Pergi – Pertemuan – Mata

Karya . Dikliping tanggal 17 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Pergi

Ia dengar suara Bapa yang tak didengar

Kerumunan yang mencemoohnya.

Langit tak akan lagi membuka tingkapnya,

Seperti nubuat, dan cerita yang sedih

Akan jatuh seperti cerita yang bahagia.

Sepucuk epistola, bertahun-tahun kemudian,

Akan berulang dibacakan untuk mengenangnya.

Tak semua orang mengingat ia pernah

Merasa begitu kaya, saat palungannya

Terisi penuh oleh jerami dan doa orangtuanya,

Ketika malam pelan bergeser.

Jika suara Bapa lenyap,

Ia tak tahu apa yang mesti dilakukan,

Sebab perjalanan melewati gurun tak

Selalu dijaga tiang awan.

Dan ia akhirnya ditinggalkan

Sendiri.

Kuk yang dipasang kelak memang ditanggalkannya,

Agar para pendongeng malas dapat melengkapi

Bagian akhir kisahnya dengan sebaris

“Mereka pun hidup bahagia selama-lamanya.”

Dan ia selalu tahu, ia bukan

Manusia atau Tuhan.

Ia hanya seekor keledai bahagia

Setelah menempuh perjalanan begitu panjang

Dan melelahkan, masih sudi memilih

Menjatuhkan diri ke dalam

Tungku yang sama untuk memadamkan lagi

Api dengan tubuhnya.

(Naimata, 2015)

Pertemuan

Pilatus: “Ergo rex es tu?”

Iesus: “Ego in hoc natus sum, ut testimonium veritati perhibeam.

Omnes qui veritatem audiunt vocem meam audiunt.”

Pilatus: “Veritas. Quid est veritas?”

(The Passion of the Christ)

Dengan ketakutan yang purba

Ia memandangmu dan mencium

Aroma tubuh istrinya

Dalam setiap kata-kata yang keluar

Dari mulutnya.

Udara begitu dingin,

Bapa.

Pernah ia memujamu dengan

Terang tiang api seperti

Wahyu yang diterimanya

Lewat mimpi.

Serahkanlah aku

Pada orang-orang

Yang mengelupas kulitku,

Yang mencongkel biji mataku,

Yang mengunjukkan cawanmu

Ke hadapanku.

Tapi terlalu rumit engkau

Bahkan untuk dipahami

Para penyair, terlalu gentar

Ia mendukung revolusi,

Terlalu dewasa ia untuk menanam

Biji sesawi dalam hatinya, meski

Tak tersisa semua yang disembunyikan

Horatius dari hadapannya.

Langitmu yang terbuka,

Bapa, biarkan menyerap

Gelap yang menyergapku.

Dan sabda lenyap di dalam angin.

Dan manusia-manusia mengecil di

Hadapanmu. Dan masih engkau pedulikan

Julukan yang kelak disematkan kepadanya;

Kondemnator atau gubernator.

Sinagogamu, Bapa, adalah sinagogaku.

Aku adalah kesedihan yang kaujaga

Dengan airmatamu.

Engkau menerimanya.

Ia membiarkanmu keluar.

Aku melihat Bapa menelan suaranya

Dan membiarkanmu berjalan sendiri.

(Naimata, 2015)

Mata

Adakah abu kembali kepada abu?

Adakah jiwa terbang ke surga?

(Gustavo Adolfo Bécquer)

Ia membuka matanya ketika mereka

Tertidur. Yang hitam dan yang kuning

Berbaur seperti nyala di atas bejana.

Untuk menyelamatkan para penggali

Dari hujan dan angin utara, tak perlu

Ia menggigil atau munafik. Detak jam,

Suara seisi kota dan derit keranda masih

Terdengar jelas, berbaur dengan lengking

Sangkakala di pintu surga. Lelah yang pasi

Menyelinap ke tengah langit yang

Sibuk membaptis ulang satu demi satu

Orang kudusnya. Ia membuka matanya

Dan menghapus sisa doa di keningnya.

Ia membuka matanya dan menyambut

Pelukan malam yang penuh jelaga.

(Naimata, 2015)
Mario F Lawi dilahirkan di Kupang, 18 Februari 1991. Ia meraih NTT Academia Award 2014 kategori Sastra. Kumpulan puisinya adalah Ekaristi (2014).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mario F Lawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” 17 Mei 2015