Perempuan Cantik Dalam Remang-Remang

Karya . Dikliping tanggal 17 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
AKU selalu berada di pinggir jalan reman-remang itu. seperti menunggu, tetapi sebenarnya tak menunggu. Kadang aku justru mencari. Mencari dalam keadaan yang seperti orang menunggu. Orang-orang yang lewat itu.
BEGITU melihatku, ada yang matanya akan terus lekat kepadaku. Sampai-sampai jalannya kacau atau mengacaukan jalan orang lain. Ada yang sok jual mahal, padahal aku tahu ekor matanya tak pernah lepas dariku. Ada yang biasa-biasa saja, tetapi aku tahu hatinya amat menginginkanku, bahkan mengkhayalkan kapan dapat mendatangiku secara diam-diam. Ada yang merasa jijik karena mengira aku adalah kotoran yang tak patut disentuh. Ada pula yang justru takut karena aku dianggapnya serupa iblis betina.
Betapa aku sudah hafal macam-macam tabiat mereka karena aku sudah lama berada di pinggir jalan remang-remang itu. Sudah sejak umur lima belas aku melakoni ini. ibu bapakku sampai seperti orang gila saat masa-masa awal dulu. Ibu gemar sekali mengomeli dan menyumpahi aku. sementara bapak sedikit-sedikit main tangan jika aku tak mau dengar apa katanya.
“Apa yang kamu cari, hah?” begitulah dulu tangan bapak berbicara. “Sampai kapan kamu akan bikin malu keluarga?!” sambil menamparku.
Kubiarkan memar-memarku diam menyimpan perih. Toh nyatanya aku masih kuat bertahan sampai sekarang. Setiap malam berdiri menunggu di pinggir jalan reman-remang itu. Sementara ibu bapakku sudah menyerah duluan. Mereka mengusirku dan tak menganggapku anak lagi. Seolah aku adalah hasil salah kejadian yang seharusnya tak terjadi pada mereka. 
Kau atau siapa pun takkan pernah tahu bagaimana itu bisa terjadi kepadaku. Kejadiannya seperti ketika kau sedang harus atau lapar, lalu kaupun segera minum atau makan. Aku hanya berdiri di pinggir jalan remang-remang itu. sementara beragam reaksi mata saat melihatku, sungguh itu kesalahan mereka sendiri.
**

KEMUDIAN aku tahu namanya Iman. Seorang lelaki berwajah teduh yang beberapa kali melintas di jalan di hadapanku. Tatapan matanya kerap membuatku penasaran setengah mati. Asal kau tahu selama ini, aku bisa menebak karakter seseorang hanya dari tatap mata. Mungkin karena setiap hari terbiasa melihat berbagai cara mata menatapku. Mata bisa sepert jendela yang memperlihatkan sebagian isi rmah pemiliknya.

