Perempuan Limited Edition (16)

Karya . Dikliping tanggal 9 Mei 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
NADIA menarik napas panjang, ingin rasanya segera sampai di Malang melihat keadaan adiknya itu. Kegelisahnnya nampak dari tarikan napas panjang yang berulang-ulang. Adi juga tidak berani banyak tanya seperti biasanya ketika ia mengantar bosnya ke mal atau yang lain.
“Aduh masih separo perjalanan ya Di?” tanya Nadia tidak bermaksud mempercepat laju mobilnya. Karena Nadia sendiri tidak suka jalan nhebut. 
“Iya Bu, Ibu istirahat aja.”
“Nggak bisa Di. Pikiranku semrawut.”
“Sabar Bu.”
Nadia hanya diam tak menyahut. Pikiran Nadia benar-benar kusut, bayangan-bayangan yang tak diinginkan lalu lalang di otaknya.

“Tuhan itu sebenarnya ada nggak sih?”

Pertanyaan bodoh itu dilontarkan Nadia yang entah ditujukan pada siapa setelah lelah memikirkan keadaan adiknya.

“Jelas ada Bu.” Adi tiba-tiba menyahut, karena merasa pertanyaan itu ditujukan pada dirinya.

“Kenapa Ibu bertanya itu?” kata Adi lagi merasa heran, kenapa majikannya bertanya begitu. Padahal Adi tahu majikannya ini sangat rajin beribadah. Jadi selama ini untuk apa ia selalu mengantar majikannya ke gereja setiap Minggu jika masih mempertanyakan keberadaan Tuhan, pikir Adi.

“Ya… ya, berarti Adikku akan bisa melewati masa komanya,” ungkap Nadia yakin.

“Maksud Ibu?” Adi tidak bisa menangkap makna ucapan Nadia.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (15)

“Adikku itu orangnya aktif banget jika urusan kerohanian, hampir seluruh waktu dihabiskan untuk itu, bahkan untuk kepentingannya sendiri saja tidak pernah diurus. Rumahnya aja mestinya direnovasi, namun uangnya malah disumbangkan untuk membangun rumah ibadah,” jelas Nadia.

“Baguslah itu Bu. Karena kita hidup di dunia itu cuma numpang minum Bu,” jawab Adi sekenanya, yang membuat Nadia menoleh dan mengerutkan dahinya.

Adi bisa punya pikiran seperti itu? Tapi Nadia memang tak pernah menyepelekan kata-kata dari siapapun. Dari orang yang punya titel seperti deret ukur maupun orang yang tidak mengenyam sekolah pun tetap ia dengar sepanjang itu masuk dalam logikanya.

“Maksudmu?” Nadia pura-oura tidak paham, karena ingin uraian lebih panjang dari pegawainya ini.

“Ya sebenarnya hidup ini kan cuma sebentar Bu, yang lama itu nanti setelah kita mati,” urai Adi. Lagi-lagi Nadia mengerutkan keningnya.

“Kok kamu bisa berpikir ke situ? Jarnag lho orang seusia kamu mikir sampai situ. Biasnaya cuman mikir gimana bisa hidup seneng dan kaya. Entah kaya lewat kerja keras yang benar maupun kaya lewat kerja instan.”

“Saya, semenjak sakit dan tidak sekolah lama di pesantren Bu, saya cuman menirukan dan mengingat kata-kata ustadz saya,” jelas Adi.

Baca juga:  Maria Pergi ke Lubang Sumur

“Baguslah….” Nadia mengangguk-angguk.

“Tapi ada juga yang setelah keluar, sudah tidak ingat lagi apa yang telah didapat selama di pesantren,” tambah Nadia lagi.

“Mudah-mudahan kalo saya tetep ingat Bu.”

“Ya bagus itu, soalanya Ibu seirng dapat SMS dari anak-anak muda yang tanda kutip larinya menawarkan diri. Begitu blak-blakan tanpa malu lagi. Dan Ibu nggak tahu dapat nomor Ibu darimana.”

“Wah kalo saya mending jadi pembantu Bu, daripada harus begitu.”

Rasa kantuk dan capek membuat nadia sempat terlelap sebentar sampai terdengar suara Adi..

“Bu, ini sudah hampir masuk Malang, alamatnya di mana kebetulan saya pernah tinggal di Malang tiga tahun jadi masih hapal jalan-jalannya.”

“Oh ya, Sawojajar Di,” jawab Nadia kaget sambil pikirannya kembali ke adiknya.

“Ibu jangan melamun lagi, doakan aja yang terbaik buat Adik Ibu,” kata Adi setelah dilihatnya Nadia diam dan nampak gelisah.

“Ya, semoga masa komanya bisa terlewati,” jawab Nadia diam dan nampak gelisah.

Tepat pukul lima lebih lima belas menit Nadia sampai rumah adiknya.

Baru saja Nadia hendak mengetuk pintu, rupanya pintu sudah dibuka VIna dengan isak tangis memeluk Nadia.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (4)

“Mas Hen sudah nggak ada Mbak,” katanya di antara isak tangis.

“Kamu ngomong apa?” Suara Nadia meninggi seolah tidak percaya dengan pendengarannya.

“Iya Mbak, Mas Hen sudah tidak ada sepuluh menit yang lalu,” jelas Vna masih dengan tangisnya.

Seketika Nadia menangis meraung-raung. Adi yang sedari tadi di belakang Nadia sambil menenteng tas Nadia langsung meletakkan tasnya, memapah Nadia karena dilihatnya Nadia terhuyung akan jatuh.

“Nggak mungkin! Nggak mungkin! Ini nggak adil!” teriak Nadia.

“Istigfat Bu, istigfar,” kata Adi sambil merebahkan Nadia di kursi tamu. Dan Nadia sudah tidak ingat apa-apa lagi. ❑  (bersambung)-c

Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya “Galau” (1999), “Pacarku Ibu Kosku” (2005), dan “Terjebak Sebuah Janji.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 8 Mei 2016