin sedikit terkejut dengan pertanyaanku, “Penciumanmu tajam sekali. Padahal aku selalu memakai parfum mahal.”
    “Maaf jika Anda tersinggung.”
    “Tak apa Rasmi. Aku sedikit terobsesi dengan keju. Saat aku merasa kesepian aku mengemil potongan kecil keju dan kubiarkan lumer di lidahku. Lalu aku merasa baikan.”
    “Ibuku berbau melati sebab dia seorang peronce melati. Dia bisa membuat atasan dari roncean melati atau untuk hiasan sanggul. Meskipun tak ada pesanan dia selalu membuat sesuatu dengan melati. Alasannya seperti yang Anda katakan. Untuk membunuh sepi.”
    “Menarik. Aku jadi ingin berkunjung ke Indonesia. Kamu bisa menemaniku.”
    “Aku tak pernah pulang,” desisku. “Aku dan Juan kawin lari. Ibuku mungkin takkan menerimaku lagi.”
    Wajah Nyonya Munos mengiba, ”Kapan terakhir kali kamu melihatnya?”
    “Sepuluh tahun yang lalu.”
    Nyonya Munos mengubah posisi duduknya. Aku meliriknya.
    “Aku mendapat email dari kakakku,” kataku ragu-ragu. “Ibu sakit keras. Dia bilang ini mungkin kesempatan terakhirku untuk minta maaf. Dia juga berkata mungkin saja jika ibu mau memberi restu aku bisa hamil. Dalam kebudayaan kami restu ibu itu sungguh luar biasa.”
    “Menurutku, restu ibu itu lintas budaya. Sangat universal,” kata Nyonya Munos.
     Kepalaku menunduk, ”Aku takut dia takkan memberiku restu. Terakhir kali ibuku berkata kalau rahimku akan mengering jika aku masih ngotot menikah dengan Juan. Aku takut sekali.”
    “Aku juga pernah merasa sangat takut akan suatu hal. Mati sendirian tanpa ada keluarga yang menemani. Saat suamiku meninggal ketakutanku semakin nyata.”
    Aku terperangah. Aku juga mengalami ketakutan yang sama dengannya. Tanpa anak. Sepi dan melangut.
    “Mati memang tidak bisa dihindari tapi rasa takut bisa kamu atasi. Kupikir kamu harus menemui ibumu dan memperbaiki semuanya. Tidak peduli dia memberi restu atau tidak tapi yang penting kamu sudah melakukan yang seharusnya kamu lakukan. Kamu harus berdamai dengan ketakutanmu.”
    Nyonya Munos menyentuh dahiku lalu tersenyum, ”Kamu akan sembuh. Setelah itu sebaiknya kamu bicara dengan Juan soal pulang ke Indonesia.”
    Nyonya Munos berdiri  lalu melangkah menuju pintu keluar. 
    “Bagaimana Anda mengatasi rasa takut itu, Nyonya Munos?”
    Dia berbalik. ”Dengan memelihara kenangan indah yang semakin terasa dalam potongan keju kecil. Sebenarnya keju bukan kegemaranku. Itu kesukaan Paco, suamiku.”  Mataku berat sekali. Aku tak mampu melepas kepergian Nyonya Munos dengan mataku. Tapi sepertinya aku masih mendengar suaranya hanya saja terasa jauh dan semakin samar.
    Satu guncangan lembut membuatku terjaga. 
    “Kupikir tadi kamu nggak bakalan bangun. Aku mengguncang-guncangkan tubuhmu tapi kamu diam saja. Ya ampun, hari ini buruk sekali,” katanya dengan wajah cemas. Belum pernah kulihat dia segugup itu. 
    “Aku melihat ambulan di luar apartemen dari kantor. Hatiku jadi tak enak. Aku segera berlari pulang. Kupikir terjadi hal buruk denganmu.”
    Aku mengerjap-erjapkan mata, berusaha mencerna nada panik dalam suara Juan.“Ternyata lebih buruk lagi. Nyonya Munos sudah meninggal. Mereka menemukan tubuhnya di dalam apartemen. Serangan jantung.”
    “Tidak mungkin, Nyonya Munos tadi pagi kemari membawakanku sup dan membuatkan teh mint.”
    “Amor, mereka bilang Nyonya Munos sudah meninggal semalam dan tidak ada orang yang tahu.”
    “Tidak mungkin. Kamu bohong,” Aku mengaduh kecil. Kepalaku seperti dihantam martil saat berseru. Juan menyentuh dahiku lalu meraih ponselnya.
    “Aku harus memanggil Dokter.”
    “Juan, aku yakin sekali tadi Nyonya Muños kemari.”
    “Demam membuatmu berhalusinasi.”
    “Tapi…”
    Juan memberi tanda padaku untuk diam lalu sibuk berbicara dengan Dokter Jose. Pandanganku teralih ke arah meja. Di sana semangkok sup yang tinggal separuh dan secangkir teh mint masih tergeletak. Tiba-tiba aku bisa mengingat kata-kata terakhir Nyonya Muños saat dia pergi, ”Rasmi, aromamu seperti anak anjing yang kesepian.”
    Aku menghela napas panjang dan menyentuh tangan Juan,”Tenanglah. Aku tidak apa-apa. Tutup teleponmu dan biarkan aku bicara.”
    “Tentang apa?”
    “Tentang pulang,” jawabku sambil menggenggam tangannya erat. (f)
********
Ruwi Meita
Pemenang III  Sayembara Cerpen Femina 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ruwi Meita
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”