Perempuan yang Hendak Menyatakan Cinta

Karya . Dikliping tanggal 3 Juni 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

DIA berharap punya cukup keberanian seperti yang dimiliki sang ibu ketika menyatakan cinta pada ayahnya. Dia juga berharap mempunyai sedikit keberanian seperti kakaknya ketika mengatakan cinta pada kakak iparnya. Namun, bagaimanapun dia belajar untuk menjadi berani, dia tetap membisu di hadapan lelaki pujaannya. Entah hilang ke mana narasi yang telah dia siapkan. Entah menguap ke mana keberanian yang telah dia kumpulkan semalaman; semua lenyap tak tersisa.

Dalam keluarganya, istilah perempuan hanya bisa menunggu tidak berlaku. Perempuan dalam keluarganya selalu mengambil langkah untuk perasaan mereka terhadap lawan jenis. Dari nenek buyut hingga kakaknya, semua menyatakan cinta lebih dulu pada lelaki pilihan mereka sebelum akhirnya mereka menikah.

“Ini adalah keberanian turun-temurun!” kata sang kakak di ujung telepon. “Kau juga harus memiliki keberanian yang sama,” lanjutnya.

Entah sang kakak mengetahui dari mana perihal hatinya kini yang dirundung keresahan pada seorang lelaki. Mungkin karena ini memang sudah waktunya, sedangkan selama ini dia tidak pernah tampak dekat dengan seorang lelaki pun.

“Bagaimana Kakak yakin kau tidak akan patah hati?”

“Jadi, kau hanya takut patah hati?”

Dia tidak menjawab. Sejujurnya bukan itu yang dia takutkan.

“Aku hanya seorang editor magang saat itu, sedangkan kakak iparmu seorang dokter. Bayangkan betapa ragunya aku menghadapi kenyataan itu. Banyak perempuan yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan aku mengantre menjadi istrinya. Kata orang, jodoh itu wajahnya mirip dengan kita, makanya aku yakin dia jodohku dan aku menyatakan perasaanku.”

“Dan kalian menikah?”

“Tentu saja. Ayah dan Ibu juga seperti itu, jadi kau juga harus punya keberanian yang sama.”

Kali ini dia tersenyum; jodoh selalu memiliki wajah yang mirip.

Sudah empat bulan sejak dia mengenali degup jantung yang tidak beraturan sebagai cinta. Sudah sangat lama sejak terakhir kali dia merasakan sensasi mendebarkan itu. Sayangnya, ketika dia menyadari bahwa itu ialah sebuah naluri paling purba di Bumi, dia mengutuki perasaannya sendiri. Ini tidak akan berhasil, harusnya aku tidak jatuh hati padanya, katanya setiap waktu.

Mati-matian dia melupakan perasaannya. Namun, perasaan yang telanjur tertanam itu bagai virus yang menyebar begitu cepat. Tidak bisa hilang bagaimanapun dia berusaha untuk melupa. Mungkin akan lebih baik baginya untuk menyatakan perasaannya. Aku mencintaimu. Cukup dua kata itu, tapi dia tidak punya keberanian seperti pendahulunya; hanya kebisuan yang bisa dia tawarkan pada lelaki pujaannya.

Hari ini dia harus membawa kucing piaraannya ke klinik dan itu sudah cukup sebagai alasan baginya untuk bertemu dengan lelaki pujaannya. Dia harus mempunyai sebuah alasan, bahkan untuk sekadar bertemu karena dia tidak punya keberanian seperti yang dimiliki ibu ataupun kakaknya untuk mendekati lelaki pilihan mereka. Semalaman, dia telah meramu keberanian yang diwariskan secara genetik dari keluarganya. Tak lupa pula dia menyusun narasi untuk sekadar mewakili perasaannya.

Keberanian yang harusnya telah mendarah daging itu bagai teracuni dan hilang, sedangkan narasi yang telah dia pelajari selama mengenyam pendidikan sastra tiba-tiba membebal ketika dia berhadapan dengan lelaki pujaannya. Yang bisa dilakukan hanyalah meremas buku-buku jarinya untuk mengatasi kegugupan. Jantungnya bagaimana berpacu dan dia sampai takut jika lelaki di hadapannya itu dapat mendengar degup jantungnya yang sudah seperti genderang.

Sadarkan dirimu! Kau harus bersikap normal, makinya dalam hati.

“Kucingmu mengalami gangguan pencernaan. Sepertinya dia salah makan. Kau harus lebih memperhatikan makanannya,” ucap lelaki itu setelah memeriksa kucing piaraannya yang tiga hari ini terlihat lesu.

“Oh, begitu.” Sekali lagi perempuan itu mengutuki diri sendiri atas ucapan yang barusan saja dia katakan. Harusnya dia menjawab lebih panjang lagi agar punya bahan untuk berbincang dengan lelaki di hadapannya.

Dia memeras otak, mengingat narasi yang telah dia siapkan semalam, tapi tak ada yang tersisa. Dia tidak pernah sebodoh ini di sekolah. Kini perempuan itu mulai berpikir mungkin saja dia bukan anak kandung dari keluarganya. Mungkin saja dia hanya anak pungut karena tidak punya keberanian seperti ibu dan kakakknya.

“Untuk tiga hari ke depan jangan dimandikan dulu, ya. Dan juga jangan lupa minggu depan jadwal vaksinisasi.”

