Penjual Jam dan Cerita Dora

Karya . Dikliping tanggal 12 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
PENJUAL jam memiliki toko kecil di sudut pasar barang antik yang selalu padat di akhir pekan atau musim liburan. Di toko, ia hanya menjual bermacam-macam jam rantai bermata bulat dan semuanya sudah mati. Jam-jam itu disusunnya di etalase dan beberapa ia tumpuk dalam kotak-kotak kayu di lantai. Setiap musim liburan tiba, para pelancong singgah ke tempatnya dan banyak mengajaknya bercakap-cakap tentang kenapa ia menyukai jam antik atau di mana ia mendapatkan jam atau tahun berapa jam dibuat atau negara mana yang membuatnya. Ia bukan orang yang suka bicara. Bahkan termasuk sangat pendiam. Bicaranya hanya sedikit dan itu pun kalimat pendek saja.
Namun, ia beruntung punya istri seorang pendongeng. Perempuan yang pertama kali dilihatnya tengah dikerumuni anak-anak pada satu siang. Perempuan itu membawa kantong kain warna hitam dan dari sanalah ia pura-pura mengambil cerita yang kemudian dibagi-bagikan pada anak-anak. Semua anak-anak tertawa melihat aksinya. Mereka percaya sekali kalau perempuan pendongeng dan kantongnya sengaja diciptakan untuk menghibur hati anak-anak di dunia.
“Lagi, lagi…,” rengek mereka.
Perempuan pendongeng memasukkan sebelah tangannya dan dengan sedikit dramatikal ia mengeluarkannya lagi. Anak-anak menahan napas. Anak-anak tak berani bergerak. Namun, tangan perempuan itu tak kunjung dibuka. Ternyata ia telah ditawan sepasang mata penjual jam yang melihatnya dari seberang jalan. Sejak itu anak-anak tidak lagi tertawa. Mereka tak pernah lagi menunggu perempuan itu lewat.
“Aku ingin selalu mendengar kau bercerita,” kata penjual jam menyembunyikan semu malu di satu siang –sebab betapa ia merasa menjadi anak-anak. Saat itu mereka sudah beberapa kali bertemu. Ia sudah tahu kalau perempuan pendongeng bernama Lili dan ia sangat menyukai nama itu seperti membayangkan setangkai permen.

Penjual jam melalui masa kecil yang buruk. Setiap hari ayah dan ibunya berada di toko jam antik milik keluarga mereka. Ia sering ditinggal sendirian di rumah. Kesepian. Muram. Tanpa teman. Sampai suatu hari ia punya seorang pengasuh yang menemaninya belajar dan bermain. Dora, pengasuh baru itu, perempuan muda yang senang memberinya permen dan berbeda sekali dengan pengasuh tua dan cerewet yang sudah lama meninggalkannya karena sakit dan membuat ibunya setiap pagi mengeluh betapa susah menemukan seorang pengasuh yang bisa dipercaya.

“Jangan bilang-bilang ibumu,” bisik Dora tiap memberikan permen padanya.
Ia tertawa karena daun telingannya terasa geli.
“Ingat, kita dalam masalah kalau kau tidak menurutiku,” ancam Dora sambil menjepit pergelangan tangan penjual jam kecil dengan jari-jarinya.
Penjual jam menggerakkan kepalanya seolah ia baru saja tertidur. Ia menemukan wajah Lili yang tersenyum –atau tertawa kecil–dan memandanginya. Perempuan itu seolah tidak yakin apa yang dipinta penjual jam. Selama ini Lili hanya bercerita untuk anak-anak. Dan memang hanya anak-anak yang menyukai ceritanya.
Langit biru dan embun sudah lama kering di daun-daun. Penjual jam melihat ke jalan di depan mereka. Jalan. Ia ingat Dora. Pengasuhnya itu sangat suka jalan kaki. Ia menyusuri jalan-jalan di kota sampai tubuhnya berkeringat dan karena itulah sering menyogoknya dengan permen agar tak bercerita pada ibunya perihal ia yang sering meninggalkan rumah. Penjual jam ingat mata Dora yang pemarah. Kulit Dora yang licin dan berkilat. Kaki Dora yang telanjang. Dora yang membentaknya, “Lelaki kecil jalang!” –saat ia mengintip di celah pintu ketika pengasuh itu selesai mandi.
