Perempuan Dewi – Catatan Tugu seperti Tanganmu – Jika Kau Tak Menjelma Hujan – Jalan Berpulang Padamu – Ketika Angin Menyela Rindu – Sebab Hujan – Hujan Rindu

Karya . Dikliping tanggal 20 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Perempuan Dewi

Berdiri menatap halimun
nun jauh tak berkira
Di depan mata di hamparan rimba
gunung-gunung mengangkasa
sungai-sungai rendah terkapar
melampaui nadi
Siapa bangkit di ujung biru langit itu
wahai, dewi
Kota-kota redup
dalam langkah riuh
di batas kain membalut tubuhmu
Kaukah perempuan
memapah mahkota
di sepanjang jalan raya
tak berkedip dari pandangan
air mata
2015

Catatan Tugu seperti Tanganmu

melambai pagi itu di sisi Stasiun Tugu
Tak ada peluit yang mengabarkan
kehadiran
juga keberangkatan yang begitu tiba-tiba
Tapi, aku tak lupa jaketmu tertinggal
juga jejak yang terus mengekal
pada setiap lorong,
antara malioboro, mataram
dan batas kota
Kini, jalan-jalan itu sudah terkemas
di dalam etalase
yang penuh mainan, makanan, pakaian
kau mau ke mana? Di bawah beringin
menunggu jathilan atau menunggu
aku
2014

Jika Kau Tak Menjelma Hujan

Jika kau tak menjelma hujan
mungkin tak terhapus rindu di mataku
Dan angin hanya menggemakan
kresek daun jatuh
yang menimpa batu-batu
Jika kau tak menjelma angin
yang mengirimkan salam
biarkan terhapus malam
dan kenangan itu
Jika kau tak menjelma puisi
dalam baitku
akan kutulis apa bahasa
rindu
2014

Jalan Berpulang Padamu

Kukembalika padamu
ini seluruh rindu
Hujan mencurahkan demam
bumi gigil langit kelam
Tak ada rumput liar
tak ada tawar menawar
jalan hanya berpulang padamu
gelisah kelu memuja rindu
2014

Ketika Angin Menyela Rindu

Dan angin pun gagal menyela rindu
pada pokok daun
yang kemudian gugur
Hujan pun turun
deras ke hulu
mengekalkan batu-batu
Dan angin pun luruh
dalam keluh
Di beranda, ia tatap mata pintu
yang perlahan membuka
tanpa kata
2014

Sebab Hujan

Sebab hujan
angin pun tegak rindu
berkabut
Di bundaran, entah sejak kapan berdiri
memanggil-manggil
yang jatuh dalam kubangan
atau serupa daun luruh
dalam keluh
2
Sebab hujan mengulum rindu
angin pun riuh keruh
Ditulisnya langit bernama rindu
dalam rintik yang pilu
Sebab gerimis tak sampai
angin pun landai
menyanyikan daun-daun
gugur
air pada dinginnya
rindu pada apinya
3
Sebab hujan
aku terpanah kelu
Gigil memanggil
rindu mengharu
2014

Daun-Daun Luruh

Daun-daun luruh
dalam keluh
Lalu, sebelum jatuh
di antara liuknya
kudengar ia mengaduh
Pada geseknya
seolah menyisakan bayangan
tajam
pada tanah basah
pada jejak
yang mungkin tak terduga sebelumnya
2014

Kepada Jane

Hujan sudah lama reda
angin pun diam menepi
tapi jalanmu masih sama seperti dulu
tak putus di bibir plastik
Kau hanya mengenal Jane
bukan parman kecil
yang senang bermain gangsing
atau petak umpet
Dan kau hendak ke mana malam-malam
di perempatan sudah tak ada lampu
Jalan hanya ceruk kosong
kau lewati
2015

Hujan Rindu

Aku, hujan rindu
turun melewati jalan setapak
melewati rumput-rumput
menetes di ujung kaki ibu
Aku rindu pada dentumnya
di atas daun-daun, di atas bunga-bunga
di atas tanah basah
lalu, berkeliaran di Bunderan
meneriakkan harapan-harapan
Aku, hujan rindu
bertengger di dahan randu
melantunkan suara ibu
yang kelak jadi nyanyian
anak-anakku
2014

Dan Jika

Dan jika bulan telah Kau tundukkan
mengapa aku tidak
Dan jika angin berjalan atas kehendakMu
mengapa aku punya keinginan
yang membelenggu jiwaku
Dan jika Kau tak beri aku keluasan
bagaimana akan melangkah di jalanMu
yang sering kulupa
Maka biarkan diri ini sendiri
ditenggelamkan ilalang
dihantam gelombang
Dan jika Kau tak menghantarkan rindu
bagaimana aku menghadapkan wajah
padaMu
2014

Ulfatin Ch. Lahir di Pati, Jawa Tengah. Merampungkan studi di IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN) Jogjakarta. Antologi bersama di antaranya, Festival Puisi International Winnternachten Overzee (TUK, 2001), Medan Waktu, Cakrawala Sastra Indonesia (Dewan Kesenian Jakarta, 2004), Gelak Esai dan Sajak Ombak Anno (Kompas, 2001), Horison Sastra Indonesia (2001), Antologi de Poeticas; Antologi Puisi Indonesia, Portugal, dan Malaysia dalam dwibahasa (2008), Perempuan Bermulut Api (Kumpulan Cerpen, 2009), Narasi Tembuni (Kumpulan puisi terbaik KSI Award 20120, serta Dialog, Puisi dan Pembahasannya (PKKH-UGM, 2013)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ulfatin Ch
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 20 Desember 2015