Penantian Bunda

Karya . Dikliping tanggal 5 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah Guruku

AKU DUDUK DI KASUR yang telah butut. Di luar sana hujan masih mengguyur tanpa ampun. Beberapa sudut rumahku bocor. Namun, tak mungkin bagiku untuk memperbaikinya. Usiaku telah renta. Suamiku juga telah tiada. Dan anakku merantau ke ibukota namun tak juga pernah kembali. Entah apa yang telah terjadi padanya. Aku hanya pasrah saja.

Saat ini, aku menggantungkan pendapatan dari pensiunanku sebagai seorang guru. Sesekali aku masih mengajar les untuk beberapa anak. Dari sanalah penghasilanku sedikit bisa bertambah. Namun, untuk membenahi gubuk ini, rasanya tidak mungkin. Aku bukanlah orang yang suka menggantungkan diri pada orang lain, apalagi menjadi beban buat mereka. Pengalamanku sebagai guru selama puluhan tahun mengajarkan aku demikian.

Hujan mulai reda. Aku mengeluarkan air yang sempat masuk ke rumahku. Beberapa perabotan yang telah usang kini menjadi rapuh. Namun, aku harus tetap kuat. Tidak boleh serapuh benda-benda ini. Beberapa tetangga yang rata-rata muridku datang. Merekalah yang membantuku saat-saat seperti ini. Mereka dengan suka rela membantuku membenahi rumah. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih. Aku terharu dengan ketulusan yang mereka tunjukkan padaku. Entah mengapa mereka bisa baik sekali denganku. Padahal dulu aku sering memarahi mereka. Entahlah.

Sebenarnya, aku merasa prihatin juga. Rata-rata dari mereka memiliki nasib yang tidak jauh berbeda denganku. Secara ekonomi, mereka juga pas-pasan. Namun, kepedulian yang mereka tunjukkan rasanya jauh lebih menyenangkan daripada ketika aku mendapat uang pensiun. Aku berdoa semoga kiranya mereka bisa mendapatkan ganjaran yang baik dan dikaruniai hidup yang penuh berkah. Sebab kekayaan yang sesungguhnya terletak pada hati dan amalan. Bukan harta dan rupa.

Sebenarnya, banyak sekali muridku yang telah sukses dan menjadi orang besar. Namun, mereka tentunya sudah banyak kesibukan sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk silaturahim ke tempatku. Aku merasa bahagia saat tahu satu per satu dari mereka menuai kesuksesan hidup dan dapat mencapai apa yang dicita-citakan.

Budi. Ya. Anak itu tiba-tiba muncul dalam benakku. Anak yang pada awalnya sangat bengal, kini menjadi direktur di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Aku bersyukur sekali. Dulu, semua guru menyerah saat berhadapan dengannya. Bahkan ia telah mendapat peringatan dari sekolah dan terancam untuk dikembalikan ke orang tua. Sebab, pihak sekolah sudah tidak sanggup lagi mengatasinya. Sementara itu, aku merasa bukan itu solusi terbaik. Jika Budi keluar dari sekolah, justru aku khawatir ia tidak bisa dikendalikan dan akan menjadi masalah bagi lingkungan dan masyarakat.

Aku meminta kesempatan sekali lagi pada sekolah. Melalui perdebatan panjang dan syarat yang rumit, akhirnya sekolah mengabulkan permintaanku yang dianggap aneh itu. Sebenarnya orang tua Budi juga sudah menyerah. Aku bermusyawarah pada suami dan Fadil, anakku, untuk menerima Budi di keluarga kami. Mereka setuju dan mendukungnya. Jadilah Budi tinggal di rumahku.

Dari dialah aku belajar tentang bagaimana kepedulian terhadap sesama itu bisa meluluhkan hati yang keras. Perlahan tapi pasti, Budi menjadi anak yang baik. Bahkan prestasinya menjadi kian membanggakan. Suami dan anakku sudah menganggap Budi bagian dari kehidupan kami. Aku menyadari, orang tua Budi selama ini sangat sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk berkomunikasi dengan anaknya. Namun, kini semua bisa diatasi.

