Perempuan yang Keluar dari Papan Iklan

Karya . Dikliping tanggal 9 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
DIA keluar dari papan iklan raksasa di simpang jalan itu, tengah malam saat jalanan terlihat lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Aku baru pulang dari kantor ketika dia melangkah pelan-pelan, menjejakkan kaki ke aspal, kemudian mengibas-ngibaskan jins biru dan kemeja putihnya. Itu busana yang dipakainya, yang juga menjadikan dia bintang di papan iklan dan iklan televisi sebuah brand busana terkenal, yang sudah hampir seratus tahun lebih jins, kemeja, jaket, ikat pinggang, atau t-shirt-nya digandrungi orang semua usia.
Aku turun dari mobil dan mengikutinya. Aku kenal wajahnya, artis film terkenal yang sering pilih-pilih peran, tak pernah mau bermain di serial televisi, dan hanya mau membintangi satu iklan, yakni brand busana terkenal itu. Semua orang tahu siapa dia karena iklannya hampir setiap waktu ada di televisi dan wajahnya terpampang di papan iklan yang tersebar di hampir seluruh kota di negeri ini. Tapi, aku memang tak pernah bertemu langsung dengannya. Anehnya, aku justru dipertemukan dengannya dalam momen yang sureal dan di luar nalarku ini.
Sadar ada yang membuntuti, dia kemudian berhenti dan menoleh kepadaku. Jarak kami hanya sekitar satu meter. Dia tersenyum, cantik sekali. Aku langsung lupa dengan kejadian tadi, bahwa dia baru saja keluar dari papan iklan itu. 
“Ada yang aneh?” tanyanya dengan senyum yang sangat manis. Lampu kota yang temaram tak bisa menyembunyikan kecantikannya.
“Iya, aneh…”
“Kenapa?”
“Sebuah foto pesohor di papan iklan keluar dari tempatnya dan berubah wujud menjadi manusia asli. Apakah tak aneh?”
Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa dia bukan sejenis hantu atau vampire yang bisa mengisap darahku. Senyumnya mahamanis, matanya lembut, bibirnya ranum, gelombang rambutnya benar-benar asli dan tak memperlihatkan bahwa dia wanita jadi-jadian yang hanya muncul di malam hari seperti dalam film-film horor murahan yang belakangan banyak diputar di gedung bioskop dan televisi.
“Aku capek terus berada di sana. Kalau sudah malam seperti ini aku merasa sendiri, dan senyumanmu seperti sia-sia karena tak ada yang melihatnya…,” katanya, kembali dengan suara lembutnya.
“Di papan iklan itu kau merasa hidup sebagai manusia?” Suaraku pasti terdengar tergagap.
“Hei, halooo… lihatlah, aku hidup, kan? Seperti manusia lain, kan? Coba pegang tanganku…” Dia mengulurkan tangannya, dan aku menggenggam jemarinya. Kami bersalaman. Benar, dia memang benar-benar hidup, terasa ada yang hangat mengalir ke pori-pori tanganku. “Aku bukan sejenis bayangan yang tak bisa dipegang, kan?”
“Iya, aku percaya…”

Aku menawarkan kepadanya untuk naik ke mobilku dan keliling kota sampai pagi. Dia mau. Di dalam mobil, aku tak merasakan firasat apaapa, misalnya bulu kudukku bergidik atau hal-hal lain yang seolah mengisyaratkan dia makhluk lain yang akan menggangguku seperti di film-film horor sialan itu.

“Setiap malam kau keluar dari papan iklan itu?” tanyaku ketika kami sudah berada di jalan tol.
“Iya. Dan mungkin baru kamu yang memergoki aku keluar dari sana…”
“Ke mana saja kalau jalan sendirian?”
“Ke mana saja, sampai aku bosan dan harus kembali ke papan iklan itu lagi sebelum muncul dari barat…”
Aku menatapnya tajam. “Kok seperti vampire? Takut matahari?”
Dia tersenyum. “Supaya tak membuat orang pingsan saat lewat dan melihat aku tak ada di papan iklan…”

Aku mengangguk-angguk, antara paham dan bingung.

Kami melewati sebuah simpang yang di sana juga ada papan iklan yang memajang dirinya. Heran, pas pada bagian tubuhnya, terlihat hanya warna hitam yang ada. Di tempat lain di papan yang sama, gambarnya juga sama, pas pada bagian tubuh dia yang ada hanya warna hitam. “Kok seluruh papan iklan yang ada dirimu semuanya menghitam?”

“Ya pastilah, gambarnya kan sama. Kalau aku pergi dari sana, tentu semuanya juga menghilang. Kalau hanya di satu papan iklan yang hilang dan lainnya tidak, berarti aku lebih dari satu dong…” Terdengar suaranya halus dan renyah, dan dia mengatakannya sambil tertawa.

