Perihal Duka – Bulan Jatuh – Gedung Angkuh – Balada Burung-burung Senja

Karya . Dikliping tanggal 27 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Perihal Duka

Ingin aku pergi saja dari tanah ini
bukan karena apa dan siapa,
tapi aku melihat masa depanku telah hilang
sesat ke dalam bui
burung-burung yang terbang sedia temani awan
kucing-kucing nakal masih saja memperebutkan tulang
tanpa beban
sedang air dalam tubuhku telah mengering
matamu mulai beku
kulit-kulit tubuhku mengerut keriput
dan tiba-tiba angin melemparkanmu
ke persimpangan itu
sebelum aku pergi,
dan kamu memilih jalan untuk dilingkari
kita yang lalu sesungguhnya telah mati
DuniaKecil, 2014

Bulan Jatuh

Bulan telah jatuh di negeri ini,
membawa hujan menggali bumi
menimpa si jelata di pinggir kali
gemuruh air menyeret harta benda
namun, apartemen dan rumah mewah masih tumbuh bunga-bunga
bulan telah jatuh di negeri ini,
menguras kekayaan ke dalam kantong politisi
gunung tempat air menepi disulapnya jadi bisnis tak bernurani
bukan telah jatuh di negeri ini,
menghanguskan mobil para pejabat
sehingga mereka perlu membelu mobil baru
dari uang saku
yang sepantasnya untuk makan rakyat melarat
bulan benar-benar jatuh di negeri ini,
membagi seribu puisi
pada orang-orang berdasi yang telah memiliki ribuan kursi
sedang si jelata terus menggembala kata-kata
hidup tiada harga
Yogyakarta, 2015

Gedung Angkuh

Dengan segepok uang di tangan
kau tanami tanah dengan batu-batu dan besi serakah
gedung bertingkat yang menyalip rumah kami
kakinya gagah, menginjak makam-makam sunyi
menjadi semakin sering ditangisi
gedung perhotelan tumbuh subur
bisnis para kapitalis yang takabur
mencibir si miskin, semakin dekat ke mulut tubir
pelan-pelan dibunuhlah keseimbangan bumi
menguras habis lahan petani
untuk ambisi dan kekayaan sendiri
sepanjang hari dan malam pekerja terjaga
membangun gedung megah
rela menyakiti diri
untuk langit sang tirani
Yogyakarta, 2015

Balada Burung-burung Senja

Di sore begini
seekor burung bergegas pulang ke sarangnya
menengok anak-anak yang ditinggalkan untuk mencari makan
mereka berbaris menuju rumah
seperti mencari ruang tunggu
yang kadnagkala telah dirampas kelekatu
aku berangkat memecah pagi
membawa bening bola mata anak-anakku
yang berdiam di dahan menunggu keajaiban
berharap biji-biji jagung ditabburkan tuhan
dan setetes air penghapus dahaga.

aku terbang,
menyapu seluruh pandang, di mana biji-biji tersimpan

rumah burung-burung tak pernah sepi
mereka saling berdatangan dan pergi
berbagi kesedihan dan api mimpi
di bawahnya jalanan memanjang
tak pernah legang dan terang
selalu ada yang mengumpatkan klakson
dan sekelompok polusi menyesakkan dada
duh, Burung-burung kota yang terasing dari tegur sapa
tanpamu kota benar-benar telah neraka
aku belajar dari pemulung
memungut makna di balik sampah-sampah
setiap terbang, anak-anakku membayang
sayap-sayapku sneantiasa membawa anugerah
bagi mereka

apabila awan hitam datang
burung-burung kesulitan mencari tempat berlindung
pohon yang telah lama diruntuhkan tak berganti
sedang gedung-gedung bertingkat tak memiliki tepi
untuk ia masuki
di sore begini
seekor burung bergegas pulang ke sarangnya
sebelum gelap menyesatkan dalam celaka
Yogyakarta, 2015

Nurul Ilmi ElBanna, mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nurul Ilmi ElBanna
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 27 Desember 2015 
Beri Nilai-Bintang!