Pensiun Melaut

Karya . Dikliping tanggal 14 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

(1)

LUKA meninggalkan cita-cita besarnya menjadi penulis. Ia melihat ayahnya tengah memasukkan enam ikat pukat ke dalam sebuah karung. Lalu memanggulnya. Menuruni undakan bebatuan. Lelaki itu dilihatnya berjalan dengan gagah tanpa menoleh ke belakang. Tanpa mengatakan apa-apa kepada dirinya.

(2)

HASRAT ingin mencegah ayahnya berhenti melaut tetap deras mengalir. Salah satu caranya memberikan modal usaha kerupuk ikan dari hasil tabungannya menulis. Uang itu sudah terkumpulkan dalam pikirannya saat ini, dan tahun-tahun sebelum ia lulus kuliah. Luka merasa sudah dewasa. Saatnya untuk mengganti posisi ayahnya dari kedua adiknya. Mengingat apa yang terjadi pada dirinya saat ini, ia terpukul. Detik ini ia belum bisa membuat ayahnya pensiun melaut.

(3)

‘’MAU kerja apa saya kalau berhenti melaut?’’ tukas ayahnya.
‘’Bisnis. Bisnis kerupuk. Bisnis rumput laut pasti bisa.’’ Suatu hari, Luka membujuk ayahnya.
‘’Kamu sajalah yang bisnis. Saya tidak bisa berhenti melaut.’’
Luka melihat wajah ayahnya lengkap dengan keputusasaan. Wajah yang kosong. Ketika Luka memandang kembali wajah ayahnya yang ia dapati hanyalah sepotong wajah yang ditengadahkan. Saat-saat yang sulit untuk mengungkapkan perasaan masing-masing. Dan Luka, setelah itu terdorong
ingin bertemu ayahnya lagi. Membujuknya sampai mau. Membuat ayahnya pensiun melaut. Warna gelap pada kulit ayahnya sudah cukup ia dapatkan selama puluhan tahun. Kerak kulit di telapak tangannya sangat tebal. Ayahnya pernah mengeluhkan bahwa ia kesulitan membaca Alquran pada malam hari. Luka tahu mata ayahnya sudah hampir rusak. Sinar dan panas matahari telah membakarnya.

(4)

‘’SAYA berencana bangun toko sederhana buat ayah. Supaya ayah tidak melaut,’’ kata Luka. 
Ayahnya yang sedang membawa kopi panas menuju ruang depan. Luka mengikutinya dari belakang. 
‘’Kamu kasih ayah modal saja buat bikin sampan baru.’’ 
‘’Dari mana Luka dapatkan uang sebanyak itu?’’ tanya Luka, sebagai sebuah penyangkalan.
‘’Kamu sudah berhenti menulis? Dulu kamu tidak pernah minta uang bulanan selama kuliah. Bisa kan menulis buku lagi kayak waktu itu?’’
Luka tercengang mendengar perkataan ayahnya. Luka diam karena tidak punya bahan obrolan.

(5)

AYAHNYA tahu, Luka menulis di koran. Tembok kamarnya penuh dengan pigura berisi tulisannya di koran-koran. Luka bilang kepada ayahnya bahwa ia mendapatkan uang bulanan dari hasil menulis. Setiap libur Lebaran Luka menunjukkan buku baru kepada ayahnya. Menulis buku juga menghasilkan uang. Ayahnya menganggut-anggut saja. Kalau tidak ada pekerjaan, ayahnya membuka-buka buku itu. Membacanya sampai tuntas. Tidak pernah berkomentar. Ketika ayahnya membaca satu buku, Luka melihat apa yang terjadi pada ayahnya seperti ketika ayahnya pergi menyelam ke laut. Luka berpikir keras untuk menjelaskan semuanya kepada ayahnya. Ia tidak mungkin menerangkan tentang profesi menulis kepada ayahnya. Luka terus berpikir keras. Ayah belum paham bisnis, batin Luka. Bagaimana ia bisa paham menulis? Luka memegang kepalanya. Lalu mencoba berpikir lagi. Untuk ukuran seorang nelayan, dari sekian pembendaharaan kata milik Luka, tidak ada lagi kata untuk mewakili profesi menulis.