Mendengar itu, pelan-pelan kutepikan mobilku. Aku memandanginya dengan seksama. “Benar apa yang kau katakan? Berarti papan iklan serupa yang ada di Rimbo Bujang, Sampit, Sungai Penuh, Muara Encim, Pacitan, atau Ende, semuanya juga menghitam pas di foto dirimu?”
“Kau tak percaya?”

“Seharusnya aku tak percaya…”

“Tapi kini kamu mau tak mau harus percaya, kan?”
“Iya, karena kau berada di mobilku, dan aku melihat seluruh papan iklan itu bolong, berwarna hitam, tak ada dirimu…”
“Apakah aku menakutkanmu?”
Aku menggeleng pelan.
“Apakah kau merasakan aku mirip hantu, kuntilanak, Sundel Bolong, atau mirip Suzanna dan Joyce Erna seperti dalam film-film yang dibintanginya?” katanya seperti menahan senyum.
“Tidak…”
“Terus, apakah kau merasa tak nyaman aku di sini? Kalau gitu, biar aku turun…”
“Tidak, aku nyaman. Tetapi , aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan…”
“Semua orang punya sisi rahasia yang tak boleh diketahui orang lain…”
Malam itu, kami keliling kota di atas jalan tol. Saat subuh, saat matahari hampir muncul di timur, dia minta berhenti. “Aku harus kembali ke habitatku,” katanya.
“Di mana?”
“Di sana…” Dia menunjuk sebuah papan iklan raksasa yang hanya berisi beberapa tulisan dan di sebelahnya ada warna hitam, tempat foto dirinya biasanya terpampang.
“Kita bisa bertemu lagi?”
“Aku tak bisa janji.”
“Kenapa?’
“Kita hidup di dunia masing-masing. Meskipun ada saatnya kita bisa bersama seperti semalaman tadi, tetapi kita tak bisa memastikan apakah di lain waktu aku akan bisa menemuimu lagi.”
Kemudian dia membuka pintu mobil, menyeberangi jalan, menoleh kepadaku beberapa saat dengan senyum mahamanis, lalu hanya dalam hitungan detik warna hitam di papan iklan raksasa itu sudah terisi oleh fotonya dengan posisi dan bentuk senyum yang sama seperti semula.
Aku seperti berada dalam dunia mimpi menyaksikan itu semua. Lama aku termenung dan memandangi papan iklan itu, melihat dia yang tersenyum manis, sangat manis. Sangat cantik…
***
ESOK malamnya aku menunggu beberapa meter dari papan iklan tempat dia keluar itu. Tak menunggu lama, aku melihat dia keluar dari fotonya terpajang. Sama seperti kemarin, dia menjejakkan kakinya pelan-pelan, kemudian dengan  tangannya dia menepuk-nepuk jins dan bajunya seolah-olah ada debu yang menempel di sana. Dia langsung memandang mobilku, dan dengan senyum manis dia menghampiri kaca sebelah kiri yang memang sudah kubuka.
“Boleh numpang, Mas?” tanya dengan senyum menggoda.
“Kamu bukan Sundel Bolong atau Wewe Gombel, kan?” aku balas menggodanya.
“Idih si Mas ini. Mosok cantik-cantik begini dibilang Sundel Bolong dan Wewe Gombel?”
Dengan bersemangat aku turun dan membukakan pintu untuknya. Kami kembali jalan-jalan keliling kota. Wajahnya kelihatan semringah. “Sudah lama aku tak berkomunikasi dengan manusia. Aku selalu sendirian…”
“Dalam kehidupan nyatamu?”
“Aku tak punya kehidupan nyata.”
Mendadak aku menginjak rem. Mobil berhenti. Dadaku berdegup. “Maksudmu?”
“Iya. Aku tak punya kehidupan nyata. Kehadiranku hanya maya. Kadang hanya seperti bayangan, ada tapi tak nyata. Kadang hanya seperti angin, terasa tapi tak kasat mata…”
“Maya… Betul namamu Maya Karina, kan?”
“Iya, hampir semua orang tahu namaku.”
“Maya, lihat dunia di luar sana. Semua orang hidup mengejar mimpi dan harapan untuk menjadi sukses seperti dirimu. Tapi, di tengah kesuksesanmu, kamu malah merasa begitu…”
“Kadang, kita hidup ini  sawang-sinawang kata orang Jawa. Kita menganggap orang lain sukses dan bahagia, padahal belum tentu orang itu sebahagia kita hidupnya.”
“Saya tak paham.”
“Suatu saat kamu akan paham.”
“Waduh, kenapa malam-malam begini kita cerita yang sedih-sedih?” Aku berusaha mencairkan suasana.
Aku memang merasakan hidup di malam hari, karena di siang hari hampir separonya kuhabiskan di tempat tidur. Entah mengapa seluruh pikiranku berjalan saat malam tiba. Ide-ideku muncul saat matahari sudah tenggelam. Ini yang membuat atasanku membiarkanku menyelesaikan semua tugas gambarku di malam hari. Aku ingin ceria di malam hari, termasuk malam ini, bersama Maya Karina, pesohor yang seperti dikirimkan Tuhan untuk menemaniku.
Malam berikutnya, malam berikutnya lagi, dan malam-malam berikutnya lagi, kami terus bertemu. Kadang kami mampir di coffee shop yang buka sampai pagi dan ngobrol di sana hingga subuh sebelum matahari muncul, karena dia harus kembali ke “habitatnya”. Di lain waktu, kami berhenti di sebuah ruasjalan tol, dan ngobrol di sana sambil melihat mobil yang masih lalu-lalang meski sudah dini hari. Di waktu yang lain, kami ngobrol di pantai sambil menunggu pagi.

