Pengantin Tujuh Purnama

Karya . Dikliping tanggal 24 Juni 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SEJAK putra Ki Lurah Barghowi tertangkap basah berbuat mesum dengan gadis pujaannya, rapat di Balai Desa sering memanas dan mengundang debat sengit yang berlarat- larat. Pasalnya, Ki Lurah Barghowi selalu melontarkan usulan agar hukum adat “Pengantin Tujuh Purnama” dihapus dan ditiadakan sama sekali dari kampung Rejomulyo.

Sontak, ruang rapat gempar dan penuh dengung bagai sarang lebah yang diobrak-abrik tangan jahil. Modin, Ladu (pengatur air di sawah-sawah penduduk), dan beberapa Kamituwo geram. Mereka berbisik-bisik dan bersumpah akan menggagalkan rencana Ki Lurah. Maka peserta rapat pecah dalam tiga kelompok. Kelompok penentang keras dikomandani Modin. Kelompok mengambang ñ setuju juga tidak menentang juga tidak diwakili Carik. Kelompok yang sangat setuju sudah pasti dipandegani Ki Lurah Barghowi.

“Ki Lurah sangat berani,” kata Modin dengan suara tercekat. “Apakah Ki Lurah tidak takut kuwalat?! Hukum adat itu sudah ratusan tahun dijalankan. Bolehlah Ki Lurah tidak takut kuwalat, tapi mohon hormati yang menciptakan hukum adat itu,” kata Modin lagi memohon dengan menghiba.

Pengantin Tujuh Purnama“Hukum adat itu sudah tidak relevan lagi. Bahkan di dalamnya mengandung unsur sadisme. Makanya harus dihapus dan ditiadakan.”

“Justru hukum adat itu sangat relevan di masa kini, di mana dekadensi moral semakin bobrok. Ia memberi pelajaran efek jera bagi siapa pun yang akan berbuat zina. Zina adalah dosa besar dan siapa pun pelakunya harus dirajam!”

Adalah Simbah Ibrahim dan Nyai Halimah pencetus hukum adat “Pengantin T ujuh Purnama”. Konon kabarnya Simbah Ibrahim adalah salah satu santri dari W ali yang ada di tanah Jawa. Setelah dirasa cukup ilmunya Simbah Ibrahim mendapat perintah dari gurunya agar berjalan kearah utara. Santri yang sangat tawadhuí itu menuruti perintahnya. Ketika sampai di sehampar lereng yang diapit dua bukit kembar di mana di tengahnya terdapat sebuah sungai Simbah Ibrahim terpesona. Dan memutuskan akan membuka kampung baru bersama 40 pengikutnya. Pilihannya tidak salah, hamparan lereng itu sangat subur hingga mereka bisa hidup rukun dan makmur . Selain men – ciptakan hukum adat “Pengantin Tujuh Purnama” beliau juga mengajarkan cara membuat rumah adat. Rumah adat dengan dapur yang berada di sisi kiri rumah yang menghubungkan ke pintu tengah dan ruang tamu. Maksudnya kalau menyuguhi tamu biar mudah. Juga kamar mandi selalu ada di depan rumah, yang maksudnya agar kalau bangun tidur jangan kesiangan. Kalau kesiangan bila mau mandi atau mengambil air wudlu untuk sembahyang maka menjadi malu.

Sesungguhnya Darhim ñ anak Ki Lurah itu sengaja berbuat mesum dan berharap ketangkap basah agar bisa dinikahkan dengan gadis pujaannya. Karena selama ini hubungannya dengan Lestari selalu ditentang orangtuanya. Alasannya selalu klasik karena Lestari hanyalah anak buruh cangkul di sawah dan kebun. Dan Ki Lurah Barghowi sudah menyiapkan calon istri buat dirinya. Nanik anak blantik kerbau yang sukses dan sekaligus sebagai pedagang daging kerbau yang memasok puluhan penjual soto kerbau dan sate kerbau.

Jadi ada dua alasan kenapa Ki Lurah ingin menghapus hukum adat itu; yang pertama ia tidak ingin anaknya menikah dengan Lestari, yang kedua kalau sampai hukum adat itu dijalankan ia pasti sangat malu sekali. Tak bisa membayangkan pada setiap bulan purnama kedua mempelai itu diarak keliling kampung hingga sampai tujuh kali setiap purnama tiba. Kedua mempelai itu didandani asal-asalan. Pengantin wanita dibedaki tebal tipis dan bibirnya diolesi gincu merah tebal. Yang lelaki wajahnya dicoreng-moreng dengan arang. Di belakang kedua mempelai kedua orangtua harus mengiringinya. Diarak keliling kampung mulai jam 8 malam hingga menjelang tengah malam dengan diiringi tetabuhan gending dan siapa pun boleh ikut mengantar di belakangnya. Nah, cara itulah yang dikatakan Ki Lurah mengandung unsur sadisme. Apalagi seiring berjalannya waktu setiap ada prosesi hukum adat “Pengantin Tujuh Purnama” banyak dikunjungi orang yang berada di luar kampung Rejomulyo.

Satu hari menjelang bulan purnama digelar kembali rapat di Balai Desa. Untuk menentukan dihapus dan tidaknya hukum adat “Pengantin Tujuh Bulan”. Seperti biasa rapat baru dibuka sudah memanas dan penuh debat sengit yang berkepanjangan. Rapat sampai diskros berkali-kali. Karena setiap dibuka kembali selalu menemui jalan buntu. Akhirnya untuk menentukan dihapus dan tidaknya hukum adat disepakati dengan jalan voting.

Dan ketika dihitung ternyata banyak yang setuju hukum adat “Pengantin Tujuh Purnama” diha – pus. Modin berkali-kali mengelus dada dan beristighfar . Ketika rapat bubar salah seorang Kamituwo membisiki telinganya, kalau Ki Lurah Barghowi menyogok beberapa peserta rapat dengan uang untuk memuluskan usulannya.

Bulan purnama tiba. Para penonton dari tetangga Desa pada kecewa karena tidak jadi ada prosesi “Pengantin Tujuh Purnama”. Malam pun berjalan seperti biasa. T api menjelang Subuh, di luar angin menderu. Mendung tebal menggantung di atas kampung Rejomulyo. Angin terus menderu dan mendesis-desis seperti ular berbisa. Hujan sangatlah lebat. Angin puting-beliung membedol pohon-pohon, menerbangkan genteng-genteng rumah. Angin terus menderu kencang dan mengamuk merubuhkan rumah-rumah, dan orang-orang pada berhamburan keluar dengan jeritan histeris dan ketakutan. q -e

Kudus, 2019.


Amir Yahyapati, lahir di kota kretek Kudus 23 Desember 1962. Menulis sejak tahun 1980, dan sejak tahun itu pula tulisan – nya yang berupa cerpen dan puisi telah dipublukasikan di berbagai media massa | “Kedaulatan Rakyat

Pengantin Tujuh Purnama
4.5 (90%) | 4 Pembaca

Keterangan

[1] "Pengantin Tujuh Purnama" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu 23 Juni 2019