Pencegahan Bunuh Diri

Karya , . Dikliping tanggal 18 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

SAAT itu pukul dua dini hari. Pak Hurych berjalan pulang dari rapat Perkumpulan Anti Minuman Keras di sebuah restoran di Mala Strana. Rapat itu berlangsung amat lama karena mereka membahas pengunduran diri ketua mereka yang terlibat urusan tak elok. Si ketua ketahuan minum segelas bir pilsener. Sebagai orang terhormat, dia tentu harus mundur.

Pak Hurych berjalan ke arah rumahnya melintasi Jembatan Karel. Ia berjalan dengan kesadaran penuh kebahagiaan bahwa ia telah berbakti untuk kebaikan kemanusiaan. Ia masih bisa merasakan dinginnya air soda di perutnya. Jantungnya mudah terpacu yang mungkin bisa menimbulkan penyumbatan pembuluh darah jika saja dokternya tak melarangnya minum bir. Sudah setengah tahun ini ia berhenti minum minuman keras dan dengan bersemangat menyatakan perang terhadap alkohol. Ia adalah sekretaris Perkumpulan Anti Minuman Keras, berlangganan majalah Kemanusiaan, belajar bahasa Esperanto, dan hanya makan sayur-sayuran.

Lamunannya terhenti oleh suara teriakan dari arah Sungai Vltava. Itu semacam teriakan tengah malam para penyair muda yang bertarif 16 heller, jumlah yang layak dibayarkan untuk sebaris puisi penuh teriakan misterius tak dikenal yang muncul dari sungai dalam kesenyapan malam.

Pak Hurych berpegangan di atas pagar pembatas jembatan, lalu melongok dan berteriak ke arah sungai di bawahnya, “Perlu bantuan?” Ia tak bisa memikirkan kalimat yang lebih baik pada saat itu.

Saat Pak Hurych menatap penuh selidik seraya membungkuk ke arah sungai, penata rambut Bilek berjalan di jembatan itu ke arah Mala Strana. Dia bukan seorang penganut anti minuman keras, apalagi pada hari itu, tapi hatinya pun tak kurang mulia, dan dia tersentuh rasa kasih sayang terhadap Pak Hurych yang terhormat.

Mata tajam Pak Bilek melihat bahwa Pak Hurych membungkuk di pagar jembatan dengan posisi mencurigakan. Pak Bilek bukan orang yang suka berpangku tangan. Dengan perlahan dan diam-diam serupa gerakan kucing, tapi gesit dan cepat seperti lompatan macan, dia menyergap Pak Hurych dari belakang, merengkuh lengannya, dan berupaya menariknya ke permukaan jembatan. Pak Hurych melawan dan mencekal leher penyerangnya yang tak dikenal. Dua lelaki terhormat ini pun bergelut. Si penata rambut berseru, “Tenanglah, tak perlu putus asa!”

Dua polisi yang sedang berpatroli bergegas mendatangi mereka. Pak Bilek yang berhasil memeluk Pak Hurych dengan sepenuh tenaga berkata dengan terengah-engah, “Bapak-Bapak, orang ini berusaha melompat ke sungai. Saya telah menyelamatkan dia.”

Empat tangan berpengalaman kini mencekal Pak Hurych, memegangi lengannya. Salah satu petugas dengan nada kebapakan mencoba untuk menasihatinya agar membatalkan niat bunuh diri.

Pak Hurych sungguh takjub dengan situasi ini. “Ini salah paham, Bapak-Bapak!” teriaknya dengan histeris. Ia tertawa aneh dan dipaksakan, lalu kembali berkata, “Anda salah. Saya sama sekali tidak punya niat untuk melompat ke sungai.”

Si penata rambut terhormat yang berjalan di belakang mereka menyela Pak Hurych. “Saya telah menyelamatkan beberapa orang yang mencoba melompat ke dalam sungai, tapi tak satu pun yang melawan dengan ganas seperti Anda. Anda pasti amat gusar. Anda bahkan merobek rompi saya.”

Lalu, polisi kedua ikut angkat bicara, “Ya, Tuhan, bagaimana jika semua orang mencoba bunuh diri setiap kali mereka menemui masalah kecil? Semuanya akan baik-baik saja. Apa pun yang telah membuat Anda gundah, semua pasti akan beres kembali. Jika Anda telah sadar dari mabuk esok pagi, Anda akan menyadari bahwa dunia ini sungguh indah.”

“Dunia ini memang indah,” kata petugas di sebelah kanan Pak Hurych. “Jika orang mencoba melompat ke sungai setiap kali mendapat masalah, setiap detik akan ada orang yang bunuh diri.”

Pak Bilek menarik mantel Pak Hurych dan menambahkan dengan penuh penekanan, “Sekadar agar Anda tahu siapa yang telah menyelamatkan Anda. Jika Anda sudah tak lagi mabuk, namaku Bilek, penata rambut dari Smichov.”

Pak Hurych menjerit makin histeris, “Bapak-Bapak, kumohon, lepaskan aku! Aku tidak punya niat semacam itu. Aku hanya melongok dari pagar jembatan karena kupikir aku mendengar suara orang memanggil dari bawah.”

Si penata rambut menukas, “Hei, Anda mau bilang bahwa Anda tidak hendak melompat? Bapak-Bapak, saya ini sudah berpengalaman. Begitu saya melihatnya tadi, saya langsung tahu dia hendak melompat. Pak, jika Anda tadi tidak akan melompat, Anda tidak akan melawan begitu ganas. Besok Anda akan menyadarinya dan bersyukur kepada Tuhan karena malaikat penjaga-Nya telah mengirim saya untuk menyelamatkan nyawa Anda.”