Tahun berikutnya, suamiku meninggal dunia karena kecelakaan. Aku terpukul sekali. Melihat kejadian itu, Fadil memutuskan untuk merantau. Dengan berat hati aku mengizinkannya. Sebab, penghasilanku seorang diri jelas tidak mencukupi untuk biaya hidup kami. Sejak itu pulalah aku tidak pernah melihatnya lagi hingga kini. Selepas tamat sekolah, Budi juga mengikuti jejak Fadil. Hanya saja, Budi sering mengabariku. Maklumlah orang tuanya tidak bisa baca-tulis. Sehingga kabar itu disampaikan kepadaku. Setelah itu barulah aku yang menyampaikan kepada orang tuanya.

Beberapa tahun setelah itu, aku mengetahui bahwa Budi menunjukkan perkembangan yang pesat. Ia memboyong orang tuanya ke Jakarta, apalagi setelah ia menikah. Aku berbahagia dengan kesuksesan itu. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini anak itu sudah tidak pernah memberiku kabar. Ah, mungkin sudah sangat sibuk.

Toh, aku juga tidak merasa kesepian. Di sini, banyak sekali anak-anak yang setiap tahun silih berganti aku ajar. Semua memiliki bakat yang luar biasa. Ini pulalah yang membuatku tidak pernah merasa sebatang kara. Bahkan, tanpa terasa, banyak muridku yang telah memiliki anak dan mereka juga aku ajar. Jadilah aku mengajar cucuku. Menggembirakan sekali. Apalagi anak-anak sekarang ini lebih pandai dan gampang sekali menerima pelajaran dibandingkan dengan murid-muridku jaman dulu.

Yah, mungkin kalau dulu, sekolah tidak dianggap kebutuhan pokok. Sekolah hanya tambahan saja. Jadi, anak yang sekolah tidak memiliki waktu belajar. Sepulang sekolah harus membantu orang tua sampai malam. Juga ikut merawat adik-adiknya. Tetapi sekarang, orang tua telah banyak menyadari pentingnya pendidikan. Bahkan mereka sangat mendukung. Sehingga tidak susah menjumpai anak dengan kepandaian yang brilian. Bahkan tak jarang aku menjumpai pertanyaan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ini kebanggaan buat aku. Hingga akhirnya aku pensiun. Namun, aku masih sering diminta untuk mengajari murid-murid. Banyak pula yang datang memintaku untuk mengajari les dan mereka bukan murid dari tempat aku mengajar.

Aku hanya khawatir, jika rumah ini roboh, ke mana harus berteduh. Aku tidak ingin menjadi beban bagi orang di sekelilingku. Hanya itu saja kekhawatiranku. Selebihnya, aku sangat berterima kasih diberi waktu menjadi guru sepanjang hidupku. Itu sebuah kebanggaan buat aku. Apalagi yang aku tahu sekarang, nasib guru menjadi lebih baik lagi. Lebih mendapat perhatian dari pemerintah.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara ribut di luar. Samar-samar kudengar orang menyebut dua buah nama: Budi dan Fadil. Darahku tersirap. Rasanya seperti tidak percaya. Aku seperti mimpi. Apalagi ketika aku lihat dua pemuda yang gagah berdiri di depan pintu. Ya Allah, itu Fadil dan Budi. Tulang-tulang di tubuhku yang renta ini serasa gemetar.

Tiba-tiba mereka menghambur ke arahku dan memelukku sambil menangis. Aku memeluk mereka dalam keadaan setengah sadar. Aku hanya bisa bersyukur. Mereka telah kembali. Terima kasih, Tuhan. Engkau menggenapkan kebahagiaan ini.

Dari cerita Fadil, aku baru tahu kalau anak itu telah berjanji tidak akan pulang sebelum sukses. Dan Budi juga demikian. Ternyata, mereka bekerja di bidang yang sama. Menjadi mitra bisnis. Aku bangga sekali dengan mereka. Apalagi, ternyata di belakang mereka telah ada wanita yang begitu anggun menggendong anak. Ya Allah. Itu cucuku. Aku seperti berada di surga. Ini merupakan hari paling bahagia dalam sejarah hidupku.

Aku menolak ajakan mereka berdua ke Jakarta. Aku hanya ingin tinggal di tempat ini. Tetap mengabdi untuk pendidikan bumi pertiwi. Tanpa mengeluh hingga ajal ini datang.


[1] Disalin dari karya Shuniyya Yusuf
[2] Pernah tersiar di “Majalah Guruku” edisi No. 06 – Juli 2009