Penjual Tawa dan Kunang-Kunang

Karya . Dikliping tanggal 8 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Penjual Tawa dan Kunang-Kunang

Di telapak tanganku, ada yang telah menuliskan takdir
Kisah seorang penjual tawa dan sekelompok kunang-
kunang dalam botol
Yang selalu ia bawa ke mana-mana
Untuk ditawarkan dengan selendang bidadari.

Suatu hari penjual tawa meletakkan mahkota di
kepalanya
Lalu-ditumbuhkan bunga melati di matanya
Tempat kunang-kunang berteduh dan membawa
dendam rindu
Pada ranting-ranting waktu.

Kunang-kunang pengantar tidur bermandikan cahaya
bulan
Diselipkan satu persatu dalam selendang
Berderailah senyum dari wajah pualam
Sebab pohon hikayat telah terdedah
Dari epitaf cinta yang terbelah.

Cirebon, 26 September 2018

Bulan dan Bayangan

Zha…
Izinkan aku menari dengan bulan dan bayangan
Di pucuk malam bersama selimut tebal
Di bawahnya mengalir sungai kehidupan.

Ketika matahari tercelup di kolam
Adalah separuh tubuhku hinggap di haluan dan
sisanya hilang bersama anai.
Tidak. Tidak kubiarkan hari-hari gigil
Awan menangis
Ataupun
Lidah ombak kembali menjilat pasir.

Zha… itukah kau?
Ah, ilalang masih saja gersang
Ketika tangan waktu memotong suaramu
Dari tatapan yang terbuang
Dan segalanya menjadi remang
Dalam percakapan bulan dan bayangan
Kau masih saja mengigau.

Cirebon, 13 Juli 2018

Angin September

Angin September
Menghantam langit
Biji kalender berjatuhan
Dalam kota kering.

Angin September
Menyapu sekujur tubuh
Tunas gerimis tumbuh
Dan Tuhan sedang tidak ingin
Bermain-main.

Cirebon, 26 September 2018

Setetes Embun

Jika aku mampu menangkup setetes embun pada
cangkirku
Adalah taring waktu yang semakin meruncing
Menunggu pohon awan begitu lengang
Dan jambu muda yang telah lama diperam oleh garis
tangan
Cerukannya tersesap mengikuti hulu
Berkelok
Di bawah jembatan batu
Adalah titih yang berhamburan di udara
Jika dinding jiwa lembab
Dan terkulai mati pada trembesi.

Cirebon, 9 September 2018

Mata yang Bersuara

Sungguh tak dapat kukantongi huruf-huruf
Yang jatuh dari mulutku
Saat kulihat keagungan-Mu mencipta segala warna
Dengan bait cinta paling suci
Hanya zikir kulantunkan kepada-Mu
Di sela-sela jantungku segala napas merekat dan
berakar
Menjalar di tunas kehidupan
Tunduk dan merenung:
“Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”

Cirebon, 26 September 2018

Hidup

Di tubuhnya sungai terbaring
Bersama angin menghitung usia kian merambat
Di antara rimbunan puisi-tak pernah mati
Hidup pada akar hayat, sekedar pengelana
Sejenak singgah dan khusuk pada kembara
Menunggu pagi terbit
Juga senja berwarna saga
Saling membagikan potongan kisah
Dalam cangkir tualang paling tabah.

Cirebon, 25 September 2018

Tumbuh

Ada yang tumbuh di kepalamu
Di pangkal malam setia menemani tidurmu
Ia tak bersuara
Mengelilingi hari yang kian berdenyut
Hinggap dan enggan menanggalkan semua yang
didendangkan rembulan.

Ada yang tumbuh di jantungmu
Berdetak
Mengikuti darah yang berjalan di suatu pagi dengan
banyak tanya
“Apakah Tuhan sudah menghidupkan semua pohon di
tubuh?”

Ada yang tumbuh di matamu
Sebiru laut
Merentangkan semua lanskap
Yang disediakan Tuhan
Lindap di kantung hari yang dikeringkan matahari.

Ada yang tumbuh di kakimu
Berjalan mengikuti desir angin
Terkadang pincang
Hanya mengandalkan awan.

Semua yang tumbuh di tubuhmu
Adalah rumah
Tempat segala tubuhku bermukim
Pada serbuk cahaya yang dikirimkan
Tuhan di segala musim.

Cirebon, 13 September 2018

Neni Yulianti, lahir dan dibesarkan di Kota Cirebon. Anggota komunitas Dapur Sastra Jakarta (DSJ) dan Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Barat. Beberapa karyanya telah masuk dalam antologi buku tunggal Sang Sajak Tepi dan antologi bersama penyair Nusantara di antaranya (Hikayat Secangkir Robusta) Krakatau Award 2017 Provinsi Lampung, (Kunanti di Kampar Kiri) HPI Provinsi Riau 2018, (Gema Membelah Gema) GAPENA KE-20 Malaysia, dan (Epitaf Kota Hujan) Temu Penyair Asia Tenggara Padang Panjang 2018.


[1] Disalin dari karya Neni Yulianti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 7 Oktober 2018