Perempuan Limited Edition (7)

Karya . Dikliping tanggal 7 Maret 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
NADIA tertawaa mendengarnya. Ingat masa-masa masih muda yang gampang ganti pacar hanya karena persoalan kecil. Lebih baik putus dulu daripada selingkuh dan punya pacar dobel, pikir Nadia. Memang sejak masih remaja Nadia paling tidak suka melihat orang yang punya pacar dobel. Dan Nadia memang terkenal dengan kesetiaannya. Itulah sebabnya mantan-mantan pacarnya tetap baik bagai saudara karena putusnya tidak pernah ada pihak ketiga.
Padahal jika dilihat dari luarnya, Nadia suka gonta-ganti pacar dan persepsi orang selalu negatif terhadapnya. tapi Nadia tak memedulikan pandangan orang yang hanya tahu luarnya. Apalagi ANdia suka dugem, tapi sekali lagi Nadia tahu mana dan tidak yang harus dilakukan, sehingga dia tetap perawan sampai memasuki gerbang pernikahan bersama papanya Adrian.
Sayang pernikahan itupun tidak bisa dipertahankan. Lagi-lagi bukan masalah adanya pihak ketiga. Tetapi Nadia tak bisa melakukan hubungan suami istri lagi sejak melahirkan Adrian. Alasannya, Nadia sendiri tak mengerti, sehingga ia merasa bersalah dan memutuskan bercerai saja, walaupun dia sangat menyayangi papanya Adrian. Alasan yang tidak masuk akal bagi sebagian orang, namun memang itu kenyataan yang ada.
“Ditanya kok malah melamun sih?” ucap Oscar, dan Nadia seperti tersadar pikirannya telah ke mana-mana tadi.
“Alasannya sungguh naif dan yang pasti tidak ada pihak ketigalah,” jelas Nadia.
“Aku percaya kalau soal itu tapi kenapa?” desak Oscar.
“Rasanya nggak pantas diceritakan, Os.”
Nadia enggan menceritakan, karena paling-paling dia akan disalahkan lagi seperti saat dia mengambil keputusan  bercerai, pikirnya.
“Jadi kamu berdua sama anakmu dan sama pembantumu tadi selama ini?” tanya Oscar. Nadia mengangguk.
“Kamu ini tetap tidak berubah Dhea, terlalu berani mengambil risiko,” kata Oscar geleng-geleng kepala.
Nadia lagi-lagi hanya tersenyum.
“Nggak takut Mbak dengan rumah segini besarnya?” Reny gantian yang bertanya.
“Iya apa kamu nggak takut?” timpal Oscar.
“Kamu kan tahu kalau aku dari dulu hanya takut dengan Tuhan dan ular.”
“Kok ular sih Mbak? Emang sama binatang lain nggak takut?” tanya Reny lagi.
“Ular kan dalam Injil diibaratkan setan. Mungkin sudah terpatri dalam otakku dari kecil saat orangtuaku bercerita Adam dan Hawa jatuh ke lembah dosa untuk makan buah kuldi kan setannya yang membujuk berwujudkan ular. Jadi setiap lihat ular selain geli aku takut jadi-jadian setan.”
“Oaaalah gitu, ada-ada aja Mbak ini,” ujar Reny.
“Trus jika kamu keluar siapa yang nyetirin kamu?”
“Setir sendiri!”
“Kenapa nggak cari sopir?”
“Malas aku karena aku kan juga nggak tiap hari keluar. Dan lagi aku bukan orang kantoran. Paling-paling keluar juga ngajak jalan Adrian aja supaya tahu kota.”
“Besok minta Rivan tuh suruh anterin kalau kamu mau jalan-jalan” cetus Oscar.
“Mau van?” tanya Nadia ke Rivan yang dari tadi juga cuman sebagai pendengar.
“Boleh Mbak, nggak papa,” jawab Rivan.
“Oke deh kalau gitu, ntar kalau mbak butuh jalan-jalan aku hubungi kamu.”
“Iya Van, bantuin tuh Nadia, jika perou dianterin,” pinta Oscar.
“Iya nyantai aja.”
Sementara itu Adrian sudah lelap tidurnya meskipun suara di sekitarnya terdengar ramai.
“Aku tidurin dulu di kamar ya,” pamit Nadia.
“Ya, udah malam juga Dhea, akusekalian pamit aja,” kata Oscar.
“Lho?”
“Iya besok pas mau balik jakarta, tak mampir lagi.”
“Kapan kamu baliknya?”
“Dua hari lagi. Cutiku dah kuambil lama di sini cuman kebetulan kita baru ketemu, kupikir kamu pindah Kalimantan semenjak nikah dulu,” jawab Oscar.
“Nggaklah, aku masih cinta Yogya kok.”
***
SEJAK itu Rivan sering mengantar Nadia dan Adrian, sehingga menjadi akrab. Bahkan jika Rivan tidak ke rumah sehari saja, Adrian sudah minta dianter ke tempat Rivan.
“Mama ayo ke tempat Oom Ipan.” Begitu rengek Adrian setiap Rivan  tidak datang ke rumah. 
“Mobilnya gembosss!” Begitu Nadia selalu beralasan.
“Kok gembos terus sih Ma?” protes Adrian sambil garuk-garuk kepala, kesal. Wajahnya cemberut.
“Sini deh Mama bilangi anak Mama.”
Nadia memeluk Adrian dan Adrian menurut saja.
“Adrian sekolah nggak?”
Sekolah!”
“Nah Oom Ipan kan sekolah juga. Kalau orang gede sekolahnya lama. Makanya hari ini Oom Ipan tidak bisa datang. Kalau datang ke sini, berarti Oom Ipan bolos. Kalau bolos dimarah ama pak gurunya. Adrian juga nggak mau kan dimarahi ibu guru?” jelas Nadia, dan Adrian menggeleng. ❑  (bersambung)-c

Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya “Galau” (1999), “Pacarku Ibu Kosku” (2005), dan “Terjebak Sebuah Janji.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 6 Mareti 2016