Penjilat – Doa yang Dipinjam – Salih yang Salah

Karya . Dikliping tanggal 10 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Penjilat

Kelak, Nak
Jika kau sudah pandai menjilat
Aku sarankan kau jadi pejabat
Tak perlu punya hati bersih dna kerja tanpa pamrih
Cukup punya niat licik dan tega melihat rakyat dicekik
Itulah tolok ukur kesuksesan pejabat, Nak.
Jangan heran
Memandangi banyak rakyat tak bisa makan
Haknya disunat sebagian
Sunatan itu bukan cuma ujung “anu”mu diikhlaskan
Tapi sunat-menyunat juga berlaku untuk anggaran
Empat puluh persen kata iklan
Nak, sebenarnya kita bisa makmur
Karena tanah Indonesia memang subur,
Serupa pengantin baru yang saban malam siap tempur
Sayang, pesohornya tak mau jujur
Asal mujur, tak apa muka ditaruh di dubur!
Buuur, buuuurr
Indonesia makin buram 
Politiknya bikin seram
Sana-sini banyak dendam
Tapi, Nak
Harapan tak boleh padam
Indonesia bisa kau genggam

Doa yang Dipinjam

Tuan Malaikat yang terhormat,
Tolong sampaikan pesanku untuk direkturmu itu,
Doa yang aku kasih pinjam kemarin belum dikembalikan.

Salih yang Salah

Beda jalan
Bukan artinya sesat
beda paham tak melulu kafir
Kita hidup dalam kebusukan
Menghentikan langkah tuhan di ujung lisan
Hati digembos kebencian
Kasih dihilangkan atasnama; katanya kebenaran
Tuhan diajak merusak
Lalu membumihanguskan; katanya kesesatan
Tampaknya
Kita sedang gandrung
Pada paham
Kesalihan terdapat pada ‘aku’
Dan kesalahan terdapat pada ‘kamu’
Ingat-ingatlah lagi dogma cinta
Yang hilir mudik dalam kitab suci
Jika itu tak bisa dijadikan pedoman
Kenapa tidak Tuhan sekalian kau kafirkan.
Wawar Suwardi Quba. Penyair, tinggal di Bogor.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wawar Suwardi Quba
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 10 Januari 2016