“Kau ketuk saja pintu rumahnya saat istrinya pergi,” suara Bahaim kembali terngiang di telingaku. Tak seperti mata Bahaim yang di sana seolah ada dua tangan yang hendak meraihku, mata Iman justru seperti mata kesedihan yang menertawakanku. Jika biasanya akulah yang kerap menertawakan kelakukan mata-mata itu, di mata Iman aku justru seperti lelucon anak kecil yang menyedihkan. Sakit sekali rasanya  aku diperlakukan seperti itu.
Betapa aku ingin memastikan apa yang sebenarnya tersimpan di dalamnya. Karena itulah sekarang aku telah berdiri di ambang pintu rumahnya. Mengetuk-ngetuk pintu dengan hasrat tertahan-tahan. “Mana ada lelaki yang sanggup mendiamkanmu? Pasti dia seorang munafik!” suara Bahaim lagi.
Cukup lama aku menunggu. Semakin menunggu, semakin membuatku menggebu-gebu. Hingga akhirnya muncul juga sosok itu. lelaki yang kedua matanya masih juga berisi kesedihan yang seolah menertawakan keberadaanku. 
“Mari silakan masuk,” sopan sekali sikapnya. Seolah tak menyimpan keinginan lain yang tersembunyi. Membuat yang berdiam di dalam dadaku sedikit marah. Sebab biasanya, para lelaki itu akan menampakkan sifat aslinya begitu aku berkunjung dalam keadaan sepi begini.
“Sendirian ya, Bang?” siapa pun tahu bahwa suaraku merdu.
“Iya, istri saya kebetulan sedang tak di rumah. Ada perlu apa ya?” masih berlagak tenang. 
“Hanya ingin main, Bang. Ingin lihat-lihat kondisi rumahmu. Selama ini saya penasaran sekalidenganmu, Bang. Baru kali ini kesampaian berkunjung ke sini.” Takkah ia melihat gelora hasrat lewat kedua mataku? kuberikan juga isyarat lewat bahasa tubuh. Demi tuhan, pada saat-saat seperti ini, biasanya para lelaki yang aku hampiri, matanya sudah waspada tengak-tengok kanan kiri. Lalu setelah memastikan keadaan, para lelaki itu pun akan kembali memastikan keinginaku.
“Aku buatkan minuman dulu ya?” kedua matanya masih saja terjaga. Masih ada kesedihan yang seolah semakin tertawa-tawa saat melihat gelagatku.
“Tak usah, tak usah. Aku tidak haus. Aku hanya ingin main sebentar, ingin ngobrol denganmu.”
Ia bilang tak keberatan. Tapi, ia memaksa ingin membuatku minuman untukku. Hingga akhirnya kuputuskan cara ini saat dia masuk ke dalam rumah. Diam-diam aku menyelinap ke dalam kamarnya.
Harum langsung menyeruak begitu aku berada di dalam kamarnya. Entah parfum mereka apa yang dipergunakannya untuk mengharumkan seisi kamar. harumnya seolah beasal dari tiap benda yang berdiam di dalamnya. Harumnya juga menimbulkan sensasi yang aneh padaku. Ketika kurasa waktu untuk membuat teh sudah cukup baginya, aku pun mulai melakukan apa yang sebelumnya telah kurencanakan. Kutanggalkan semua pakaian yang kukenakan. Senyumku mengembang membayangkan apa yang bakal terjadi padanya.
**
AKU belingsatan. Sesuatu yang meletup-letup dalam dadaku mulai berubah, dari yang semula gairah hasrat menjadi amarah. Demi tuhan, pada saat sudah sejauh ini, seperti kebanyakan ketika aku berada di rumah lelaki lain, seharusnya sudah terjdilah apa yang aku inginkan. Tapi, rumah ini justru mendadak kosong. Entah ia bersembunyi di mana. 
“Silakan diminum minumannya.” Mula-mula suara itu membuatku kaget karena saat kusambangi setiap sudut rumah ini, tak juga kutemukan sosoknya lagi. 
“Kamu dimana?!”
“Tentu saja aku di sini. Ini rumahku.”
“Jangan permainkan diriku. Aku tamumu!” kutantang keluar dia. Dengan tubuh yang aku yakin akan membuat matanya menyala-nyala.
“Aku tidak pernah mempermainkan tamuku. Bukankah kau masih mendengar suaraku? Aku masih menjamumu sekarang.”
Kembali kusisir setiap jengkal rumahnya. Namun, selalu hanya suaranya yang kutemukan, dengan bau harum yang misterius. Bahkan kemudian kudengar juga nama tuhan yang didesiskan berulang-ulang. Membuatku gerah. Membuatku ingin segerakeluar dengan rasa marah.
Namun, hal itu tak membuatku jera. Aku justru semakin tertantang. Beberapa lelaki lain (yang berhasil aku taklukkan) pun sempat tak percaya ketika aku ceritakan perihal Iman. Mereka bahkan memberiku beberapa siasat untuk menjebak lelaki munafik itu
Suatu ketika, aku pernah mengetuk jendela kamarnya dari luar. Tengah malam benar, saat kuperkirakan ia tengah bermesraan dengan istrinya, tentu saja agar tercipta sebuah kegaduhan yang luar biasa. Ia memang membukakan jendela kamarnya untukku. Tpai, kejadian serupa masih saja terulang. Begitu aku memaksa masuk ke dalam kamar itu, ia tiba-tiba saja menghilang alam satu kedipan mata. Hanya kudapati istrinya yang terbaring manis di pembaringan, serta suaranya yang justru seolah telah masuk ke dalam kepalaku. 
“Kau boleh saja main ke dalam. Aku takkan bisa melarang hal itu. Tapi kau takkan pernah bisa menjurumskanku untuk berbuat yang tidak-tidak. Aku hanya akan menerimamu dengan baik jika kau meniatkan kedatanganmu untuk sesuatu yang baik-baik saja,” suaranya, tanpa bisa kulihat di mana sosoknya berada.
“Yang baik-baik bagaimana maksudmu?”
“Aku tahun, telah banyak lelaki yang terperangkap dalam lembah dosa akibat ulahmu. Mereka terperosok dalam apa pun itu yang sekiranya bisa melunasi hasrat yang terlanjur sulit dikendalikan. Tapi aku tahu, sebenarnya kau juga bisa menjadikan keadaan mereka semakin baik,” ujarnya bijaksana. Membuatku muak.
“O ya?”
“Kau bisa membuat mereka bercerai dengan istrinya, tapi kau juga bisa membuat hubungan mereka semakin lengket. Kau bisa membangunkan semangat hidup para lelaki itu, tapi kau juga bisa membuat mereka terpuruk jatuh.”
“Aku bukan penyihir,” sahutku sinis.
“Iya, kau buka penyihir. Memang sudah sifatmu seperti itu,” ujarnya.
“Aku rasa kau salah. Mana bisa aku menumbuhkan kebaikan seperti yang kau ucapkan tadi. Asal kau tahu, orangtuaku pun bahkan sudah putus asa denganku. Karena itulah mereka lantas mengusirku,” mataku jelalatan mencari di mana bau harum itu berasal.
“Semua memang tergantung pada si pemilik rumah itu sendiri,” ujarnya kemudian meninggalkanku dalam sepi. Sepi yang biasa mengungkungku sehingga mencari-cari pelampiasan. Beruntung sekali istrinya itu. 
**
SEPERTI biasa, ketika lewat di hadapanku, si mata kesedihan itu masih terihat seolah menertawakan keberadaanku di pinggiranku jalan reman-remang. Mata itu seperti berbicara, “Hanya para lelaki bodoh yang kiranya bisa terjerumus oleh ulahmu.”
Sungguh, hal itu justru membuatku semakin terobsesi untuk terus mengunjungi rumahnya yang berbau harum itu. Entah ilmu apa pula yang dimilikinya sehingga bisa tiba-tiba menghilang dari hadapanku dalam kejapan mata. Aku yakin, suatu saat nanti pasti akan menaklukkannya! ***
Kalinyamatan, Jepara, 2014
*) Adi Zamzam, lahir di Jepara, 1 Januari 1982. Bersama kawan-kawan, saat ini sedang aktif mengawal berdirinya sekolah kepenulisan “Akademi Menulis Jepara”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 15 Februari 2015