Perempuan Limited Edition (17)

Karya . Dikliping tanggal 15 Mei 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
SEJAK kepergian adiknya. Nadia menjadi pemurung dan tidak bisa diajak bicara. Nasihat dari teman-temannya tak satu pun digubris. Nadia menjadi sosok yang berbeda. Suka marah-marah, kadang hanya mengunci diri di kamar, bahkan tokonya pun tidak pernah diurus lagi. Nadia benar-benar terpuruk dan sangat tidak bisa menerima kepergian adiknya ini.
“Mama, mungkin ini memang yang terbaik buat Oom Hendra,” ungkap Adrian saat dilihatnya mamanya sedang terisak.
“Kamu jangan seperti ini Dhea, apa kamu nggak kasihan jika adikmu selamat tapi malah stroke dan nggak bisa ngapa-ngapain? Ini sudah jalan yang terbaik,” ucap salah satu temannya.
“Dhea kamu mesti ikhlas, Adikmu itu sudah bahagia di surga, jangan kamu nyiksa diri begini,” ujar teman lain. Banyak lagi teman yang memberi dukungan, namun tak satupun yang didengar Nadia.
Hari ini genap 40 hari adiknya meninggal, dan kebetulan hari Minggu.
“Ayo Ma, ke gereja. Ini sudah tak siapkan ujud misanya,” ajak Adrian saat dilihatnya Nadia masih di atas tempat tidur. Nadia tak menjawab.
“Udah berapa minggu ini Mama tidak ke gereja, hari ini empat puluh hari Om Hen, Ma,” kata Adrian lagi dan Nadia tetap tidka menyahut. Nadia justru menarik guling dan membelakangi Adrian. Air matanya menetes lagi. Nadia jadi mudah meneteskan air mata semenjak kepergian adiknya itu.
“Ayo dong Ma jangan kayak gini terus,” kata Adrian lagi sambil duduk di sisi ranjang.
“Ma…” paksa Adrian sambil berusaha membalikkan badan mamanya yang sedang membelakangi.
“Aduk kamu ini! Pergi sana sendiri!” bentak Nadia sambil menepiskan tangan.
“Mama kok gitu sih?” Adrian sedih melihat mamanya berubah.
“Buat apa ke gereja jika Om Hen yang sangat rajin saja tak diberi mukjizat apapun! Om Hen kurang apa coba di mata Tuhan? Harusnya Om Hen diberi kesembuhan bukan malah mati,” kata Nadia dengan suara keras.
Kali ini bukan hanya sekadar meneteskan air mata, Nadia kembali menangis sejadi-jadinya. Adrian kebingungan dan hanya bisa memeluk mamanya. Suara tangis Nadia yang tidak pelan membuat Radmi berlari masuk kamar dan berusaha meredakan tangis majikannya.
“Ibu istighfar Bu, Ibu jangan seperti ini.”
Radmi prihatin melihat keadaan majikannya tersebut. Nadia masih terisak saat putranya pamit ke gereja sendirian. Nadia tetap tidak bergeming dan tak menjawab apapun hingga radmi dan putranya meninggalkan kamarnya.
“Awasi Mama ya Mbak,” pesan Adrian ke Radmi.
“Ibu kok begini ya Mas…”
“Nggak tahu Mbak,” jawab Adrian sambil menggelengkan kepala dan berlalu, ke gereja sendiri.
Radmi segera ke belakang menemui Adi dan teman kerja lainnya.
“Gimana ini Ibu kok nangis lagi,” papar radmi kehilangan akal.
“Aku juga bingung Mbak, kemarin itu Ibu ngajak jalan nggak ada tujuan, hampir sampai pantai Glagah, minta pulang lagi,” kata Adi menjelaskan, yang lain hanya diam.
“”Barang-barang toko juga banyak yang kosong, Ibu juga diem saja nggak mau order lagi. Gimmana ini?” ungkap Radmi.
“Aku juga bingung Mbak,” jawab Adi.
“Ibu kalau di mobil sekarang cuma diam, biasanya suka mampir jika melihat makanan menarik, ini udah nggak dilihat sama sekali. Pernah aku nawari bakso kesukaan Ibu, tapi Ibu cuma menggeleng. Gimana coba?” jelas Adi lagi.
Begitulah hari-hari Nadia selama 40 hari ini. Begitu terpukulnya, begitu tidak terimanya dia kehilangan adiknya. Banyak temannya yang berusaha memberikan pengertian tentang kenapa dan mengapa adiknya cepat dipanggil, namun tak satupun bisa membuat Nadia mengerti.
“Rencana Tuhan tidka ada yang tahu Dea, mungkin inilah yang terbaik bagi Hendra,” kata salah satu temannya yang sering ia dengar.
“Yang terbaik apa? Kamu tahu kan bagaimana hidup Hendra selama ini? Tidak ada waktu yang tidka disesiakan untuk Tuhan. Hidupnya sederhana, ia jalani karena penghasilannya selalu disummbangkan untuk gereja. Nyatanya apa/. Dia diambil kan? Mana mukjizatnya?” Suara Nadia meninggi.
“Dhea sadar dong jangan menghujat!” kata temannya juga dengan nada tidak kalah tinggi.
“Aku jadi ragu apakah Tuhan itu ada atau Tidak.”
“Astaga Dhea, sepicik itu ternyata pemikiranmu?” sahut temannya sangat kecewa dengan yang didengar barusan.
“Ya, aku sekarang nggak percaya lagi,” tegas jawaban Nadia.
“Berarti teman-teman telah salah menilaimu selama ini Dhea!”
“Aku nggak peduli!”
“Nggak pantas mendapat julukan limited edition ternyata,” ujar temannya lagi sambil mencibir.
“Aku nggak pernah minta julukan itu. Apa peduliku?” tantang Nadia membuat temannya sempat menahan napas.
“Kamu lihat si Atik, Dewi dan masih banyak lagi teman kita yang hidupnya hanya merongrong orang lain dan begitu murahnya menghargai dirinya, tapi kamu lihat hidupnya mewah dan berkecukupan dan tak pernah mengalami goncangan apapun! Adil nggak itu?” beber Nadia lagi, membuat temannya melongo mendengarnya.
Bukan karena kaget yang dijelaskan Nadia, namun kenapa itu bisa keluar dari mulut Nadia? Ke mana sosok Nadia yang patut diikuti selama ini? Nadia yang punya prinsip kuat, Nadia yang sangat takut Tuhan, Nadia yang menjalani hidup lurus dan tak pernah terkontaminasi keadaan sekelilingnya, dan banyak lagi kata salut yang ditujukan pada Nadia, sehingga sering disebut limites oleh teman-temannya.
Walaupun banyak keanehan Nadia, yang pasti hidup Nadia tak pernah menyimpang aturan. Aturan yang mana dan siapa yang membuat aturan, tidak menjadi penting lagi. Yang pasti dalam mengarungi kehidupan ini Nadia sering mendapat acungan jempol dari teman-temannya. Walaupun ada juga temannya yang mencibir karena tak sesuai zaman. Bahkan ada yang mengatakan, leboh cocok hidup di zaman Dayang Sumbi karena terlalu antik katanya. Dan sekarang kata-kata Nadia sangat tidak menunjukkan seorang Nadia yang selama ini ia kenal. Ada perasaan kasihan melihat Nadia berubah seperti itu. Namun temannya tak bisa berbuat banyak. Hanya kata-kata penyejuk yang bisa disampaikan. ❑  (bersambung)-c
Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya “Galau” (1999), “Pacarku Ibu Kosku” (2005), dan “Terjebak Sebuah Janji.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 15 Mei 2016