Penari Bumi – Antagonis – Savitri Gugat – Sekar Jagat

Karya . Dikliping tanggal 19 Maret 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Penari Bumi

Bumi melahirkan
Memelihara
Dan menjaga
Dewi Sri, mengejawantah
dalam bulir bulir bernas
Pada kecak leher
Pada plerokan mata
Pada ikel tangan
Pada lenggok pinggang
Keluar dengan sendirinya
Gerakan gerakan mantra
Pengabdian suci
Hidup adalah tarian itu sendiri
Bergerak menuju keabadian sejati
Sebelum semuanya diam dalam kesunyian
Penari bumi
Penari untuk negeri
Pada harmoni gamelan, kenong dan gong
Melukis mantra mantra illahi
Menikmati tarian sakral yang edi peni
Dalam satu gesekan rebab
Menyayat nurani untuk kembali
Tanpa kata kata
Kata kata adalah tari dan gerakan
Bahasa tubuh penuh lambang dan simbol
Di atas panggung dan sorot lampu
Persembahan dewata
dengan giring giring dupa dan canang
puja dewa
Sragen, 2017

Antagonis

Kuteguk racun itu biar kau puas
Biar kau tahu betapa cintaku padamu
Karena nietschze memberiku secangkir kopi
Untuk mendapatkan kebahagiaan memang harus bunuh
diri
Oh lihatlah hatiku yang dimamah mamah
O lihatlah batu batu yang jatuh dari bukit
Bergemuruh bergelundung menimpa tubuh
Dan aku akan membusuk, sayang
Lihatlah semua karena betapa cintaku padamu
Biarkan orang orang bertepuk bersorak berderai derai
Karena begitulah mauku
Untuk merayakan kebahagiaanku
Ini sungguh nikmat
Api yang membakar tubuhku ini
Betapa sakit kan, sayang?
Sakit dan nikmatnya
Telah kau rasakan juga
Sragen, 2017-02-21

Savitri Gugat

Aku menggugat para dewa
Mengapa kau ciptakan hanya separuh iga
Dan kau letakkan surga, di kaki para perempuan
Oh, akukah Duka itu
Cinta yang bertuah
Kramat dan wingit
Dalam rahimku, peraduan itu
Oh takhta dan wanita
Sering jadi muasal perang itu
Perseteruan abadi yang melahirkan perseteruan baru
Sragen , 2017

Sekar Jagat

Tuhan aku menemukan sabda
Pandita
Aku menanam huruf huruf di muka bumi
Merasuk dalam kawah adam dan ibu hawa
Menjadi biji biji
Dewi kesuburan menjelma dalam dewi sri
Memberi dan hanya memberi
Keikhlasan dan pengabdian
Yang tak henti
Perempuan yang menjadi menjadi mantra bumi
Bibit bibit kelahiran
Ditanami ari ari kehidupan
Ssh , 2017

Sus S Hardjono lahir 5 November l969 di Sragen. Pada 1990-an aktif menulis puisi, cerpen, geguritan, dan novel serta memublikasikan di berbagai media massa. Pernah bergabung dalam Kelompok Teater Peron FKIP UNS. Novel perdananya Sekar Jagat. Kini, menulis novel kedua, Pengakuan Mendut.(44)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sus S Hardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 19 Maret 2017