Kesabaran Pak Hurych habis. Dia berbalik dan memuntahkan sumpah serapah di wajah orang terhormat itu.

“Inilah balasan yang didapat orang karena kebaikannya,” ujar Pak Bilek. “Saat esok pagi orang ini telah sadar dari mabuknya, dia akan merasa malu dan berusaha membalas kebaikan penyelamatnya.”

Pak Hurych berupaya melompat ke arah Pak Bilek, tapi terhenti saat kedua petugas berkata mereka akan memanggil mobil tahanan.

Ketika mereka telah hampir sampai di kantor polisi, Pak Hurych mencoba sekali lagi menjelaskan situasinya. “Anda tidak memercayai saya? Saya bersumpah, ini sungguh salah paham.”

“Tenanglah,” kata para polisi itu. “Setelah Anda tidur pulas dan berhasil menyingkirkan niat bunuh diri dari benak Anda, Anda akan melihat hidup ini dengan sangat berbeda.”

“Oh, Tuhan,” desah Pak Hurych putus asa.

***

ADA beberapa penyakit jiwa yang diikuti keinginan bunuh diri, seperti paralysis progressiva, paranoia, melankolia, beragam jenis mania, histeria, dan psikosis.

Para dokter kepolisian kerap dipanggil untuk membantu korban-korban upaya bunuh diri dan salah satu cara membantu paling penting berupa sistem tanya jawab. Jawaban yang diberikan oleh korban akan membantu dokter menentukan jenis penyakit jiwa yang diderita karena salah satu gejala yang menetap adalah kebingungan di benak pasien tentang makna gagasan dan konsep tertentu.

Maka, begitulah, seorang dokter polisi dipanggil untuk memeriksa kondisi kejiwaan Pak Hurych. Namun, sebelum dokter itu tiba, petugas jaga menanyai si penata rambut baik hati dan menulis sebuah laporan berita acara pemeriksaan.

Petugas ini pun tak bisa menahan diri untuk menenangkan kegundahan Pak Hurych dengan mengingatkan dia pada keindahan dunia. “Semuanya akan baik-baik kembali, Pak. Segalanya akan beres meskipun itu menyangkut kisah cinta yang tak bahagia. Anda tahu kata peribahasa: dunia tak selebar daun kelor. Saat Anda sudah sadar esok pagi, Anda akan berterima kasih kepada Pak Bilek yang telah menyelamatkan nyawa Anda. Jika Anda punya masalah keluarga, Anda bisa pindah rumah. Jangan terlalu dimasukkan ke hati. Kalau Anda punya masalah keuangan, seorang lelaki yang jujur pasti akan bisa mencari jalan keluar untuk mencari nafkah. Bekerja itu mulia.”

Dan apa jawaban Pak Hurych? Seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia menjerit, “Demi Yesus Kristus, aku tak rela semua ini terjadi!”

Pak Bilek kembali berkata kepadanya, “Saya penata rambut Bilek dari Smichov. Katakanlah dengan terus terang apa yang membuat Anda melakukannya.”

Pak Hurych pun menangis tersedu.

***

“BAWA dia kemari,” kata dokter polisi begitu dia tiba.

Mereka membawa Pak Hurych masuk ke dalam ruang periksa. Wajahnya tampak kusut, bibirnya pucat, rambutnya acak-acakan.

“Mengapa Anda mencoba melompat ke sungai?”

“Sumpah, saya tidak hendak melompat ke sungai.”

“Jangan mungkir. Pak Bilek dan para petugas di sini bersaksi Anda tadi hendak melompat. Ketika mereka berusaha mencegah, Anda melawan seperti macan.”

“Ini menyebalkan,” geram Pak Hurych.

“Jawablah, mengapa matahari tenggelam?”

“Ya, Tuhan, kumohon, Dokter …”

“Tahukah Anda nama beberapa negara merdeka di Asia?”

“Tolong, Dokter.”

“Berapa enam kali dua belas?”

Namun, Pak Hurych sudah tak bisa lagi menahan diri. Alih-alih menjawab baik-baik “tujuh puluh dua”, dia malah menampar wajah sang dokter polisi.

Esok paginya mereka membawa Pak Hurych ke rumah sakit gila. Kini dia telah dirawat di sana dengan pengawasan ketat selama setengah tahun. Hingga saat ini, para dokter belum bisa melihat gejala dia telah menyadari bahwa dirinya sakit jiwa. Padahal, menurut ilmu jiwa, kesadaran semacam itu adalah salah satu tanda awal kesembuhan. (*)

Jaroslav Hasek (1883-1924)

Adalah pengarang kenamaan Ceko yang dikenal dunia, terutama melalui novel satire Prajurit Schweik. Cerpen di atas adalah satu di antara ratusan cerpen yang pernah dia tulis, diterjemahkan Anton Kurnia dari “A Psychiatric Mystery”, terjemahan Paul Wilson dari bahasa Ceska, dalam kumpulan cerita Prague: A Traveler’s Literary Companion susunan Paul Wilson, terbitan Whereabouts Press, Berkeley, 1995.

 

[1] Disalin dari karya Jaroslav Hasek diterjemahkan oleh Anton Kurnia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi 16 September 2018