Setelah kejadian itu, Dora meninggalkan rumah selama-lamanya. Setelah kejadian itu, penjual jam hanya bisa memikirkan pengasuhnya itu saja dan sendirian sepanjang hidupnya sampai kemudian bertemu Lili.
“Apa kau pernah membuat cerita tentang Dora?”
“Dora?” Lili mengernyitkan keningnya dan menggeleng.
“Berceritalah tentang Dora.”
Dora mengenakan gaun biru hari itu. Ia berdiri di tepi sebuah danau. Seseorang telah berjanji padanya akan datang dengan sebuah perahu. Namun, berjam-jam Dora di sana, seseorang itu tidak pernah datang. Dora tak bisa berbalik. Ia memejamkan matanya dan meminta waktu mengambilnya. Waktu mengabulkan permintaan Dora dan memasukkan Dora ke dalam sebuah jam yang telah mengatur banyak pertemuan. Di sana Dora tetap menunggu. Sampai jam itu lelah. Lalu mati. Dan waktu lupa menjemputnya pulang.
Penjual jam terpana. Sejak hari itu ia tahu kalau hidupnya hanya untuk memikirkan Dora dan menjalaninya bersama Lili.
***
Setelah mereka menikah dengan cara paling sederhana yang bisa mereka usahakan, Lili kerap berada di toko bersama penjual jam. Bila calon pembeli membawa anak kecil, maka Lili akan mengajak anak itu bermain dan menghadiahinya sebuah cerita dan membiarkan suaminya menjelaskan apa-apa yang perlu diketahui orang tentang jam antik yang mereka jual. Namun, lama-lama toko mereka semakin sepi. Lebih-lebih jika musim liburan usai. Semua orang seolah tidak lagi membutuhkan jam antik. Jika sudah begitu toko mereka terlihat semakin tua dan murung dan debu-debu di kaca etalase cepat sekali menjadi tebal.
“Apakah kita harus menutupnya?” tanya Lili hati-hati.
Penjual jam memandang Lili datar dan tidak bicara apa-apa.
Lili mengerjakan apa saja yang bisa dilakukan di sudut tokonya yang kecil untuk membuatnya terhibur. Kadang ia membawa benang rajutannya, membuat taplak meja atau topi. Dan di waktu lain, ia membawa potongan-potongan gelas minuman dari plastik yang ia temukan di jalan atau tempat sampah untuk dianyam jadi rantang. Sementara, penjual jam lebih banyak duduk diam menghadap etalase, mengamati orang-orang yang lewat. Berada di toko sepanjang hari, sangat menyiksanya. Kalau bisa, ia ingin cepat-cepat berada di tempat tidur di rumahnya dan memandang wajah Lili yang bercerita tentang Dora. Penjual jam mendesah. Ia tak mungkin menutup toko sebelum sore. Namun, tentu ia dapat keluar sebentar untuk melihat jalan-jalan utama yang lebar tempat dulu ia mengejar Dora dan pengasuhnya itu tak pernah menoleh dan hilang dalam sebuah bus. Sudah lama sekali ia tidak berdiri lama di jalan itu.
Penjual jam sudah keluar dan menjauh. Lili memandang hampa ke punggung lelaki itu.
Seseorang masuk ke toko jam, Lili cepat-cepat melepaskan rajutan dan berdiri. Ia tidak tahu apa-apa tentang jam antik. Namun, ia bisa membuat orang itu berlama-lama di toko sampai suaminya datang. Lili mengambil sebuah jam dan meletakkannya di atas kaca etalase. Seseorang, perempuan berwajah kemerahan, tampak tertarik ketika ia berujar, “Apa kau pernah berpikir setiap barang antik menyimpan sebuah dongeng di dalamnya?”
Perempuan itu terkikik sebentar, lalu, “Waktu kecil aku banyak mendengarnya dari ibuku.”
“Bagus,” seru Lili. Ia mengangkat jam rantai warna perak dengan mata jam yang bulat. “Ada perempuan bernama Dora dalam jam ini,” ujarnya tenang dan berusaha meyakinkan.
Tamu tokonya tersenyum dan mengambil jam itu, “Dora, dulunya seorang anak yang tidak bahagia. Orang tuanya tidak begitu mencintai ia dan sering mengurungnya di kamar.”
“Suatu malam, jendela kamarnya tiba-tiba terbuka,” sambung Lili.