(6)

‘’KATAKAN padaku, selain melaut, pekerjaan apa yang ayah suka?’’ tanya Luka.
‘’Tidak ada,’’ jawabnya.
‘’Berdagang atau beternak ayam?’’
‘’Saya tidak telaten dengan yang begituan.’’
‘’Mengapa tidak merantau ke Jakarta atau ke Bali?’’
‘’Saya sudah menggantungkan diri pada laut.’’
‘’Perlahan-lahan itu kan bisa diubah.’’
‘’Saya berhenti melaut, berarti saya telah membiarkan tujuh orang di sampan menjadi pengangguran begitu?’’

(7)

LUKA mengumpulkan uang dari hasil menulis, dan sebagian pinjam kepada seorang temannya yang pengusaha. Setelah uang dihitung dan setelah melihat uraian harga di komputernya, Luka berangkat ke kota sendirian. Jelang sore keungu-unguan ia datang. Sebuah mobil pikap dari belakang mengikutinya mengangkut sebuah traktor. Orang-orang yang melihatnya kaget melihat benda itu.
‘’Ini namanya traktor, Paman,’’ kata Luka kepada tetangganya yang ikut membantu benda itu diturunkan dari pikap.
‘’Luka belikan buat Ayah. Pada musim hujan nanti, tak perlu repot-repot sapi dikeluarkan dari kandang,’’ katanya lagi.
‘’Ini benda bukannya buat bajak sawah?’’ tanya si paman.
Luka menghela napas. Merasa diremehkan dan tidak tahu soal struktur tanah di tegalan dan di sawah.
‘’Sama saja, Paman. Sawah dan tegalan itu sama saja. Sama-sama dibuat untuk menanam, bukan?’’
‘’Oh ya ya.’’
Pamannya mengangguk-angguk saja. Lelaki paruh baya itu tidak tahu apa-apa. Dia tidak tamat sekolah rakyat. Sedang Luka, seperti kebanyakan orang tahu, telah jadi Sarjana Sastra. Sebenarnya, pamannya juga tidak tahu, jebolan sarjana begituan nanti bekerja jadi apa.

(8)

MUSIM hujan tiba. Musim yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang di kampung Luka. Luka sudah mengajari ayahnya cara menggunakan traktor yang didapatkan dari internet. Setelah memasrahkan sepenuhnya kepada ayahnya, konsep-konsep tata cara menggunakan, Luka meminta ayahnya langsung praktik. Karena Luka seorang mahasiswa, banyak orang-orang menganggut-anggut ketika suatu saat Luka mengajari ayahnya cara memegang traktor. Luka melakukannya tanpa praktik. Orang-orang terperangah pada metode yang diajarkan Luka kepada ayahnya.
Pada bagian praktik, Luka membiarkan ayahnya menyentuh traktor dan menyalakannya. Semuanya sesuai dengan metode yang diarahkan Luka. Dipegangnya dua setir traktor. Mesin menyala. Gas ditarik. Roda traktor mulai berjalan. Hasilnya, dan kejadian ini tidak banyak orang menduganya, dari gigi roda traktor itu tidak bagus, tidak maksimal, tidak seperti yang diinginkan oleh orang-orang yang terperangah sebelumnya. Beberapa pohon-pohon yang masih kecil dilindas gigi traktor dan patah.
‘’Kenapa bisa kena lindas pohon itu?’’ tanya ayahnya.
‘’Hati-hati jalannya, Ayah.’’
‘’Kalau kita memakai sapi, pohon itu tidak akan ditabraknya.’’
‘’Ayo dicoba lagi, Ayah.’’
Ayahnya menggunakan traktor itu dua putaran. Luka melihat ayahnya mematikan mesin traktor itu. Luka mendatangi ayahnya yang bermandikan keringat.
‘’Saya sudah capai. Kalau tetap mau pakai benda ini, kamu sajalah yang pegang.’’

(9)

TEGALANNYA tidak selesai dibajak. Orang-orang bubar setelah melihat cara traktor itu bekerja. Luka memanggil pamannya, memintanya untuk mengganti ayahnya. Tapi pamannya tidak tahu cara menggunakannya. ‘’Kamu keras kepala. Tahu traktor itu kayak itu, kamu belikan saja Ayah sampan.’’

