Pengantin Luka [3]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina

Pada suatu siang di bulan Desember yang hujan.

Suaraku nyaris hilang, padahal aku harus menjadi MC besok malam. Pemilik acara wanti–wanti agar jangan sampai MC perempuan digantikan. Dia mau aku yang berdiri di sana.
“Oke, ke rumah sakit, ya. Saya suntik vitamin C, lalu kamu istirahat 2–3 jam. Semoga setelahnya suara kamu membaik.” Jawaban Dokter Ari sungguh menenangkanku.
Dan, di sinilah aku siang itu. Pada sebuah bilik yang tidak terlalu luas. Penuh cat putih, dengan bau obat–obatan yang menyengat. Dokter Ari memberi isyarat agar aku menunggunya. Diam–diam kuamati dokter yang menanganiku sejak aku kecil itu, penampilannya sungguh berwibawa. Namun, entah bagaimana hingga ia belum juga beristri kala usianya kini 45 tahun.
“Bagaimana, apa kabar orang tuamu?” tanyanya, sambil membasuh tangannya dengan cairan yang berbau sedikit menyengat.
“Baik. Maaf saya mengganggu Dokter?” jawabku, dengan susah payah.
Dokter Ari mengernyitkan dahi, “Saya tidak sangka suara kamu separah itu. Jangan terlalu memforsir tenaga. Suara kamu habis begitu bukan hanya karena keseringan dipakai cuap-cuap. Kamu kurang istirahat dan terlalu banyak pikiran,” ulasnya, sambil mempersiapkan jarum suntik.
“Tiga bulan terakhir ini kamu sudah enam kali minta resep obat tidur. Tidak baik terlalu tergantung pada obat-obat seperti itu. Baiknya kamu konsultasi dengan psikolog. Saya ada kenalan,” ia menyodorkan secarik kartu nama. Kubaca sekilas, lalu kusimpan sembarang ke dalam tasku.
Dokter Ari menyelesaikan tugasnya. Rasa sakit di tenggorokanku sedikit membaik. Hujan belum juga  reda. Aku duduk di sofa di lobby rumah sakit. Kuamati satu per satu pengunjung rumah sakit. Sebuah keranda melintas di hadapanku, diiringi ratapan tangis keluarganya.
Ahhh… apakah aku akan ditangisi macam itu, jika kematian itu datang suatu saat nanti. Apakah di antara mereka yang menangis itu kudapati ’brahmana’-ku yang kini menghilang. Fiuhhh, lagi–lagi aku ingat dia. Hujan memang cenderung membuat aku dilanda rasa melankolis.
Tiba–tiba bayangan itu berjalan menuju arah tempatku duduk. Sepasang manusia, aku yakin, lelaki itu kukenal. Tapi, bagaimana boleh ia menggandeng wanita lain. Ia melintasiku, menoleh dengan raut muka yang datar, meski sedikit terkejut. Aku tergagap, tak bisa menyapa sepatah kata pun. Sampai pasangan itu memasuki sebuah sedan, menjauh dan hilang di ujung tikungan.
Aku membetulkan napas. Ingin aku mengejar sisa bayangan sedan itu, namun hujan bertambah deras. Bergegas aku menuju meja informasi. “Pasangan yang barusan itu, mau apa mereka di sini?” Gadis muda penjaga meja informasi sampai setengah terkejut mendapati pertanyaanku, lebih–lebih melihat pucatnya wajahku.
“Siapa maksud Anda? Apakah Anda baik–baik saja?” tanyanya. Aku mengangguk lemah, kusebutkan nama lelakiku dengan fasih. Hatiku berdegup tak keruan menunggu gadis penjaga meja informasi itu memeriksa satu per satu file nama pasien di layar komputernya.
“Ohhh, iya ini saya temukan, Ida Bagus Gede Mataram Diwangkara. Mereka berkonsultasi ke dokter kandungan. Mereka membuat janji untuk tes pranikah.”
Seketika aku rasakan ribuan kunang–kunang tidak lagi di perutku, tapi juga di kepalaku bahkan di sekujur tubuhku. Seolah ada hantaman keras, kupegang sisi meja.
Air mata tidak tumpah lagi. Tapi, kurasakan hatiku berdarah. Setelah sejauh ini, mana bisa lagi aku mengingkari bahwa aku mencintainya. Benar–benar mencintainya. Mana bisa kuingkari semua yang baru aku dapati. Dia menghilang berbulan–bulan, tanpa sepatah pesan pun. Lalu kini tiba–tiba melintas menggandeng wanita lain, merencanakan tes pranikah pula. Ia tengah mempersiapkan hari bahagianya tanpa peduli bagaimana aku mengkhawatirkan kepergiannya.
