Perempuan Terindah

Karya . Dikliping tanggal 7 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Lampung Post

Jadi kau akan benar-benar meninggalkanku? Setelah tahun-tahun berlalu. Bersama. Penuh dengan bahagia. (+)

– Kau tak akan pernah memahaminya.

+ Tapi bagaimana dengan kenangan itu?

– Indah memang. Tak pernah terganti. Seperti dirimu. Perempuan terindah, yang mungkin tak akan kutemui lagi.

+ Begitu menyakitkan. Begitu memerihkan. Andai luka ini bisa kubagi lagi denganmu. Sebagaimana kebahagiaan yang telah kita lewati.

– Cinta memang pahit.

+ Namun bukankah kau mencintaiku?

– Lebih dari apa pun. Tapi aku harus pergi. Ada yang tak dapat kupahami dari dalam diri.

+ Aku tak akan rela. Jika engkau meninggalkanku cuma karena kepincut dengan perempuan lain. Perempuan yang lebih menggairahkan bagimu? Jangan-jangan kau memang telah lama menjalin hubungan dengan yang lain. Beritahu aku siapa orangnya!

– Bukan itu soalnya. Ada banyak yang tak kau pahami. Ada banyak yang tak kau mengerti.

+ Bahkan setelah bertahun-tahun? Setelah susah senang pernah kita rasakan berdua. Kau! Begitu teganya. Mana perkataanmu yang dulu jika engkau akan selamanya mencintaiku.

– Ya. Setelah bertahun-tahun. Tak akan pernah kulepas itu semua. Tak akan mudah terhempas. Seperti juga aku mengingat kau seluruh. Legam rambutmu. Setiap sudut lekuk tubuhmu. Bahkan harum napasmu. Inilah hal yang tak akan pernah mudah. Tapi aku mesti mengakhiri. Asmara melulu menyisakan enigma yang selalu tak bisa dipecahkan. Ini rumit.

+ Rencanamu setelah ini? Apakah kau akan pergi pula meninggalkan kota ini? Kota yang telah kaukenal setiap ruas jalannya. Kota yang terasa sumpek, tapi kau memilih untuk tinggal di dalamnya. Kota yang akhirnya cuma membuat dirimu sebagai pecundang…

– Apa maksudmu? Untuk hal yang satu ini rencanaku belum tertata. Entah setelah ini aku akan ke mana. Mungkin aku akan menjelma Eros. Dan kota ini juga terlalu menyakitkan untuk ditinggali. Begitu banyak kesedihan yang ter- patri di sini. Begitu banyak orang yang tiba-tiba merasa menang, lalu kalah. Jatuh lalu bangun. Kaya lalu miskin.

+ Tak bisakah kita menatanya lagi seperti mula?

– Tak.

+ Teganya dirimu. Kau jahat! Seandainya aku ikut ke mana engkau pergi?

– Kau tak akan pernah mampu

+ Aku bisa belajar. Aku bisa mencobanya.

– Hidup bukan percobaan.

+ Tak adakah sedikit hatimu padaku? Tak ingatkah kau segalanya? Segala yang pernah singgah darimu?

– Jangan cengeng. Hidup tak akan terus jika kau terlalu sentimentil.

+ Kau jahat! (Ia menangis dalam raungan . Suaranya pecah buncah. Ia menjerit sekeras- kerasnya. Seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga).

– Kau akan paham nanti. Lagipula kita sudah berbeda arah. Kau tak pernah menganggapku sebagi nakhoda.

+ Dalam hal apa? Ceritakanlah…

– Banyak. Tak bisakah kau mengintrospeksi dirimu sendiri?

+ Mengapa cinta yang dipermasalahkan. Apakah cinta yang memunyai dosa? Bukankah cinta itu suci? Cinta adalah cinta itu sendiri. Cinta itu peristiwa dalam roh*, kau tak akan mengetahui keajaiban-keajaibannya. Bukankah tadi kau katakan sendiri cinta itu misteri? Yang terkadang begitu sulit untuk ditelusuri.

-Ya, begitulah. Tapi aku tak sanggup lagi melanjutkan hubungan kita. Bagiku, kau teramat indah. Tidak bakal cocok disandingkan denganku. Mungkin masih ada lelaki lain yang cocok buatmu. Maaf…

+ Tapi, bolehkah aku meminta permintaan terakhir. Satu saja. Aku ingin mengecup bibirmu, memeluk hangat tubuhmu. Untuk terakhir kalinya. Sekadar mengenang, mungkin bagimu telah usang. (Kedua bola mata perempuan itu berair. Tak lama meneteslah air mata. Begitu banyak. Begitu deras. Ia sesegukan menahan sedih.)

– Justru itu jika itu yang kau perbuat aku tak akan bisa meninggalkanmu. (Dan mereka berciuman. Mendekap erat. Dua tubuh jadi satu. Ada tangis yang tak jadi tergelincir dari pelupuk mata. Ada sedih yang enggan keluar. Pelbagai penyesalan pun menggayut. Seperti hadir begitu saja).

**

(Di kesempatan yang lain, mereka bertemu di taman kota. Ketika bugenvil sedang mekar-mekarnya. Ketika sore menerawang. Saat langit begitu bersih dan biru . Sayang, taman di kota ini terlalu riuh. Bersisian dengan kemacetan mobil di sisi jalan. Tapi ini sudah cukup indah, agaknya.)

– Aku mencintaimu. Sungguh. Mungkin di dadaku hanya ada kamu.

+ Gombal. Mulut lelaki penuh bisa. Ucapan yang tak pernah bisa dipercaya.

– kau tak percaya. Apa mesti kuambilkan sebilah pisau agar kau robek sendiri dadaku. Agar kau dengarkan detak jantungku, betapa dirimu telah menjadi keringat dan darah. Telah menjadi satu. Apa kau mencintaiku? Kau perempuan terindah bagiku. Tak ada hal penting se- lain dirimu. Bersamamu, segala masalah berat menjadi sepele. Segala sukar jadi mudah.

+ Ah. Kau ’kan tidak suka matematika.

– Ya, matematika tetap saja sulit. Cinta juga bukan matematika. Apakah kau benar-benar mencintaiku?

+ Gimana ya? We’ll see deh. Kau tak akan paham ujung waktu bukan? Apakah kau tetap mencintaiku ketika bungkuk dan tua renta?

**

– Jika kau telah tua, kau tetap yang terin- dah. Keindahan yang tak pernah selesai aku katakan, bahkan ketika menuliskan dirimu aku tak akan pernah sudah. Dan kita akan membangun rumah, lantas punya banyak anak. Seperti kelinci.

+ Sumpah mati? Jangan lebay deh.

– Swear…sumpah mati. Apa mesti kubuktikan seperti Romeo dan Juliet, begitu sulitkah bagimu untuk memercayainya.

+ Ya, aku mencintaimu, sebagaimana kau mencintaiku.

– Ya, biarkanlah segalanya menjadi takdir. Cinta kita yang suci.

+ Aku rasa cukup itu saja. Oke, aku mencintaimu. (Matanya berpijar seperti bintang kejora. Ah, dia memang perempuan terindah. Setidaknya bagiku).

 

[1] Disalin dari karya Alex R Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu, 5 Agustus 2018