(10)

LUKA sakit hati dan selama semalam tidak keluar dari kamarnya. Esok harinya Luka tengah tergesa-gesa memakai kaus berlengan panjang, celana panjang, lalu dilengkapi dengan penutup wajah, semacam pelindung dari agar tidak panas. Ia melihat ayahnya menuruni undakan bebatuan sambil memanggul pukat di pundaknya. Lelaki itu dia lihat berjalan dengan gagah tanpa menoleh ke belakang. Tanpa mengatakan apa-apa kepada dirinya.
‘’Ayah!’’ teriak Luka.
Ayahnya menoleh.
‘’Aku ikut melaut.’’ Luka meloncat dari undakan rumahnya. Suara yang lantang membuat ayahnya berhenti ketika menuruni undakan bebatuan. Luka bergegas. Kakinya menjejaki turunan yang terbuat dari batu-batu yang diambil dari tengah laut. Girang bukan kepalang dibuatnya. Luka sangat girang karena ayahnya tidak menolak keinginannya untuk melaut. Tak peduli nanti apa kata orang kalau seorang sarjana bekerja sebagai pelaut.

(11)

SORE itu Luka ikut ayahnya, sore yang hampir berubah menjadi gelap. Samar-samar suara mesin sampan menyala tepat ketika matahari tenggelam di atas permukaan air. Dan ketika tiba di tengah laut hari sudah sangat gelap. Di daratan tampak lampu-lampu dari rumah-rumah bagaikan tumpukan bintang-bintang dan memanjang. Luka melihat pemandangan itu teringat dengan suasana di atas bukit yang melihat lampu-lampu kota dari atas bukit. Ia sangat senang. Seperti menemukan masa lalunya semasa kuliah.
Pukat ditebar dan ditenggelamkan. Sunyi. Di tengah laut, jika tanpa percakapan para nelayan itu, dan jika mereka sudah tertidur, di tengah laut itu Luka merasakan sunyinya sunyi. Sunyi sekali. Lampu-lampu yang memanjang di daratan semakin remang. Langit gelap. Lamat-lamat dingin bersamaan dengan sayup-sayup angin yang tipis. Kecipak air di perut sampan terdengar, juga dengkur para nelayan. 
‘’Cara melaut yang tradisional.’’ Luka lalu menghela napas. Pelan dan pelan.

(12)

SEBELUM gelap hilang di tengah lautan, ayah Luka berteriak setelah matanya menangkap sesuatu mengambang di atas air. Lelaki itu melompat dan melejitkan tubuhnya di atas air. Para nelayan yang lain terbangun dan melihat ayah Luka hampir mendapatkan benda yang mengambang itu. Lelaki itu, yang berenang dengan kekuatan super-cepat, yang jantung-jantungnya ditahan kuat-kuat, hampir saja mendapatkan benda itu. Tapi ombak melemparnya lagi, yang bergulung-gulung dan menyeretnya lebih jauh. Lelaki itu terus berkelahi dengan ombak, yang tubuhnya memiring ke kiri dan ke kanan, kemudian menembus gulungan ombak dalam keremangan, hampir mencapai benda yang mulai dikenalinya sebagai sosok mayat. Lelaki itu terus menerjang ombak, melawannya tanpa menyerah. Usaha lelaki itu tidak sia-sia. Ia mengenal baju mayat itu, lalu tubuh, lalu wajahnya. Ia pelototkan matanya lagi sekalipun perih; baju mayat itu, tubuh mayat itu, dan wajah mayat itu. Lelaki itu menoleh ke atas sampan untuk memastikan keraguannya. Ia menoleh berkali-kali dan terus memastikan dengan matanya yang mencari-cari. Ia lihat tubuh yang diayun-ayun air di depannya itu.
‘’Lukaaaaaaaa!’’ (62)
Papringan, 20 Agustus 2015
Mawaidi D Mas, penulis dan aktif di Jurnal Kreativa FBS UNY
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mawaidi D Mas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 13 September 2015