“Angin menderu di luar.”
“Langit gelap. Tak ada bulan dan bintang-bintang.”
“Dora melihat jam rantai di meja di samping tempat tidurnya. Jam yang diam-diam ia ambil di lemari ayahnya. Ia menyukai angka-angka pada jam itu dan suara tik-tik bila ia mendekatkannya ke telinga.”
“Pukul dua. Dora mendadak beku. Ia tak berani bergerak lagi. Ia ingat dongeng ibunya tentang makhluk dari alam lain yang mencuri anak-anak pada tengah malam tepat pada pukul dua.”
“Setelah malam itu, Dora tak ditemukan lagi di kamarnya.”
“Pembantu di rumah itu menemukan jam rantai terjatuh di lantai. Ia tidak pernah tahu kalau bunyi tik-tik dalam jam itu telah menarik hati Dora dan membuatnya terperangkap di dalamnya.”
Lili dan pengunjung tokonya itu bertatap lama, sebelum tawa mereka pecah, setengah tak percaya kalau mereka baru saja membuat dongeng bersama.
Perempuan itu memutuskan membeli jam rantai antik di tangannya dan sebelum meninggalkan toko ia berkata, “Aku ingin kau mengingat namaku.”
“Ya?” timpal Lili.
“Namaku Dora.”
***
Lili jatuh sakit. Di toko kecilnya, sudah berhari-hari, ini, penjual jam merasa sangat kesepian. Ia seperti kembali ke masa kecilnya. Namun, Lili masih berusaha keras menyiapkan sebuah cerita saat mereka sarapan pagi. Sehabis bercerita istrinya berpesan, “Ingatlah baik-baik apa yang kuceritakan tadi, siapa tahu hari ini kau kedatangan lagi pembeli yang lebih tertarik pada sebuah dongeng ketimbang jam yang kita jual.”
“Sudah cukup,” kata penjual jam, “kau kelelahan, Lili. Aku bersalah padamu.”
Istrinya menatap lembut –dan mungkin juga membujuk, “Sudah sejauh ini. Aku tidak apa-apa.” Istrinya menguap dan mengatupkan matanya perlahan. “Pergilah, kau harus menjaga toko,” katanya.
Penjual jam berdiri dan meninggalkan meja makan. Istrinya akan tetap berada di sana sampai cahaya matahari menembus kaca dan membuat lehernya berkeringat. Ia menatap sebentar pada bahu istrinya yang tertutup syal –setumpuk syal yang tebal.
Belum ada seorang pun yang mengunjungi toko jam antik. Sementara penjual jam bersusah payah menjaga cerita Dora dalam kepalanya. Ia hanya punya satu cerita hari ini. Dan ia memang hanya mampu menyimpan satu cerita itu saja. Ia bukan seorang pengingat yang baik –kecuali tentang Dora dari masa kecilnya. Lebih buruk dari itu, ia bukan pencerita yang handal –sekali pun sekadar menceritakan ulang kisah dari istrinya.
Lalu seseorang berhenti di depan tokonya, dan bertanya, “Apakah benar ini toko jam antik yang menjual kisah Dora?”
Ia terdiam lama. Melihat perempuan di depannya, mengingatkan ia pada mata Dora yang pemarah. Kulit Dora yang licin dan berkilat. Kaki Dora yang telanjang. Dora yang membentaknya, “Lelaki kecil jalang!” –ketika ia mengintip di celah pintu ketika pengasuh itu selesai mandi.
***
Di rumah, Lili yang demam duduk di teras belakang bersama gulungan-gulungan benang wol yang berserakan dekat kakinya. Ia batuk-batuk berkepanjangan dan itu membuat tubuhnya bergetar. Kadang-kadang, bagian ujung benang menggulung jari-jari tangannya dan membuat jari-jari itu membiru lama. Lalu telapak tangannya tak sengaja tertusuk jarum dan ia tak mampu menarik jarum itu keluar selama berjam-jam dan ia hanya memandanginya bagai karya indah yang membahagiakan hatinya. ***
GP, 2015
Yetti A. KA, buku terbarunya kumpulan cerpen Satu Hari yang Ingin Kuingat (2014) dan novel Cinta Tak Bersyarat (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yetti A. KA
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 11 Oktober 2015 
Beri Nilai-Bintang!