Hendak Menyatakan CintaAgak tersentak dia mendengar ucapan lelaki pujaannya. Itu artinya minggu depan mereka akan bertemu lagi dan itu artinya seminggu ini dia harus mengumpulkan keberanian juga narasi cinta untuk disampaikan pada lelaki pujaannya. Dia tidak ingin terlihat bodoh lagi seperti hari ini. Setidaknya dia harus membuat lelaki pujaannya mengetahui perasaannya agar lelaki pujaannya mengerti arti gugupnya selama ini, agar lelaki pujaannya itu tahu betapa gundah hatinya selama ini menanggung rindu.

Dalam benaknya, kini dia hanya memikirkan cara untuk mengumpulkan keberanian. Dibacanya buku-buku tentang cinta; bait-bait puisi yang menggugah hatinya. Namun, dia tidak yakin itu akan berhasil. Dia berpikir, apakah semua cinta harus diungkapkan? Dan apakah cinta seperti miliknya ini pantas untuk disampaikan?

“Setidaknya menyatakan perasaan bisa membuatmu lega,” kata seorang teman.

Ini tidak sesederhana yang mereka bayangkan, katanya. Dia semakin frustrasi pada cinta di hatinya. Setiap malam dia merasaan sesak tak tertahankan di dada. Debar jantungnya seolah-olah akan meledakkan dirinya menjadi serpihan. Jatuh cinta tak pernah semenyesakkan ini. Tak ada jalan lain, dia harus menyatakan perasaannya apa pun risiko yang akan ditanggung setelahnya.

Apa kira-kira yang membuat seorang lelaki menaruh hati pada seorang perempuan? Apa kiranya yang membuat Ayah yakin bahwa Ibu ialah jodohnya? Dan apa yang membuat kakak iparnya yakin untuk menerima pernyataan cinta kakaknya?

“Ayah harap Tuhan sedikit bermurah hati dengan memperlihat benang merah di jari kelingking kita yang terhubung dengan jodoh yang telah Dia siapkan. Tapi tidak ada yang seperti itu dan ibumu datang dengan sebuah hati yang penuh dengan cinta untuk Ayah.”

Perempuan itu berharap mempunyai kisah cinta seperti orangtuanya. Mereka bertemu di waktu yang tepat, dengan keberanian Ibu menyatakan cinta, kemudian menikah dan bahagia hingga kini. Perempuan itu yakin jika suatu hari nanti kedua orangtuanya meninggal karena usia, keduanya akan bertemu kembali di surga.

“Ayah, apakah ada yang namanya cinta yang salah?”

“Kenapa bertanya seperti itu? Apakah kau tidak percaya pada cintamu sendiri?”

“Aku hanya sangat takut.”

“Nyatakan perasaanmu, seperti ibu dan kakakmu. Bukan cinta namanya jika hanya dipendam dan tak pernah tersampaikan.”

Bersama kucing berbulu putih yang harus divaksinisasi, perempuan itu datang ke klinik lelaki pujaannya. Dengan segenggam keberanian, sebait narasi yang telah dia siapkan, dan nasihat ayahnya, dia siap untuk menyatakan cinta. Terus dia dengungkan ucapan ayahnya semalam: bukan cinta namanya jika hanya dipendam dan tak pernah tersampaikan.

Kegugupan seketika menyeretnya ketika melihat binar mata lelaki pujaannya. Senyum lembut yang telah meluluh hatinya itu mengobrak-abrik keberanian yang telah dia kumpulkan. Nyaris saja dia melangkah pergi dan menjadi pecundang jika dia tak mengingat-ingat nasihat sang ayah.

“Kau jadi agak pendiam akhir-akhir ini. Apa kau sedang ada masalah?” Ingin sekali perempuan itu berkata bahwa masalah ada pada lelaki di hadapannya. Lelaki yang telah mencuri hatinya dengan paksa, membuatnya memuja, dan lupa segalanya. Salah lelaki itu begitu perhatian padanya hingga dia mengartikannya sebagai sesuatu yang lain dan jatuh cinta pada hati yang tak semestinya. Salah lelaki itu membuatnya menangis tiap malam karena menahan rindu. Ingin dia ucapkan semua itu, tapi dia tak berani. Yang bisa dia lakukan hanya menggelang pelan.

“Kakakmu cerita, katanya kau sedang jatuh cinta pada seorang lelaki?” Lagilagi, lelaki itu senyum begitu lembut. “Aku harap kau punya keberanian seperti kakakmu untuk menyatakan cinta pada lelaki pujaanmu itu.”

Kali ini tangan perempuan itu mengepal keras, jantung berdetak begitu keras membuatnya sesak napas, dan bau cairan antiseptik membuatnya sedikit limbung. Apakah ini saatnya?

Batin perempuan itu.

“Aku bersyukur bertemu dengan kakakmu.” Satu kalimat itu seperti menyeretnya ke kenyataan; membuat telinganya berdengung seperti dilewati sederet gerbong kereta yang melaju begitu cepat. Ini merupakan kenyataan yang selama coba dia abaikan.

“Aku harus pulang lebih awal. Hari ini ulang tahun pertama pernikahan kami. Aku sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk
kakakmu.”

Perempuan itu ingat ketika kakaknya berkata bahwa dua orang yang berjodoh memiliki wajah yang mirip. Perempuan itu tahu dia memiliki
kemiripan dengan lelaki di hadapannya ini, tapi lelaki itu lebih mirip dengan kakaknya karena mereka berdua adalah suami istri.

“Kalaupun aku mempunyai keberanian untuk menyatakan cinta padanya, ini tidak akan pernah berhasil karena aku jatuh cinta pada sebuah hati yang tak seharusnya.” (M-2).


[1] Disalin dari karya Tiqom Tarra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 2 Juni 2019