Perempuan Limited Edition (13)

Karya . Dikliping tanggal 17 April 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
AWALNYA Nadia menanggapi dengan baik saat pembicaraan berputar sekitar pekerjaan. Namun ketika merembet ke arah pribadi, Nadia mendadak ill feel, istilah anak muda. Nadia menjadi sangat tersinggung sekali ketika Reza ingin mengajaknya refresing selama seminggu dengan imbalan sebuah mobil.
“Maaf ya Mas Reza, sebenarnya tujuan Mas itu apa?” tanya Nadia masih dengan nada hormat. Yang membawa Reza, teman akrab. 
“Ya siapa tahu kita bisa join dalam bisnis dan akan lebih memudahkan lagi jika kita bisa saling memahami,” jawab Reza tanpa berpikir perempuan di depannya tersinggung atau tidak.
“Maaf ya Mas, memahami dalam hal apa ya? Saya rasa untuk join bisnis tanpa melakukan refresing juga bisa jalan kok,” jawab Nadia mulai sedikit ketus. 
“Ah masak nggak ngerti sih,” kata Reza lagi sambil pindah tempat duduk di samping Nadia.
Nadia kaget dan segera bergeser. Belum sempat Nadia mengeluarkan kata-kata jelelnya, saat itu Aditya entah datang darimana.
“Maaf Bu, jadi pergi tidak ya Bu? Jika jadi biar mobil saya siapkan sekarang.”
Reza kaget dan segera bergeser menjauh dari tempat duduk di samping Nadia.
“Iya jadi.”
“Maaf ya as Reza, saya sudah ada janji dan harus pergi.” Tanpa menunggu jawaban langsung meninggalkan Reza yang seperti orang kebingungan. 
Setelah berganti pakaian Nadia berpamitan lagi pada Reza.
“Saya tinggal dulu ya Mas.”
“Loh?….”
Namun Nadia pura-pura tidak mengerti dan langsung masuk mobil.
Setelah 50 meter berjalan nadia menarik napas lega. Tak dipikirkan lagi tentang teman yang membawa Reza ke rumah. Siapa suruh membawa teman seperti itu, kata hatinya.
“Kita ke mana Bu?” Pertanyaan Aditya membuyarkan lamunan.
“Hah iya, kita ke mana?” Nadia seperti tersadar bahwa dirinya tidka punya rencana ke mana-mana.
Aditya melirik pada bosnya sambil tetap menjalankan mobil.
“Tapi aku berterimakasih sekali sama kamu Dit, kamu datang tepat waktu tadi, sepertinya orang itu punya maksud kurang bagus.”
“Iya Bu, saya tahu, makanya saya lancang tadi. Maaf ya Bu.”
“Ngaak papa Dit, kelancanganmu justru menyelamatkan aku.”
“Tadi saya mau bersihkan kaca tidak sengaja mendengar pembicaraan itu dan melihat Bapak itu merapat jadi spontan saya lancang.”
“Iya terimakasih. Ibu heran, mau join bisnis kok harus begitu.”
“Biasalah Bu, zaman seakrang,” ucap Aditya sambil tetap menjalankan mobil. Nadia mengangguk tapi pikirannya entah berada di mana.
“Ibu kok malah melamun?” tanya Aditya ketika melihat sang majikan hanya mengangguk-angguk tanpa memberi komentar apapun.
“Kira-kira udah pulang belum ya tuh orang?”
“Ibu mau saya putar balik seakrang?”
“Aduh takutnya belum pulang dan dia masih nungguin temannya tadi. Mending isi bensin sekalian aja Dit, biar agak lamaan.”
“Baik Bu.”
Sementara itu tape mobil mengalunkan lagu yang dirasa Nadia lumayan enak.
“Siapa yang nyanyi ini Dit?”
“Dadali Bu. Ibu nggak suka?” tanya Aditya sambil tangannya akan mengganti lagu itu.
“Suka kok, jangan diganti.”
“Tumben Adrian suka lagu-lagu begini,” kata Nadia karena tahu anaknya kurang suka lagu-lagu yang sedikit mendayu.
“Flasdisk saya ini Bu, kemarin sehabis antar Mas Adrian saya lupa ambil.”
“Oalaaa… kamu suka musik juga ya?”
“Kebetulan pernah ngamen juga Bu.”
“Oh ya? Berarti kamu pinter main gitar dong?”
“Lumayan Bu.”
“Dodi juga lumayan lho main gitarnya.”
“Iya Bu….”
“Ya udah kapan-kapan kalo malam jika Ibu sudah tidak ada kerjaan lagi, kalian ngamen ya depan Ibu, dan kalau bagus, Ibu isi pulsa kalian.”
“Boleh Bu.” Aditya bersemangat.
“Oke, sekarang kita pulang Dit, mungkin orang tadi sudah pulang.”
“Baik Bu.”
Nadia memang tidak pernah membuat jarak mencolok dengan para karyawannya. Selama karyawannya itu tidak nglundjak, Nadia menganggap sebagai teman kerja. Sehingga karyawannya rata-rata bekerja di atas dua tahun. Bahkan ada yang ikut bekerja hingag tujuh tahun.
***
PASAR beringharjo penuh sesak setiap liburan sekolah. Para pelancong merasa tidak berlibur ke Yogya apabila tidak mampir ke Malioboro dan Pasar Beringharjo. Begitu yang sering ia dengar dari wisatawan. Apalagi Beringharjo terkenal dengan batiknya yang harganya murah. Tidak heran para wisatawan sering memborong batik-batik beraneka ragam itu dengan harga variatif.
Hari ini Nadia ikut berdesak-desakan bersama Radmi di Pasar Beringharjo. Bukan memborong batik, hanya mengantar temannya: Mustika, yang datang dari Medan yang memang penggemar batik. Suasana yang hiruk pikuk ditambah cuaca panas membuat Nadia tidak tahan.
“Kita cari es dulu yuk, nggak tahan nih kerongkongan kering,” katanya pada Tika.
“Aduh kamu ini,” jawab Tika yang memang ‘gila’ kalo liat motif-motif batik.
“Ayolah, tar balik lagi,” kata Nadia pada Tika sambil menarik tangan Tika dengan paksa, sehingga mau tidak mau Tika menurut dan Radmi mengekor di belakangnya. ❑  (bersambung)-c
Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya “Galau” (1999), “Pacarku Ibu Kosku” (2005), dan “Terjebak Sebuah Janji.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 17 April 2016