Penyair yang Bunuh Diri dalam Puisi – Aku Kembali ke Jantungmu – Jubah Rindu – Celoteh Para Aktivis – Meninggalkan Petang – Secangkir Kopi di Atas Meja – Selepas Adzan Siang Lewat

Karya . Dikliping tanggal 13 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Penyair yang Bunuh Diri dalam Puisi

Beginilah cara memaknai luka
Penyair yang merendam nasip buruk itu
Setelah kesepian berkepanjangan
Ia menulis puisi dan lalu dibiarkan
Kini ia terkulai sebab ribuan kata-kata
Menusuk dirinya, mencabik bahasa jiwa
Lalu dipaksa bunuh diri dalam puisi
Tetapi aku percaya betapa merdu matinya

Aku Kembali ke Jantungmu

Aku kembali ke jantungmu
Membawa kenangan yang kutangkap
Dalam sisa hidupku
Di jalan patah ini mari nyalakan mimpi
Gedung-gedung tahan banting
Suruh juga menari
Aku tak tahan menyaksikanmu
Berlinang darah debu
Di antara sesak lorong panjang
Aku kembali ke jantungmu
Namun tak pernah sampai

Jubah Rindu

Sepulang dari warung kopi
Aku melangkah di dalam gelap
Tersandung jenjang bayangmu
Yang ranggas di jalan ingatanku
Dalam dekapan dingin
Aku menjadi orang yang dibuang dari angin
Pada gang-gang sempit memantul hari silam

Padahal asap udara tak usai membubung di atas kepala
Merangkai nyala dan bara terjangkau runcing cahaya
Dalam sebuah haru biru ada yang disaungkan
Pada jubah rindu
Nyaris bayang kita bertabrakan lalu kembali
Kau menyerahkan diri pada sunyi

Baca juga:  Asta Tinggi - Tinta Air Mata - Aku Ingin Berbisik Kepadamu - Potre Koneng - Sumekar - Joko Tole

Celoteh Para Aktivis

Adakah antara kita ingat
Pada jejak masa kecil yang dibiarkan
Menumpuk di atas bangku-bangku sekolah
Lalu berubah dari pikiran yang keluar dari ucap
Para demonstran
‘Bahwa aku cuma karangan orang-orang
Yang gugur di medan perang dan gagal disebut pahlawan

Sekali lagi, jangan cari sisa hari
Yang mungkin kau pernah sesali sendiri
Biarkan ia lewat melampaui duka lara
Sambil menyebut-nyebut kebenaran yang palsu
Sebab di sana hak dan batil bakal bertemu

Meninggalkan Petang

Mungkin kita masih saling merindu
Sebagaimana kali pertama kita bertemu
Kita segera meninggalkan petang
Dengan segala cemar meriang
Sampai saatnya tiba kita berbicara
Sambil menunggu kembali cinta menyala

Sepanjang harap dan cemas
Mengingatmu waktu bersandar ke bulan
Menuturkan sepi pada halaman angan-angan
Yang dibawa malam ke senyap cerita
Mungkin kita masih saling merindu
Setiap gerhana malam datang bertamu

Baca juga:  Tirakatan

Secangkir Kopi di Atas Meja

Kubiarkan ia menatapku
Menunggu sentuhan manis sepasang bibir
Sampai dingin menggetarkan dirinya
Tanpa menolak panas atau dingin air
Tapi selama aku menyukainya
Tak pernah kutemui ia berdiam seorang diri

Apakah cinta jika dibiarkan tanpa wadah
Juga akan tumpah?
Tanyaku pada secangkir kopi
Yang menemaniku menghitamkan sunyi

Ketika dingin malam tiba
Lempengan tubuhku menjadi tembaga
Dan aku mendapati tanganku
Saling bersentuhan dengan waktu
Seperti secangkir kopi di atas meja
Sebongkah usia menguar darinya

Selepas Adzan Siang Lewat

Masih kukenal suaramu
Yang melengking menyusuri siang
Aorta musik di gedung tingkat itu
Mengeram dalam mikrofon
Dan selalu terngiang di pagi buta
Tidaklah kau dengar panggilan Tuhan
Yang menyeru setiap hati jelaga dan berbatu

O, Jangan takut pada sengat api
Kau hanya perlu membayangkan kuburan
Yang di dalamnya tersimpan mayat-mayat sunyi
Dan kelak musti paham bagaimana malaikat turun menembus
malam
Sebab embun dan gerimis bayang-bayang
Telah mengajari pohon-pohon tumbuh menyentuh awan

Baca juga:  Antara Inokashira jeung Shibuya

Ada yang tak kupahami di sini
Pada janur lepas-jatuh berdiri
Konon dapat dibikin azimat
Untuk menempuh jalan akhirat

; selepas adzan siang itu berangkat

Malang, 2015

Subaidi Pratama, lahir di Sumenep, 11 Juni 1992.
Bergiat di komunitas diskusi Sastra “Malam Reboan”. Puisinya pernah dimuat di berbagai media.  an terbit dalam buku bersama, ’Festival Bulan Purnama’ (Trowulan Mojokerto 2010). Mahasiswa Unitri Malang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Subaidi Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 13 September 2015