Dia suka lagu-lagu sentimentil Celine Dion, Roxette, Madonna, ata Adele. Dia gandrung pada lagu Because You Love Me yang mengingatkannya pada mantan kekasihnya yang dulu begitu menyanjungnya. Dia juga suka Some One Like You ketika hubungannya mulai renggang dengan sang kekasih. Any One–lagu sendu yang sempat dilarang di Jerman karena menginspirasi banyak wanita untuk bunuh diri–juga lama menemaninya saat dia terpuruk karena putus dari kekasihnya itu.
“Seluruh kata hatimu diwakili lagu-lagu itu?” tanyaku berusaha menghiburnya.
“Aku cengeng ya?” Dia berusaha tersenyum.
“Itu normal kok…”
Hening sejenak. “Kamu pernah patah hati?”
Ditanya seperti itu, aku tergagap. “Bagaimana bisa patah hati, jatuh cinta saja nggak pernah.”
“Oooo…” Dia tertawa lepas. Aku senang bisa melihatnya bisa tertawa lepas seperti itu.
“Berarti aku masih punya kesempatan dong…”
Aku tidak menjawabnya, sibuk mengatur dadaku yang berdegup kencang.
Namun, malam itu menjadi malam terakhir kami bertemu setelah sekian waktu kami selalu bersama di malam-malam sepi. Malam esoknya setelah terakhir kami bertemu, aku tak menemukan fotonya di papan iklan tempat ia selalu keluar di malam hari untuk menemuiku. Yang terlihat di sana hanya warna hitam pas di bagian tubuhnya. Tak percaya dengan itu, aku kemudian mencari persimpangan lain yang selama ini terpampang papan iklan yang memajang foto dirinya. Juga hanya ada warna hitam pas di tubuhnya. 
Malam benar-benar sepi. Aku sendirian. Aku merasa benar-benar sendirian.
Esoknya, aku melihat papan iklan yang selama ini memajang dirinya sudah berubah iklan minuman segar dengan pemain sepak bola terkenal sebagai bintangnya. Di tempat lain juga sudah berubah. Aku semakin merasa sendirian. Ke mana aku harus mencarinya?
Hingga suatu hari, entah di mana, aku menemukan sebuah artikel koran tentang kematian seorang model dan bintang film terkenal bernama Maya Karina, yang jatuh dari lantai 24 sebuah apartemen. Diduga, dia dibunuh. Nama seorang pejabat teras di sebuah kementerian disebut-sebut ada hubungannya dengan kematiannya.
***
SUATU malam, ketika sedang sendirian di kantor menyelesaikan pekerjaan gambar, telepon selulerku bergetar. Sebuah nomor tak dikenal masuk. Terdengar suara bergemuruh dan sepertinya dari jarak yang sangat jauh. Suara seorang perempuan yang kukenal bicara, tetap dengan latar suara bergemuruh itu.
“Apa kabar Rama… Aku minta maaf pergi darimu tanpa kabar apa-apa. Seperti yang pernah kukatakan kepadamu, aku tak punya kehidupan nyata. Kehadiranku hanya maya. Kadang hanya seperti bayangan, ada tapi tak nyata. Kadang hanya seperti angin, terasa tapi tak kasat mata… Aku ingin mengatakan ini dan jangan kamu tertawa ya. Cintaku padamu, Rama, nyata. Tak seperti diriku yang maya.”
Aku tak bisa menjawab apa-apa. Untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasakan jatuh cinta dan patah hati secara bersamaan. Aku menemukan, sekaligus kehilangan.
Ini nyata, bukan maya…***
Pekanbaru-Jakarta, September 2014

Hary B. Kori’un adalah wartawan Riau Pos. Buku kumpulan cerpen tunggalnya adalah Tunggu Aku di Sungai Duku (2012). Novelnya, Nyanyian Batanghari (2005), Jejak Hujan (2005), Nyanyi Sunyi dari Indragiri (2006), Malam, Hujan (2007), Mandiangin (2008), Nyanyian Kemarau (2010), dan Luka Tanah (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hary B. Kori’un
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar “Jawa Pos” 8 Maret 2015