Dia akan menikah, bukan denganku.
“Mbak, bisa tolong panggilkan saya taksi, saya tidak cukup kuat berjalan sampai di pangkalan taksi di depan,“ mohonku, pada gadis penjaga meja informasi itu.
Sepanjang jalan pikiranku kosong. Bapak tua pengemudi taksi berkali-kali menatapku iba lewat kaca spionnya. Aku biarkan jendela taksi terbuka, rintik hujan bermain–main menampar wajahku. Aku tak lagi mampu menebak, rasa macam apa yang kini terombang–ambing dalam hatiku. Buah dari penantian, doa–doa malam penuh tangisan, dan harap–harap cemasku. Aku meratap di sini, sedang dia asyik bercinta dengan wanita lain. Bersiap merayakan kebersatuan mereka.
Aku masih mencintainya, sekaligus mati–matian mengingatkan hatiku agar mulai belajar membencinya. Tidak ada kata maaf untuk sebuah pengkhianatan.  Apakah ini buah atas pengingkaran yang selama ini kulakukan? Atau, ini dia lakukan karena baginya kami hanya sebatas teman. Lalu, apa artinya percakapan suatu senja yang lalu, saat ia berusaha melamarku.
Kuempaskan begitu saja tubuhku. Aku mendapati fotonya, lelaki pengkhianat itu, dan aku di sisi meja belajarku. Foto itu menghadapku. Tatapan matanya kurasakan  makin menikam jantungku. Aku mulai menangis. Sekencang yang aku sanggup. Aku lempar foto kami yang diambil sesudah acara wisudaku.
“Karena aku tak terlahir dengan Ida Ayu di depan namaku, dia berpaling. Karena aku sudra, dia punya alasan untuk berkhianat….” Berkali–kali kalimat itu terulang di bawah sadarku.
Drrrttttt… drrrttttt… drrrttt… ponselku bergetar. Tertera sebuah nomor asing di ujung sana.
“Ya, siapa, nih?” tanyaku, dengan suara serak. Hening.
Hanya terdengar helaan napas berkali–kali. Aku tentu tak perlu memutar otak menebak siapa yang sedang kuajak bicara.  “Apa? Bli Gus mau bicara apa? Begini cara seorang brahmana, kasta yang selalu Bli Gus banggakan bersikap? Hilang begitu saja, lalu tiba–tiba muncul dengan…,” bibirku tercekat. Napasku memburu, kurasakan emosiku memuncak di ubun–ubun.
“Maaf…,” desahnya, mengiba.
Aku terisak lagi. Aku tak peduli kalau dia pernah bilang tak menyukai wanita yang terisak bagaikan anak kecil. Aku ingin ia dengarkan nyanyian kesakitanku.
“Bli Gus sadar yang Bli Gus lakukan? Saya ikhlas kalau Bli Gus akhirnya memilih wanita lain untuk jadi istrimu. Tapi, bisakah Bli Gus bicara baik–baik. Jangan tiba–tiba menghilang, membiarkan saya terus berharap Bli Gus akan datang suatu hari dan semua kembali baik–baik saja….” Aku berusaha menata napasku.
“Bli Gus mau kamu tahu, kalau ini jadinya begini bukan karena Bli Gus mau, tapi karena Bli Gus harus. Bli Gus memilih dia, karena dia begitu mirip dengan kamu.”
Aku tertawa, seandainya dia di depanku, sudah kutampar dia. “Jangan buat alasan konyol untuk membenarkan pengkhianatan. Ayo, jujur, Bli Gus pilih dia karena dia Ida Ayu, ’kan? Iya, kan Bli Gus…!” teriakku meradang. Hilang sudah segala sopan–santun yang selalu aku berlakukan, jika bicara dengannya. Aku marah, aku sakit. Kututup sambungan telepon. Percuma bicara dengannya, kalau dia hanya akan bicara untuk membela apa yang sudah dia lakukan.
Aku telan pil–pil kecil berwarna kuning yang setahun belakangan menemani malam–malamku. Lalu kepalaku terasa memberat, aku terlelap. Aku terjaga di tengah malam, melanjutkan menangis. Pertama kalinya, aku menyesal tak terlahir dengan nama Ida Ayu di depan namaku. Jika saja Ibu menjaga kastanya, tidak menikah dengan ayahku yang seorang sudra, maka hari ini aku akan memiliki embel–embel itu di depan namaku. Bli Gus akan tetap bersamaku, melanjutkan kebersamaan yang sudah kami mainkan bersama di malam–malam yang lalu.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Pertiwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”